Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
ocehan Handono


__ADS_3

“Sebenci itukah kamu sama Vani”


“Yap” jawab Handono singkat. Pak Paul mengernyitkan keningnya.


“Kalo aja wajahnya nggak mirip sama ibunya, aku nggak akan segan buat ngebuang dia ke laut” lanjut Handono, sambil melirik ke arah Stevani.


“Anaknya Rouf” lanjut Handono lagi.


Senyum kebenciannya tersungging, bagaikan menghadapi musuh bebuyutannya.


*GRAAAKKKK*


“Yang sopan! Dari tadi manggil orang terhormat, nama doang” geram Erika, setelah menendang kursi yang diduduki Handono.


“Heii. Bejo junior. Kemana bapakmu? Nggak dibawa juga?” seru Handono, menanggapi geraman Erika.


“Hempf. Respati. Nggak ada mirip-miripnya sama kamu” komentar Handono.


“Apa urusannya? Gua nggak peduli, Marmo. Gua nggak sudi punya papa bandar narkoba” sentak Erika.


“Hempf. Ha ha ha ha ha”


Handono malah tertawa lepas. Membuat semua orang bingung dengan sikapnya.


“Iya iya iya” kata Handono, masih sambil tertawa.


“Saranku, kamu jangan ikut-ikutan! Selagi Respati masih nganggep kamu sebagai anaknya. Kalo dia udah marah, percayalah, dia akan ngelupain semuanya. Dia nggak akan ragu buat ngabisin kamu. Kamu udah tahu kan kenyatannya, siapa kamu siapa dia?” lanjut Handono. Stevani terkesiap. Budi menatap bingung ke arahnya.


“Mendingan, kamu lindungi ibu juga adik-adikmu! Bawa jauh-jauh dari kehidupan anak turunnya Rouf!” lanjut Handono lagi.


“Hem?” Budi kelepasan suara.


Handono tersenyum. Dia menggerakkan kepalanya, menunjuk ke arah bu Lusi.


“Dia juga benci banget sama Rouf. Gara-gara bapaknya dia, tuh. Bapak angkatmu hampir mati” kata Handono pada Erika. Budi semakin terkejut. Dia reflek menoleh pada Erika.


“Heh, Rouf” kata Handono sambil menyeringai ke bu Ratih, penuh kebencian.

__ADS_1


“Liat cewek model begini aja, konslet otaknya” lanjut Handono.


*GRAAAKKK*


“JAGA CONGORNYA!” seru Budi sambil menendang kursi Hadono. Tapi Handono tetap menatap bu Ratih dengan tajamnya.


“Apa istimewanya kamu, sampe-sampe Rouf milih ngumpanin kita?” komentar Handono masih sambil menatap bu Ratih.


“Pecundang bapakmu itu, Bud. Mukanya sepuluh” kata Handono pada Budi.


“Apa lu bilang?” tanya Budi sambil menjambak rambut Handono.


“Apa yang lebih buruk sebutannya, hem? Udah gagal, nggak ngakuin gagal, ketangkep polisi, justru milih justice collaborator”


*BUAAAKKK*


Budi meninju wajah Handono dengan telaknya. Tak peduli ada Stevani di depannya. Dan Stevani juga tampak tak peduli.


“Kamu kan juga preman. Apa sikap kaya gitu bisa dimaafin dalam kode etikmu, hem? I don’t think so. Nggak mungkin” kata Handono. Budi menatapnya penuh kemarahan.


“Selagi sempet, aku saranin, bunuh saja aku! Karena, selagi aku masih hidup, aku nggak akan berhenti buat ngancurin anak keturunan Rouf” lanjut Handono.


“Nggak usah pake drama, Bud! Mau bunuh aku, lakuin sekarang juga! Itu lebih baik buatmu. Beneran. Liat itu! LIAT! Aku cuman dapet ampas. Bertahun-tahun aku ngerawat anak yang ternyata bukan anakku. Itu anak hasil lendir bapakmu, Bud. LENDIR BAPAKMU, BANG***”


*BUAAAKKK*


“Mas Bud. Front barat datang” seru Sephia.


Sontak perhatian Budi teralihkan. Dia berjalan menghampiri Sephia. Ternyata benar, jarak gerombolan itu tinggal kisaran dua kilometer lagi.


“Ha ha ha ha ha. HA HA HA HA HA” Handono tertawa kencang.


“Satu lagi, orang yang benci sama Rouf akan datang” kata Handono. Budi berusaha untuk tak peduli. Tapi Handono tahu, Budi bisa mendengar suaranya.


“Bertahun-tahun Respati menderita karena kebusukan bapakmu, Bud. Bertahun-tahun dia harus ngumpet dari incaran polisi, juga dari bos Dracko. Sampe-sampe dia harus kehilangan anak, karena nggak punya duit, buat operasi darurat. Bocah baru lahir, Bud. Bocah baru lahir harus mati cuman karena bapaknya nggak punya duit. Kamu pasti masih ingat peristiwa itu, Lusi?” lanjut Handono dengan volume suara yang lebih dikencangkan.


