
Semakin tinggi sebuah pohon, semakin kencang angin berhembus. Mungkin pepatah itu juga tepat disematkan untuk Budi. Semakin bisa dia mengatasi banyak hal, justru semakin banyak hal-hal baru bermunculan.
Kali ini dia dibuat pusing untuk urusan imigrasi, ekspor-impor, dan dokumen-dokumen lain yang ada kaitannya dengan ekspo di eropa.
Banyak sekali waktunya tersita untuk mempelajari urusan legalitas. Sehingga beberapa pekerjaan yang sempat bisa dia selesaikan tepat sebelum bel pulang berbunyi, sekarang molor lagi. Bahkan setelah dibantu Aldo dan Riki.
“Oh, ya. siapa jadinya yang akan diberkangkatin ke Berlin?”
Budi yang sedang berdiskusi dengan Farah dan Ratna, tersita perhatiannya karena teguran dari seseorang. Mereka menoleh bersamaan.
“Eh, mbak Rika. Ini, si Ratna, mbak” jawab Farah.
Erika yang baru saja meneguk air putih, hanya mengangguk-angguk menanggapi jawaban dari Farah.
“Good. Setuju” komentar Erika.
Budi tersenyum. Dia merasa geli dengan komentar Erika. Orang tidak ada yang meminta pendapat dia, mengapa dia bilang setuju?
“Oh ya, Bud. Laporan penilaian kamu udah siap?” tanya Erika.
“Eem” Budi agak ragu untuk menjawab.
“Haih” keluh Erika.
Semuanya menjadi tegang. Bahkan yang sedang duduk di kubik tim produksipun ikut tegang melihat ekspresi wajah Erika.
“Oke deh. Entar sore siap, ya? Pak Paul udah nanyain” lanjut Erika setengah memaksa.
“Ya, mbak. Siap” jawab Budi.
“Kalo emang perlu diskusi mendalam, mending ke ruang meeting, deh! Jangan di koridor begini! Nggak semua informasi boleh didenger sembarang orang” kata Erika mengingatkan ketiga panitia ekspo itu.
“Oh. Iya, mbak. Maaf” sahut Farah.
__ADS_1
“Iya, kami kebetulan aja ketemu di sini” tambah Ratna.
“Ya udah. Lanjutin di atas aja!” perintah Erika.
“Bud, aku pergi dulu. Jangan lupa summery absensi, ya! jangan ada yang kelewat!” lanjut Erika memberi perintah kepada Budi.
“Siap, mbak” jawab Budi.
Erikapun pamit. Dia langsung menuju pintu tembus menuju lobbi. Budi mengajak Farah dan Ratna untuk melanjutkan pembahasan itu di ruang meeting. Buatnya, topik kali ini masih terlalu awam buatnya. Dan masih terlalu ruwet untuk bisa dia pahami.
Tanpa terasa, pembahasan itu memerlukan waktu berjam-jam untuk bisa sampai dia pahami. Dan bel tanda jam kerja berakhir tinggal hitungan menit lagi.
Budi langsung kembali ke kantor PPIC & HRD/GA. Sebelum memasuki ruangan, dia sempat melihat Erika sudah kembali. Terlihat dia sedang berbincang dengan Hilda, bawahannya Isma.
Alih-alih menggunakan personal computer di mejanya, Budi malah mengambil laptop yang memang dia bawa dari rumah. Dia mengambil berkas yang dia perlukan, lalu kembali naik ke lantai dua.
Lu mau kemana, Bud? Kok meeting ekspo segala bawa-bawa berkas surat perintah lembur? Emang lu bisa ngerjain dua hal dalam satu waktu?
Bukannya tidak tahu kalau dirinya sedang diikuti, tapi Budi diam saja. Yang pasti, dia memang ingin bekerja di ruang meeting. Dia sengaja memilih kursi yang memunggungi pintu masuk. Dan langsung bekerja tanpa menghiraukan sepasang mata yang penasaran di balik pintu itu.
Ditempat lain, Dino sedang dicecar banyak sekali pertanyaan. Banyak juga pertanyaan yang diulang lagi. Tentang hubungannya dengan Stevani, hubungannya dengan preman-preman itu, tentang bagaimana berhubungan dengan mereka, tentang siasat fitnah itu, tentang rekaman itu, alat perekam, tempat dan situasi perekaman, bagaimana bisa tahu kalau Zulfikar punya alat deteksi suara semacam Stetoskop, dan bagaimana juga dia tahu kalau hari itu, jam itu, Zulfikar akan datang ke kontrakannya bersama kekasihnya.
