
Gara-gara kamu, aku jadi ikutan dipenjara. Gara-gara kamu kegatelan sama laki-laki, aku jadi kena susahnya
Kata-kata penuh emosi masih terus terngiang di telinga Stevani. Air matanya mengalir, membasahi jemariya yang menutupi wajahnya.
Tapi Vani cuman difitnah, pa. Vani nggak pernah berbuat kriminal
Suaranya sendiri sekarang yang terngiang di telinganya. Sebuah kalimat pembelaan diri.
Haah. Persetan mau fitnah kek, mau apa, kek. Yang pasti kamu udah bikin aku susah.
Bantahan yang mulai membuat hatinya terluka. Dia tidak pernah membayangkan ada orang tua yang merasa susah karena anaknya.
Kamu inget nggak sih, semua yang kamu nikmatin itu siapa yang ngasih? Makanmu, bajumu, rumahmu, mobilmu. Siapa yang ngasih? Aku. Tapi apa balesannya? Sekali aja kamu nggak pernah bikin aku seneng. Dikasih tempat enak, malah milih kabur. Bukannya kerja yang bener, malah bikin kasus. Nyusahin mulu kerjaannya
Tangis Stevani semakin menjadi tatkala teringat orang yang paling dia sayangi mengungkit-ungkit semua yang pernah dia terima darinya.
Pa. Vani minta maaf
Masih terasa ketakutan kala itu, harus menghadapi kemarahan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Satu lagi. Mulai sekarang, jagan panggil aku papa lagi!
Bagai disambar petir kala itu. Sekarangpun dia masih belum percaya kalau kalimat itu akan dia dengar.
Asal kamu tahu ya, kamu itu sebenernya bukan anakku. Kamu itu anak haram. Anak hasil selingkuh ibumu sama si intel terkutuk itu.
“Van?”
“Haah”
Stevani yang sedang geleng-geleng kepala, terkejut mendapat teguran tepukan di pundak, dari arah belakang.
“Ya Alloh. Kamu kenapa? Kamu diteror Budi lagi?”
Stevani menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan itu.
“Apa ada aktor lain selain Isma? Kamu abis diteror orang itu?”
Stevani menggelengkan kepalanya lagi. Tangisnya menyiratkan kepedihan yang lebih pedih dari diteror orang tak dikenal.
“Terus, kenapa, Van? Bagi dong sama aku, biar bebanmu berkurang!”
Stevani termenung beberapa saat. Dia menatap mata lelaki yang berada di sebelahnya itu.
“Aku nggak tahu mesti cerita dari mana, Do” jawab Stevani beberapa saat kemudian.
“Hem? Jangan bilang kamu abis dimarahin papamu!”
Stevani seperti terkejut, mendapati pikirannya bisa ditebak dengan tepat.
“Sekeras apa sih papamu? Kalo emang belum waktunya, mending nggak usah dibahas dulu, soal kita. Kan kondisinya emang lagi nggak memungkinkan. Entar aja kalo semuanya udah adem, baru dibahas”
“Tapi kita udah nggak mungkin ngebahas itu lagi, Do” jawab Stevani.
“Loh. Kenapa? Papamu nggak ngerestuin hubungan kita? Apa aku harus punya mebel dulu, biar dikasih restu?”
“Apaan sih?” komentar Stevani sambil tergelak kecil.
Lalu keheningan menghampiri mereka. Stevani tampak sedang berpikir, kalimat apa yang akan dia jadikan pembuka.
“Aku udah nggak diakui anak lagi”kata Stevani.
“Apa?”
“Van. Kalo kamu lagi kesel karena kena marah sama papa kamu, ya jangan gitu juga dong, ngomongnya!”
“Aldo” potong Stevani.
“Aku serius” lanjut Stevani.
“Apa? Maksudnya?” tanya Aldo tambah kaget.
“Aku juga nggak tahu, setan apa yang ngerasukin papa. Tapi yang jelas, papa udah ngomong dengan jelasnya, kalo mulai kemarin, aku nggak boleh panggil dia ‘papa’ lagi” jawab Stevani.
“Lah. Kok aneh”
“Dan yang lebih nyakitin lagi, papa bilang kalo aku ini anak haram, Do”
Aldo tidak menjawab. Matanya terbelalak. Dia terkejut mendengar kalimat itu.
“Papa bilang kalo aku ini anak hasil selingkuhnya ibu sama seseorang, Do” lanjut Stevani.
Kini tangisnya pecah. wajahnya kembali dia tutupi dengan telapak tangannya. Aldo negelus-elus pundak Stevani. Dia ingin memeluk, untuk menguatkan. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan.
