
Walaupun jatah menyanyinya sudah selesai, acara hajatan belum selesai. Adel seperti sudah tidak betah berada di tempat hajatan itu. Dia tampak gelisah oleh sesuatu. Tapi dia juga tampak bingung dengan kegelisahannya itu.
“Kamu kenapa sih, Del? Kaya gelisah banget? Udah ada janji, sama mas Budi?” Tati, yang sedari tadi cuek, akhirnya bertanya juga.
“Enggak, kok. Udah video call tadi” jawab Adel.
“Terus, kenapa gelisah gitu?”
“Lupa kasih jatah, sih. Ketakutan tuh, mas Budinya disamber orang lagi. Hi hi hi” sahut Nike.
“Ha ha ha, nyamber aja lu, kaya elpiji” tukas Tati sambil tergelak.
“Masa aku harus laporan sama kamu dulu, Nik?” sahut Adel.
“Ya terus? Bukan cuman Tati yang ngerasa aneh, kita semua ngerasa gitu. Cuman takut aja buat nanya”
“Tahu. Aku juga bingung”
“Lah, amnesia lagi, ini bocah” celetuk Nike.
“Hus! Sembarangan kalo ngomong” sergah Tati.
“Ya abisnya, gelisah sendiri, bingung sendiri. Kaya cowok”
“Emang cowok suka gelisah nggak jelas?” tanya Adel.
“Hooh, anunya. Suka tegang sendiri kalo pagi. Ha ha ha. Padahal matanya juga, baru melek”
“Huuuu! Dasar Nike”
“Porno mulu bawaannya”
“Ya abisnya, satu-satunya hal nggak jelas di dunia ini buat aku, ya anu itu” kata Nike.
“Ha ha ha ha” Adel dan Tati tertawa karena karena kelakar Nike.
“Jangan-jangan, kamu abis dikasih liat ya, sama mas Budi?” tebak Nike.
“Sembarangan” tolak Adel.
“Kalo pengen sih, tinggal dateng ke rumahnya. Susah amat, pake gelisah” sahut Tati.
“Dih, malah ikut-ikutan Nike” tegur Adel. Sambil menepuk paha Tati.
“Aduh. Sakit, Del”
Mereka yang dekat dengan mereka, tertawa melihat tingkah mereka. Kelakar dari sahabat-sahabatnya itu, cukup membantunya meredakan kegelesihan di hatinya. Paling tidak, sampai acara hajatan itu selesai.
Saat perjalanan pulang, rasa gelisah itu juga kembali mendera. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa gerangan yang menyebabkan hatinya gelisah? Tapi tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Terlebih lagi, memang dia sedang sendirian.
Seperti biasa, dia lebih suka mengendarai motornya sendiri, daripada ikut mobil jemputan.
Selintas, dia teringat kalau dia belum sholat ashar. Dia percepat laju motornya, menuju masjid terdekat. Dia berharap, keterlambatan sholatnya inilah yang menjadi penyebab kegelisahan hatinya.
Tapi meskipun sudah menjalankan sholat ashar, bukannya mereda, tapi rasa gelisah itu semakin kuat.
“Apa ada sesuatu ya, di rumah?” gumam Adel.
Dia ambil ponselnya, lalu menelepon ibunya. Rupanya panggilannya tidak terhubung ke ponsel ibunya. Lalu dia berganti menelepon bapaknya. Sama, tidak terhubung juga. Berganti lagi menelepon Madina, juga tidak terhubung. Perasaannya semakin tidak karuan.
Secepat kilat dia menyambar helmnya, lalu kembali melajukan motornya. Bagai orang yang sedang dikejar tukang kredit, Adel memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dia gunakan semua kemampuannya untuk bisa segera sampai di rumah. Langit yang mulai menghitam, juga menjadi pelecut hatinya.
Belum juga sampai rumah, gerimis mulai turun. Bukannya menambah kecepatan, Adel malah melambatkan motornya. Itu dia lakukan, karena dia takut terpeleset, saat jalan sudah sepenuhnya terlapisi oleh air.
