Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
dikasih semangat terus, auto senyum terus


__ADS_3

Sudah hampir sebulan sejak kejadian itu, hubungan Budi dan Adel terlihat baik-baik saja. Bahkan semakin melekat, seperti perangko dan amplop.


Tak jarang Adel mampir ke pasar, sekedar untuk menemui Budi, atau ibunya. Setiap pagi, Adel selalu memberikan semangat kepada Budi melalui panggilan video. Walau masih waspada, tapi kini Budi bisa bernafas lega. Dia bisa bekerja dengan nyaman. Yang paling penting, dia berjanji untuk tidak mengulanginya. Disamping dia juga terus bersikap normal kepada Stevani. Itu dia lakukan semata-mata agar tidak ada gejolak, yang bisa membuat Stevani berbuat yang tidak terduga.


Pagi ini, Budi terlihat sangat bersemangat. Senyumnya tak jarang mengembang. Ibunya sampai merasa heran dengan semangat Budi.


Tapi Putri sudah bisa menebak. Kata dia, Budi baru saja mendapat tambahan semangat dari mbak Adel. Budi tidak mengelak, tapi juga tidak menjawab, ketika ibunya bertanya, semangat apa yang Putri maksud.


Bahkan, saat bu Kusno dan Adi lewat di depan rumah mereka, dan meledek Budi. Budi sama sekali tidak marah. Saking senengnya, bahkan dia menghampiri bu Kusno, dan salim padanya. Sikapnya itu sontak membuat tetangganya ikut heran. Dikata habis bercinta di hotel, dikata ceweknya sebentar lagi pasti hamil, dikata sering mampir ke hotel kalau siang hari, sama sekali tidak menyentil emosi Budi.


Melihat Budi masih asyik meneruskan kegiatan menyapunya, bu Kusno semakin menjadi. Terus meledek Budi. Seolah memberi saran, kalau orang tidak punya itu, tidak usah sok berani mendekati anak orang kaya, apalagi sampai menikmati ***********.


Bu Kusno juga seolah memberi saran, agar Budi kasihan pada ibunya yang sudah janda. Jangan diberikan beban pikiran. Apalagi harus ngasuh anak hasil persetubuhan diluar nikah.


Tapi emosi Budi masih tidak tersentil. Dia malah mendekati bu Kusnno, dan salim lagi. Cium tangan juga dia lakukan lagi. Begitu terus, setiap bu Kusno meledeknya lagi, dengan saran-saran baru, setiap itu pula dia mendekat dan salim sambil cengengesan.


Lama-lama bu Kusno kesal sendiri, lalu pergi.


Budi tertawa lepas, melihat budenya pergi tanpa berhasil membuatnya marah.


Tetangganya pada mendekat. Mereka bertanya, bagaimana bisa Budi setenang itu. sedangkan yang tidak ada hubungannya saja, mereka sudah siap-siap mau melempari bu kusno dengan peralatan dapur.


Tapi Budi tidak mau menjawab yang sebenarnya. Hingga akhirnya mereka membubarkan diri. Bu Ratih hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat anak sulungnya bersiul-siul ria, saat masuk ke dalam rumah.


“Senyam-senyum terus. Mau mandi apa enggak?” tegur Putri. Dia kesal karena kakaknya berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


“Ha ha ha ha. Iya, bawel. Rese amat, kalo laper” Budi yang tadinya sedang memperhatikan foto Adel di ponselnya, seketika tertawa, melihat adiknya sewot.


“Tadi abis dikasih liat mbak Adel telanjang, ya?” tanya Putri lirih, di dekat telinga Budi.


“Sembarangan” kilah Budi. Tapi dia kaget juga, tebakan Putri bisa tepat begitu.


“Kok, mukanya kaget gitu?” tanya Putri menyelidik. Budi tidak segera menjawab.


“Udah fix nih, bener. Luar biasa emang, kangmasku ini” komentar Putri. Tapi Budi tak juga kunjung menjawab.


