Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pertemuan tak terduga dengan calon mertua


__ADS_3

Tok tok tok


“Assalamu’alaikum”


Terdengar ketukan pintu diikuti ucapan salam. Sontak Budi segera memakai maskernya. Begitu juga bu Ratih dan Aldo.


“Wa’alaikum salam” jawab mereka berbarengan.


Sesaat kemudian pintu kamar rawat terbuka perlahan. Dan terlihatlah orang yang sempat membuat Budi tergelak.


“Eh, mbak Erika. Silakan masuk, mbak!” sambut bu Ratih.


“Gimana kondisinya Putri, bu? Maaf ya bu, Rika baru bisa dateng lagi” tanya Erika sambil salim pada bu Ratih.


“Alhamdulillah, sudah ada perkembangan. Tangan kiri Putri sudah bisa bergerak” jawab bu Ratih.


“Alhamdulillah” kata Erika mengucap syukur.


“Ka”


Laki-laki yang berada di belakang Erika menegur, sambil mengacungkan parsel buah.


“Oh, iya” sahut Erika.


“Ibu. Ini papanya Rika, bu” kata Erika memperkenalkan laki-laki di belakangnya.


“Oh. Papanya mbak Rika?” seru bu Ratih sambil mengulurkan tangannya.


“Huufft”


Budi menghela nafas lega.


“Hi hi hi” Putri tertawa melihat ekspresi kakaknya.


“Respati, bu” kata papanya Erika memperkenalkan diri.


“Ratih” jawab bu Ratih memperkenalkan diri juga.


“Aduh. Ha ha ha ha”


Putri mengaduh lalu tertawa, mendapat jeweran dari kakaknya.


“Mas! Kok Putri dijewer, sih?” tegur Erika.


“Songong, sih” jawab Budi sok merajuk.


“Ya mas Budi, ada-ada aja. Calon mertua dicemburuin” kata Putri.


“Budi, pak”


Budi menyalami sekaligus memperkenalkan diri kepada papanya Erika.


“Wah. Pantesan Erika takluk. Auranya gagah banget” puji papanya Erika. Budi tersenyum mendapat pujian itu.


“Kalo jadi tentara udah kapten, kayaknya” lanjut papanya Erika.


“Kapten?” gumam Putri.


“Kopral aja nunggak mulu” lanjut Putri.


“Slepet, nih” sahut Budi.


Dia menarik telunjuk kirinya dengan telunjuk kanannya, dan diarahkan ke Putri. Putripun tertawa.


“Luar biasa, dek Putri. Masih bisa bercanda, lho” komentar papanya Erika.


“Kalo tentara, udah kolonel, ini” lanjutnya, sambil menyalami Putri.


“Wah. Di kebun banyak tuh, pak. Suka disayur sama ibu” komentar Budi.


“Itu ontel” seru Putri dengan suara menggeram gemas.


“Ha ha ha ha”

__ADS_1


Budi tertawa mendapat cubitan di pinggangnya.


“Ontel apaan, mas?” tanya Erika.


“Jantung pisang” jawab Budi sambil tergelak. Sontak Erika tergelak menahan tawanya.


“Katanya capek?” tanya Budi pada Erika.


“Iya. Lagi enak-enaknya rebahan, papa minta dianter makan ayam bakar. Ya udah, sekalian aja aku ajakin ke sini” jawab Erika.


“Iya. Kangen sama ayam bakar langganan jaman dulu” sahut papanya Erika. Budi tersenyum canggung.


“Permisi”


Terdengar sapaan dari arah pintu kamar rawat. Terlihat seorang perawat masuk.


“Maaf, sebenarnya ini belum jam besuk. Jadi, hanya boleh dua orang penunggu di dalam, tiap pasiennya” kata perawat itu memperingatkan.


“Oh. Baik, suster Feni. Maafkan kami” sahut Budi.


“Do. Ngopi dulu, yuk!” ajak Zulfikar.


“Yuk” jawab Aldo.


Mereka berduapun pamit untuk menunggu di luar, memberi kesempatan buat Erika dan papanya, agar bisa berbincang dengan leluasa.


“Bapak, maaf” kata suster Feni, tertuju pada papanya Erika.


“Masker bapak sudah kotor, boleh diganti? Kebetulan saya ada yang baru” tegur suster Feni.


“Oh. Iya, kah?” sahut papanya Erika kaget.


“Papa. Kok masker bisa kena sambel?” tanya Erika.


“Lupa” jawab papanya sambil tergelak. Diapun melepas maskernya.


*JEDERRR*


Bagai disambar petir di siang bolong, Budi terkejut bukan main saat papanya Erika melepas maskernya. Tapi wajah terkejut itu tersembunyikan oleh maskernya.


“Mas?”


Budi terkejut mendapat teguran dari Putri. Untuk beberapa saat, dia seperti kehilangan orientasi.


“Mas Budi kenapa?”


Erika sampai merasakan keanehan pada Budi.


“Oh, enggak” sahut Budi, berusaha memperbaiki sikapnya. Terlebih saat papanya Erika juga menatap ke arahnya.


“Ngomongin masker, aku jadi keinget instalasi tadi. Aku belum cek lagi sebelum pulang. Jadi kepikiran, kalo ditanya pak Paul, mesti jawab apa” lanjut Budi berbohong. Erika tersenyum.