Tak berapa lama kemudian, gerimis itu menggila. Berubah menjadi hujan deras. Sebenarnya dia membawa jas hujan. Tapi karena jaraknya sudah dekat dengan rumahnya, dia merasa tanggung. Dia terjang saja hujan itu, tanpa mempedulikan lagi tubuhnya yang basah kuyup.
Beruntunglah, saat hujan deras itu berubah menjadi hujan badai, Adel sudah sampai di rumahnya. Buru-buru dia berlari ke teras rumah. Meninggalkan motornya begitu saja di halaman.
“IBUUU” panggil Adel tanpa salam. Ibunya tergopoh-gopoh berjalan dari arah dapur.
“Ibu. Ibu nggak papa?” tanya Adel, begitu melihat ibunya.
“Loh, yang keujanan kamu, kok malah nanya ibu” komentar ibunya.
Adel memutar-mutar tubuh ibunya. Mecari sesuatu yang tampak tidak biasa. Tapi dia tidak menemukan apa yang dia maksudkan.
“Kamu kenapa sih, nduk?” tanya ibunya, bingung.
“Alhamdulillah, kalo ibu baik-baik aja” kata Adel mengucap syukur.
“Ibu emang nggak kenapa-kenapa. Emangnya ada apa Del?”
“Bapak mana, bu?” tanya Adel, tanpa mempedulikan pertanyaan ibunya.
“Kenapa, duk?” suara pak Fajar menggema dari arah pintu depan. Adel memutar tubuhnya.
“Kayaknya gelisah amat?” lanjut pak Fajar.
“Ya Alloh, pak. Bapak dari mana, kok ujan-ujanan gitu?” tanya Adel, menghambur ke bapaknya.
Dia usap-usap kepala bapaknya, untuk membersihkan sisa air hujan yang menempel di rambut bapaknya.
“Ya markirin motor kamu, lah. Masa motor diparkir di halaman. Udah tahu ujan badai gitu” jawab bapaknya.
“Jadi bapak nggak dari mana-mana? Bapak nggak papa?” tanya Adel lagi.
“Enggak. Dari tadi juga bapak di rumah, sama ibu” jawab pak Fajar.
“Alhamdulillah” kata Adel.
__ADS_1
“Adel kenapa, bu?” tanya pak Fajar kepada istrinya.
“Enggak tahu, pak. Datang-datang manggil ibu kenceng banget. Ibu pikir ada apa”
“Madin kemana, pak?” tanya Adel.
“Ada apa sih, mbak? Tumben kaya orang ditagih tukang panci?” sahut Madina.
“Ibu aja anteng” lanjutnya.
“Ngeledek” sahut ibunya.
Madina berjalan dari arah dapur, sambil membawa nampan berisi empat cangkir teh hangat.
“Alhamdulillah” kata Adel mengucap syukur.
“Syukurlah, kalo kalian baik-baik aja” lanjut Adel.
“Emang kenapa sih, nduk?” tanya pak Fajar.
“Minum dulu, mbak, pak, bu! Biar anget. Biar tenang atinya” potong Madina.
Mereka tersenyum melihat Madina sudah bisa mencuri perhatian mereka. Bu Lusi mengambil cangkir di atas nampan itu, sambil memuji Madina.
Dia bilang kalau Madina sudah dewasa. Sudah bisa membaca suasana hati orang. Merekapun meminum teh hangat buatan Madina, sambil duduk di sofa tamu.
“Nah, sekarang coba kamu cerita, nduk! Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu pulang-pulang ketakutan gitu?” tanya pak Fajar.
Adel menarik nafas sebentar. Dia sedang menata hatinya untuk menjawab pertanyaan yang dia sendiri juga belum mendapat jawabannya.
“Adel juga bingung, pak” jawab Adel.
“Loh?” respon pak Fajar singkat.
“Dari tadi tuh, Adel gelisah terus. Tapi Adel nggak ngerti, Adel gelisah tuh karena apa” lanjut Adel.
“Belum sholat Ashar kali?” sahut Madina.
“Udah. Justru abis sholat ashar, rasa gelisah ini makin nggak karuan” jawab Adel.
“Terus?” tanya bu Lusi.
