
“BANG***”
*PLAAAAKKK*
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Budi. Membuat Budi bingung. Ada apa dengan Adel? Apa yang membuatnya semarah ini.
“TERKUTUK KAMU, BRAM. MANUSIA LAKNAAT” teriak Adel lagi.
“Tata”
Budi berusaha mencegah Adel yang hendak pergi. Tapi Adel sudah terlebih dahulu berlari ke depan. Tak mau ketinggalan, Budi segera mengejar.
“TA, maksud Tata apa sih? kenapa tiba-tiba ngumpat-ngumpat gitu?” tanya Budi saat berhasil menahan laju Adel di halaman depan warung sate itu.
“Nggak usah panggil Tata lagi! Najis gua dipanggil begitu sama serigala berbulu domba kaya lo” jawab Adel dengan mata merah melotot.
“Ta, salah aku apa?” tanya Budi lagi, saat Adel hendak menumpang ojek pangkalan.
“Nggak usah pegang-pegang gua lagi bang***! Gua udah ancur, ortu gua udah ancur, puas kan lo?” jawab Adel.
Budi semakin bingung dengan kata-kata Adel. Dia terpaku saat Adel menaiki motor tukang ojek pangkalan itu.
“Jemput sono bidadari lo! Kasihan, bisa mengkerut kelamaan di penjara” kata Adel saat tukangojek itu mulai melajukan motornya.
“Bidadari? Penjara?”
Budi teringat saat terakhir Adel sebelum menamparnya. Adel sedang memegang ponselnya. Tanpa peduli omongan orang, Budi kembali masuk ke dalam warung sate itu, dan memeriksa ponselnya. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui ada pesan dari Stevani. Dan semakin terkejut saat membaca isi dari pesan itu.
“Astaghfirullohal’adzim” keluh Budi.
Budi langsung keluar lagi. Dia serahkan selembar uang seratus ribuan kepada kasir warung makan itu. Dan tidak dia ambil kembaliannya.
Dengan kecepatan tinggi, Budi mencoba mengejar si tukang ojek tadi. Cukup jauh juga rupanya jarak antara mereka. Sudah sejauh ini belum juga terlihat punggungnya Adel. Baru beberapa ratus meter kemudian, Budi mengenali sesosok wanita di depannya. Langsung saja dia kejar motor yang membawanya.
“Ta, itu fitnah, Ta. Itu akal-akalannya si Vani aja” teriak Budi saat berhasil mensejajari motor si tukang ojek itu. Tapi Adel malah buang muka.
“Ta, sumpah demi Tuhan, itu fitnah, Ta” teriak Budi lagi. Tapi Adel tak bergeming. Sama sekali dia tidak mau melihat ke arah Budi.
*TUIT TUIT. TOOOT TOOOT*
Terdengar suara klakson yang berbeda dari motor kebanyakan. Saat Budi menoleh, seorang polisi jalan raya sudah berada tepat di sampingnya. Dengan motor gede, polisi itu meminta Budi untuk menepi. Walau kesal, tapi Budi tidak punya pilihan. Diapun menepi.
“Selamat siang, mas” kata polisi itu sambil memberikan hormat.
“Siang, pak” jawab Budi.
“Kenapa ngerjar-ngejar motor tadi?”
“Emm, cewek tadi, cewek saya, pak. Tadi perginya sama saya. Tapi dia kena fitnah, dan marah sama saya” jawab Budi.
“Kenapa nggak pake helm?” tanya polisi itu lagi.
“He?” Budi bingung.
“Astaghfirulloh” serunya saat menyadari di kepalanya tidak ada helm.
“Boleh lihat surat-suratnya, mas?”
“Boleh”
Budi memperlihatkan surat-surat berkendaranya. Semuanya lengkap. Polisi itupun mengangguk-angguk.
“Mas Budi tahu kan, syarat berkendara roda dua?”
“Ya. Orang panik, nggak nyadar, pak” jawab Budi.
“Mas nggak bisa berkendara kalo nggak ada helm"
“Ya terus gimana? Masa saya jalan kaki?”
“Di sana ada toko helm. Silakan beli helm dulu kalau mau melanjutkan perjalanan” saran polisi itu.
Tanpa menjawab lagi, Budi segera pergi ke toko helm itu. Tak pilih-pilih, yang penting pas, dia ambil. Pun dengan harganya, tidak pakai dia tawar lagi. langsung dia bawa kembali ke motornya.
“Lain kali jangan diulangi lagi ya, mas!” pinta polisi itu. dia serahkan surat-surat Budi.
