Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
permata yang tidak semua hati punya


__ADS_3

Malam ini Adel terlihat gelisah. Dia bolak-balik menekan tombol hijau di layar ponselnya. Tapi lagi-lagi panggilannya hampa, tidak mendapat sambutan. Beberapa kali juga dia membuat pesan teks, dan mengirimkannya ke nomor yang sama. Tapi hanya centang dua, tanpa berubah menjadi biru.


“Embakkamu kenapa, Din?” tanya pak Fajar. Dia yang terlihat sudah bersiap untuk pergi, jadi menunda kepergiannya, karena melihat Adel bolak-balik seperti seterikaan.


“Nggak tahu, pak. Dari pulang tadi gelisah terus” jawab Madina.


“Paling lagi marahan sama mas Budi” lanjut Madina.


Pak Fajar menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Dia juga tersenyum melihat tingkah putri sulungnya.


“Udahlah, nduk!” celetuk pak Fajar. Adel menoleh ke arah bapaknya. Pak Fajar berjalan mendekati Adel.


“Kalo emang Budi itu orang baik, dia pasti akan maafin kamu. Apapun kesalahan kamu”lanjut pak Fajar.


“Tapi pak, “


“Ya, ya. Bapak tahu” potong pak Fajar.


“Tapi maaf nduk, saat ini bapak lagi nggak bisa dengerin curhatan kamu. Ada yang harus bapak kejar, demi kita semua” lanjut pak Fajar.


“Iya, pak” jawab Adel mengalah.


“Kalo entar pas Bapak pulang, Budi belum mau jawab telepon kamu, biar bapak samperin”


“Mau ngapain?”


“Mau bapak pangur giginya. Linu, linu deh” jawab pak Fajar.


“Hempf. Pake apa, tatah? Dikata sengon laut?” gerutu Adel sambil tergelak.


“Ha ha ha ha” pak Fajar tertawa mendengar gerutuan putri sulungnya.


“Ya udah, bapak berangkat, ya?” kata pak Fajar sambil mengulurkan tangannya.


“Iya, pak” jawab Adel. Dia menyalami dan mencium tangan pak Fajar. Madina juga ikut melakukan hal Serupa.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam” jawab Madina.


Terdengar juga suara bu Lusi di belakangnya. Tapi belum terdengar suara dari Adel. Dia malah tertegun. Bahkan sampai bapaknya sudah pergi dengan mobilnya.


“Mbak?” tegur Madina.


“Wa’alaikum salam” kata Adel, begitu tersadar.


“Kenapa sih, mbak?” tanya Madina bingung.


“Bapak, dek. Kok jadi kalem begitu? kenapa, ya?” jawab Adel.


“Kok kenapa? Alhamdulillah, dong!” koreksi Madina.


“Iya, itu sih. alhamdulillah. Tapi kan, bapak lagi pusing. Biasanya kan suka sensi kalo nama mas Budi disebut”


“Apa embak pikir ibu nggak lebih aneh?” suara bu Lusi sontak membuat mereka memutar badan.


“Astaghfirulloh” gumam Adel. Dia teringat akan janjinya.


“Kenapa, mbak?” lagi-lagi Madina bingung dengan sikap kakaknya.


“Bukan itu, mbak” sahut bu Lusi. Dia berjalan mendekati Adel.


“Nggak perlu bertanya kenapa bapak bisa begitu! Yang perlu embak lakuin, adalah hormat sama bapak”


“I, i, iya bu. Pasti Adel akan selalu hormat sama bapak” jawab Adel.


Nada bicaranya terdengar menggantung di telinga Madina. Dia menatap kakaknya sambil mengernyitkan dahi.


“Madin juga hormat sama embak. Tapi Madin juga suka kesel kalo embak sama ibu main rahasia-rahasiaan segala” celetuk Madina. Sontak Adel menoleh ke arah Madina dengan tatapan bingung.


“Ngomong apa sih, dek?” tanya Adel.

__ADS_1


“Ada juga Madin yang nanya. Ada deal apa antara embak sama ibu? Cuman istighfar aja ibu langsung paham” kata Madina agak sewot. Adel tergelak mendengar penuturan adiknya.