“Adel langsung telepon ke rumah. Tapi nggak ada yang nyambung. Di luar jangkauan semua”
“Emang dari tadi nggak ada sinyal” sahut Madina.
“Nah, kan? Gimana nggak tambah gelisah, coba? Mana langit gelap. Adel udah takut aja, ada apa-apa di rumah”
“Gusti. Kamu emang anak ibu. Sayang banget sama ibu. Sampe segitu hawatirnya sama ibu” komentar bu Lusi, sambil memeluk Adel. Pak Fajar tersenyum, mendengar jawaban itu.
“Alhamdulillah, nggak ada apa-apa di rumah. Udah, kamu yang tenang. Kamu mandi gih! Udah malem” katra pak Fajar.
“Di kamar mandi bawah aja, mbak! Madin masakin air tuh” saran Madina.
Setelah habis teh hangatnya, Adel pamit untuk naik ke kamarnya. Namun tak lama kemudian, dia turun lagi. Karena memang dia hanya ingin mengambil peralatan mandinya.
Menikmati siraman air hangat di kala hujan badai begini, tak serta-merta menghilangkan kegelisahan yang semenjak tadi ada. Sampai-sampai, setelah mandi itu, bapaknya sempat menegurnya. Karena sikapnya masih sangat jelas terbaca, kalau hatinya masih belum tenang.
Sholat maghrib berjamaah dengan Madina juga, seperti tidak sanggup mengikis rasa itu. bahkan setelah Adel memperpanjang sujud terakhirnya, demi mencurahkan isi hatinya kepada Sang Pencipta.
“Kalo masih gelisah, entar abis isya, embak sholat lagi deh! Semampu embak. Kaya tadi, curhat aja sama Gusti Alloh!”
“Tahu dari mana, embak lagi curhat?”
“Mbak, Madin baca tasbih, udah nyampe dua puluh satu kali. Kalopun Madin pakai itungan tujuh kali, udah tiga kali putaran, mbak” jawab Madin.
“He he. Jeli banget kamu, Dek” komentar Adel.
“Barangkali, embak emang lagi diuji, dengan rasa was-was dan takut” kata Madin.
“Iya. Makasih sarannya, ya”
Madina langsung merapikan mukena dan sajadahnya ke dalam lemari. Lalu dia bersiap untuk belajar. Sedangkan Adel, masih asyik duduk bersandar di ranjang Madina. Dia tampak Asyik memainkan ponselnya. Ada banyak sekali pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya. Baik itu dari aplikasi khusus pesan singkat, maupun media sosial.
Beberapa pesan singkat, memberitahukannya kalau di daerah pengirim pesan itu sedang hujan. Dan pesan itu sudah masuk sejak tadi pagi. Ada satu pesan lagi yang mengatakan hal serupa. Keduanya berasal dari dua daerah hulu yang berbeda.
Adel memang suka bertanya hal-hal lain di luar pekerjaannya sebagai penyanyi. Tentang musim apa, sedang ada kejadian apa, termasuk juga cuaca. Ini dia lakukan, agar dia merasa dekat dengan para penggemarnya.
Satu tanggapan darinya, dari unggahan penggemar yang mengaitkan namanya, sudah cukup untuk membuat pengunggah itu merasa mendapatkan perhatian darinya. Dan setiap pertanyaannya yang mendapatkan jawaban berkualitas, juga membuatnya merasa dianggap saudara.
Tak jarang dia iseng menanyakan nama ketua RT, RW, kades, dari daerah masing-masing penggemarnya. Jadilah, saat dia ada job hajatan di daerah itu, dia sudah seperti orang asli situ. Karena kenal banyak orang dari daerah itu.
Termasuk dua orang yang mengiriminya pesan singkat. Secara berkala, mereka berdua mengirimi foto kondisi terkini. Sambil terus menanyakan, sedang job di mana, dan bagaimana kondisi di tempat hajatan.
Saat Adel menanyakan kabar terkini, kedua penggemarnya itu, mengirimi foto, yang menyatakan kalau kondisi di kedua daerah hulu itu, sedang hujan badai. Sama seperti di tempatnya saat ini.
