Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kenyangnya bu ratih, saat melihat yang lain kenyang


__ADS_3

“Ngomong-ngonong, kita nyeberangnya gimana, Bram?” tanya Adel.


“Ini Abram juga lagi mikir” jawab Budi.


“Eh, Bud. itu ada drum anyut. Pinjem dulu yuk!” ajak tetangganya.


“Terus, makenya gimana?” tanya Budi.


“Itu ada bambu anyut juga” seru tetangga yang satunya.


“Wah, bener. Hayu!”


Merekapun mempercepat jalan mereka. Salah satu tetangga Budi itu bahkan setengah berlari. Dia mengejar drum yang akan hanyut ke gang lingkungan. Sukses, dia berhasil meraih drum itu, dan membawanya ke depan minimarket.


Adel ditugasi untuk membawa kantong plastik berisi nasi bungkus itu. Sedangkan Budi, pergi meminjam golok kepada warga yang rumahnya di pinggir jalan.


Dia membuat rangka untuk menyatukan kedua drum itu. Pucuk dicinta, ulampun tiba. Melihat aksi mereka membuat perahu dari drum, membuat pemilik toko plastik yang sebelumnya didatangi Putri, memberikan tali rafia untuk mereka.


Tak sampai setengah jam, perahu dadakan itupun sudah jadi. Sisa tali rafia yang panjang, Budi kaitkan di salah satu sisi perahu itu. Agar bisa ditarik kembali ke jalan raya, setelah mengantarkan nasi bungkus.


“Bud, ini ada pelampung”


Seseorang mengejutkan mereka dari belakang. Ternyata itu adalah pak kapolsek yang tadi. Bersama dua orang bawahannya.


“Pakai, gih!” lanjutnya.


Dia menyerahkan pelampung berwarna oranye kepada Budi. Tapi hanya satu pelampung yang dia berikan.


“Aku aja” sahut Adel. Dia merebut pelampung itu, sesaat sebelum dipegang Budi.


“Ladies first” lanjutnya.


Adel langsung memakai pelampung itu. Dan pak kapolsek, hanya tertawa melihat Budi tidak berkutik diveto Adel.


Setelah mengucapkan terimakasih, mereka lansung bergerak mendorong perahu drum mereka. Adel menyempatkan diri untuk melihat isi dari kantong plastik itu. Ternyata hanya ada sepuluh bungkus.


Adel berinisiatif untuk meminta kantong plastik, kepada pemilik toko plastik, dan memisahkan satu bungkus. Dia sembunyikan di balik pelampungnya. Dia berniat untuk memberikannya kepada Putri, untuk dimakan bersama bu Ratih.


“Lets go” seru Adel.


Keempat laki-laki itu tergelak melihat aksi Adel. Dia satu-satunya orang yang naik perahu itu. Dan dia berseru seolah-olah dia adalah kapten kapal penjelajah. Ketiganya mendorong perahu itu bersamaan.


“Siap ya, Ta!” seru Budi, saat perahu sudah berada di depan gedung serbaguna.


“Siap” jawab Adel.


Adel berpegangan pada rangka perahu drum itu. Dan perlahan, ketiganya melepas perahu itu untuk menyeberang. Budi mengulur tali rafianya sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Ada raut tegang di wajah Adel. Dia terbayang kedalaman air banjir ini cukup untuk membuatnya tenggelam. Belum lagi arus yang masih cukup deras, membuat perahu itu cenderung bergerak ke timur.


Tak hanya Adel yang tegang, tapi bu Ratih dan semua orang yang menyaksikan aksi mereka juga ikut tegang. Beberapa kali Budi dan teman-temannya harus menarik mundur perahu itu, karena haluannya sudah mengarah langsung ke aliran banjir di timur gedung.


Perlu beberapa kali merubah arah start, sampai mepet ke tembok bangunan di baratnya, sampai akhirnya mereka berhasil melabuhkan Adel ke gedung serbaguna itu. orang-orang yang berada di teras, langsung sigap membantu Adel memegangi perahunya. Adel memberikan kantong plsatik hitam itu kepada salah satu dari mereka.


“Mbak, naik!”


Adel yang sedang menoleh ke arah Budi, terkejut mendapat teguran itu. Saat dia memutar arah kepalanya, terlihatlah sosok Putri sedang memandanginya dengan tatapan memerintah.


“Eh, Put. Tapi mbak Adel mau cari logistik lagi” jawab Adel.


“Naik, mbak!” pinta Putri lagi.


Adel mengernyitkan dahinya. Dia bingung dengan sikap Putri.


“Kalo mbak Adel masih mau sama mas Budi, nurut sama Putri!” lanjut Putri.


Setelah berpikir beberaa saat, Adel menuruti apa yang Putri minta. Dengan dibantu warga, dia naik ke teras gedung serbaguna.


“Kasihin ibu!” kata Adel.


Dia berikan bungkusan terakhir yang sengaja dia simpan untuk bu Ratih. Putri menerimanya.


Adel melepas jaket pelampungnya, dan meletakkannya di atas perahu. Dia kibaskan jempolnya di depan lehernya, sebagai tanda kalau dia tidak ikutan lagi. Budi bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan antara Adel dengan Putri.


Saat dia kembali menatap ke arah bu Ratih, tinggal Putri yang dia dapati. Kali ini tatapan matanya berubah menjadi sendu.


Adel mencari bu Ratih ke dalam gedung. Dan dia terpaku, saat melihat bu Ratih memberikan bungkusan nasi yang dia sisihkan itu kepada tetangganya.


Seorang wanita paruh baya, mungkin seumurannya, walau jaim, tapi dia menerima bungkusan nasi itu. Dan beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu makan dengan lahapnya. Terlihat sekali kalau sebenarnya wanita itu menahan rasa lapar. Pikiran Adel berkecamuk, antara kesal dan kasihan. Dia pergi ke arah pojokan. Melewati Putri begitu saja, tanpa menoleh.