“IBUUU” tiba-tiba dia berseru memanggil ibunya.


“Ish, apa-apaan, sih? pake manggil-manggil ibu segala?” Budi terkejut, dan segera membekap mulut Putri dengan tangannya. Agar tidak memanggil ibunya lagi.


“Kenapa, Put?” ternyata bu Ratih mendengar panggilan itu. Dia mendekat ke arah sumber suara. Budi langsung melepaskan tangannya.


“Ini, mas Budi. rese banget. Melototin foto mbak Adel di depan pintu kamar mandi. Di kamar, sono!” jawab Putri, seolah sangat kesal.


“Bud” tegur bu Ratih.


“Iya, bu. Baru juga bentar. Putrinya aja, rese”


Bu Ratih geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya. Kalau pas akur, membuat tetangga iri. Tapi kalau pas ribut, seperti anak kecil saja. bu Ratihpun, kembali ke depan.


“Ha ha ha ha. Nggak bisa ngelak, kan? Putri, gitu, loh. Ha ha ha ha” ledek Putri sambil mendahului masuk ke dalam kamar mandi.


“Hoe, kan mas Budi duluan, tadi” seru Budi.


“Ogah. Alamat lama. Nggak mungkin mas Budi mandi doang. Kan tadi abis dapet yang asik-asik” jawab Putri sebelum menutup Pintu.


“Somplak” komentar Budi.


“Ha ha ha ha”


Sampai di tempat kerja, Budi masih juga kepikiran momen pagi tadi. Walau hanya beberapa detik, dan itu juga karena insiden tak terduga, tapi sudah mampu membuat Budi terpana.


Masih berbalut handuk saja, sudah cukup membuat darah muda Budi berdesir. Apalagi saat handuk itu tersangkut paku yang menonjol di kursi rias. Sontak, darah mudanya menggelegak. Terlebih, yang punya tubuh terus menggodanya. Gayanya meminta pendapat, tentang kebaya mana yang cocok. Tapi selalu saja, dia mengirimkan foto yang luamayan syur, posenya.


“Ada yang lagi seneng nih. Senyam-senyum terus” sebuah suara mengalihkan perhatiannya.


“Eh, Marsya. Pagi, Sya. Sehat?” sapa Budi.


“Pagi, Bud. Alhamdulillah, sehat” jawab Marsya.


“Jangan lupa, traktirannya” lanjut Marsya.


“Traktiran apa?”


“Biasanya, cowok kalo udah senyam-senyum sendiri, nggak tahu tempat, tandanya abis jadian, tuh” jawab Marsya.


“Ha ha ha. Bisa-bisanya kamu aja itu, sih. jadian ama siapa?”


“Ama mbak Kunti. Ha ha ha ha” Marsya tertawa lepas, setelah merasa berhasil meledek Budi.


“Eh, secakep-cakepnya mbak Kunti, masih cakepan kamu, lah. Kurang kerjaan banget, jadian sama dia” kilah Budi.


“Ha ha ha ha ha”


“Bud”


Seseorang memanggil namanya dari arah parkiran. Panggilan itu cukup kencang untuk jarak sedekat itu. sontak Budi bertanya-tanya, siapa yang memanggil, dan ada apa?


“Hai, Sya. Lepas amat, ketawanya? Ada apa?”


“Hai, mbak Farah. Itu, Budi, abis jadian” jawab Marsya.

__ADS_1


“Ha, sama Siapa?”


“Sama mbak Kunti”


“Hmpf. Ha ha ha ha” Farah ikut tertawa, mendengar jawaban Marsya.


Dia teringat cerita Budi kesiangan karena diganggu makluk halus. Dan pak Paul bilang kalau Budi habis dikelonin sama mbak Kunti.


“Seneng, ya. Pagi-pagi ngeledekin orang” komentar Budi.


“Eh, aduh. Tadinya aku pengen ngomel nih, sama Budi. Malah kamu bikin ngakak” sahut Farah. Kata-katanya tertuju kepada Marsya.


