Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
mencari si otak kriminal


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan, keesokan harinya Liza datang lagi bersama ahli hacking. Sempat tersendat mengenai ijin berkunjung. Status ahli hacking yang disampaikan Liza tampaknya terdengar asing dan mencurigakan bagi petugas yang berjaga.


Beruntung seseorang yang memperkenalkan diri sebagai pengacaranya Budi datang. Dia mengatakan kalau ahli hacking itu adalah bagian dari timnya. Petugas itupun mengijinkan mereka untuk masuk.


Tanpa membuang waktu, Budi menceritakan kronologi tuduhan yang dialamatkan padanya. Dari pesan singkat yang sangat tidak mungkin bisa dikirimkan oleh pemilik nomor itu. Karena pemiliknya sedang ditahan. Dan ponselnya berada di tangan penyidik.


Ahli hacking itu mencoba melacak nomor Stevani. Memeriksa lalu lintas pesannya. Ternyata dia menemukan adanya aktivitas tidak biasa dari nomor tersebut. Gejalanya seperti ponsel tersebut telah disusupi virus level tinggi. Yang bisa bergerak dibelakang layar, tanpa adanya perubahan tampilan sedikitpun. Bahkan disaat ponsel itu sedang dipakai sekalipun.


Ahli hacking itu mencoba mendalami lagi. Dengan suatu cara, dia menemukan jejak hacking tersebut. dari server pesan singkatnya juga, terdapat jejak aktivitas tak biasa. Jejak dari sebuah software virus yang bisa mendengar, merekam, membaca pesan, mengubah isi pesan, bahkan merubah jam di pesan tersebut.


Mendengar kata jam, Budi teringat akan foto pesan singkat yang diperlihatkan Sandi. Pertama yang ingin dia ketahui adalah foto jam tangannya. Jam yang berisi kode identifikasi khusus dirinya.


Ahli hacking itu melacaknya, berbekal foto-foto dari sandi yang disimpan Putri. Dan benar saja, ada jejak perubahan tanggal akibat virus yang ditembakkan dari sebuah tempat. Tanggal yang aslinya baru beberapa hari yang lalu, menjadi tanggal yang sama dua tahun lalu.


Budi juga meminta ahli hacking itu untuk melacak pesan singkat dari nomor yang tertera di foto-foto yang lainnya. Untuk kasus yang satu ini, ahli hacking itu menemukan sesuatu yang tidak biasa.


Nomor yang disebut milik bodyguard Stevani itu ternyata ada dua. Yang satu terlacak berada di polres, yang satu terlacak ada di papua. Dan setelah ditelusuri, ternyata ada seseorang yang mencoba mencuri identitas si bodyguard itu.


Si pelaku, memblok nomor si bodyguard sehingga tidak bisa dihubungi nomor lain di luar radius dua kilometer. Hanya di radius dua kilometer saja yang bisa menghubunginya. Si pelaku telah memodifikasi nomor lain sehingga menjadi nomor ini. Jika ada yang menelepon atau mengiriminya pesan, maka akan tersambung dengan nomor lain yang telah diserupakan ini.


“Loh, berarti selama ini, polisi salah tangkep, dong?” tanya Budi.


“Bisa jadi. Untuk menghancurkan nama baik seseorang, cara seperti ini cukup bisa diandalkan. Menyusupkan seseorang untuk berperan sebagai orang kepercayaan dari orang yang ditarget.” jawab ahli hacking itu.


“Ini temuan menarik, pak Budi” kata pengacara itu.


“Kalau dilanjut, ini sama saja akan meringankan tersangka saudari SL” lanjutnya.


“Saya nggak ada urusan sama kasus jatuhnya saya. Ibarat kata hari ini juga dia bebas, saya nggak papa. Yang penting buat saya sekarang ini adalah, siapa yang berani memfitnah saya?” jawab Budi. pengacara itu tidak menjawab. Hanya mengangguk-angguk.

__ADS_1


“Terus, siapa siapa pengirim sms-sms itu? Dia tahu kode rahasia saya. Sepertinya bukan orang jauh. Dia kenal saya lebih dekat dari orang lain” tanya Budi pada ahli hacking itu.


Ahli hacking itu mencoba menelusuri salah satu nomor. Kebetulan sekali, terdeteksi kalau ponsel yang dipakai nomor itu adalah ponsel pintar. Dengan software khusus, dia mencoba masuk ke ponsel pemilik nomor itu, melalui aplikasi sejuta umat.