“Mbak” panggil Putri. Adel tak menghiraukan. Putri mengejarnya.


“Mbak, maafin Putri. Putri lakuin ini, karena Putri nggak pengen lihat ibu kebanyakan pikiran” kata Putri.


Adel masih tidak menjawab. Dia duduk di pinggiran pondasi. Menggantungkan kakinya tepat di atas air banjir.


“Mbak, dari tadi tuh, ibu ketakutan. Ibu takut mbak Adel kenapa-kenapa. Terlebih yang terakhir tadi. Nyebutnya nggak putus-putus, mbak” kata Putri lagi. Adel menoleh.


“Gini-gini, embak juga bisa berenang, Put. Embak juga pake pelampung. Kenapa mesti takut?”


“Putri ngomongin ibu, mbak. Bukan pendapat Putri sendiri. Putri tahu, embak pengen ngelakuin sesuatu buat kami. Embak pengen berguna buat kami. Putri tahu. Tapi buat ibu, yang terbaik adalah ngeliat mbak Adel tetep aman di sini sama kita” jawab Putri. Adel diam sejenak. Dia menghela nafas berat.


“Terus, mbak Adel harus stay di sini, liat ibu nggak makan?” tanya Adel.


Gantian Putri yang terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


“Itulah ibu, mbak. Rasa kenyangnya adalah saat liat yang lain kenyang” jawab Putri. Dari pelupuk matanya, meluncur air mata.


Adel tidak berkomentar lagi. Banyak kata ingin dia ungkapkan, tapi dia pikir, itu tidak akan menyelesaikan masalah.


"Ya Alloh, berikanlah kami rahmatmu. Kuatkan hati kami, ya Alloh” gumam Adel, berdoa.


“Amin” sahut Putri.


Mereka tidak menyadari, kalau ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Ya, bu Ratih sudah berdiri di belakang mereka semenjak mereka duduk. Dan terus mendengarkan pembicaraan mereka. Di dalam hati bu Ratih bersyukur, diberikan putri yang sayang sekali padanya. Dan juga calon menantu yang juga rela berkorban untuknya.


Cukup lama mereka menantikan bantuan logistik berikutnya. Namun sampai satu jam menunggu, bantuan itu tak kunjung datang. Barulah lima belas menit kemudian, Budi datang kembali dengan satu kantong plastik lagi.


Kali ini, tidak ada orang yang menaiki perahu itu. hanya kantong plastiknya saja yang diletakkan diatasnya. Saat perahu itu berhasil berlabuh, warga yang belum makan, bersorak kegirangan. Tapi lagi-lagi, bantuan makanan siap santap itu, hanya beberapa bungkus banyaknya. Masih belum mencukupi untuk keseluruhan pengungsi.


“Bu Ratih” panggil salah satu warga.


“Ini buat bu Ratih sama Putri” lanjutnya.


“Yang di dalem aja dulu, pak. Kasihan yang punya anak kecil. Putri sih, udah gede” jawab bu Ratih.


Bapak-bapak itupun mengalah. Dia masuk ke dalam gedung untuk memberikan jatah bu Ratih itu kepada perngungsi yang belum makan.


“Kamu laper Put?” tanya Adel.


Putri tidak menjawab. Tapi dari tatapan matanya, Adel tahu Putri lapar. Adel berdiri dan hendak menghampiri bapak-bapak tadi.


“Mbak, mau kemana?” tanya Putri sambil menghalangi jalan Adel.


“Udah, nggak usah, mbak! Putri belum laper” lanjutnya lirih.


Lagi-lagi, perasaan Adel berkecamuk. Di sini, dia merasa tidak sependapat dengan bu Ratih. Bagaimanapun, Putri mendapat hak untuk didahulukan. Perkara yang tua belakangan, itu memang sudah sewajarnya begitu.


“Oke” jawab Adel. Dia kembali duduk di tempat semula.


Adel berdoa lagi, agar Alloh menurunkan lagi rahmatNya, yang lebih banyak dari ini. Agar mencukupi keseluruhan pengungsi.


Mereka harus menunggu lagi. Sedangkan matahari beranjak meninggi. Perut Adel sendiri sudah mulai merasakan lapar. Dia berpikir, pasti Putri dan bu Ratih lebih lapar lagi.


Setengah jam kemudian, warga yang bersiaga, kembali heboh. Ternyata Budi dan teman-temannya kembali mendapatkan suplai logistik. Adel seketika berdiri dan bergerak mendekat.


Dia ikutan antri bersama beberapa warga lainnya. Tapi lagi-lagi, hanya sedikit nasi bungkus yang didapatkan Budi. Adel berusaha memaklumi. Yang kelaparan bukan hanya yang berada di sini. Disaat nasi bungkus itu dibagikan, Adel memaksa untuk meminta jatah. Itu juga hanya kebagian satu bungkus. Dia berjalan menuju tempat bu Ratih duduk. Putri mendekat.


“Bu, makan dulu” pinta Adel. Bu Ratih tidak segera menjawab.


“Please!” pinta Adel lagi.


Bu Ratih tersenyum dan mengangguk. Dia menerima nasi bungkus pemberian Adel. Dia mengajak Putri untuk turut serta makan. Bahkan Adel sendiripun juga diajak. Tapi Adel menolak halus. Dia beralasan, kalau Budi sedang mencarikan untuknya.

__ADS_1


Adelpun berdiri dan keluar dari gedung itu. beberapa warga menegurnya, saat mereka melihat Adel meneteskan air mata. Namun Adel hanya menjawab dengan senyum dan gelengan kepala.


__ADS_2