
Semenjak subuh, Adel sudah uring-uringan. Tidak adanya kabar dari Luki, setelah pergi semenjak kemarin lusa malam, membuatnya kepusingan. Ingatannya tentang pesan singkat tempo hari membuat kecurigaannya semakin menggunung. Antara cemburu dan muak, Adel sudah kesulitan untuk membedakan.
Di satu sisi, walau hatinya masih suka tergoda oleh sosok Budi, tapi harus dia akui, benih-benih cinta untuk Luki sudah mulai bersemi. Walau masih sangat kecil, bahkan untuk bisa dibilang benih sekalipun, tapi sudah bisa menyalakan bara cemburu di hatinya.
Tapi kalau mengingat balasan pesan singkat tempo hari itu, yang mengatakan kalau Luki mendekatinya hanya untuk mendapatkan sesuatu, rasa muaknya seketika membuncah.
Rasa ingin membuktikan itu semakin memuncak. Dia ingin segera mengakhiri tanda tanya besar ini. Tanda tanya yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman ini.
Berkali-kali dia mencoba lagi menghubungi suaminya itu, tapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Bahkan ketika dia menelepon mertuanya, dia hanya mendapatkan jawaban kalau suaminya masih ada di kantornya dari kemarin. Dan pagi ini, ibu mertuanya itu akan pergi ke kantor itu juga, untuk melihat kondisi terkini. Walau ibu mertuanya itu berjanji akan memaksa suaminya untuk mengabarinya, tapi Adel masih merasa tidak puas.
Semua hal terasa salah baginya pagi ini. Bahkan karyawan bengkel kayunya, yang datang lebih awalpun sempat terkena semprotnya. Sampai-sampai harus dilerai oleh ibunya. Dia sempat menelepon adiknya dan memintanya untuk pulang. Hal itu membuat ibunya terkejut. Karena Adel memerintah adiknya dengan cukup keras dan tidak mau tahu kesulitan adiknya itu.
“Adel mau ke Solo, bu” kata Adel, setelah menelepon Madina.
“Loh. Bukannya tadi bu Susan udah bilang, mau maksa Luki buat menghubungi kamu, Del?” tanya bu Lusi.
“Adel nggak percaya, bu. Adel pengen liat sendiri” jawab Adel.
“Nduk. Ilangin dulu cemburumu yang berlebihan itu! Kalian kan menikah tanpa pacaran terlebih dahulu. Masih banyak yang kalian belum paham satu sama lain. Jangan curigaan begitu!”
“Gimana Adel nggak curiga, bu? Dari pas Adel sakit aja, dia pergi dengan alasan yang agak aneh. Beli bensin sampe ke kota. Tapi nggak papa. Adel masih bisa terima itu. Mungkin dia butuh me time. Tapi suami mana yang kerja sampe nggak pulang, nggak ngabarin istrinya? Ditelpon aja nggak bisa lho, bu? Apa bapak pernah begitu?”
“Ya. Ibu tahu. Itu yang ibu maksud. Bisa jadi itu memang kebiasaannya Luki. Dia biasa menjadi anak bos, biasa memerintah, biasa dituruti, kebawa sampe sekarang. Ketika dia ada masalah, yang menurutnya itu juga terjadi karena keputusannya, dia tidak mau diganggu sama sekali sampai masalah itu selesai. Bisa aja sebelumnya pernah diomelin, pernah dimaki-maki sama papanya karena sebuah masalah. Makanya dia trauma. Bisa aja kan dia ngerasa kalo telepon yang masuk itu cuman mau nyalahin dirinya?”
“Nggak masuk akal banget” komentar Adel pendek.
Dia lantas masuk ke dalam rumah. Dia langsung naik menuju kamarnya. Dia kemasi beberapa pakaian dan perlengkapan untuk perjalanan ke solo. Dan tanpa membuang waktu lagi, dia langsung turun dengan kunci mobil di tangannya.
“Nduk. Kamu beneran mau pergi?” seru bu Lusi.
“Iya, bu. Mumpung masih pagi” jawab Adel.
“Ibu panggilin Tati dulu. Biar kamu ada temennya”
“Nggak usah, bu. Ini masalah Adel. Adel nggak mau dicampuri siapapun” tolak Adel.
“Lagian cuman ke solo, bu. Deket” lanjut Adel.
“Tapi kamu lagi kacau, nduk. Entar kamu, “
“Aaah. Kelamaan, bu. Assalamu’alaikum” potong Adel sambil salim.
“Wa’alaikum salam” jawab bu Lusi lirih.
Tak mampu dia menahan kepergian putri sulungnya. Dia hanya bisa mengikuti berlalunya Adel dengan pandangannya.
Di rumah sakit, Madina tampak bingung. Bukannya tidak mau pulang, tapi pulang dengan siapa? Budi sudah terlanjur berangkat lebih awal dengan Erika. Aldo juga sudah berangkat.