“Nomor ini juga dikendalikan dari jauh, pak” kata ahli hacking itu. dia mengarahkan layar monitornya kepada Budi. budi berpikir sejenak.


“Berarti pelakunya tergantung sama android. Apa yang lain juga begitu?” tanya Budi. Ahli hacking itu melacak kembali nomor-nomor yang lain. Dan hasilnyapun sama. Nomor-nomor itu telah dikendalikan dari jarak jauh.


“Berarti dia memilih secara acak. Yang penting bisa disusupi” komentar Budi.


“Kurang lebihnya begitu” jawab ahli hacking itu.


“Terus, dari mana asal virus itu?” tanya Budi.


Ahli hacking itu mencoba menelusuri lagi.


Tapi sepertinya dia merasa kesulitan. Berkali kali dia menggelengkan kepalanya. Sesekali juga dia tersenyum.


“Dengan teknologi itu, dia bisa mengaburkan jejaknya dengan bersembunyi di banyak IP” lanjut ahli hacking itu.


“Maksudnya?”


“Dia menggunakan banyak IP secara berantai. Dia menjadikan satu IP sebagai kambing hitam. Ketika ahli IT mengetahui kalau IP itu hanyalah kambing hitam, dia menggunakan banyak sekali IP berlapis di belakangnya. Dia berharap, ahli IT itu akan terkecoh dengan menganggap IP ke dua itu adalah pelakunya. Kalau nomor dua ketahuan hanya kambing hitam, masih ada yang nomor tiga. Begitu terus selanjutnya. Jadi akan sulit bagi ahli IT untuk menemukannya” jawab ahli hacking itu.


“Super computer?”


“Ya”


“Sepertinya akan lebih baik kalau kita ketemu penyidik dulu” kata si pengacara kepada ahli hacking itu.

__ADS_1


“Kondisi ini malah bagus. Kita punya bukti kuat kalau ada pelaku yang masih bersembunyi. Kita bisa membongkarnya bersama penyidik. Dan akan memperkuat argumen kita” lanjutnya.


“Tapi jangan sampai blunder! Entar IP ponselku apa komputerku tahu-tahu muncul?” sahut Budi.


“Dengan kapasitas komputer sekuat itu, apapun bisa terjadi, pak” jawab ahli hacking itu.


“Cari aja dulu, sampai ujungnya! Baru ke penyidik” pinta Budi.


“Baik, pak” jawab ahli hacking itu.


Si ahli hacking itu kembali fokus menelusuri jejak digital itu. Sangat lama. Beruntung petugas yang berjaga bisa diajak bekerjasama. Sampai lepas makan siang, si ahli hacking itu masih berkutat dengan komputernya.


“Ini, pak” serunya. Sontak semua mata tertuju padanya.


“Tempatnya nggak jauh dari sini. Mudah buat dijangkau” lanjutnya. Budi melihat dan memperhatikan dengan seksama apa yang ditampilkan di layar monitor ahli hacking itu.


“Nah, laporkan ke penyidik!” perintah Budi.


“Baik, pak” jawab ahli hacking itu.


Bersama si pengacara, dia mempersiapkan strategi pelaporan. Beberapa langkah telah mereka sepakati agar sejalan. Beberapa skenario juga mereka bahas jika penyidik akan mengambil keterangan lagi dari Budi. Setelah sepakat, mereka berdua keluar dari kamar rawat Budi dan menuju polres.


“Makasih ya,Liz” kata Budi, setelah kedua orang itu keluar dari kamar rawatnya.


“Sama-sama, mas. Aku cuman bisa bantu ini. Semoga mereka bisa secepatnya membebaskan mas Budi dari status tersangka ini”


“Amiin” Budi, Putri, dan bu Ratih mengaminkan harapan Liza bersamaan.


Seperti kata pepatah jawa, becik ketitik, olo ketoro, tim penyidik dari polres itu sependapat dengan pengacara dan ahli hacking Budi. Bukti-bukti yang mereka sampaikan terkonfirmasi oleh ahli IT dari kepolisian. Dan kepolisian langsung mengerahkan personilnya untuk menangkap tersangka baru hasil dari penelusuran digital ini.

__ADS_1


.


__ADS_2