“Loh, kenapa, mbak? Mbak farah cemburu, sama mbak Kunti? Adeh, mending ngalah deh, mbak!” sahut Marshya.


“Hmpf. Ha ha ha ha. Bukan” Farah terawa lagi.


“Aku iklas deh. Daripada didatengin mbak kunti” lanjut Farah.


“Ha ha ha ha. Terus, kenapa tadi, mbak?” tanya Marsya.


“Hah, jadi nggak mood ngomel lagi, deh” jawab Farah.


“Alhamdulillah. Beneran harus traktir kamu, Sya”


“Jangan Alhamdulillah dulu! Aku nggak ngomel, bukan berarti masalahnya kelar” sahut Farah.


“Masalah apa, mbak?” tanya Budi. Suasanya berubah menjadi serius.


“Perfoma kita kemarin nggak memuaskan. Ya, masih toleransi, sih. Tapi itu nggak cukup. Harusnya, kamu bisa jaga performa produksi, seperti order pertama kemarin. Makin ke sini kok makin memble. Ada apa, Bud?”


“Emang Stevani nggak laporan sama mbak Farah?” tanya Budi.


“Iya, laporan. Terus? Nggak ada solusi?”


“Emang, memble tiga hari, segitu ngaruhnya, mbak?”


“Bukan masalah tiga harinya, Bud. Itu tiga hari yang sangat menentukan. Aturan kita bisa ngamanin jalur produksi sampe setahun ke depan. Cuman dari satu customer lho, ini. Lah ini, pas mereka lagi kunjungan, pas si Dino cs lagi pada ngopi. Bangs**, bangs**” jawab Farah.


Budi tidak segera menjawab. Sebenarnya, itu bukan sepenuhnya kesalahan dia. Karena dalam tiga hari itu, pak paul minta dia untuk menemaninya bertemu calon pelanggan juga.


Pak paul menyerahkan tanggung jawab pengawalan produksi kepada pak Supri, kepala departemen produksi. Tapi ternyata, tidak seperti yang diharapkan.


Mereka langsung masuk ke dalam kantor, dan berpisah. Aldo terlihat sudah berdiskusi dengan Stevani. Dan Budi, tidak diberikan kesempatan untuk ikut berdiskusi.


Seperti biasa, Aldo cemburu saat Stevani melihat ke arahnya. Jadi Stevani tidak diberikan waktu untuk sekedar menyapa Budi. tapi buat Budi, itu tidak menjadi masalah. Lagipula, sudah ada Adel yang menemaninya.


Target dari marketing masih sangat tinggi. Strategi yang dilakukan Budi, masih tetap dialankan, walau sudah hampir sebulan lamanya. Kalau kebutuhan produksi akan terus tinggi seperti ini, Budi berpikir untuk mengajukan pergeseran karyawan permanen.


Saat meninjau ke area finishing, emosinya sempat tersulut, melihat Dino dan kawan-kawannya sedang duduk santai sambil menikmati kopi. Padahal baru pukul sembilan tiga puluh. Itu juga belum genap.


BRAAAANNGGG


“JAM BERAPA INI, HA?”


Budi berang, dia dorong trolley berisi frame siap di cat, menggunakan telapak kakinya, sekuat tenaga. Alhasil, terdengar suara keras dari aluminium dan stailess yang berjatuhan. Sontak Sapta dan Pujo melompat menghindari Frame yang berjatuhan itu.


“Wooooo, pahlawan kita sudah kembali. Asyik nggak, jalan-jalan sama Paul? Asyik dong, pastinya. Udah, kamu jalan-jalan aja! ngapain di sini?” sambut Dino.


Karyawan lain terkejut, dan melihat ke sumber suara. Suasana menjadi tegang. Mereka sudah bisa menebak, kalau keributan besar akan segera terjadi. Tapi ternyata, Budi malah tersenyum, dan tergelak, mendengar kata-kata Dino.