“Ketawa aja terus! Awas aja kalo Madin marah! Madin pangur, rata itu gigi”


Bang bang wes rahino, bang bang wes rahino


Suara ponsel Adel mengalihkan perhatian mereka semua. Melihat nama Budi termpang jelas di layar ponselnya, mata Adel langsung berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum.


“Assalamu’alaikum, abram” sapa Adel.


Suaranya seperti hendak menangis.


Dia berjalan menuju halaman depan, meninggalkan Madina yang masih bersungut-sungut, dan bu Lusi yang tergelak melihat tingkah anak bungsunya.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.


Dia tersenyum mendengar nada khawatir dalam suara Adel. Bu Ratih dan Putri hanya bisa geleng-geleng kepala di ambang pintu kamar Budi. Walau tidak menyalakan pelantang suara, tapi volume suara ponsel Budi masih sampai ke telinga keduanya.


“Bram, abram marah sama Tata?” tanya Adel langsung pada inti.


“Eem” Budi tidak langsung menjawab.


Di tempat lain, Putri malah berkacak pinggang, melihat kakaknya seperti memainkan perasaan Adel. Karena dia sendiri sudah gemas, mendengar ponsel Budi berdering berkali-kali hanya dari nomor Adel. Tapi dia tidak berani mengangkat panggilan itu. Begitupun dengan banyaknya pesan masuk, hanya dari Adel juga.


“Bram, Tata minta maaf. Bilang aja Tata harus gimana, tapi tolong jangan diemin Tata!” pinta Adel.


“Iya. Siapa juga yang diemin Tata?”


Di sini, bu Ratih mengajak Putri untuk ke ruang keluarga. Dan menutup pintu kamar Budi.


“Ya terus?”


“Abram abis kendurian, Ta. Baru juga masuk rumah” jawab Budi.


“Apa? jadi dari tadi, abram nggak tahu, Tata nelpon?”


“Enggak. Kendurian sih ratingnya rendah. Buat apa juga live di kendurian? Makanya abram nggak bawa hape” jawab Budi.


“What?”


*Berarti Abram belum tahu soal penampilanku hari ini? Harus aku akui apa aku keep aja, ya*?


“Di rumah kan ada Putri, ada ibu. Kalo ke hape abram nggak terjawab, kenapa nggak nyoba ke hapenya Putri?” tanya Budi.


“Aduh, iya. Kenapa nggak kepikiran, ya? Abram ada ibu, ya?” sahut Adel.


“Lah, iya. Emangnya abram kera sakti, lahir dari batu?”


“Bukan. Maksud Tata, ya itu, ada ibu di rumah” sahut Adel memperjelas pernyataannya.


“Ha ha ha ha. Iya. Gitu amat, paniknya?”


“Huh, Abram. Tata udah panik juga, malah dibercandain”


“Ha ha ha. Lagian panik kenapa sih, Ta? Perasaan nggak ada masalah antara kita. Apa ada sesuatu di rumah?” tanya Budi.


*Aduh, abram malah nyangka ada sesuatu sama keluargaku. Padahal aku yang bikin salah. Ngaku nggak, ya*?


“Ta?” tegur Budi.


“Emm, ya? Eh, enggak. Nggak ada, kok” jawab Adel tergagap.


“Terus?”


“Eeem. Ya, kayaknya Tata aja yang ketakutan. Abisnya, Tata ngerasa kalo tadi Tata goyangnya kehebohan. Hee” jawab Adel sambil nyengir.


“Hem, Ta. Tata udah janji, lho” kata Budi.


Dia berusaha menekan rasa cemburunya. Baginya, rasa takut dan pengakuan Adel kali ini, sudah lebih dari cukup. Meski tidak sepenuhnya dia akui. Tapi perasaan bersalah itu, adalah mutiara yang tak semua hati punya.


“I, iya itu, Bram. Maafin Tata, ya! Tadi itu, beneran... “ jawab Adel, menggantung.

__ADS_1


“Aduh” lanjut Adel.


“Kenapa, Ta?”


“Bram. Mendingan kita ketemu aja, deh. Ada waktu, kan?”


“Buat?”