“Kamu kenapa, Din?”
Sebuah suara mengejutkannya. Tapi matanya berbinar senang. Dia merasa ada orang yang bisa dia mintai tolong.
“Mbak Hanin? Nggak ke galeri?” tanya Madina.
“Ini mau ke sana. Tapi mau ngasihin sarapan dulu. Titipan ibu”
“Oh” komentar Madin pendek.
“Kenapa? Kayaknya lagi bingung gitu?”
Suara lantang Hanin tak pelak membuat bu Ratih penasaran. Diapun keluar dari kamar rawat.
“Ada apa, Din?” tanya bu Ratih.
“Oh, “ dia terkejut mendengar suara bu Ratih.
“Eee. Anu, bu” Madina tergagap, takut mengungkapkan maksudnya.
“Kenapa? Ibu nyuruh Madin pulang?” tanya bu Ratih kalem.
“Eemmm, i i, iya, bu” jawab Madin masih tergagap.
__ADS_1
“Oh. Ya nggak papa. Kenapa tegang begitu?” komentar bu Ratih.
“Oh, iya. Nggak ada yang nganterin, ya?” lanjut bu Ratih.
“Oh. Ada ojol, bu” sahut Madina.
“Anterin ya, Nin?” pinta bu Ratih pada Hanin.
“Oh, iya. Baik, bu” jawab Hanin mantap.
“Tapi, bu?” sahut Madina ragu.
“Kenapa? Ada yang mau Madin bicarakan sama ibu?” tanya bu Ratih kalem.
“Putri gimana, bu? Nggak papa, Madin tinggal?”
“Ya nggak papa, Din. Ibumu lebih penting buat didahuluin. Kalo ibu butuh bantuan, kan ibu bisa telepon Hanin” jawab bu Ratih.
“Baik, bu. Terimakasih” kata Madina lega.
“Madin pamit sama Putri dulu ya, bu?” lanjut Madina.
“Oh, ya. silakan!” jawab bu Ratih.
“Bu. Mau nyampein titipan dari ibu saya” kata Hanin, saat Madina berlalu masuk ke dalam ruang rawat.
“Ya Alloh, terimakasih. Kenapa repot-repot segala, Nin?” seru bu Ratih sambil menerima rantang pemberian Hanin.
“Eem. Cuman makanan yang kita punya, bu” jawab Hanin.
“Mungkin nggak akan cukup buat membalas kebaikan bu Ratih sama mas Budi pada kami. Mohon diterima ya, bu!” lanjut Hanin.
“Iya. Iya. Ibu terima, ya? Sampein terimakasih ibu pada ibumu, ya! Semoga kalian selalu sehat, dan lancar selalu” jawab bu Ratih, menerima pemberian itu.
Walau bingung juga, siapa yang akan memakannya nanti. Orang sudah pada sarapan.
Haninpun tersenyum senang. Ada keharuan di raut wajahnya. Dia terkenang akan peristiwa di polsek, dahulu kala.
“Udah, mbak” jawab Madin singkat.
“Kalo begitu, saya nganterin Madin dulu ya, bu? Sekalian ke galeri” pamit Hanin sambil salim.
“Iya. Tolong ya, Nin!” sahut bu Ratih.
“Baik, bu”
“Hati-hati di jalan!” pesan bu Ratih, saat Madina salim.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Dari pagi, Budi dan Erika disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Erika harus ikut pak Paul untuk melanjutkan pengurusan ijin produksi masker medis.
Saking bertele-telenya birokrasi, membuat pengurusan itu tidak mudah. Membuat Erika sampai pusing, seolah dia yang punya pabrik. Belum lagi siang harinya dia juga sempat dibakar cemburu, melihat Budi diajak makan siang oleh supplier masker yang hari ini datang kembali. Walaupun ada Farah dan juga Riki.
Sekitar jam sebelas siang, Adel telah sampai di pabrik kepunyaan keluarga Luki. Yang dia tuju kali ini adalah pabrik pembuatan botol plastik. Salah satu perusahaan yang diakuisisi bu Susan setelah kematian suaminya. Dan menjadi satu dari tiga perusahaan dengan tiga bidang kerja berbeda.
Karena dia belum pernah bertandang ke pabrik ini sebelumnya, dan Luki juga belum memperkenalkan dirinya pada semua karyawan di sini, wajar kalau scurity pabrik itu tidak mengenalinya. Berbeda dengan pabrik mebel peninggalan pak Imam. Luki telah mengenalkannya pada semua karyawan di sana. Sehingga semua karyawan di sana, hormat padanya.
Tapi adel malah merasa cocok dengan keadaan ini. Jadi dia bisa mendengar kejujuran dari karyawan di sini, jika benar-benar tidak ada yang mengenalinya.