“Uuh, asyik banget. Tiga hari, nemenin pak Paul, ketemunya klient cewek mulu. Mereka mau beli dari kita, kalo pak Paul mau kasih sesuatu sama mereka. Lu tahu apa yang mereka minta dari pak Paul?”


Dino tidak menjawab. Dia merasa aneh dengan perubahan sikap Budi. Selain waspada, Dino juga menunggu kelanjutan kalimat Budi. Tapi Budi tidak memberikan jawaban secara Verbal. Dia memberikan jawaban dengan menggunakan bahasa isyarat. Jembol, yang dijepit diantara telunjuk dan jari tengah.


“Hmpf. Ha ha ha ha. udah gila ini bocah” komentar Dino. Sapta dan yang lain juga ikut terawa.


“Ya, ya. Gua jadi gila emang. Gua nggak abis pikir juga. Tanya aja si Farah! Dia yang nyariin gigolo. Eh, maunya sama gua. Tiga hari cuy. Sampek lupa sama kalian. Padahal, gua sendirian, masih kurang, bilangnya”


“Ha ha ha ha” mereka tertawa semakin keras.


“Udah, udah, udah. Ketawanya dilanjut entar, ya! sekarang, kerja lagi, gih!” peritah Budi.


“Ha ha ha ha. nyuruh kita, dia”


“Eh, si Supri aja kita bantah. Elu lagi, sok-sokan ngatur” bantah si Dino.


“Ya, mumpung gua lagi seneng, nih. Jadi gua ngasih tahunya, sambil bercanda”


“Emang kalo lu lagi sebel kenapa, ha? mau bikin masalah sama gua?”


“Ya, dari awal kan emang gitu. Udah punya nyali sekarang?”


“Eh, siapa yang takut sama elu, ha?”


“Jangan galak-galak, Din, sama calon kangmas!” tegur si sapta"


“Oh, iya. maaf kangmas, calon adekmu ini lupa” kata dino. Dia menyalami dan mencium tangan Budi. Semua yang melihat merasa janggal.


“Ngak usah kaget, Bud! dia bakal jadi adekmu” seru si sapta.


“Adek dari mana?”

__ADS_1


“Ya dari Putri, lah” jawab Sapta.


Budi terkejut mendengar nama adiknya disebut sapta. Walau dia sudah memprediksi hal ini sejak awal. Dia selalu waspada dengan ancaman-ancaman semacam ini. Karena dia juga pernah memakai cara seperti ini untuk memaksa mereka.


Tapi dari sekian lama, baru kali ini mereka berani memakai cara ini. Artinya, mereka sudah punya keberanian untuk mendekati keluarganya. Tandanya, mereka punya dukungan kekuatan besar di belakang mereka. Budi bertanya-tanya dalam hati, siapa yang memback up mereka?


“Karena kemarin dia telah ngeresmiin hubungan mereka” lanjut Sapta.


“Gimana rasanya, jadian sama Putri, Din?” tanya sapta mengompori.


“Uh, cipokannya, Ta, mantep banget. Bibirnya enak banget diemut” jawab Dino.


“Widiw. Asyik tuh” komentar Sapta.


“Apalagi goyangannya. Emang bener kata orang. Nggak ada yang bisa ngalahin perawan. Uuh banget deh, pokoknya”


“Tapi kamu harus kuat! Kan dia pengen punya anak banyak”


“Iya, pengen punya tiga belas”


“Wah, ngalahin tim sepak bola, dong?”


“Bisa dong. Yang dua cadangan”


“Nama timnya apa?”


“Tim tiga belas. Cieee”


“Ha ha ha ha” mereka tertawa lepas, melihat Budi terdiam.


“Ya udah, ya udah, ya udah. Calon adek ipar, ajak temen-temenmu kerja lagi, ya!” kata Budi.


Seketika tawa mereka terhenti. Mereka merasa janggal dengan sikap Budi. Ternyata Budi tidak marah, apalagi mengamuk. Dia malah tersenyum, seolah cerita mereka itu tidak memberikan efek apa-apa baginya.


