Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
mantai


__ADS_3

Melewati dermaga lama, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. mungkin terlihat unik bagi mereka, ada seorang wanita sedang bersepeda, ditemani seorang lelaki yang sedang berlari-lari kecil. Ada yang tersenyum mengapresiasi, ada juga yang geleng-geleng kepala.


Di depan gerbang utama, kontur jalan raya yang harus dilalui, cenderung menurun. Membuat Adel tersenyum-senyum sendiri. Dia mempunyai ide usil untuk menjahili Budi.


“Bram, kejar tata, ya! Yuhuuu”


“Hei”


“Ha ha ha ha”


Selepas menyeberang jalan, Adel langsung meluncur mengikuti kontur jalan. untuk sejenak, Budi hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan Adel masih saja tertawa, karena merasa senang, bisa mengusili kekasihnya.


“HWAAAA”


Kali ini dia terkejut bukan kepalang.


“Abram?”


Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ternyata Budi sudah ada di sampingnya. Berlari dengan kecepatan yang sama dengan laju sepedanya.


“Ha ha ha ha. Gila”


Adel tertawa, dia merasa lucu, sekaligus masih tidak percaya. Budi masih terus berlari mengimbangi kecepatannya mengayuh.


Akhirnya Adel merasa tidak tega, lalu memperlambat laju sepedanya. Dia masih tertawa, melihat Budi ngos-ngosan setelah berlari cepat lebih dari seratus meter.


Memasuki pantai teleng ria, Adel yang membayar tiketnya. Walau sempat terjadi perdebatan kecil dengan Budi, mengenai siapa yang membayar tiket.


Alih-alih langsung menuju pantai, Adel mengajak Budi untuk menitipkan sepedanya terlebih dahulu. Kebetulan ada teman Adel yang bekerja di kantor pengelola pantai ini.


Adel sempat berulah lagi. Dia menantang Budi untuk balap lari sampai di bibir pantai. Tentu saja itu tantangan yang mudah buat Budi. Walau Adel mencuri start, tetap saja Budi mampu mengejarnya. Kontan kedatangannya membuat Adel histeris. Mereka tertawa-tawa di sepanang lintasan menuju bibir pantai.


“Bram”


“Ya?”


“Kalau bu Ratih, ngekang nggak sih, sama Putri? Soal cowok, gitu” tanya Adel.


Mereka kini sudah berada di bibir pantai. Berjalan santai sambil menenteng sepatu masing-masing. Budi merangkulkan tangan kirinya ke pundak kiri Adel.


“Kalo ibu, nggak pernah, sih” jawab Budi.


Adel menoleh ke arah Budi. wajahnya seolah menuntut penjelasan lebih.


“Ibu sih, lebih sering ngasih contoh tidakan. Utamanya sama Putri, ibu suka kasih contoh, gimana caranya ngadepin orang lain. Gimana caranya menjadi seorang istri yang baik. Termasuk kasih wawasan, gimana cara memilih pasangan. Kalo ada sekian banyak kandidat, kriteria apa nih, yang harus ada” lanjut Budi.


“Apa kriterianya?” tanya Adel.


“Kata ibu, sih, yang paling penting itu, agamanya” jawab budi.


“Agama?”


“Ya. agama”


Sejenak mereka saling pandang. Adel masih belum menangkap apa maksud Budi. yang dia pahami barulah dari segi keyakinan. Karena memang, orang menikah itu harus satu keyakinan.


“Abram juga belum begitu paham, sih. Karena banyak penjelasan ustad itu yang aku bilang paradoks, bertolak belakang”


“Maksudnya? Makin nggak ngerti deh”


“Ya, ibu suka bilang, kalo ada kandidat yang kaya harta, sama yang kaya ilmu agama, dahulukan yang kaya akan ilmu agama. Sekalipun dia kurang mampu. Tapi ada ustad yang bilang, kalo kefakiran itu, mendekati kekafiran”


“Hem, pusing, bram. Berat banget sih omongannya?”


“Ha ha ha ha. Intinya sih, ibu selalu ngasih wawasan, tentang gimana cara dapetin pasangan yang baik. Jangan grasak-grusuk di depan! Pakailah cara-cara yang diajarkan kanjeng nabi. Kalo bisa tanpa pacaran, itu bagus. Kalopun nggak bisa, yang penting jangan kebablasan. Cowok itu suka modus, kata ibu”


“Emang. Ha ha ha” sahut Adel.