Bu Lusi tercengang. Air matanya seketika jatuh. Tubuhnya bergetar mendengarkan ucapan Handono.

__ADS_1


Dia ingat. Dia ingat kejadian itu. Kejadian saat dia hamil di luar nikah, dengan pacarnya dulu. Namun pacarnya tidak mau menikahinya. Cowoknya hanya menemaninya sampai melahirkan di rumah sakit.


Dari rencana akan membuang bayi itu, rupanya ada seseorang yang baru saja kehilangan bayinya. Dan orang itu memohon padanya untuk mengadopsi bayi perempuan yang baru dilahirkannya, agar istrinya tidak sedih, atas kematian bayi yang tidak tertolong itu.


Budi tersulut emosinya, mendengar bapaknya dihina segitu rupa. Dia mendatangi Handono lagi. Tak dihiraukannya teguran Erika.


“Ha ha ha ha. Kamu emang mewarisi sifat bapakmu” kata Handono, saat Budi mencengkeram kerah lehernya, hendak meninjunya.


“Tapi sayang, kamu masih polos, anak muda. Ha ha ha ha” lanjutnya.


*BUAAKKK*


Sebuah tinju bersarang di wajahnya. Darah mengalir dari bibir Handono yang sobek. Juga dari dalam hidungnya. Tapi dia malah cengengesan.


“Ha ha ha ha. Kamu cuman bisa nonjokin aku. Setelah sekian kehilangan. Ha ha ha ha. Ampas. Gimana rasanya cuman dapet ampas, ha? Hi hi hi hi. Erika, ampasnya Sandi. Mau balik ke adiknya, ampas juga. Ha ha ha ha”


“Udah, mas! ada yang lebih penting buat diurus” kata Erika, mencegah Budi meninju Handono lagi.


“Erika, Erika, Erika. Pertunjukan yang menarik, gadis kecil” kata Handono pada Erika.


“Nggak papa aku kehilangan sebanyak itu. Nggak papa juga, aku nggak jadi mainin anaknya Rouf ini. Aku nggak ngerasa rugi. Aku suka pertunjukanmu. Hi hi hi. Aku suka, saat kamu adu domba Budi sama adek kamu tuh” lanjut Handono, merujuk pada Adel. Budi terkejut.


“Aku suka benget, saat denger Budi ditendang dari lantai atas. Ha haha ha. Aku suka banget saat anaknya Rouf ini dicaki-maki, dikata-katain sama suami ibumu. Ha ha ha ha ha. Pertunjukan yang lebih nyenengin dari yang aku rancang, Ka. Ha ha ha ha”


Budi menatap Erika. Perasaan marahnya pada Handono kini beralih, saat dia melihat Erika terkejut.


“Narkoba. Itu cuman jalan masukku aja, Ka. Kamu tahu banyak, tapi kamu sama polosnya. Ha ha ha ha. Kamu pikir aku rugi? Sepuluh kali kamu bakar bengkel ibumu juga, nggak bikin aku bangkrut, anak muda. Aku malah berterimakasih padamu. Pertunjukan yang sangat menyenangkan. Hi hi hi”


Tak hanya budi, Adel juga sudah mulai tersulut emosinya, mendengar ucapan Handono. Ternyata yang membakar bengkelnya, sampai membuat bapaknya jatuh sakit, adalah Erika. Tapi dia berusaha memunculkan logikanya.


Trauma akan son of pegassus, membuatnya tak ingin asal tuduh saja. apalagi hanya dari ucapan seorang bandar narkoba.


“Udahlah, Ka! Jangan nentang papamu! Kamu itu masih polos, masi unyu. Hi hi hi. Gimana mau ngelawan papamu? Kamu aja ditipu mentah-mentah sama Zulfikar. Padahal dia itu pionnya papamu. Malah dijadiin temen. Ha ha ha ha ha” kata Handono lagi.


“Kamu juga, Bud. Aku pikir kamu sehebat bapakmu. Ternyata kamu nggak lebih dari bocah ingusan. Musuh bapaknya malah dijadiin calon ipar. Ha ha ha ha. Zulfikar, Zulfikar. Pinter banget kamu nipu anaknya Rouf. Hi hi hi. Ha ha ha ha” lanjut Handono.


“MEREKA MAKIN DEKAT BOS” teriak Sephia.

__ADS_1


“Bud, udah! Jangan kemakan omongan dia! Penjahat macam dia, pastinya pinter membolak-balik omongan. Dari kecil dia emang begitu. Jangan didengerin! Fokus sama tugas kamu!” tegur bu Ratih.


Butuh beberapa saat untuk Budi menguasai diri dari emosi. Pikirannya kacau. Dia semakin tak mengerti. Siapa yang salah dan siapa yang benar, sudah semakin kabur. Diapun pergi dari hadapan Handono, diiringi tawa kemenangan Handono.


__ADS_2