
Sesampainya di rumah, Budi sempat bingung melihat lingkungannya terlalu sepi. Biasanya ada ibu-ibu yang duduk-duduk di depan rumah mencari angin. Ada juga yang biasanya baru pulang dari pasar. Pokonya masih banyak yang bisa dia sapa di sepanjang jalan lingkungan ini. Tapi kali ini, sama sekali tidak ada yang dia jumpai.
“Pada mbesani, ngger”
Bu Ratih memberikan jawaban atas sikap budi yang tengok kanan-tengok kiri. Budi yang merasa mendapat jawaban, langsung mengangguk-angguk mengerti.
“Siapa yang nikah, bu?” tanya Budi.
“Mas Basuki” jawab bu Ratih.
“Wuih, Basukinya pak RW?”
“Iya”
“Gokil. Lulus juga baru, main nikah aja. Wah, nggak bener, nih. Nyalip yang punya wilayah” komentar Budi, diakhiri gelak tawa.
“Anak orang kaya sih, bebas, mas” sahut Putri.
Mendengar kata kaya, sontak ingatannya seperti terpantik pada kenangannya bersama Adel. Permasalahan utama yang dia hadapi dulu, adalah dia bukan anak orang kaya. Buatnya, itu adalah tantangan yang harus dibuktikan. Tapi setelah pembuktian itu menampakkan hasil, takdir malah berkata lain.
“Mas” tegur Putri.
Budi hanya menoleh sesaat. Tapi kemudian dia mengalihkan pandangannya. Dia tertarik pada jejak panjang di tanah halaman.
Bagi mata awam, jejak itu mungkin nyaris tak terlihat. Tapi bagi mata Budi, jejak itu masih terlihat jelas.
Jejaknya ada dua dan memanjang ke tepi kiri halaman itu. Di sana, jejak itu bertambah banyak dan bentuknya tak beraturan. Keningnya semakin berkerut saat melihat tanaman pagarnya terlihat berbeda. Tanahnya terlihat baru. Seperti belum lama ditanami.
*Apa bener ini jejak mobil? Kalo bener, sapa yang berani ngebut di sini*?
“Ngger, masuk yuk! Kita belum sholat” tegur bu Ratih.
Bu Ratih merangkul Budi dan menariknya untuk naik ke rumah. Budi tahu, sikap ibunya itu adalah bahasa halus dari rasa tidak mau ditolak. Diapun menuruti ajakan ibunya.
“Mas Bud, sepatunya” tegur Putri.
“Walah, ha ha ha. Lupa, Put. Tanggung, ah” jawab Budi sambil tertawa.
“Udah, biarin. Nggak kotor ini, sepatu kangmasmu” kata bu Ratih menenangkan Putri.
Budipun lantas memposisikan diri di sofa tamu. Dia meletakkan tasnya di sofa single, lalu bersiap duduk di sofa panjang.
*Astaghfirulloh*
Saat dia duduk, dia merasakan ada yang aneh di sofanya. Dia seperti mencium aroma yang sangat khas. Dia masih hafal betul aroma itu. Tapi tidak mungkin lagi aroma itu akan menempel di sofanya.
“Kenapa, mas?” tanya Putri. Dia bingung dengan sikap kakaknya.
Tapi bukannya menjawab, Budi malah memejamkan matanya. Dia mencoba memfokuskan pikirannya. Lalu dia hirup lagi udara di sekitarnya. Pelan, pelan, pelan, tarikan panjang dan perlahan. Lamat-lamat dia mencium lagi aroma itu. Dia yakin kalau dia tidak sedang berhalusinasi.
“Mas?” tegur Putri.
Budi terkejut, dia membuka matanya. Tapi pikirannya masih juga mengawang.
*Bekas ban mobil, nabrak tanaman pagar, arahnya kaya dari sungai. Kalo nggak salah, malam itu Adel pake hapenya Putri*.
“Mas Bud. Mas Budi kenapa, sih? Bikin orang takut aja” tegur Putri lagi.
“Enggak. Nggak papa” jawab Budi.
“Kalo nggak papa kok nakutin gitu, sih? sampe melotot-melotot gitu” protes Putri.
“Kenapa sih, nduk?” tanya bu Ratih, begitu muncul dari belakang.
“Ini, mas Budi. Begitu duduk, malah aneh. Merem-merem sendri, abis itu melototin Putri. Putri kan jadi takut, bu”
“Ngger, “
“Adel, berapa lama duduk di sofa ini, bu?” potong Budi”
Bu Ratih terkesiap. Dia tidak menduga akan mendapat pertanyaan itu dari Budi. Dia pikir, dengan dekatnya Budi dengan Erika, akan membuatnya benar-benar ikhlas melepas Adel. Tapi nyatanya, Budi malah bisa menebak apa yang belum dia ceritakan.