“Loh, nggak ditilang ini?” tanya Budi.
__ADS_1
“Saya juga pernah di posisi mas Budi” jawab polisi itu sambil menepuk pundaknya dua kali.
“Tapi ini kebijakan saya pribadi. Jangan bilang-bilang, ya!” lanjut polisi itu.
“Oke. Makasih pak polisi” jawab Budi.
“Hati-hati!” saran polisi itu.
“Siap” jawab Budi.
Budi langsung tancap gas meninggalkan polantas itu. Jeda waktu yang cukup lama itu membuat Adel sama sekali tidak terkejar. Di sepanjang jalan Budi hampir tak mengurangi kecepatannya. Seperti orang kesurupan, dia terus menggeber motornya. Barulah saat sampai di rumah Adel, dia melihat Adel juga baru sampai.
“Tata” panggil Budi.
Tapi Adel sama sekali tak menyahut. Dia juga bahkan menyentakkan tangan Budi yang hendak memegang tangannya.
“Ta,dengerin dulu!” pinta Budi.
Beberapa kali Budi berusaha menahannya, tapi Adel selalu mengelak. Dia masuk rumah dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
Saat Budi berada di ambang pintu, dia melihat Madina sedang membaca buku di sofa tamu. Saat Budi menatap Madina, Madina memberikan isyarat untuk mengejar Adel ke atas. Dengan bahasa isyarat pula Budi meminta ijin kepada Madina.
“Ta, tunggu!” seru Budi saat Adel sudah hampir menutup pintu kamarnya.
“Tata”
*DUAAARR*
Adel membanting pintu kamarnya dengan kerasnya. Menimbulkan suara berdebam yang sangat keras. Mengagetkan siapapun yang dekat dengan pintu itu.
“Ada apa Din?” tanya pak Fajar dari arah belakang. Bu Lusi mengekor di belakang npak Fajar.
“Nggak tahu. Paling juga lagi marahan” jawab Madina.
“Kok sampe banting pintu sekenceng itu?” tanya bu Lusi.
“Kayaknya bukan kaleng-kaleng deh, masalahnya. Urusan sama fitnah deh, kayaknya”
“Tahu dari mana?” tanya pak Fajar.
“Kalau cuman sekedar cemburu, nggak sampe segitu marahnya, mbak Adel” jawab Madina.
“Ta, masa kamu lebih percaya sama pesan yang nggak jelas asalnya, sih?” tanya Budi.
*DUAAARRR*
Bukan jawaban yang dia dapatkan, tapi justru lemparan benda keras yang dia terima. Untuk kedua kalinya pintu itu mengeluarkan suara kencang.
“JANGAN PANGGIL GUA TATA LAGI! JIJIK AKU DENGERNYA. PERGI DARI RUMAH GUA BANG***!” teriak Adel dari dalam kamarnya.
“Ta, sumpah ta, itu fitnah” jawab Budi.
“PERSETAN DENGAN SUMPAH LO. LO MANUSIA PALING TERKUTUK YANG PERNAH GUA KENAL. PERGI SETAAN!” teriak Adel lagi.
Teriakan terakhir itu teramat kencang, sampai terdengar sampai ke bawah. Dan itu membuat pak Fajar penasaran.
*Kenapa itu anak? Dia yang ngajarin ibunya buat sabar, dia sendiri malah ngmpat-ngumpat. Sama calon suaminya sendiri, lagi. Ada apa sama mereka*?
Pak Fajar beranjak menaiki tangga. Rasa penasarannya sdah tidak bisa dia tahan lagi. Dia ingin tahu ada apa sebenarnya. Semakin penasaran saja dia saat melihat Budi begitu kacaunya.
“Ada apa sih, Bud?” tanya pak Fajar.
“Ada yang ngadu-domba kita, Pak” jawab Budi.
*Tok tok tok*
“Nduk, mbok keluar dulu!” pinta pak Fajar.
*Ceklek*
Adel membuka pintu kamarnya. Dia muncul di hadapan bapaknya. Matanya melotot dan sembab, wajahnya merah penuh amarah.
“Nggak usah bersandiwara lagi deh, lo!” kata Adel setelah melihat Budi ada di sebelah kirinya pak Fajar.
“Ta, ini semua Fitnah” elak Budi.
“Terus aja lo bilang fitnah! Kalo semua ini fitnah, dari mana Vani bisa tahu apa yang terjadi sama bapak? Dari mana Vani bisa tahu kalo gua abis nyusruk, ha?”