“Ibu suka bilang sama Putri, ajak cowokmu sholat. Kamu akan bisa ngerasain, apakah dia cocok untuk kamu jadiin pasangan, atau enggak”


“Bedanya apa? Maksud tata, kerasanya itu, gimana?”


“Ya kalo dia emang dia seorang muslim sejati, nggak perlu diajak, dong. Malah dia yang ngajakin”

__ADS_1


“Iya, ya”


“Kata ibu, kalo dia mau diajak sholat jamaah, insya Alloh, dia akan ngejaga kesucian Putri sampe ke pernikahan”


“Berarti abram nggak termasuk, dong? Nyatanya tadi?”


“Ya, begitulah” jawab udi sambil tersenyum malu.


“Waduh, bahaya nih” komentar Adel. Budi garuk-garuk kepala.


“IBUU” Adel berseru, seolah ibunya ada di depan sana. Membuat Budi terkejut.


“Anakmu sedang terancam, nih. Sama cowok ganteng yang kadang nggak sholat. Ha ha ha” lanjut Adel.


Budi hanya geleng-geleng kepala, melihat Adel berlari menjauhinya. Dia baru memahami apa maksud adel memanggil ibunya tadi. Budi mempercepat langkahnya, menghampiri Adel yang masih tertawa.


“Kalo abram nakal, tata boleh kok, jewer abram” kata Budi. Adel tergelak.


“Iya. Tata ngerti kok, bram. Tata juga bukan cewek solihah. Baru abis kenal sama abram aja, tata nyoba buat rutin sholat lagi. Jadi nggak usah minder, bram. Tata cuman bercanda kok, tadi” jawab Adel.


Suasana menjadi hening. Masing-masing, sibuk dengan pikiran masing-masing. Menyisakan suara deburan ombak, yang berpadu dengan desisan angin sepoi-sepoi.


“Bram, ibu tahu nggak sih, Putri punya cowok atau enggak?” tanya Adel memecah keterdiaman.


“Tahu, dong”


“Gimana tahunya?”


“Ibu sih, suka memposisikan diri sebagai temen, ketimbang sebagai ibu. Dari dulu, ibu tuh suka ngobrolin sesuatu yang sebenernya itu bukan porsinya”


“Contohnya?”


“Ya, kaya ngomongin barbie, hulahoop, rumah pohon, apalah. Yang itu semua, dunianya Putri, gitu. Tapi ibu ngebahasnya tu, seolah-olah ibu masih seumuran Putri”


“Oh, ya?”


“Iya. Sampe sekarang, kalo ngobrol tuh, yang dibahas pasti dunianya Putri. Temen-temennya Putri juga, ibu hafal banyak. suka ditanyain juga kabarnya. Kalo lagi ada gosip apa, gitu, ibu suka nimbrung. Udah kaya sebayaan aja, keliatanya”


“Jadi maksud abram, dari situ ibu masuk, buat nyari tahu, apa yang sedang Putri alamin?”


“Terus, kalo udah tahu? Misal, Putri pacaran, tapi nggak ngomong. Terus, ada temennya yang lapor sama ibu, kalo Putri abis, emm”


“Cipokan?” potong Budi.


“He he” Adel meringis malu.


“Nggak marah, kok”


“Nggak marah?”


“Yap. Kata ibu, marah-marah nggak akan bikin Putri jadi nurut. Malah sebaliknya”


“Terus?”


“Ya, ibu suka manfaatin keadaan aja. kalo misal ngepasin bapak pulang, kecapekan. Ibu langsung mijitin bapak, sambil nyindir”


“Nyindir gimana?” tanya Adel sambil tergelak.


“Semoga, jerih payah bapak, sampe sakit gini, diterima Alloh sebagai jihad ya, pak. Semoga nafkah yang bapak kasih, dari jerih payah sampe sakit begini, bisa nganterin Budi sama Putri, sampe ke kesuksesan mereka. Di dunia, juga di akherat” jawab Budi. Ada air mata yang meluncur ke pipi, saat menirukan kalimat ibunya.


Adel terkesiap. Dia ulurkan tangannya untuk megusap air mata yang membasahi pipi Budi itu. Dia juga merasakan kesedihan yang tiba-tiba hinggap di hati Budi.


“Tata pengen belajar sama bu Ratih” celetuk Adel sambil tersenyum. Senyum yang sangat menular.


“Boleh, asal jangan pas ada Putri” jawab Budi.