“Mbak Adel? Kapan mbak Adel kesini?” tanya Putri.
“Eeem. Pas dia nelepon pake nomer Putri” jawab Budi.
“Itu di galery, kali”
“Oh. Di galery” komentar Budi pendek.
__ADS_1
Dia tidak memperpanjang pertanyaannya. Dia lantas sibuk melepas sepatunya. Membuat Putri dan ibunya saling memandang. Putri yang takut ketahuan bohong, memberi kode permintaan perlidungan kepada ibunya. Bu ratih membalas kode dari Putri. Dia meminta Putri untuk tenang.
“Bu, besok sofanya ganti, ya?” tanya Budi saat berjalan keluar untuk meletakkan sepatunya.
“Kenapa harus diganti?” tanya bu Ratih.
“Budi pengen suasana baru” jawab Budi.
“Nggak sekalian rumahnya direnov?” celetuk Putri.
“Hem?” Budi tidak mengerti.
“Kalo cuman cari suasana baru, kan bisa ke galeri” kata Putri.
“Terserah deh kalo galeri, mau diapain juga. Yang pasti jangan sofa ini! Ini peninggalan Bapak. Selama masih bagus, Putri nggak ijinin mas Budi buat gantiin sofa ini sama yang lain” lanjut Putri.
“Putri” tegur bu Ratih.
“Iya sih, masih bagus. Cuman mas Budi gedek aja kalo ngebayangin si brengsek itu mesra-mesraan sama Adel di sofa itu” kata Budi.
“Ya ngapain juga dibayangin? Kurang kerjaan” seru Putri.
“Haih, Put, Put. Mas Budi ini bukan hitler, yang cuman mau nerima kabar baik. Buat apa ditutup-tutupin? Kamu aja nggak jago boong”
“Nggak jago boong?” tanya bu Ratih.
Budi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum penuh arti kepada adiknya. Di sisi lain, Putri tampak melotot matanya melihat senyum kakaknya. Budi masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah sebulan lebih tidak dia tempati.
Udara panas siang ini membuatnya ingin mandi. Tapi disaat dia menatap pintu kamar mandi, ingatannya melayang di momen adel selesai mandi, dan menggunakan daster adiknya. Tubuh langsing itu begitu memikat matanya.
*Ya Alloh. Semuanya kini tinggal kenangan. Rasanya baru kemarin aku melihatnya berdiri anggun di depan pintu itu. Rasanya baru kemarin hamba berikhtiar mati-matian demi cinta hamba. Tapi Engkau malah menjodohkannya dengan orang lain. Bagaimana hamba bisa ikhlas, kalo semua yang ada di sekitar hamba menyimpan kenangan bersamanya? Rasanya kata itu hanyalah pemanis bibir*.
“Maaas”
Tiba-tiba Putri datang dan memeluk Budi dari belakang. Tiba-tiba juga tangisnya pecah di punggung Budi.
“Maafin Putri, mas! Putri nggak bermaksud boong. Putri cuman nggak pengen mas Budi sedih. Putri pengen liat mas Budi ceria lagi” kata Putri.
Budi tersenyum. Dia bisa merasakan kasih sayang yang begitu mendalam dari adiknya itu.
“Kira-kira, kalo Putri udah nikah sama Zul, Putri bakal masih sayang masa mas Budi apa enggak?” tanya Budi.
“Ya tetep, lah. Namanya juga kakak Adek. Sekalipun udah nenek-nenek, Putri akan tetep sayang sama mas Budi” lanjut Putri.
“Alhamdulillah” kata Budi mengucap syukur.
“Kalo ngomong tuh yang bener-bener aja dong, mas! Jangan yang aneh-aneh! horor Putri dengernya” omel Putri saat kembali memeluk Budi. Kini Budi membalas pelukan Putri.
Puas melepaskan kesedihan, Putri melepaskan pelukannya. Dengan tersenyum, Budi mengacak-acak rambut adiknya. Kemudian dia melanjutkan niatnya untuk menyegarkan diri di kamar mandi.
***
“Mas, masih sibuk, ya?”
Adel yang baru masuk kamar, langsung menggelayut manja di tubuh suaminya.
“Kenapa sayang? Ada yang mau diobrolin?” tanya Luki. Dia menghentikan aktivitasnya dengan laptopnya.
“Adel mau nanya, mas” jawab Adel.
“Kenapa, sayang?” tanya Luki. Dia memutar kursinya hingga menghadap istrinya. Adel duduk di pinggiran ranjang.
“Adel kan masih punya hutang kontrak sama om Diki. Boleh nggak kalo Adel cicil?”