Mendapat kabar itu, rasa gelisah Adel kembali merajalela. Kehawatiran pertama yang terlintas di angannya, adalah tanah longsor. Karena dia tinggal di pegunungan. Tapi mengingat kalau tanah tempat rumahnya berdiri adalah tanah yang solid, dia merasa, kalau bukan itulah yang menjadikan hatinya gelisah.
Lalu angannya beralih ke pohon tumbang, karena angin ribut. Cukup beralasan, beberapa pohon di sekitar rumahnya, cukup tinggi untuk bisa menimpa atap rumahnya.
“Dek, belajarnya di bawah aja, yuk!” ajak Adel.
“Kenapa, mbak?” tanya Madina.
“Anginnya makin kenceng aja. Embak takut, ada pohon tumbang. Pohon nangka di belakang kan, tinggi banget” jawab Adel.
“Bener juga, sih. Yuk!” komentar Madina.
Merekapun turun. Di bawah, tidak terlihat siapa-siapa. Tapi dari jejaknya, terlihat kalau pak Fajar dan bu Lusi, sudah berada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Di sini, Adel merasa lebih aman. Kalaupun ada pohon tumbang, masih ada lantai beton di atas mereka, yang akan menjadi penahan. Sehingga tidak langsung menimpa mereka. Madina meneruskan belajarnya, sedangkan Adel, kembali memainkan ponselnya.
Banyak sekali kiriman foto dari berbagai daerah di kota ini, setelah Adel mengunggah foto selfienya, berlatar belakang hujan badai di balik kaca. Juga pertanyaan, mengenai keadaan di masing-masing daerah tempat tinggal para penggemarnya.
*Tumben, udah di rumah, nggak ngasih kabar*?
Sebuah pesan dari Budi, sukses membuatnya tersenyum sendiri.
*Maaf, Bram. Tadi itu,Tata lagi panik. Tata gelisah mulu dari tadi siang. Tapi tata nggak ngerti kenapa Tata bisa gelisah begini*.
Walaupun Budi hanya sekedar menyapa, tapi bagi Adel, pertanyaan sederhana itu, harus dijawab dengan detail.
*Terus? Ada apa? serumah sehat semua, kan*?
*Alhamdulillah sehat semua*.
*Udah, jangan mikir yang aneh-aneh. Perbanyak istighfar aja! siapa tahu, itu hanya godaan setan aja*
*Iya, Bram. Makasih, ya*.
*Sama-sama*.
Adel tersenyum sambil menggeliat. Untuk sejenak, dia lupa dengan rasa gelisahnya. Matanya mulai berat. Semakin lama melihat layar ponselnya, yang ada malah kabur, kabur, dan gelap sama sekali.
Dia tertidur di karpet, bersandar sofa ruang keluarga. Madina tersenyum sambil geleng-geleng kepala, melihat kakaknya tertidur. Dia berinisiatif mengambilkan selimut dari kamar tamu. Lalu dia tutupi tubuh kakaknya dengan selimut itu.
Madina melanjutkan kembali belajarnya, meskipun dia tidak lagi bisa berkonsentrasi. Angin di luar rumah, semakin kuat hembusannya. Suaranya membuat bulu kuduknya merinding. Kilat juga semakin sering berkelebat. Bunyi petir juga semakin intens bergemuruh.
Sesekali dia melihat ada butiran-butiran lembut air, masuk melalui ventilasi yang ada di sebelahnya. Seperti air yang keluar dari semprotan burung. Tak kurang dari sepuluh menit lamanya, Madina hanya termenung, memandangi hujan yang membuat jarak pandangnya nyaris nol.
Dia hampir tidak bisa melihat apapun di luar kaca jendela samping. Tertutup oleh rapatnya butiran air yang yang turun bersama badai. Padahal ada lampu dua puluh watt di depan jendela itu.
*DUUAAAAARRR*
“HUAAAA”
Suara keras menggelegar itu, tak pelak membuat Adel terbangun. Dia sangat terkejut, karena merasa suara itu seolah ada di samping telinganya.
Jangankan Adel yang tertidur, Madina saja sampai melompat ke belakang, saking kagetnya. Petir yang beru saja menggelegar itu, seolah-olah menyambar tanah, tepat di depan jendela itu.
