
*
“Nduk, administrasinya apa udah beres semua? Kamu pilih yang apa?” tanya bu Lusi kepada Adel.
“Udah, bu. Adel pilih yang paten” jawab Adel.
“Kamu udah pertimbangin semuanya, nduk? Yakin dengan biayanya?” tanya bu Lusi lagi.
“Nggak usah mikirin masalah biaya, Lus!” bu Susan angkat bicara.
“Astaghfirulloh, mbak Susan? Embak udah lama di sini?” respon bu Lusi, terkejut.
“Loh. Emang dari tadi ibu nggak tahu, ada bu Susan di samping ibu?” tanya Adel.
“Astaghfirulloh. Maafin aku, mbak Susan. Aku bener-bener nggak ngeh” jawab bu Lusi.
“Iya. Nggak papa” jawab bu Susan, sambil mengusap pundak bu Lusi.
“Kamu nggak usah mikirin biaya pengobatan mas Fajar! Biar aku yang cover” lanjut bu Lusi mengulangi kalimatnya tadi.
“Tapi, mbak?”
Bu Lusi tampak keberatan. Dia menoleh kepada Adel, lalu ke Luki.
“Aku nggak lagi ngebahas soal mereka, Lus” kata bu Susan mengerti maksud bu Lusi.
Bu Lusipun sontak melihat ke arah bu Susan. Ada seulas senyum tersungging di bibir bu Susan untuk bu Lusi.
“Soal Luki suka sama Adel, itu urusan Luki. Biarkan mereka sendiri yang ngomongin hal itu” lanjut bu Susan.
“Tapi, mbak, ”
“Lus. Please! Jangan bikin aku semakin ngerasa bersalah, dong!” potong bu Susan.
“Hem?”
“Kalo kamu masih marah sama aku, aku terima, kok. Tapi tolong, ijinin aku meminta maaf! Aku nggak tahu mesti minta maaf kaya gimana sama mas Fajar, atas kelakuan mas Imam. Apalagi kemarin pas kalian kena musibah, aku sama sekali nggak bisa bantu. Aku sama Luki harus berjuang lepas dari jerat rekan-rekan bisnis mas Imam yang baji****-baji**** itu. Apalagi bapaknya Sofia itu” kata bu Susan menjelaskan.
“Jangan ditolak, ya!” lanjutnya.
“Tapi aku takut, mbak” kata bu Lusi.
“Takut Adel nggak mau sama Luki? Biarin aja! Biar Luki belajar. Kalo udah pernah ngerasain ditolak, pasti nanti akan ngerasain, betapa berharganya, orang yang mau menerima dengan apa adanya” sahut bu Susan.
Pernyataan bu Susan itu sempat membuat bu Lusi tergelak sesaat. Dia merasa lega, ternyata ibunya Luki tidak mempermasalahkan pilihan hati Adel.
“Terimakasih ya, mbak. Kalo ada tenaga yang bisa aku berikan, jangan sungkan buat bilang ya, mbak! Aku cuman punya badan”
“Iya” jawab bu Susan sambil tersenyum.
Bang bang wes rahino, bang bang wes rahino
__ADS_1
Suara dering ponsel Adel mengalihkan perhatian semua orang. Dengan agak tergagap, Adel mengambil ponselnya dari saku celananya. Kali ini bukan senyum bahagia saat melihat nama Budi terpampang di layar ponselnya. Dia merasa cemas dan khawatir. Dia merasa bingung, bagaimana menjelaskan kepada kekasihnya itu. Dia pergi menyingkir dari keramaian.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa Adel.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
“Ta. Bapak gimana kondisinya?” tanya Budi.
“Bapak masih di ICU, Bram” jawab Adel.
“Ya Alloh. Apa diagnosa dokter?”
“Serangan jantung, Bram. Sama gejala stroke”
“Astaghfirulloh. Ya Alloh. Maafin Abram ya, Ta! Abram terlalu sibuk sama urusan Abram sendiri, sampe nggak aware sama kontrak itu” kata Budi dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Bram. Kok ngomong gitu, sih? Nggak ada yang nyalahin Abram” jawab Adel.
“Astaghfirulloh, ya Alloh. Kenapa aku bisa nggak nyadar, ya?” keluh Budi.
“Terus, administrasinya gimana, Ta? Bisa pake BPJS, kan?” tanya Budi.
“Tata pilih umum, Bram. Pake obat yang paten. Tata nggak yakin sama obat generik”
“Oke. Berapa yang perlu Abram bantu? Abram usahain secepetnya”
“Udah semua kok, Bram” jawab Adel.
“Ta. Jangan bikin Abram makin ngerasa bersalah, dong!” pinta Budi.
“Loh. Tata nggak bermaksud begitu, Bram. Emang udah ada yang mengcover” jawab Adel
“Siapa?”
“Eeemm” Adel agak ragu untuk mengatakannya.
“Mamanya Luki” jawab Adel kemudian.
“Apa?”
Bagai disambar petir di siang bolong. Budi tertegun mendengar jawaban Adel. Jawaban yang di telinga Budi terdengar sangat tidak biasa. Terlalu memekakkan, dan tembus sampai ke dalam hati.
“Bram. Jangan mikir jelek dulu! Ini urusan bu Susan sama ibu. Murni urusan pribadi mereka. Bukan soal Luki suka sama Tata” seru Adel agak heboh. Dia sampai ditegur suster dengan bahasa isyarat.