“Emang masih berapa kali?”
“Masih banyak, sih”
“Kenapa nggak dibatalin aja? Kan ada korona juga, yang. Bahaya. Kita ganti rugi aja, gimana? Aku khawatir sama kesehatan kamu”
“Iya sih. Tapi ada satu job yang om Dikinya mengharapkan banget Adel bisa hadir. Soalnya yang punya hajat itu fansnya Adel, mas”
“Kapan tuh?”
“Entar malem” jawab Adel.
“Benernya dari sore, sih. Tapi hiburannya sampe malem. Dan Adel diminta buat dateng di malemnya” lanjut Adel.
“Dimana tempatnya?”
__ADS_1
“Deket rumah simbah”
“Simbahku?”
“Iya. Bisa sekalian nginep di sana, kan?”
“Aku temenin, ya?”
“Ha? Selama ngejob? Buat apa? Yang ada mas Luki khilaf, nanti”
“Ya nggak papa, kan? Khilaf sama istri sendiri, ini”
“Ya tapi nggak ditempat hajatan juga, mas” tolak Adel sambil menepuk manja paha suaminya.
“Kan kita pengantin baru. Wajar lah, kalo masih hot”
“Ya nggak gitu juga kali. Masa nggak mau kalah sama pengantinnya?” kilah Adel semakin gemas.
“Eeeem” Luki tampak berpikir.
“Apa? Jaring ikan udah, net voli udah, apa lagi?” tanya Adel sambil tersenyum geli.
“Aku pengen lihat kamu pake kebaya, yang” jawab Luki.
“Kebaya? Gimana gituannya, coba?”
“Ya dilepas, lah”
“Ribet, mas”
“Ayolah, please! Biar aku nggak khilaf kalo liat yang lain”
“Oh, berani liatin yang lain, hem? Mau disunat lagi nih?”
“Adooow. Sakit, yang” pekik Luki kesakitan.
“Biarin. Nakal, sih”
“Loh, itu biar nggak nakal. Kok malah dibilang nakal”
“Hemm. Tebakan Adel nih, mas Luki pernah liatin rekaman Adel manggung sambil mainin ini” kata Adel.
“Iya. Ha ha ha ha”
“Astaga. Nakal banget, sih?”
“Abisnya kamu seksi banget yang, kalo pake kebaya ketat gitu. Kalo aja deket, pengen tak remes”
“Oh, berani? Udah deket tuh. Kok dianggurin?” tantang Adel.
“Belum pake kebaya. Masih kurang menantang” jawab Luki.
“Yakin? Bisa tahan berapa lagu, nggak nyentuh Adel?”
“Aduh. Itu yang susah dijawab. Mending dibuktiin aja, deh”
“Oke. Tunggu, ya! Adel mau ganti baju dulu” kata Adel.
“Tapi diijinin kan, mas?” lanjut Adel.
“Iya” jawab Luki.
Adelpun berdiri dan berjalan menuju lemari bajunya. Dia melihat-lihat, kebaya mana kiranya yang paling hot. Dia teringat akan kebaya orangenya. Kebaya paling seksi menurutnya.
Tapi begitu dia ambil kebaya itu, ingatannya langsung melayang pada kenangan dengan Budi. Momen sehari setelah jadian. Dimana dia lupa kalau sudah punya cowok, dan masih asyik goyang seronok. Tanpa dia duga Budi datang ke hajatan itu, dan melihatnya bergoyang dengan panasnya.
*Ya Alloh. Kenapa hamba harus ingat lagi kenangan manis itu? Rasanya semua benda punya kenangan tersendiri dengan dia. Termasuk kebaya-kebaya ini. Ini kebaya biru, kebaya yang bikin Abram terpesona melihat fotoku di medsos. Kebaya hijau ini, entah berapa kali aku berpose dengan kebaya itu. Yang coklat. Yang orange, saksi bisu, untuk pertama kalinya aku ketakutan. Takut ditinggal orang yang sangat aku sayang. Tapi sekarang, aku harus memakai salah satunya, tapi bukan untuk dia*.
“Kenapa, sayang?” tegur Luki. Adelpun terkejut.
“Oh, enggak. Bingung aja, mana ya yang paling seksi?” jawab Adel berbohong.
“Eem. Itu yang Adel pegang, kayaknya paling bagus” kata Luki.
“Mas Luki suka yang ini?” tanya Adel.
“Iya. Pake, dong!” pintanya.
“Ya udah. Adel ganti baju dulu” kata Adel.
__ADS_1
Dia masuk ke kamar mandi untuk memakai kebayanya. Sempat dia memandangi wajahnya sendiri di cermin. Walau sudah menyerahkan mahkotanya, nyatanya dia belum bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang Budi.