“Ha ha, ya iya, lah. Kan subyeknya dia”


“Ha ha ha ha”


Adel mendapatkan satu pesan singkat, terdengar dari nada dering ponselnya. Dia membuka pesan yang ternyata berasal dari madina, adiknya.


“Bram”

__ADS_1


“Ya?”


“Abram ngerti google sheet nggak sih?” tanya Adel.


“Kenapa emang?”


“Ini, Madina. Dia dapet tugas sekolah, komputer. Bikin fungsi IF, tapi pake google sheet, bukan excel biasa”


“Oh, sama aja, kok”


“Tapi berganda, bilangnya. Dari workbook lain. Tata nggak ngerti”


“Oh, bisa. cuman emang agak lain, sih. secara, kan emang beda penyedia layanan”


“Emang fungsi if itu, gimana sih?” tanya Adel penasaran.


“IF itu, fungsi logika. Fungsi pilihan. Misal gini. Tata pilih tangan kanan atau tangan kiri?” jawab Budi. dia memberikan dua genggaman tangannya pada Adel.


“Kalo tata pilih tangan kiri, berarti harus bilang i love you. Kalo pilih tangan kanan, berarti harus cium aku. Kalo nggak milih, berarti hatrus digelitikin” lanjut Budi menjelaskan.


Tanpa Budi duga, ternyata Adel langsung mencium pipinya.


“I love you” kata Adel.


“Waduh, ini sih rumusnya eror. Tahu gitu tadi pilihannya cium bibir” komentar Budi.


“Maunya” kilah Adel.


“Aduuh”


Budi memekik saat pinggangnya mendapat satu cubitan dari Adel. Walaupun kecil, tapi sangat terasa. Seprti sengatan lebah.


“Ajarin Madina ya, bram! Entar Tata suruh dia ke rumah abram” pinta Adel.


“Boleh” jawab Budi.


Bang – bang wes rahino. Bang –bang wes rahino...


Ponsel Adel berdering. Karena masih ada di genggaman, Adel langsung mengangkat telepon itu. ternyata dari Tati. Dia diminta datang ke sanggar. Ada pengarahan dari om Dik, mengenai job yang akan mereka jalani nanti. Akan ada pejabat dari kementrian yang datang di hajatan tersebut. Sehingga ada attitude yang perlu di jaga selama tampil.


“Ya udah, pulang aja! jangan sampe telat!” saran Budi, setelah Adel menceritakan keadaannya.


“Abram nggak papa, tata tinggal?”


“Nggak papa, sayang” jawab Budi.


Dia tergelak mendengar pertanyaan lucu itu.


Merekapun memutuskan untuk kembali ke pintu gerbang. Tempat dimana Adel menitipkan sepedanya.


Sembari berjalan, Adel menelepon Sinta, menanyakan keberadaannya. Kebetulan Sinta juga sedang dalam perjalanan mengarah ke jalan teleng ria. Adel mengajak Sinta untuk bertemu di depan.


“Bram, sori banget, ya. Kita harus pisah di sini” kata Adel.


“Entar pulangnya sama siapa?” tanya Budi.


“Tenang, mas. Sinta yang anterin. Tapi kalo dari sanggarnya, Sinta nggak tahu, deh” jawab Sinta.


“Ada tati, bram. Dia juga mau mampir dulu ke rumah. Kejauhan kalo pulang dulu” sahut Adel.


“Oh, oke deh. Tadinya abram pikir, tata tunggu aja di rumah Sinta. Abram ambil motornya Putri, buat anterin tata”


“Oh, so sweet” seru temannya Sinta.


“Suit-suit” seru yang lain. Mendadak mereka menjadi heboh.


“Ya udah, pulang gih! Time is running out” saran Budi.


“Gokil, pacarnya mbak Adel bisa bahasa inggris” komentar salah satu dari mereka.


“Tata pulang, ya? assalamu’alaikum” pamit Adel sambil salaman dan mencium tangan Budi. dia lakukan itu tanpa canggung apalagi malu.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.

__ADS_1


Merekapun akhirnya pergi. Meninggalkan Budi sendirian. Walau sebenarnya mereka satu arah, tapi Budi tidak ingin memperlambat laju mereka. Dan benar saja, mereka mengayuh sepeda seperti orang dikejar debt collector, kencang sekali. Budipun segera melangkahkan kaki. Dengan langkah pelan dia mulai berjalan.


__ADS_2