__ADS_1
“Vani?” tanya pak Fajar.
“Kalo lo dendam sama bapak karena bapak pernah ngehina bapak lo, itu hak lo. Tapi kalo lo masuk ke hidup gua cuman buat ngancurin bapak gua, gua nggak terima Bud”
“Ta, dendam apaan? Itu akal-akalan Vani doang” elak Budi lagi.
“Lo pikir gua cewek goblok, apa?” bentak Adel. Budi terkesiap.
“Udah cukup lu bikin pelanggan besar bapak kabur. Udah cukup lu bakar bengkel bapak gua. Gua nggak akan biarin lo melangkah lebih jauh” kata Adel pelan tapi bernada berat.
“Ta?”
“Gua maafin semua rasa sakit yang udah lo kasih ke gua. Tapi demi apapun, GUA NGGAK AKAN NGEBIARIN LO BIKIN BAPAK GUA BANGKRUT, BUDI” kata Adel diakhiri dengan teriakan amarah.
*Syuuut*
*DUAAAKKKK*
“Aaahh”
Budi berteriak saat dadanya mendapatkan jejakan kaki yang sangat kuat. Jejakkan kaki pak Fajar itu cukup kuat untuk membuatnya terlempar ke belakang.
*BAK BUK DAK DAK*
“BUDIII”
Bu Lusi berteriak terkejut saat melihat Budi terjatuh dan berguling-guling di tangga.
*DAK BUK BAK DAAAK*
Budi terus berguling-guling sampai ke lantai dasar.
“BUDIII”
“Mas Bud”
Bu lusi dan Madina sontak mendekati tubuh Budi yang tak sadarkan diri. Bu Lusi berteriak-teriak memanggil para tukangnya untuk membantunya. Para tukangnya datang dan memeriksa kondisi Budi.
“Kita bawa ke rumah sakit, Kang!” ajak bu Lusi. Dia yang tidak mendengar perkataan Adel, belum mengetahui apa yang terjadi di atas.
“NGGAK USAH!” teriak pak Fajar dari atas.
“Pak?” bu Lusi bingung.
Lebih bingung lagi saat melihat wajah putri sulungnya tampak begitu murka.
“Biarin aja dia mati. Bocah terkutuk” kata pak Fajar, sesampainya di lantai dasar.
“Ada apa sih, pak? Orang darurat kaya gini kok malah nggak boleh?”
“Biarin aja dia mati. Asal ibu tahu aja. Ternyata dia yang udah bikin anak kita celaka. Dia yang udah bikin imam kabur ninggalin kita. Dia yang udah bakar bengkel kita” kata pak Fajar.
“Astaghfirulloh, pak. Istighfar! Darimana bapak tahu?”
“Nggak liat apa, anakmu murka kaya gitu? Apa pernah sebelumnya dia marah? Yang ada takut mulu ditinggalin sama bedebah satu ini. Kalo anakmu aja udah murka kaya gitu, apa lagi yang perlu ditanyain, bu?”
“Ya, ya, ya udah, itu pikir entar dulu. Yang penting ini anak harus dibawa ke rumah sakit dulu, pak. Kepalanya berdarah ini” kata bu Lusi.
“Ibu jangan ngebantah bapak! Mau bang*** ini mati di sini juga bapak nggak urusan”
“Tapi pak?”
“Ibu mau ngebantah bapak?”
“Ya, ya, ya udah. Kang, tolong bawa ke rumah sakit ya! abis itu kabarin keluarganya. Udah tahu kan, rumahnya Budi?” kata bu Lusi kepada para tukangnya.
“Baik, bu” jawab salah satu tukangnya.
Bu Lusi hanya bisa terdiam saat tubuh Budi diangkat masuk ke dalam mobil bak dan di bawa ke rumah sakit.
Madina juga sangat kebingungan. Dari hati kecilnya, dia merasa sangat aneh dengan pernyataan bapaknya. Terlalu aneh baginya kalau ada pernyataan Budi dendam kepada bapaknya.
Tapi apa yang dikatakan bapaknya juga benar. Kakaknya memang tidak pernah marah sampai segitunya. Apalagi menyangkut Budi. Yang ada justru kakaknya yang selalu takut saat merasa bersalah.
*Berat banget cobaan kalian, mbak. Madin berharap, semua ini cuman fitnah. Kalau semua ini terbukti nyata, nggak tahu lagi deh, gimana Madin harus bersikap, termasuk sama Putri*.
__ADS_1
***