“Buat Tata minta hukuman. Tata bingung gimana jelasinnya. Mending Abram kasih Tata hukuman deh, biar Tata tenang. Tabok, kek. Jewer, kek. Apa, kek”


“Masya Alloh. Bener-bener mutiara di dasar palung mariana” komentar Budi.


“Bram, jangan aneh-aneh, deh! Orang salah kok malah dipuji. Nyindir apa ngeledek?” sahut Adel. Nada bicaranya benar-benar seperti cewek mau diputusin cowoknya.


“Loh, kok ngeledek? Beneran. Abram aja belum kebayang sama cerita Tata barusan. Tapi Tata takutnya udah kaya apa aja” kata Budi.


“Abram tersanjung, Ta. Abram ngerasa terhormat dapetin rasa takut dari Tata” lanjut Budi.


“Bram, makin Abram ngomong gitu, makin Tata takut, tahu ngak sih? Mending Abram marah deh, biar Tata lega!”


“Iya. Mungkin nanti kalo abram liat sendiri, dan Tata nggak bilang, baru abram marah. Kalo sekarang, abram malah bahagia, tahu? Pengen pamerin aja rasanya, sama Aldo, sama Riki, Erika. Ha ha ha ha”


“Bram!” tegur Adel. Dia masih belum tenang.


“Ta, tiap orang pasti punya salah. Yang penting, tetep jaga janji yang udah Tata pernah ucapkan!” kata Budi.


“Iya, Bram” jawab Adel.


“Kalo ada yang maksa-maksa Tata, Tata langsung bilang, ya!”


“Tapi Bram?”


“He he. Iya, Abram tahu. Abram juga nggak bakal main pukul gitu aja. Paling enggak, Abram tahu situasinya. Jadi kalo Abram dapet omongan dari orang, Abram nggak langsung menghakimi Tata”


“Kalo Tata yang kelepasan?”


“Berarti Tata yang harus instrospeksi diri. Apa kiranya yang bisa bikin Tata terlena, sampai kelepasan? Itu yang harus dihindari, bahkan sejak tahap latihan”


“Oh, iya. Bener juga” komentar Adel.


“Makasih ya, Bram? Lega rasanya, sekarang” lanjut Adel.


“Iya” jawab Budi.


“Ta. Gimana usaha bapak? Masih lancar, kan?” tanya Budi.


“Alhamdulillah, masih jalan. Ya, walau sekarang seret”


“Hem. Karena Abram, ya?” tanya Budi.


“Kok karena Abram? Apa hubungannya?”


“Ya, kali. Karena ibu udah baik sama Abram, jadi si itu marah, lapor bapaknya, bapaknya ikutan marah. Jadinya kan, proyeknya dicabut”


“Enggak kaya gitu juga, Abram. Abram terlalu jauh mikirnya. Bukan karena Abram, kok. Entar kita cari waktu yang tepat buat bahas ini. Tata ceritain yang sebenernya”


“Syukurlah kalo bukan karena Abram”


“Ya udah, makasih ya Bram, udah bikin hati Tata lega. Tata mau sholat dulu” pamit Adel.


“Sama-sama, Ta”


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Budi menghela nafas panjang. Kecemburuannya memang belum hilang. Tapi apa yang dikatakannya tadi, juga bukan bualan semata.


Cemburu itu berasal dari hati, tapi kebijaksanaan, terlahir dari olah pikir dan juga rasa. Dan itu kerjanya otak. Dia berbaring di ranjang, berharap kecemburuannya bisa segera lenyap seluruhnya.


Hendra menjumpai kawannya. Dia meminta bantuan untuk membuka dan mengunduh unggahan pencadangan pesan singkat Stevani.

__ADS_1


Butuh waktu lama untuk membuka enkripsi dari sistem pesan singkat itu. Dan saat enkripsinya bisa dibuka, semua pesan yang dicadangkan bisa dia unduh seluruhnya.


Di kontrakannya, Hendra mengamati pesan singkat terakhir antara Stevani dengan pemilik kontrakan. Dan memang benar, ada pesan video seperti yang diceritakan Stevani. Dia olah percakapan pesan singkat itu menjadi sebuah berkas sanggahan, untuk dia ajukan ke penyidik.


__ADS_2