“Maafin Rika ya, mas. Entar Rika bantu jawab kalo pak Paul nanya” kata Erika.


Budi hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.


“Silakan duduk, pak Respati!”


Suara bu Ratih memecah kekakuan itu.


“Oh, terimakasih, bu. Saya sudah kelamaan duduk. Jadi pengen berdiri dulu” tolak papanya Erika, halus.


Merekapun berbincang-bincang seputar kronologi kecelakaan itu. Putri menceritakan semuanya dari sudut pandangnya. Dan Stevani menambahkan juga dari sudut pandangnya.


Selama itu, Budi hanya diam saja, tidak ikut bercerita. Barulah disaat ditanya seputar kedekatannya dengan Erika, Budi ikut bicara. Tapi dia jadi ragu untuk langsung melamar Erika secara tak resmi. Dia hanya berbasa-basi mengakrabkan diri.


“Bu Ratih. Karena sudah menjelang maghrib, kami mau pamit dulu” kata papanya Erika.


“Oh, begitu? Baik” jawab bu Ratih.


“Terimakasih, sudah menyempatkan waktu menengok Putri, pak” lanjut bu Ratih.


“Sama-sama bu Ratih. Semoga hubungan baik ini bisa berlanjut ke tahap yang lebih serius” jawab papanya Erika.

__ADS_1


“InyaAlloh, amin” sahut bu Ratih.


Erika hanya melirik dan tersenyum pada Budi. Seolah menantang Budi untuk bertindak lebih berani. Budi salah tingkah ditatap sebegitu rupa. Sampai Erika dan papanya keluar dari kamar rawat, Budi tidak banyak bicara.


“Kalo entar malem aku udah nggak capek, aku maen ke sini ya, mas” kata Erika sebelum pergi.


“Hei, ada papanya juga” tolak Budi lirih.


“Dahulukan baktimu sama orang tua! Jangan sampe aku nggak dapet restu” lanjut Budi.


Erika tampak cemberut. Sepertinya dia masih berat membiarkan Budi tanpanya, sedangkan ada yang membuatnya sangat cemburu.


“Tenang! CDInya udah ganti baru” kata Budi menenangkan Erika.


Erika masih terlihat cemberut. Matanya lekat menatap mata Budi. Membuat Budi tergelak.


“Ya udah. Kalo ada apa-apa, telepon aku ya, mas!” kata Erika kemudian.


“Iya” jawab Budi singkat.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam” jawab Budi dan yang lain.


Aldo terawa mengiringi kepergian Erika. Ekspresi cemburu Erika terlalu lucu baginya. Belum lagi teringat cerita Riki, tentang Erika yang mencium tangan Budi. Sangat jauh bertolak belakang dengan reputasinya selama ini.


“Ha ha ha”


Tawanya semakin kencang saat Budi menoleh padanya dengan berkacak pinggang. Adelpun sampai ikut tertawa.


“Maafin Rika ya, Del!” pinta Budi.


Adel sempat terkesiap beberapa saat. Tapi kembali tersenyum saat Aldo tertawa kembali.


“Iya, mas. Nggak papa. Nggak aneh, kok” jawab Adel.


“Malah aneh kalo seorang Erika bisa gini-gini” sahut Aldo. Dia memperagakan gerakan cium tangan.


“Apa tuh, cium tangan?” tanya Zulfikar.


“Iya” jawab Aldo sambil tergelak.


“Wadidaw”seru Zulfikar.


“Wah. Lu udah berani ngecengin gua, lu” sahut Budi.


“Sini lu, ikut gua!” ajak Budi setengah memerintah.


“Kemana?” tanya Zulfikar masih dengan tergelak.


“Udah ikut! Ngomongin masa depan lu, ini” jawab Budi. Dia menarik tangan Zulfikar buat bangun dari duduknya.


“Lu jangan tepe-tepe lu, sama Nungki, lu!” lanjut Budi.


“Lah, kapan? Nggak pernah” tolak Zulfikar.


“Haih. Komodo mau dikadalin. Sini ikut!” komentar Budi.


“Ih, mas. Jangan gosip, lu!” seru Zulfikar.


Tanpa mereka tahu, di dalam kamar rawat, Putri tampak serius mendengarkan percakapan mereka berdua. Mendengar nama Nungki disebut kakaknya, seketika rasa cemburu menyeruak dari dalam sanubari Putri. Itu karena Putri tahu seberapa cantik dan moleknya polwan bernama Nungki atau Salma itu.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Bu Ratih tertawa lirih melihat ekspresi anak perempuannya itu.


“Ibu kok malah ngetawain Putri, sih?” protes Putri.


“Ya abisnya, kaya nggak pernah ceng-cengan aja sama kangmasnya” jawab bu Ratih.


“Ih. Mas Budi beneran nggak sih, bu?” tanya Putri masih terbawa cemburu.


“Ha ha ha ha” bu Ratih malah semakin kencang tertawa.

__ADS_1


“Ibu iih”


Putri mencubit lengan ibunya, sebagai ekspresi kesal, ditertawakan sebegitu rupa. Dan bu Ratih, hanya mengaduh saja, sambil masih terus tertawa.


__ADS_2