Pak Fajar dan bu Lusi keluar dari kamarnya, mendengar teriakan keras dari putri bungsu mereka. Saat mereka menoleh ke arah suara, tampak Madina sedang dipeluk oleh Adel. Madina tampak ketakutan. Saat ditanya, Madina mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Hanya terkejut dan takut, saat melihat petir tadi menyambar seperti tepat di depannya.
“Udah, bapak sama ibu, ke kamar lagi aja, istirahat! Biar Madin, Adel yang temenin” saran Adel kepada kedua orang tuanya.
Itu dia lakukan, saat menyadari pakaian yang ibunya kenakan, bukan pakaian yang yang boleh dilihat sembarang orang. Bapaknya juga, hanya memakai sarung saja. Adel menduga, sebelumnya, mereka sedang melakukan sesuatu.
Awalnya, ibunya tidak paham dengan apa yang dia maksudkan. Dan malah mengomel. Adel tergelak, karena merasa ibunya seolah menganggap dirinya tidak tahu dengan apa yang dia perbuat semenjak tadi. Pak Fajar menepuk jidatnya, karena malu, kegiatannya dengan istrinya, terbaca oleh putri sulungnya.
“Udah, bu. kita balik kek kamar aja. Toh ibu nggak ngerti pelajaran kimia kan?” ajak pak Fajar.
“Dih, bapak kok malah gitu? Anaknya lagi ketakutan, juga” tolak bu Lusi.
“Madin nggak papa, kok” sahut Madina. Dia tersenyum setengah tergelak.
“Udah apa belum, belajarnya? Kalo udah, buruan balik ke kamar!” tanya bu Lusi.
“Kita ke bawah itu, justru karena kita takut di atas” sahut Adel.
“Iya, bu. Takut ada pohon rubuh”
“Ya ampun. Udah berapa lama, kalian di sini?” tanya bu Lusi lagi.
“Emang kenapa, bu?” sahut Adel.
“Enggak. Nggak papa” jawab bu Lusi pendek.
Pak Fajar tertawa tanpa suara di belakang bu Lusi. Saat bu Lusi menyadari suaminya menertawakannya, dia langsung mencubit perut suaminya.
“Ya udah, sekarang kalian ke kamar tamu aja! Jangan deket-deket jendela! Entar ada petir lagi, teriak lagi” pinta bu Lusi, menutupi malunya.
“Iya, deh” jawab Adel sambil tergelak.
“Ayo dek!” ajaknya pada Madina.
“Ayo” jawab Madina. Dia juga tergelak, saat membereskan bukunya.
“Kok kalian ketawa gitu?” tanya bu Lusi, saat mereka sudah berjalan menuju kamar tamu.
“Ha ha ha ha” mereka malah tertawa lagi.
Tidak ada jawaban dari pertanyaan itu. Membuat bu Lusi hanya geleng-geleng kepala, menahan rasa ingin tahunya yang tidak tersalurkan. Dia menatap wajah suaminya dengan tatapan bertanya.
“Ibu nggak nyadar apa, pake baju apa?” tanya pak Fajar. Sontak bu Lusi melihat kebawah.
“Astaga” serunya.
Dia terkejut bukan main, saat menyadari apa yang sedang dia kenakan. Semenjak menikah, sampai punya anak dua, dan bahkan sampai keduanya beranjak dewasa, dia belum pernah memperlihatkan pakaian itu di hadapan siapapun, kecuali suaminya. Urusan mencuci dan menjemur pakaian itu, selalu dia lakukan dengan sembunyi-sembunyi.
Walau bagaimanapun, dia merasa malu kalau harus memakai pakaian itu dihadapan orang selain suaminya. Bahkan dihadapan anak-anaknya sendiri sekalipun.
“Bapak kok nggak bilang sih?” tanya bu Lusi gemas namun suaranya dia pelankan.
__ADS_1
“Aduh aduh, sakit, bu” keluh pak Fajar, merasakan cubitan istrinya di perutnya.
“Ih, bapak. Apa kata Adel entar? Aduh. Malu ibu, pak” kata bu Lusi sambil berlalu, masuk lagi ke dalam kamarnya.