Mengenai preman-preman itu, Dino kembali menjawab dengan jawaban yang sama. Dia hanya mengenal mereka lewat proposal yang dikirimkan kepadanya. Itu juga karena dia dibawah bayang-bayang nama besar kakaknya.
Lalu dia mengatakan kalau dia memesan satu jasa untuk melumpuhkan dan memberikan Budi dan Adel suntikan penghapus ingatan. Sekenarionya seperti yang telah dia ceritakan sebelumnya.
Mengenai rekaman itu, Dino berkali-kali menolak tuduhan kalau dia yang melakukannya. Sekalipun para penyidik telah menunjukkan bukti kalau paket yang berisi strategi lengkap, mulai dari pengeroyokan, penyuntikan obat, sandiwara setelahnya. Sampai-sampai biografi lengkap tentang Zulfikar ada di dalam dokumen strategi itu.
Tentang Zulfikar yang punya pacar, dan pacarnya adalah adiknya Budi, musuh bebuyutannya. Tentang Zulfikar yang hobi teknologi dan suka bikin peralatan elektronik. Tentang Zulfikar yang sedang mengembangkan sebuah alat penangkap suara. Dan pastinya tentang Zulfikar yang merupakan tetangga kamar dengan Stevani.
Tentang si Karjo juga disebutkan dengan detil bagaimana ciri-ciri dan sifatnya. Tentang Karjo yang dijadikan target man juga diulas detil. Skenario pemasangan lampu dan pemutaran rekamannya. Dan kapan waktu eksekusinya, tertulis akan disampaikan lewat telepon.
Dan dari sekian banyak ponsel milik preman-preman itu, penyidik memperlihatkan sebuah nomor kepada Dino. Dan setelah dicoba dihubungi, ternyata benar, ponsel dia yang juga dipegang penyidik berdering.
__ADS_1
Para penyidik itu terus mencecar Dino sekalipun Dino terus mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak tahu-menahu tentang skenario itu. Dia terus mengatakan kalau semua itu fitnah untuknya. Dia terus mengatakan kalau dirinya dijebak. Tapi ketika ditanya diapa yang menjebak, dia bilang tidak tahu.
Penyidik memutarkan isi rekaman yang mereka dapat dari si Karjo. Bukan pertama kalinya memang. Tapi penyidik itu seolah ingin menegaskan kalau itu adalah rekaman hasil perbuatannya. Penyidik itu juga bilang, kalau sampai polisi mendapatkan alat perekamnya, maka hukumannya akan lebih berat daripada kalau Dino mengaku.
“Pak. Selain yang rekaman itu, oke saya akui. Tapi tentang rekaman itu, demi apapun saya nggak tahu-menahu”
“Jangan sampe aku ilang kesabaran, nih!” ancam salah satu penyidik.
“Gini aja deh, pak. Kalo disuruh ngaku, sampe mati saya nggak akan mau ngakuin rekaman itu. Tapi saya inget sesuatu tentang suara di awal rekaman itu” kata Dino.
“Ya itu kan suara kamu sama Stevani, kan?”
“Iya. Dan ada sesuatu sebelum kita masuk kamar hotel. Waktu itu, ”
“Ya itu kan skenario kamu” potong salah satu penyidik.
“Pak, bisa nggak sih dengerin saya dulu?”
“Belagu banget jadi bocah” teriak salah satu penyidik, dengan tangan kanan siap terayun.
“Eh eh, tunggu, tunggu! Coba kita dengerin dulu!” cegah penyidik satunya.
“Awas lu kalo omong kosong!” ancam penyidik tadi.
“Lanjutin!” perintah penyidik yang melerai.
“Sebelum kita masuk kamar hotel, si Vani bilang kalo hapenya dia ketuker sama hapenya Isma. Sempet dia minta resepsonis buat fotoin hape itu dan kirim ke nomer si Vani. Terus resepsionis itu disuruh nelpon ke nomer si Vani, tapi nggak diangkat-angkat sama si Isma”
“Lo tahu akibatnya kalo nuduh orang tanpa bukti?”
“Saya nggak nuduh, pak. Saya cerita kejadiannya. Cek aja di hapenya Vani!” jawab Dino.
Penyidik yang melerai tadi keluar dari ruang interogasi. Dia meminta kepada penyidik lain untuk memeriksa ponsel Stevani. Beberapa lama diperiksa, ternyata memang ada foto yang dimaksudkan Dino.
__ADS_1
Tapi mereka berpendapat kalau bisa saja itu termasuk bagian dari rencana Dino. Perlu bukti lebih untuk bisa mengembangkan kasus ini sampai menahan terduga baru. Penyidik tadi mengamini. Dia juga bilang perlu hasil lab digital yang lebih detil untuk bisa mengetahui device apa yang digunakan untuk merekam suara itu.