
Setelah tiga hari beristirahat total, Budi merasakan jenuh. Dia ingin kembali ke aktivitasnya semula. Sekaligus mencari kesibukan untuk menghilangkan bayangan Adel untuk sementara waktu. Baginya, hidup harus tetap berjalan, walaupun harus tanpa Adel di sisinya. Sekalipun itu berat, tapi harus dijalani. Terlebih, sama sekali Adel tidak mau menerima komunikasi darinya. Semua jalur komunikasi yang menuju padanya, dari siapapun atau melewati siapapun, tak dia berikan akses.
“Ngger, sepagi ini kamu mau kemana?” tanya bu Ratih.
“Mau ke watu karung dulu, bu. Liat kondsi bengkel”
“Jangan dulu, ngger. Kamu masih belum sehat bener” cegah bu Ratih.
“Iya, mas. Kalo ada yang usil, mas Budi bisa kewalahan” sahut Putri.
Budi mempertimbangkan pendapat ibu dan adiknya itu. Memang, dia merasa belum cukup sehat untuk bisa bertarung. Terutama di kepalanya. Sesekali masih muncul pusing dan terganggu keseimbangan saat berjalan.
“Kemarin ibu juga main ke sana. Para pekerjamu bisa dipercaya, kok. Mereka tetep bekerja sesuai yang kamu mau, sekalipun kamu nggak ngawasin” kata bu Ratih.
“Iya. ibu juga nggak kalah menarik kok, dari mbak Adel. Kemarin aja bule pada ganjen sama ibu. Ha ha ha ha” sahut Putri.
“Oh, ya? ibu bisa ngobrolnya?” tanya Budi.
“Ya Putri lah, yang menjembatani. Kata mereka, ibu masih cantik banget, mas. Terus nggak percaya lagi, kalo Putri ini anaknya ibu. Ha ha ha ha”
“Emang ibu masih cantik” puji Budi.
“Ish, apaan, sih?” tukas bu Ratih malu-malu.
“Udah, pokoknya kamu jangan ke watu karung dulu. Biar ibu aja yang jagain. Toh, ibu lagi nggak punya ikan. Kamu kerja di pabrik aja, jaga absen. Nggak enak ngger, sama pak Paul” saran bu Ratih.
“Baik, Bu” jawab Budi.
Dan, begitulah. Pagi ini Budi berangkat kerja kembali. Terjadi kehebohan di dalam pabrik. Banyak sekali pertanyaan terlontar kepadanya.
Mulai dari kondisi kesehatan, kronologi kejadian, sampai kebenaran dari berita-berita gosip tentang hubungannya dengan Adelia Fitri yang merenggang.
Dari sekian banyak pertanyaan, Budi bersyukur, bahwasannya belum ada gosip yang menyangkut konspirasi. Belum ada gosip yang secara spesifik memberikan tuduhan padanya atas kasus kecelakaan yang menimpa Adel, dan juga kebakaran yang menimpa bengkel kayu pak Fajar. Budi berusaha memberikan jawaban sesuai dengan porsinya.
Walau sebenarnya teman-temannya itu belum puas dengan jawabannya, tapi mereka akhirnya membubarkan diri, dan kembali ke pekerjaan masing-masing. Itu karena pak Paul keluar dari ruangannya.
Secara pribadi, pak Paul memberikan dukungannya. Dan berharap Budi bisa bekerja sesuai yang diharapkan sekalipun sedang dirundung masalah pelik. Budi menjawab, akan berusaha sebaik mungkin.
Tak bisa dipungkiri, masalah ini cukup menyita perhatiannya. Entah sudah berapa kali dia termenung saat bekerja. Juga entah sudah berapa kali dia terlihat menelepon seseorang, menuliskan pesan singkat, dan juga menyendiri di sudut-sudut pabrik.
Beruntung, ada Erika yang selalu datang menegurnya. Hanya dengan sebuah sentuhan, Budi paham dengan maksud kedatangan Erika.
Hari ke dua masuk kerja, Budi masih merasakan hal yang sama. Bahkan terlihat lebih stress dari sebelumnya. Ibarat barang, dia merasa seperti barang gantungan. Ibarat orang ditahan, tapi tidak jelas kapan akan disidang. Belum ada satupun teleponnya yang diterima. Bahkan Madina sekalipun tidak mau menanggapi teleponnya.