“Van. Aku pikir papamu lagi kacau saat ini. Jangan buru-buru diambil hati dulu! Aku yakin, nanti kalo urusan papamu udah beres, papamu pasti akan minta maaf” hibur Aldo.
“Kaya gitu kamu bilang kacau? Pengacaranya sepuluh, Do. Nggak perlu ikut mikir, dia. Ruangan selnya juga mewah. Nggak ada bedanya sama kontrakan aku. Nyaman banget Do. Kacau apanya?” sahut Stevani.
Aldo bingung harus menjawab apa. Dia tidak mengerti korelasi antara kacau yang dia maksud dengan penjelasan Stevani.
“Bukan kali ini aja papa ngungkit-ngungkit masalah ini. Beberapa kali aku pernah denger, saat mama masih hidup. Saat aku nakal dan bikin mereka bertengkar, papa suka nyebut test pack, test pack, test pack, dan test pack lagi”
Aldo masih belum menjawab. Dia masih menganalisa maksud dari perkataan Stevani.
“Mamaku anak pesantren, Do. Jangankan begituan. Kalo kamu seumuran dengannya, jangan harap kamu bisa sentuh dia” kata Stevani, mengerti arti tatapan amta Aldo.
“Aku nggak bermaksud begitu, Van. Tapi emang, “
Ucapan Aldo menggantung. Seperti ada rasa tidak enak untuk melanjutkan. Tapi Stevani menuntut kelanjutannya dengan matanya.
“Ya, maaf. Aku lancang, udah mikir gitu” lanjut Aldo.
Mereka saling menatap dalam keterdiaman. Banyak sekali kata yang berkecamuk di kepala Stevani. Tapi dia bingung, mana dulu yang mau dikeluarkan.
“Do”
Stevani seperti ingin mengatakan sesuatu. Dan Aldo sudah siap mendengarkan.
“Kalo ternyata aku benar anak haram, apa kamu masih mau sama aku?” lanjut Stevani.
Aldo mengernyitkan keningnya beberapa saat. Dia terus menatap mata Stevani, mencoba membaca pikiran wanita cantik itu.
__ADS_1
“Aku malah nggak tahu, apa itu anak haram” jawab Aldo, diplomatis.
“Jawab, Do!” pinta Stevani. Suaranya pelan, tapi tegas. Aldo terkesiap.
“Aku akan tetap mencintaimu, apapun kekuranganmu” jawab Aldo mantap.
Ada senyum merekah di bibir Stevani. Seperti orang kehausan yang mendapatkan secangkir air.
“Bantu aku ya, Do! Aku pengen buktiin kebenaran kata-kata papaku. Semoga aja kaya yang kamu bilang tadi, papa lagi kacau aja” pinta Stevani.
“Iya” jawab Aldo
***
Di sebuah warung makan, tampak banyak pembeli yang mengantri. Walau jam sarapan seharusnya sudah berlalu, nyatanya masih ada yang belum sarapan.
Dari wajah-wajahnya, sepertinya mereka adalah orang-orang yang bekerja malam hari, dan baru pulang di pagi hari. Hanya ada satu orang yang tampak segar. Menyeruput kopi sambil memperhatikan setiap gerak-gerik penjualnya.
Yang unik, ternyata semua pembeli pagi ini, semuanya minta dibungkus saja. Sehingga, tidak sampai setengah jam, warung itu terlihat kembali sepi. Pemilik warung itupun berjalan menghampiri satu-satunya pembeli yang masih bertahan.
“Beneran nggak sarapan, nih?” sapa pemilik warung.
“Dibilang, tadi abis ditodong makan sama anaknya bos” jawab laki-laki itu.
“Emang lagi ngerjain apa mas, kok laporannya pagi banget?”
“Ya sama, programmer” jawab laki-laki itu sambil tersenyum geli.
“Serius, mas. Udah segeger itu masih mau ditutup-tutupin lagi?”
“Hahaha” laki-laki itu tertawa.
“Masih terkait sama mbak Vani, mbak” jawab laki-laki itu.
“Loh. Mas Hendra bilang, kasus mbak Vani udah diputus. Udah ada terpidananya, kan? Kok masih berlanjut?” tanya pemilik warung itu.
“Mbak Ning emang jeli, ya” komentar Hendra.
“Emang bukan kasusnya mbak Vani. Tapi karena kasusnya mbak Vani itulah, papanya mbak Vani jadi ikut kena kasus juga” lanjut Hendra.
“Loh. Kok bisa?”
