Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
apakah son of pegassus lagi?


__ADS_3

*Lu dapet orang dari mana sih, Ndi? Bego banget kerjanya. Awas aja kalo lu kirim orang bego lagi. sekali orang itu nyolek keluarga gua, gua bakal bikin perhitungan sama lu*.


“Mas?” tegur Erika.


“Hem?”


Budi tersentak mendengar teguran itu. Sontak dia tersenyum pada bu Maryati, sembari mengangguk, sebagai isyarat untuk mundur. Dia juga menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.


“Makasih atas warningnya ya, mbak Icha” kata Stevani.


Bu Maryati kembali meminjamkan ponselnya pada Stevani.


“Iya, mbak Vani. Maaf ya, Icha udah bikin suasana jadi tegang begini” sahut Icha.


“Justru bagus, mbak. Jadinya kita bisa persiapan” jawab Stevani.


“Iya, mbak. Sekali lagi Icha minta maaf. Baru kali ini Icha mimpi yang sebegini jelasnya”


“Nggak papa, mbak” jawab Stevani.


Setelah diselingi perbincangan ringan, juga iringan doa, akhirnya sambungan video call itupun diakhiri.


Budi tampak masih termenung. Dia tidak menyadari kalau semua orang menatap padanya. Beberapa saat kemudian, bu Ratih mengajak bu Maryati untuk berbincang, mengalihkan perhatian para tamunya dari memperhatikan Budi.


***


Setelah bu Maryati dan Tika berpamitan untuk pulang, Budi kembali termenung. Erika sempat menegur, tapi Budi hanya menoleh sesaat, lalu termenung lagi.


Sampai-sampai Stevani tersenyum, melihat Budi yang tampak berpikir keras. Dalam hatinya, ada setitik kebahagiaan, karena merasa dipikirkan oleh Budi. Walau dirinya sadar, tidak mungkin lagi dia mendekat ke Budi lagi.


“Mikirin apa sih, mas? Dari tadi nggak kelar-kelar” tanya Erika, setelah sepuluh menit tanpa suara. Bu Ratih sendiri sedang keluar untuk sholat dzuhur.


“Mikirin Sandi” jawab Budi singkat.


“Kenapa? Bingung?” tanya Erika.


“Kaya baru kenal Sandi aja, mas? Bukannya mas yang paling tahu soal Sandi?” lanjut Erika.


Budi tidak langsung menjawab. Dia hanya mencebirkan bibirnya. Lalu tersenyum kepada Erika.


“Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Ka” jawab Budi.


“Ya. Syukurlah. Berarti emang mas nggak ada keinginan buat balik lagi ke tarantula” komentar Erika.


Stevani mengernyitkan keningnya, mendengar ucapan Erika. Terdengar aneh baginya, seorang Erika, seperti sudah mengenal Budi jauh melebihi dirinya.


“Ya. Aku emang nggak peduli sama apa yang Sandi lakuin. Kalopun dia sekarang udah berani bergerak seperti mafia, aku juga nggak peduli. Selama nggak nyolek keluargaku. Tapi yang aku nggak abis pikir, kalo mimpinya si Icha bener, berarti papanya Vani punya sesuatu yang sangat menarik buat dirampas. Sampe-sampe Sandi mau ngeluarin modal gede buat nyewa sindikat” jawab Budi.


“Nyewa sindikat?” tanya Stevani.


Dia yang sudah bisa duduk, dan akan memakan buah jeruk, jadi urung karena kata-kata Budi.

__ADS_1


“Mas” tegur Erika.


“Ya. Masih sekedar prasangka aja, Van” jawab Budi.


“Oke. Aku tahu ada yang kalian sembunyiin. Tapi, bukan hal mustahil buat seseorang nyewa sindikat” kata Stevani.


“Emang papamu nyimpen apa sih, Van? Dan dimana?” tanya Erika.


“Itu dia yang mau aku bilang” sahut Stevani.


“Aku nggak ngerti sama sekali sama yang mereka maksud. Aku tahunya papa jadi direktur sebuah kilang minyak, gajinya juga payroll lewat bank. Kalo ngomongin dongle, harusnya kan ATM. Dan yang pegang kan, papa” lanjut Stevani.


“Lu nggak nyimpen sesuatu gitu di hape lu? Mungkin bukan aplikasi. Atau aplikasi, tapi nggak ada widgetnya. Kaya extenshion yang nggak kamu kenal, gitu” tanya Erika.


“Tumben lu ngerti soal aplikasi, mbak?” komentar Stevani.


“Eh. Lu kata gua Isma. Ngakunya oon, nyatanya suhu? Gua emang tahu. Lu nya aja nggak pernah nanya”


“Ha ha ha ha. Woles, mbak. Peace” sahut Stevani, sambil memberikan tanda damai dengan jemarinya.


“Kalo aku sih, nggak pernah download aplikasi selain dari play store. Coba aja cek! Kali mbak Rika bisa nemuin aplikasi yang aku nggak ngerti”


“Nemuin doang sih, bisa. Cuman itu apa, aku mana tahu” jawab Erika.