Info dari Putri, Madina sama sekali tidak mau dekat-dekat dengannya lagi. Walaupun Madina tidak mengatakan apapun kepada yang lain. Dalam artian, teman-teman yang lain masih menganggap kalau Madina dengan Putri hanya marahan biasa. Yang entah besok atau kapan pasti akan baikan lagi.
Di hari ketiga masuk kerja, Budi semakin Stress. Kali ini sudah terlihat bagaimana dia lebih sering melamun daripada fokus. Sampai-sampai Erika kesal dibuatnya.
Dia kelepasan marah di depan banyak orang. Budi maklum, dia tidak marah, karena memang dia merasa salah.
Tapi di kantor, Erika minta maaf sampai mau memeluk kakinya. Pastinya dia tolak sikap itu. Malah dia yang minta maaf, karena hari ini dia kacau sekali. Erika manggut-manggut mengerti.
“Kayaknya kamu perlu datengin rumanya deh, Bud. Perjelas lagi, dia maunya apa! Kalo dia emang mau kasusin masalah ini, ya kamu harus adepin dengan jantan!” saran Erika.
“Iya, mbak. Malam ini rencananya aku mau ke rumah dia”
“Tapi hati-hati! Kayaknya mereka udah mikir kamu bakal dateng. Mereka pasti udah nyiapin pengamanan. Ngomong baik-baik, ya! jangan anarkis!”
“Oh. Iya, mbak. Aku coba”
“Kalo emang mereka mau nempuh jalur hukum, tenang aja! Aku pasti bantuin”
Budi terpana mendengar kalimat itu. Erika, yang dia anggap sebagai penggoda, kini mau membantunya. Bahkan setelah terang-terangan dia menghindar dari wanita itu.
“Emang mbak Rika masih percaya sama aku?” tanya Budi.
“Kalo pak Paul aja masih percaya sama kamu, apa alasan aku buat nggak percaya sama kamu?”
“Seeing is beleaving”
“Apa yang terlihat, belum tentu itu yang nyata. Kaya fenomena fatamorgana di tengah gurun”
Budi terharu, sampai tidak sadar air matanya meluncur membasahi pipinya. Buru-buru dia seka air mata itu, karena Farah tiba-tiba masuk ruang HRD tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Sore, setelah sholat ashar, Budi menjadi bertambah kalut. Baru saja dia menerima pesan dari Putri, kalau Zulfikar mulai menghindar darinya. Dia menjadi merasa bersalah.
Untuk menghilangkan kekacauan pikirannya, Budi memutuskan untuk pergi ke kantin. Dia berpikir, secangkir kopi bisa menenangkan pikirannya. Dia berjalan sambil membalas pesan singkat dari Putri.
__ADS_1
BRAAKKK
“Astaghfirulloh”
Karena tidak memperhatikan jalan, dia menabrak seseorang di persimpangan jalan.
“Mbah. Simbah nggak papa?” tanya Budi panik.
Serta merta dia bopong orang yang ditabraknya itu ke kantin. Seseorang membantunya memberikan sebuah kursi.
“Simbah nggak papa?” tanya Budi lagi.
Ya, seorang wanita tua, tanpa terlihat asal mulanya, tahu-tahu melanggar jalur Budi berjalan. Tenaga Budi yang besar kontan membuat simbah itu terdorong ke belakang. Penjaga kantin ini sampai terkejut dan melompat mendekati simbah ini.
“Nggak papa, ngger” jawab simbah itu.
“Kakinya keseleo, nggak?” tanya Budi masih panik.
“Enggak. Sakit dikit aja, kok. entar juga sembuh”
“Kita ke rumah sakit ya, mbah” ajak Budi seraya meminta orang lain menyiapkan mobil medis.
“Nggak usah, ngger! Simbah ngak papa"
“Simbah rumahnya dimana? Saya anter pulang, ya?”
“Nggak usah, mas Budi” sahut penjaga kantin.
“Loh, kenapa, Bu?” tanya Budi.
“Biar saya aja. Ini ibu saya. Tadi dateng sama anak saya” jawab bu kantin itu.
“Allohu Akbar. Maafin saya, bu. Saya lagi meleng. Maafin saya, mbah”
“Nggak papa, ngger. Semua kehendak Yang Maha Kuasa. Kita hanya sekedar menjalankan takdir” jawab simbah itu. Budi terdiam.
