
Untuk sementara waktu, si Bejo, Handono dan Moreno mengira kalau berkas bukti itu telah hilang. Tapi tak berselang lama, mereka mendapat kabar dari intel mereka di internal kepolisian, kalau masih ada beberapa salinan lagi yang pernah dibuat.
Operasi pengejaran lanjutanpun mereka siapkan. Pak Rouf, yang sedari awal sudah menyamar menjadi anggotanya Moreno, dan sudah mendapat tempat sekelas Handono dan Bejo, menjadi kepusingan. Dia harus memutar otak untuk bisa mengamankan rekan-rekannya yang lain.
Di suatu kesempatan, pak Rouf menemukan ide dari kebiasaan buruk si Bejo. Si Bejo ini gemar sekali mengunjungi panti pijat. Tak hanya sendiri, dia biasa mengajak partner bisnisnya di bidang narkotika. Dari kebiasaan itulah, pak Rouf merancang strategi untuk mengkambing hitamkan si Bejo. Sekaligus memberi pelajaran keras buat Handono, yang telah merebut istri tercintanya.
Pak Rouf sengaja memancing intelnya Moreno untuk mengendus jejak berkas itu di suatu tempat. Pastinya ada rekannya di sana. Walau rekannya di tempat itu tidak diberitahu, tapi pak Rouf sudah menyiapkan tim untuk menyergap orang-orangnya Moreno. Temasuk untuk menyergap dirinya sendiri.
Memang, pada akhirnya rekan pak Rouf itu harus gugur. Namun si Bejo harus mendapat masalah besar. Karena dari berkas salinan yang ditemukan di tempat kejadian perkara, tertulis juga nama Respati, sebagai bagian dari tim khusus yang dibentuk semasa orde baru itu.
Tapi tidak ada berkas pak Rouf di sana. Tidak dituliskan, darimana pak Rouf mendapatkan foto-foto yang menunjang biodata Respati, sebagai salah satu anggota tim khusus tersebut.
Tapi yang pasti, walau tidak ikut tertangkap, bukan berarti si Bejo aman. Respati alias si Bejo, justru menjadi buronan dari dua kelompok, yaitu kepolisian dan juga bosnya sendiri, Moreno. Karena menghilangnya dia, dianggap menjadi sinyal penguat atas pernyataan pada berkas bukti itu.
Karena pengaruh orang dalam yang pro dengan mereka, hanya hitungan hari saja mereka mendekam di penjara. Selanjutnya, mereka bebas melenggang keluar penjara.
Tapi tidak dengan pak Rouf. Karena orang kepolisian membutuhkan tersangka, maka pak Rouf ditinggalkan sebagai tumbal.
Keputusan itu diambil Moreno, tak lain karena pengaruh Handono. Di sini Handono sudah mulai curiga, pada pak Rouf. Ada hal kecil yang tidak biasa dilakukan pak Rouf.
Biasanya pak Rouf lebih memilih menghindari kontak dengan yang namanya polisi. Tapi ada momen dimana pak Rouf berbincang hangat dengan seorang petugas di tahanan.
Di tahanan ini pak Rouf diberikan kesempatan untuk menjadi justice collaborator. Beberapa hari pak Rouf berpikir, mempertimbangkan kondisi terburuk baginya dan bagi rekan-rekannya yang tersisa, jika dia mengambil pilihan justice collaborator. Pada akhirnya, pak Rouf memilih untuk mengambil opsi justice collaborator.
Pak Rouf memilih untuk menginformasikan, siapa saja intel yang tunduk pada Moreno, maupun Handono. Tapi sayang, ada beberapa nama, yang dia dapatkan dari Handono, yang ternyata adalah fiktif. Nama fiktif yang digunakan oleh Handono, untu mengetahui, apakah ada penghianat di dalam kelompoknya atau tidak.
Berita pengakuan pak Rouf sampai di telinga Handono. Nama-nama fiktif yang disebut pak Rouf, membuatnya yakin, kalau pak Rouf adalah penghianat sebenarnya.
__ADS_1
Melalui seorang perantara, Handono mengirimkan surat pada pak Rouf. Surat tulisan tangan Handonopun dilampirkan di berkas itu.
Intinya, Handono mengungkapkan kemarahannya pada pak Rouf. Dan dia bersumpah, akan menghabisinya, beserta anak turunnya, saat pak Rouf keluar dari penjara.