“Huuufffttt. Iya, sorry. Abram terlalu cemburu kalo udah ngomongin manusia satu itu” kata Budi, setelah menghela nafas berat.
“Iya. Tata ngerti, kok. Tata seneng liatnya” jawab Adel. Ada seulas senyum mengembang di bibirnya.
“Abram boleh ngomong sama ibu itu?” tanya Budi, merujuk ke bu Susan.
“Buat apa?” Adel terkejut mendapat pertanyaan tak biasa dari Budi.
__ADS_1
“Abram mau bilang, kalo semua biaya rumah sakit itu, Abram yang akan bayarin. Nggak nunggu besok, sekarang juga Abram lunasin” jawab Budi. Adel tersenyum lagi. Dia suka melihat kekasihnya cemburu berat.
“Kan belum ketahuan, Bram. Belum juga diobservasi. Belum ketahuan, sakitnya bapak itu sebabnya apa. Jadi belum ketahuan juga tindakan apa yang harus diambil dokter, obatnya apa saja. Belum bisa dihitung, berapa total biayanya”
“Yang udah ketahuan dulu, deh” kata Budi masih ngotot.
“Kalo saran Tata sih, nanti aja, Bram. Abram gantiin semua biayanya! Bu Susan pasti ngerti, pasti mau nerima penggantian dari Abram” kata Adel menenangkan kekasihnya.
Untuk beberapa saat lamanya, Budi tidak menjawab. Dia menatap mata kekasihnya lekat-lekat. Hari ini, dia merasakan kekhawatiran yang teramat sangat. Kekhawatiran yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Jauh melebihi kekhawatirannya setelah melakukan khilaf dengan Stevani, dulu.
“Udah, jangan mikir jelek! Takut kejadian. Tata ngeri, ah” tegur Adel.
“Oh. Iya. maaf. Abram cemburu berat. Mana bapak sakit, ada kaitannya sama Abram juga”
“Bram. Sekalipun Tata juga marah dan nggak habis pikir sama keputusan sepihak itu, tapi Tata nggak sedikitpun nyalahin Abram. Karena Tata tahu, ini semua di luar kendali Abram. Termasuk sakitnya bapak. Ini di luar kendali kita semua. Tata udah mati-matian berlagak senormal mungkin, biar kelihatan seolah nggak ada apa-apa. eh, nggak tahunya malah bocor di ibu”
“Ibu?”
“Iya. Ya, ibu emang nggak pernah bisa boong sama bapak. Bapak terlalu paham soal ibu. Jadi tahu gimana caranya bikin ibu jujur. Giliran ibunya jujur, ternyata badannya bapak yang nggak kuat” jawab Adel.
“Nggak ada yang salah, Bram. Ini semua ujian” lanjut Adel.
“Terus, apa yang bisa Abram bantu, Ta?” tanya Budi, masih merasa bersalah.
“Bantu Tata dengan doa ya, Bram! Udah waktunya dhuha, kan?” jawab Ade.
“Oh, iya. udah masuk dhuha” komentar Budi.
“Ya udah kalo gitu. Abram ambil air wudhu dulu, ya?” pamit Budi.
“Iya, Bram” jawab Adel.
“Tolong Abram dikabarin ya, setiap perkembangannya!” pinta Budi.
“Iya, Bram. insyaAlloh” jawab Adel.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Adel sempat tertegun setelah sambungan video call terputus. Hatinya merasa tidak enak. Dia merasa kalau ekspresi wajah kekasihnya kali ini sangat berbeda. Dia merasa kalau kekasihnya seperti punya firasat. Tapi firasat apa, dia sendiri belum bisa memastikan. Yang bisa dia baca, Budi terlihat takut, dia akan memutuskan hubungan ini, dan menikah dengan Luki.
Tapi segera dia tepis pikiran itu. Dia bangun sebuah pemikiran, kalau orang cemburu, bisa berekspresi dengan banyak cara. Dia juga membangun sebuah pemikiran, kalau kekasihnya itu di sini, pasti akan mengekspresikan kecemburuannya dengan memproteksinya dari Luki. Ekspresi wajah tadi, hanyalah ekspresi ketakutan karena kekasihnya itu tidak bisa seketika menemuinya.
Adel berjalan kembali ke depan ruang ICU. Sesampainya di sana, dia terkejut melihat bu Ratih sudah berbincang dengan ibunya, dan Putri terlihat berbincang serius dengan Farah. Dalam hati dia bertanya-tanya, kapan bu Ratih datang? Dan lewat mana? Kalau lewat jalan ini, bagaimana dia bisa tidak tahu beliau lewat?
Tak lama kemudian, suster keluar membawa bapaknya. Ternyata pak Fajar akan menjalani CT scan. Untuk mengetahui secara pasti penyebab sakitnya. Adel ikut serta membaur bersama yan lain.
Sambil berjalan, dia menyapa bu Ratih dan Putri. Tanpa canggung dia salim ke bu Ratih dan cium tangan. Terbalik jika dengan Putri.
Saat menunggu proses scanning berlangsung Tati datang bersama Nike. Tati datang membawa mobil, yang sudah bisa ditebak apa isi di dalam mobil tersebut. Keduanya memberikan semangat kepada Adel, dan kepada Madina juga tentunya, yang terlihat lebih lemah.
__ADS_1