“Kamu yang sabar ya, ngger!” lanjut simbah itu.
“Loh. Yang sakit simbah, kok yang disuruh sabar, saya?” tanya Budi bingung.
“Cuci kaki ibumu, ngger! Mintalah maaf padanya! Minum sedikit air cucian kaki ibumu! Lalu pakai sisanya buat mandi. Basuhkan ke seluruh tubuhmu!” kata simbah itu.
“Insya Alloh, badanmu akan kuat menghadapi apapun yang merintangi jalanmu”
Budi terkesiap. Simbah ini seperti bisa membaca pikirannya. Dia memang sedang memikirkan skenario terburuk. Kalau misalkan harus bertempur melawan orang-orang yang mungkin akan disewa pak Fajar.
“Hidup dan mati Budi, ada di tangan Alloh, mbah” jawab Budi.
“Ridhonya Gusti Alloh, tergantung Ridho ibumu. Kamu sudah terlewat dari ridho bapakmu. Jangan terlewat dari ridho ibumu! Jangan mati tanpa membawa ridho darinya!”
Budi ternganga. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa simbah ini tahu kalau bapaknya sudah tiada? Mungkin simbah ini wali, begitu pikir Budi.
“Sendiko dawuh, mbah” jawab Budi. Dia sungkem seperti sungkem kepada ibu dan simbahnya sendiri.
Pak Paul yang baru datang, menanyakan ada kejadian apa. Bu kantin menjelaskan kronologinya. Tanpa buang waktu, pak Paul memerintahkan Erika untuk menyiapkan sebuah mobil, untuk mengantar simbah ini pulang. Setelah berobat dulu, tentunya.
Begitu bel tanda pulang berbunyi, Budi langsung berkemas. Tak peduli mata Erika terus memperhatikannya. Diapun ijin pulang hanya dengan tatapan mata, dan anggukan kepala.
Aldo dan Riki sampai terheran-heran.
Langsung dia geber motor bongsornya menuju barat kota. Menyusuri jalan menuju watu karung. Update terakhrir, ibunya masih di bengkel kayu bersama Putri. Dan benar, motor matic yang lebih kecil itu masih berada di sana. Tapi ibunya tidak terlihat di galeri. Hanya ada Putri yang berjaga.
“Ibu dimana, Put?” tanya Budi.
“Lagi masak, mas”
Putri yang sedang menulis di buku catatan, terkejut mendengar sapaan kakaknya tanpa salam. Langsung dia beranjak mendekat dan salim.
“Mas Budi ke belakang, ya?” pamit Budi.
“Ada apa, mas? Mas Budi abis ketemu mas Zul?” tanya Putri.
“Enggak, belum” jawab Budi.
“Terus?” tanya Putri lagi.
Tapi Budi tidak menjawab. Dia langsung pergi ke belakang. Putri yang penasaran langsung mengunci pintu depan dan ikut pergi ke belakang.
__ADS_1
Dari balkon belakang galery, Budi bisa melihat ibunya sedang meracik bumbu ditemani istrinya kang Supri. Rupanya ada yang sedang berkunjung. Semua orang melihat kedatangannya.
Kang Mangil malah sempat menyapanya. Tapi pandangannya yang fokus ke ibunya, membuat sapaan itu terlewatkan begitu saja. Membuat tiga serangkai itu terheran-heran.
Mereka mencoba bertanya kepada Putri dengan bahasa isyarat, tapi Putri mengaku tidak tahu.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi pada ibunya.
“Wa’alaikum salam” jawab bu Ratih dan istrinya kang supri bersamaan.
“Ada apa, ngger? Tegang banget? Kamu nggak abis berantem, kan?” tanya bu Ratih heran.
“Bisa ganggu waktunya sebentar, Bu? ada yang mau Budi bicarakan sama ibu”
“Ya udah, ngomong aja!”
“Bisa ke atas sebentar, Bu?”
“Oh. Ya. bisa” jawab bu Ratih.
“Biar saya yang nerusin, bu” kata istrinya kang Supri.
“Tolong ya, nduk!” kata bu Ratih.
“Baik, bu”
Bu Ratihpun beranjak dari duduknya. Dia segera menaiki tangga menuju kamar Budi. Tapi Budi malah pergi ke dapur bawah dulu. Dia mengambil sebuah baskom plastik. Dia isi baskom itu dengan air lebih dari setengahnya. Lalu dia naik menuju kamarnya. Putri yang penasaran, ikut naik dengan mengendap-endap.