“Ah. Itu sih sama aja, mbak. Kirain, ngerti programming” seru Stevani.


“Ha ha ha ha” Erika tertawa, menyadari kekonyolannya.


“Tugas lah, mas” jawab Putri.


“Bilang nggak, mau ke sini jam berapa?”


“Enggak. Belum kontek dari semalem”


“Kenapa emang, mas?” tanya Erika.


“Aku penasaran aja, ka. Dongle di hape, bentuknya apa? Apa kaya son of pegassus? Dia sengaja dimasukin ke hape seseorang, terus, bisa bergerak sendiri gitu” jawab Budi.


“Astaghfirulloh” terdengar Stevani beristighfar.


“Aduh. Jangan dong! Aku nggak mau berurusan sama yang gitu-gitu lagi. Aku tobat ya Alloh” keluh Stevani.


Tanpa ada yang menduga, Stevani ternyata menangis. Erika mendekatinya, dan menghiburnya.


“Kalo menurutku sih, jangan, mas!” kata Erika.


“Kenapa?” tanya Budi.


“Kita nggak usah ikut-ikutan urusan mereka, mas! Selagi mereka nggak nyolek kita, sebaiknya kita diem aja!” jawab Erika.


Budi tidak segera menjawab. Dia menatap kearah Stevani. Dia merasa tidak enak hati, karena ucapan Erika seolah tidak menganggap Stevani adalah bagian dari keluarga.

__ADS_1


“Nggak papa, mas” kata Stevani. Erika menoleh.


“Urusannya papaku, emang cuman menjadi urusanku. Kalian tidak perlu terlibat” lanjut Stevani.


“Ya nggak bisa gitu, Van. Kamu juga berhak dapet perlindungan dari polisi” seru Putri.


“Kalo bisa diantisipasi, kenapa harus merelakan? Pasti bukan sesuatu yang main-main yang mereka incer itu” lanjut Putri.


“Tapi kalo apa yang dikatakan Icha itu benar, itu artinya mereka udah tahu, kalo Dongle itu ada di hape Vani. Dan mereka pasti akan mengamati terus posisi hape itu. Kalo sampe terlacak hape Vani keluar dari rumah sakit, pasti mereka akan nggak akan tinggal diam. Bukannya aku ngeremehin value yang akan mereka rampas. Tapi nyawa kalian jauh lebih berharga” sahut Erika.


Putri terdiam. Dia masih tidak setuju dengan Erika. Tapi dia belum punya ide yang lebih baik dari apa yang dikatakan Erika.


“Oke. Aku pikir itu masuk akal. Kita juga nggak mungkin ribut di sini” kata Budi. Erika tersenyum mendengar keputusan Budi.


*Semoga kalian bisa bertindak presisi. Kesempatan besar tidak datang dua kali*.


“Ka. Ngantor lagi apa udahan?” tanya Budi. Erika tersentak dari lamunannya.


“Oh. Iya. Udah jam satu lewat” sahut Erika.


“Bolos aja, mbak. Kamu ini, HRDnya” goda Stevani.


“Sembarangan. Bisa di demo karyawan sepabrik kalo aku bolos” sahut Erika, sambil bersiap untuk kembali bekerja.


“Ha ha ha” Stevani tertawa.


“Aku ijin dulu, ya?” tanya Budi.


Erika tidak segera menjawab. Ada yang aneh di raut wajah Budi.


“Iya” jawab Erika kemudian.


“Yuk. Aku temenin ke depan”


“Iya” jawab Erika pendek. Merekapun pergi, setelah Erika berpamitan pada yang lain.


*Semoga kamu nggak terlibat, Ka. Aku udah mulai nyaman sama kamu. Kalo kamu sampe terlibat perkara ini, aku nggak akan segan buat ngambil jantungmu*


“Maaf ya, mas. Aku nggak bermaksud lancang. Aku cuman khawatir sama keselamatan kalian” kata Erika, menanggapi keterdiaman Budi semenjak keluar kamar rawat Putri.


“Iya. Nggak papa, kok. Aku cuman lagi mikirin korelasi antara info si Zul sama pak Syukur”


“Ya udah. Aku kerja dulu ya, mas” pamit Erika, setibanya di parkiran.


“Ati-ati, ya!” jawab Budi.


“Iya, mas”


Erikapun pergi setelah bertukar salam. Sedangkan Budi masih mematung beberapa lama. Dia masih mengingat-ingat rangkaian peristiwa sampai berujung pada kedekatannya pada Erika. Tapi dia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanda kalau dia belum menemukan satu benang yang menghubungkan Erika dengan Sandi dan juga tragedi kemarin.


Lagipula, keterlibatan Sandi juga baru sekedar dugaan. Hanya berasal dari mimpi si Icha. Sudah barang tentu, prasangkanya yang mengatakan kalau Erika terlibat dalam tragedi itu, juga hanya sekedar prasangka.

__ADS_1


***


__ADS_2