Di berkas selanjutnya, Budi jadi memahami, mengapa bapaknya bisa merahasiakan semua ini sebegitu lamanya.
Itu karena Handono mengira kalau pak Rouf benar-benar dipenjara. Dan Handono jadi disibukkan dengan perintah Moreno mengembangkan jaringan.
Barulah beberapa tahun belakangan, dia menyadari, bahwa dirinya telah tertipu. Ternyata yang dipenjara atas nama Abdul Rouf itu, bukan Abdul Rouf yang dikenalnya, melaikan orang lain yang namanya sama.
“Oh. Jadi begitu?” komentar bu Ratih.
“Ibu inget sesuatu?”
“Ya. Bapak suka ilang-ilangan sih, pas ibu mengandung kamu. Kaya yang ibu ceritain pas mbak Adel minta maaf. Beneran kejadian lho itu. Bukan karangan ibu” jawab bu Ratih. Budi tersenyum.
“Gitu amat senyumnya?” protes bu Ratih.
“Ya apa lagi, coba? Perawan aja mepet-mepet. Perawan tua apa lagi. Lah janda, disambangin bapak, mana ada yang nolak? Suka senewen ibu, kalo inget”
“Ha ha ha”
Budi tertawa mendengar penuturan ibunya. Ekspresi kesalnya itu yang membuat Budi gemas.
“Udah! Masih ada dua amplop tuh” seru bu Ratih, memprotes Budi, yang masih tertawa.
“Iya” jawab Budi, masih sambil tergelak.
__ADS_1
Budi mengambil isi di dalam amplop selanjutnya. Kertasnya lumayan baru, jika dibandingkan berkas-berkas sebelumnya. Meski tidak bisa dibilang baru sekali.
Dan diberkas itu tertulis, bahwa si Bejo masih terus berlari menghindari kejaran polisi dan bosnya sendiri. Dan bersembunyi di wilayah Pacitan. Menikah dengan wanita setempat.
Di berkas itu juga tertulis kalau sebenarnya si Bejo dan pak Rouf berada di kota yang sama di waktu yang sama, namun saling tidak tahu.
Garis waktunya dimulai di saat pak Rouf terluka parah, setelah ikut dalam operasi penggerebekan kartel narkoba pimpinan Ruslan, bapaknya Frida, si juragan buah.
Di saat pak Rouf dilarikan ke unit gawat darurat, pak Rouf sempat melihat si Bejo ada di rumah sakit yang sama. Tertulis di berkas itu, si Bejo sedang berlari di sebelah ranjang dorong, yang tertidur seorang wanita hamil di atasnya. Dan si Bejo terlihat sangat khawatir dengan kondisi wanita itu.
Di situ tertulis juga, kandungan wanita itu sama besarnya dengan kandungan ‘Ewik’.
“Kandungan wanita itu sama besarnya dengan kandungan Ewik. Ewik itu siapa, bu?” tanya Budi.
“Ya ibu, lah. Gimana sih, kamu?” sahut bu Ratih, heboh.
“Oh, ibu. Ha ha ha ha” komentar Budi sambil tertawa. Praktis, dia mendapat cubitan dari sang ibu.
“Abisnya, nggak ada yang manggil ibu pake nama itu. Budi pikir, bapak lagi nyeritain orang lain” kata Budi menjelaskan kebingungannya tadi.
“Kerjaan bapak tuh, sok imut. Pas awal deketin ibu”
“Oh” respon Budi sambil tertawa.
“Dewi, jadi Ewik. Aneh banget. Hi hi hi” gumam Budi.
“Apa?” seru bu Ratih.
__ADS_1
“Ha ha ha ha” Budi tertawa lagi, saat mendapat cubitan dari ibunya.
Budi kembali fokus membaca tulisan-tulisan dalam huruf jawa itu. Kelanjutan dari jurnal itu, tertulis kalau si Bejo atau Respati, menikahi wanita asli Pacitan bernama Lina. Anak yang dikandung Lina itu lahir dengan kondisi tidak sempurna. Ada oragan dalamnya yang berfungsi tidak sempurna, dan harus segera dioperasi. Tapi si Bejo tidak punya uang untuk operasi itu, sehingga anaknya meninggal.