“Ruwet, mbak. Biasalah. Tempat yang banyak duitnya pasti banyak jadi rebutan. Kalo dikasih jatah sih, adem ayem aja. Tapi kalo ada yang nggak kecipratan jatahnya, pasti deh, usil. Apalagi orangnya berpangkat”
“Nggak paham. He he” komentar mbak Ning.
“Emang kasusnya apa? Yang soal bodyguard itu, bukan?” lanjut mbak Ning.
“Lebih dari itu, mbak. Pusing saya”
“Walah, lebih berat? Emang fitnah lebih kejam dari nggak fitnah, ya?”
“Ya iya lah, mbak” seru Hendra gemes.
“Ha ha ha ha”
Mbak Ning tertawa dengan lepasnya. Dia senang kelakarnya mengena dengan tepat.
“Sengaja aja, main. Lagi galau aku, mbak” jawab Hendra.
“Kenapa? Ceweknya ngambek, lama nggak dikasih jatah?” goda mbak Ning.
“Lebih dari itu, mbak”
“Walah” mbak Ning terkejut.
“Dia tahu ya, mas Hendra pernah hooh hooh sama aku?” tanya mbak Ning.
“Hempf”
Hendara malah tergelak mendengar pertanyaan lucu itu.
“Malah ketawa” protes mbak Ning.
“Bukan, mbak” sahut Hendra.
“Kita emang udah bermasalah sejak aku belum dateng ke sini. Egois dia, orangnya” lanjut Hendra.
“Wajarlah, kalo cantik sih. Egois gimana dulu, tapi?”
“Kalo jelas maunya sih, aku nggak bingung, mbak”
“Maksudnya?”
“Ya nggak jelas. Aku punya temen cewek, dicemburuin abis. Giliran dia punya temen cowok, aku cemburu, dibilang norak”
“Lah. Kok gitu?”
“Itu dia, mbak. Bilangnya, cuman temen kok, kenapa dicemburuin. Tapi kata adiknya, dia sering jalan sama itu cowok”
“Selingkuh, dong?”
“Ya apa lagi namanya, coba?” sahut Hendra.
“Aku putusin, nangis-nangis tuh, kemarin. Sampe aku ditelpon orang tuanya. Giliran dibaikin, gitu lagi”
“Angel, wes” komentar mbak Ning.
“Nggak abis pikir aku, mbak. Kok ada cewek kaya gitu”
“Terus?”
“Bilangnya nggak bisa jauh dari aku. Giliran mau aku halalin, dianya bilang belum siap. Kan pusing aku jadinya”
“Lah. Seganteng kamu masih digantung, mas? Nggak beres tuh cewek. Nggak nyadar apa, ada janda kesepian di sini?”
“Hempf. Ha ha ha ha” Hendra tergelak mendengar komentar mbak Ning.
“Itu dia. Makanya aku frustasi ngadepin dia, mbak”
“Ini juga ceritanya masih digantung gitu, sama dia?”
__ADS_1
“Udah aku bubarin, mbak. Kesel aku. Bingung nurutin maunya”
“Ya iya, lah. Aku digituin, udah aku unyeng-unyeng mbun-mbunannya”
“Sama. Tapi kan aku nggak mungkin kaya gitu. Aku cuman bisa masrahin aja ke orang tuanya. Aku bilang kalo aku udah nggak kuat ngadepin dia. Dan aku putusin hubungannya”
“Dia tahu?”
“Enggak. Aku putusin lewat WA” jawab Hendra.
“Nih”
Hendra memperlihatkan percakapan pesan singkatnya dengan sang mantan kekasih. Hendra juga memperdengarkan rekaman suara saat dia bermusyawarah dengan keluarga mantan kekasihnya.
“Lah. Dia nggak nyariin, mas?”
“Nggak tahu. Orang yang hape ini aku mode pesawat. Jadi nggak ada yang bisa ngehubungin aku, mbak”
“Oh. Ceritanya kabur dari kejaran mantan, to?”
“Ho oh” jawab Hendra sambil tergelak.
Tiba-tiba ponsel Hendra berdering. Ada panggilan telepon dari nomor kantor. Dia meminta ijin untuk menerima telepon terlebih dahulu. Mbak Ning mempersilakan.
Dia beranjak menuju tempat dia biasa melayani pembeli. Dia kasih kesempatan Hendra untuk berbincang tanpa merasa risih akan keberadaannya. Tak seberapa lama kemudian, dia mengakhiri perbincangannya di telepon itu. dan wajahnya terlihat lesu.
“Kok jadi lesu gitu? Dari mantan camer, ya?” goda mbak Ning.