“Kok bawa air segala, ngger?” tanya bu Ratih makin heran.
“Budi mau sungkem, bu” jawab Budi. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Boleh Budi minta ibu buat duduk dulu di kursi itu?”
“Oh. Ya” jawab bu Ratih.
Dengan masih diselimuti kebingungan, bu Ratih menuruti keinginan putra sulungnya. Dia duduk di kursi kayu, sedangkan Budi mendekat dengan membawa baskom itu. Dia letakkan baskom itu di depan telapak kaki ibunya.
“Bu. Budi minta ijin buat ngebasuh kaki ibu” kata Budi. Dia berkata sambil menunduk. Suaranya mulai bergetar.
“Ngger, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba pengen ngebasuh kaki ibu?” tanya bu Ratih.
“Ijin ngebasuh, bu” pinta Budi lagi.
Tangannya sudah menyentuh kaki kanan bu Ratih, tanpa menghiraukan pertanyaan tadi.
“Ya Alloh, ngger. Kamu kenapa sih?” tanya bu Ratih lagi. walau tak mendapat jawaban, tapi bu Ratih tetap memberikan kakinya untuk dibasuh Budi.
“Bu. Seberapa ridho ibu sama Budi?” tanya Budi, sambil membasuh telapak kaki bu Ratih”
“Ya Alloh, ngger. Kamu mbok jangan nakut-nakutin ibu! Pertanyaanmu itu kok sama kaya pertanyaan bapakmu” komentar bu Ratih.
Budi tidak menjawab. Hanya suara isak tangis yang mulai menggema di kamar ini. Budi tak kuasa menahan kesedihan atas semua ujian yang menimpanya. Tangisnya pecah. Air matanya jatuh ke baskom berisi air itu.
“Seberapa ridho, bu?” tanya Budi lagi.
Budi mengangkat telapak kaki ibunya sejajar dengan wajahnya. Lalu dia kecup punggung telapak kaki itu.
“Ngger, jangan dicium! Ibu riho banget sama kamu, ngger. Kamu udah nebus semua kenakalan kamu dulu dengan prestasi dan juga budi pekerti luhur” jawab bu Ratih. Budi masih saja terisak. Gantian telapak kaki kiri bu Ratih dia basuh.
“Budi minta maaf ya, Bu. Budi masih nyusahin ibu”
“Ngger. Kamu harus tahu. Sekalipun kamu udah punya anak, di hati ibu kamu tetep Budi yang dulu ibu gendong. Ibu ridho kamu repotin, ngger. Itu kebahagiaan ibu. Ibu malah sedih kalo kamu malah senengnya ngerepotin orang. Seneng minta bantu sama orang. Itu artinya kamu lebih nyaman sama orang lain daripada ibumu sendiri, ngger” jawab bu Ratih.
“Ibuuu”
Budi makin tak kuasa menahan keharuannya. Dia peluk kedua kaki ibunya. Lalu menangis di pangkuan, seperti yang dulu sering dia lakukan saat dibully teman-temannya.
Cukup lama juga Budi memeluk kaki bu Ratih. Dan bu Ratih senantiasa sabar menjadi tempat Budi mencurahkan perasaannya.
Dengan sabar dia elus-elus kepala Budi, sembari memanjatkan doa-doa untuk kebaikan putra sulungnya itu.
“Loh, loh, ngger?”
Bu Ratih terkejut saat Budi menarik diri darinya, malah mengangkat baskom itu.
“Loh, itu kan kotor, ngger?”
__ADS_1
Semakin terkejut bu Ratih, melihat Budi meminum air bekas cucian kakinya tadi. Tapi Budi tidak menghiraukan. Beberapa tenggakan telah masuk ke dalam perutnya. Lalu Budi meminta ijin untuk menuju kamar mandi.
Tak dia hiraukan pandangan mata para karyawannya. Termasuk juga Putri, yang sudah turun kembali. Di sana, Budi membasuh tubuhnya dengan air itu. Mulai dari rambut, sampai dengan ujung jari kakinya. Dia pastikan lagi, tidak ada yang terlewat. Lalu dia guyurkan sisanya sambil berdiri.