“Selamat siang, mbak” sapa Adel pada resepsionis pabrik itu.
“Siang bu. Ada yang bisa kami bantu?” sahut resepsionis itu.
“Pak Luki Pratamanya apa sedang di tempat, mbak?” tanya Adel.
“Ibu dari mana, maaf?”
“Saya koleganya pak Luki. Kemarin sempat telponan, dan saya bilang, mau mampir kalo sempat. Emang nggak spesifik sih, jamnya. Jadi bisa dibilang bukan janjian resmi ini, sih” jawab Adel.
__ADS_1
“Oh, begitu. Maaf, ibu. ibu terlambat. Pak Lukinya sudah meninggalkan kantor, bu” kata Resepsionis itu, menjawab pertanyaan awal Adel.
“Oh. Yah, sayang” komentar Adel sambil tersenyum, pura-pura merasa lucu.
“Kalo boleh tahu, pak Luki sedang kemana, mbak? Soalnya saya telepon, nggak aktif. Barangkali saya bisa mendekat ke posisi beliau” tanya Adel mengorek informasi.
“Oh, mungkin bapak belum landing”
“Oh, on flight? Ke kantor yang mana, mbak?”
“Kantor tangerang bu, jatake”
“Wow. Punya kantor di tangerang juga, pak Luki?” komentar Adel terkejut.
Tapi dia berusaha menutupi keterkejutannya sewajar mungkin.
“Iya, bu. Baru seminggu yang lalu diakuisisi”
“Wow. Hebat, pak Luki. Nggak bisa ditinggal ngedip”
“Kalo boleh tahu, dengan ibu siapa? Biar saya sampaikan nanti ke pak Luki”
“Oh. Saya Fitri”
“Supplier apa, bu?”
“Mebel, sih” jawab Adel. Resepsionis itu agak bingung.
“Karena tadi nggak bisa ditelepon, saya mampir dulu tadi ke Pratama Meubel. Tapi infonya, pak Luki lagi di kantor ini. Makanya saya meluncur ke sini” lanjut Adel menjelaskan.
“Oh, iya. Baik” sahut resepsionis itu paham.
“Kalo bu Susan, apa suka ngantor di sini, mbak? Kebetulan beliau kenal saya. Barangkali beliau sedang tidak sibuk” tanya Adel. Resepsionis itu tersenyum.
“Sepertinya ibu sedang tidak beruntung, hari ini. Bu Susan juga baru saja keluar kantor, bu. Secara langsung sih, tidak ada pesan ke resepsionis. Tapi yang saya dengar dari dalam, bu Susan juga ikut terbang ke Tangerang. Sepertinya sedang ada masalah di sana” jawab resepsionis itu.
“Waduh. Kalo ibarat ciki berhadiah nih, saya dapet ‘coba lagi’ “ komentar Adel pura-pura berkelakar.
“Ha ha ha. iya, bu” jawab resepsionis itu.
“Ya sudah kalau begitu. Mungkin saya coba lain waktu. Terimakasih ya, mbak”
“Baik, bu. Sama-sama”
“Eh. Saya boleh tahu alamat kantor yang di Tangerang, mbak? Kebetulan saya juga bantu jualin produk temen-temen saya. Barangkali ada yang cocok”
“Oh, iya. Ini, bu”
Resepsionis itu memberikan sebuah kartu nama. Ya, kartu nama Luki Pratama. Sebagai presiden direktur perusahaan yang di tangerang itu.
“Saya simpan ya, mbak?”
“Boleh. Silakan, bu”
“Mari, permisi” pamit Adel.
“Silakan!” jawab resepsionis itu.
Pikiran Adel semakin kacau. Dia tidak habis pikir, suaminya mengakuisisi sebuah perusahaan tapi tidak ada kabar sedikitpun.
Ya, meskipun bukan urusan dia, tapi dia merasa aneh, kalau sebagai seorang istri, dia tidak beri tahu tentang usaha suaminya sendiri.
Diapun pergi dengan kehampaan hati.
Dalam kebimbangannya, Adel mencoba menghubungi Luki lagi. Tapi hasil sama masih dia temui. Dia telepon bu Susan juga sama. Sempat dia berhenti di tepi jalan.
*Kalo bu Susan juga ke tangerang, berarti emang mas Luki beneran lagi ngurusin masalah. Tapi kok sampe sama sekali nggak bisa ditelepon, sih? Marah nggak ya, kalo aku samperin ke sana? Masa iya marah di samper istrinya sendiri*?
Adelpun memantapkan hatinya untuk menyusul suaminya ke tangerang. Dia mengambil ponselnya, lalu mencari tiket ke tangerang.
Dia mencari tiket yang paling dekat jam terbangnya. Tak peduli dengan harganya yang lumayan tinggi. Dengan langkah pasti, dia arahkan mobilnya menuju bandara.
__ADS_1