“Dari atasan” jawab Hendra singkat.
“Kenapa?”
“Aku disuruh balik. Ada temuan baru di rumah papanya mbak Vani”
“Apa tuh? Duit sekoper? Mau aku”
“Sabu”
“Apa?” tanya mbak Ning terkejut.
Hendra tidak menjawab. sepertinya dia menyesal telah kelepasan bicara.
“Aku nggak salah denger?”
“Enggak. Info dari atasan, gitu” jawab Hendra.
Mbak Ning tertegun. Ini kali pertama dia mendengar kasus Narkoba, menimpa keluarga dari orang yang dia kenal baik.
“Gitu amat mbak, sampe bengong?” tegur Hendra.
“Eem. Enggak. Aku belum pernah ngomongin langsung kasus tentang narkoba begini. Paling pol juga liat penggerebekan. Tapi nggak ada sangkut pautnya sama orang yang aku kenal. Maksudnya, yang terlibat kasus itu, aku nggak kenal, gitu. Ini papanya mbak Vani. Ya kaget lah aku, mas” jawab mbak Ning.
“Iya juga sih, mbak. Tapi di dunianya papanya mbak Vani, semua hal bisa terjadi. Namanya juga saling menjatuhkan. Apapun yang bisa bikin targetnya jatuh dengan cepat, ya itu yang dipakai. Termasuk narkoba”
“Jadi maksud mas Hendra, bisa saja sabu itu cuman fitnah doang, buat ngejatuhin papanya mbak mbak Vani?"
“Ya. secara pribadi aku menilainya begitu, mbak. Tapi secara profesional, aku dilarang buat berspekulasi tanpa dasar yang valid”
“Oh”
Hanya itu yang keluar dari mulut mbak Ning. Angannya masih mengembara, mencoba menganalisa benar dan tidaknya.
“Mbak. Jangan bilang siapa-siapa, ya! Anggep aja info tadi kaya nggak pernah keluar dari mulut aku!” pinta Hendra, beberapa saat kemudian.
“Oh, pasti itu. Aku akan jaga rahasia itu” jawab mbak Ning.
“Ya udah, mbak. Jadi berapa semaunya? Aku mau langsung berangkat aja”
“Buru-buru amat, mas? Nggak entar-entaran?” sahut mbak Ning.
“Kalo si bos langsung yang minta, mana bisa entar-entaran, mbak?”
“Yakin, nggak ho oh ho oh dulu?” goda mbak Ning.
“Jangan nggodain, mbak! Tawaran yang susah ditolak, itu”
“Ya hayu! Serius, ini”
Hendra termenung. Dia tersenyum mendengar ucapan mbak Ning.
“Entar aja mbak, abis aku halalin, mbak Ningnya” jawab Hendra.
Gantian mbak Ning yan termenung. Dia terkesiap mendengar jawaban Hendra.
“Jangan bercanda! Masa mas Hendra mau sama janda?” kata mbak Ning, mencari kepastian.
“Siapa yang bercanda?” sahut Hendara.
“Daripada sama yang nggak jelas, mending sama mbak Ning. Jelas baiknya, jelas ngayominnya” lanjut Hendra.
Mbak Ning termenung lagi. Tapi terlihat jelas ada senyum lebar mengembang di bibirnya.
“Udah, buruan berangkat deh! Daripada ngegombal mulu, terus entar nggak balik, sakit nih, jatohnya” kata mbak Ning kemudian.
“Ha ha ha. Aku emang lagi galau, mbak. Tapi udah dari pertama ketemu dulu, aku kesengsem sama mbak Ning. Beda banget mbak Ning, sama yang di sono. Adem rasanya kalo deket mbak Ning, tuh. Nggak urusan soal status. Toh janda juga masih kempling” jawab Hendra.
“Udah, buruan berangkat! Jangan bikin aku halu! Cukup sekali aku halu. Sakit mas, endingnya”
“Abis kasus ini, aku bakal datang lagi sama orang tuaku. Semoga mbak Ning belum nikah lagi. Aku mau ngelamar mbak Ning. Ini serius”
Lagi-lagi mbak Ning tertegun. Dia tampak bahagia mendengar ucapan Hendra. Tapi kemudian dia tepis sendiri perasaan yang berbunga-bunga itu. Terlalu dini untuk merasakan itu, pikirnya.
“Kalo mas Hendra emang serius, buktikan, mas! Aku tunggu lamaranmu” jawab mbak Ning.
“Oke. Aku jalan dulu ya, mbak?” pamit Hendra.
“Ati-ati di jalan!”
“Iya. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
__ADS_1