“Jangan lupa, kamu harus bisa jadi contoh yang baik! Ajak mereka kerja lagi!” pinta Budi langsung pada Dino.


“Masa calon adik ipar nggak dikasih kelonggaran?” tanya sapta setengah cengengesan.


“Iya, ih” sahut Pujo.


“Putri itu, sukanya sama cowok yang gesit. Gesit di rumah, gesit di tempat kerja” jawab Budi. mereka tidak menjawab.


“Kalo aja aku bukan kakak kandungnya, aku yang dia jadiin pacar. Aku, dari habis subuh, langsung beberes. Dari dapur sampe halaman depan. Bukan dikit-dikit ngopi, dikit-dikit ngopi” lanjut Budi. mereka masih tidak menjawab.


“Jangan sampe Putri tahu, kalo kamu males-malesan kaya gini! Auto diputus”saran Budi.


“Kan, kangmasnya udah tahu?” tanya Erik.


“Jangan sampe ngecewain aku! Kalo aku sampe kecewa, nggak ada yang namanya adek ipar-adek iparan” jawab Budi.


“Udah, lanjutin kerjanya!” lanjut Budi pelan.


“Kalo Dino nggak mau?” tanya Sapta.


“Kan Putri udah ngerasain enaknya digoyang Dino. Pasti ketagihan, tuh. Nggak masalah, dia mau tahu apa enggak, kelakuan dia di sini. Ya nggak?”


“Silakan. Buat aku, yang penting nanti jam tiga, target yang udah dikasih pak Teguh, bisa kalian kelarin” jawab Budi.


“Kalo kita ogah?”


“Nggak papa. Pak Paul udah daftarin zidan buat dapet beasiswa yatim” jawab Budi dengan suara pelan.


“Maksud lo apa?” sapta mencengkeram kerah baju Budi, dan menunjukkan raut muka permusuhan. Tapi Budi tenang saja.


“Salwa, Sofia, Inka, juga udah didaftarin”


“Eh, lo mau ngabisin kita? Berani banget, lo?” Erik terpancing amarahnya.


“Mau coba? Aku udah dapet lisence to kill, nih”


“BANGS**”


Sapta memundurkan tubuhnya. Niatnya mau mengambil ancang-ancang untuk melayangkan pukulan pada Budi. Namun naas, jarak itu malah dimanfaatkan oleh Budi.


DUUK


BRAAAKKK


Hanya dengan satu pukulan, yang bahkan tanpa ancang-ancang, sudah cukup untuk membuat Sapta mental sampai menabrak tembok sekat. Dan dia mendarat di barisan trolley yang berisi potongan hollow siap di las.


Semua terjadi hanya dalam sekejap mata. Membuat Erik dan yang lain, gentar. Sapta sempat berdiri, tapi ambruk lagi. Dirman berlari ke arah Sapta untuk menolongnya. Erik ikut membantu Dirman. Mereka membopong Sapta menuju ruang kesehatan.


Sedangkan Dino, dia hanya berani mengancam dari jarak lima meteran. Tapi tidak berani melakukan konfrontasi langsung. Gentar juga dia, melihat sapta sampai muntah darah begitu. Merasa sudah tidak ada lagi yang akan melawannya, Budi meninggalkan tempat itu. Sembari berharap, kalau sisa tim finishing yang ada, mau melakukan pekerjaan mereka, sampai target terpenuhi.


“Bud” sebuah suara menegurnya.


“Pak paul?”


“Ikut meeting, yuk!” ajak pakPaul.


“Baik” jawab Budi.

__ADS_1


Dia ambil buku catatannya, lalu mengikuti langkah pak Paul menuju ruang meeting. Di dalam ruang meeting itu, ternyata sudah berkumpul para kepala divisi. Mereka merasa janggal melihat Budi ikut serta dalam meeting kali ini.


__ADS_2