Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kamuflase korek api


__ADS_3

Dino kembali berhadapan dengan para penyidik untuk ke sekian kalinya. Wajahnya sudah menunjukkan kepasrahan. Karena dia sudah bisa menebak apa yang akan dia terima. Terlepas apakah jawabannya bohong atau jujur sekalipun. Seorang penyidik laki-laki berbadan tinggi besar seperti seorang pegulat, mendekatinya. Tatapannya tajam mengintimidasi. Dia duduk di seberang meja, berhadapan tak lebih dari satu meter dari Dino.


*Klotek klotek klotek*


Sebuah korek gas dia lemparkan ke atas meja. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Penyidik itu hanya memainkan matanya. Tentu saja Dino bingung dengan maksud lirikan mata penyidik itu. Dino juga tidak bernai menyentuh korek itu. Takut kalau korek itu adalah jebakan dari penyidik itu.


“Kamu kenal korek macam itu?” tanya penyidik itu.


Dino tidak segera menjawab. Dia masih menganalisa, kemana arah pertanyaan penyidik itu. Di dalam hati dia mengakui kalau korek semacam itu dia memang kenal.


“Pastinya kamu kenal sama barang ini” komentar penyidik itu.


*Crek crek ceesss*


Penyidik bertubuh gempal itu menyalakan korek itu. sekilas mata tidak ada yang aneh dengan korek gas itu. Sama seperti korek gas lain pada umumnya. Bentuknya juga standar, bukan model costuman.


“Ya. saya pernah punya korek semacam itu” jawab Dino.


“Sama persis?”


“Ya. Ykiran begitu, sebelah bening, sebelah butek, nggak kelihatan isinya”


“Yakin? Lihat dulu, nih!”


Dino menangkap korek gas yang dilemparkan penyidik itu. Dia mengamati dengan seksama. Dan dari semua bagian di korek itu, sama persis dengan yang pernah dia punya.


“Sama, pak” jawab Dino kemudian.


“Dapet dari mana?” tanya penyidik itu.


Dino diam tak langsung menjawab. Dia mengingat-ingat dulu, bagaimana persisnya dia mendapatkan korek itu.


“Kalo saya sendiri, dapet dari lobi, pak”


“Lobi?”


“Ya. Waktu itu saya dari kantin masuk lewat lobi, karena mau nemuin HRD. Saya sempat godain Marsya, resepsionis kantor. Pas lagi ngobrol, saya ngeliat ada korek di keranjang mini tempat pulpen dia. Karena saya lagi nggak bawa korek, ya saya minta aja. Toh Marsya nggak ngerokok, nggak butuh korek”


“Dan dikasih gitu aja?”


“Iya” jawab Dino.


“Kan hanya korek. Apanya yang istimewa?” tanya Dino.


“Kamu nggak tahu apa pura-pura nggak tahu?” tanya penyidik itu sambil tersenyum meremehkan.


“Ya nggak tahu, pak. Kalo cuman korek sih, tiap hari juga saya pegang. Cuman hari itu saya lupa bawa. Kebetulan ada korek nganggur, ya saya ambil”


“Udah biasa ngambil hak orang, ya?” sindir penyidik itu.


“Cuman korek ini, pak. Nggak ada yang ngerasa kehilangan”


“Oke. Kamu tadi nyebut nama Marsya, si resepsionis” kata penyidik itu sambil menuliskan catatan.


“Dan tadi kamu bilang, kalo saya sendiri. Emang ada yang lain?” tanya penyidik itu.


“Temen-temen segeng saya juga punya, pak. Cuman bilangnya dikasih sama Isma” jawab Dino.


“Isma?”

__ADS_1


“Ya. kepala divisi finance dan purchasing”


“Dia punya korek banyakan gitu, buat apa? Sengaja ngasih, apa ada event?”


“Yang saya denger sih, itu bonus dari dia belanja online”


“Belanja apa?”


“Saya nggak tahu, pak. Yang terpenting buat saya sih, uang rokoknya. Perkara dia belanja apa, saya nggak tertarik buat tahu”


“Oke. Kamu nggak asal sebut nama, kan?”


“Demi apapun, enggak pak” jawab Dino penuh penekanan.


“Oke. Semoga kamu bener. Kalo sampe salah, yang nuntut kamu bakal tambah banyak”


“Siap” jawab Dino penuh keyakinan.


Sampai di situ saja interogasi kali ini. Daripada bersyukur, Dino malah merasa bingung. Baru kali ini dia tidak dipukuli. Tapi dia juga senang, karena bisa kembali tanpa ada lebam di wajahnya.


Saat dikawal kembali ke selnya, Dino berpapasan dengan Stevani. Dia bisa menebak, dengan petugas yang mengawalnya, Stevani pasti akan diinterogasi.


Di sisi lain, Stevani merasa aneh. Baru kali dia melihat Dino cengengesan setelah menjalani interogasi. Sebuah tanda tanya besar muncul di benaknya.


“Kamu tahu ini apa?”


Seorang penyidik wanita menyorongkan benda yang sama dengan yang diperlihatkan kepada Dino, tadi. Stevani mengernyitkan keningnya. Bingung dengan maksud pertanyaan itu.


“Korek api” jawab Stevani apa adanya.


“korek api?” tanya penyidik itu, seolah meragukan jawaban Stevani. Membuat Stevani semakin bingung. Dia berpikir beberapa saat.


“Maaf. Kalau yang ibu maksudkan adalah benda lain, saya belum punya gambaran. Saya belum pernah melihat korek api berubah menjadi benda lain. Kalau yang sekilas terlihat seperti pistol ternyata itu korek api, saya sudah pernah lihat” jawab Stevani.


“Oke” komentar penyidik itu sambil tergelak.


Stevani tampak merenung. Dia mencoba mengingat-ingat lagi, apakah dia pernah melihat korek seperti itu atau tidak.


“Kalo yang mirip banget sama ini, rasanya saya pernah liat, bu” jawab Stevani.


“Dimana?”


“Di kantor” jawab Stevani.


“Kalo nggak salah, Erik yang ngasih liat”


“Erik?” potong penyidik itu.


“Ya. itu, temen segengnya Dino”


“Kamu deket sama mereka semua?”


“Sebenernya saya benci sama mereka, bu. Benalu yang bisanya nyusahin orang aja”


“Oke” komentar penyidik itu sambil tergelak.


“Kalo bukan karena saya cemburu sama Adel, saya nggak sudi deket-deket sama Dino dan gengnya itu” kata Adel menanggapi tertawaan dari penyidik itu.


“Oke. lalu gimana soal Erik?” tanya penyidik itu mengembalikan topik pembicaraan.

__ADS_1


“Erik? Erik yang ngasil liat saya korek itu. Dia mau ngasih korek itu ke saya, waktu itu. cuman kan saya nggak ngerokok. Ya saya tolak, bu. Buat apa?”


“Erik dapet dari mana?”


“Eem” stevani berpikir sejenak. Mengingat-ingat kejadian waktu itu.


“Erik nggak bilang sih. Tapi Pujo sempet ngomong sama saya, eh Van mau korek ukir nggak? Minta noh, ke Isma! Punya banyak dia, gitu”


“Koreknya sama?”


“Ukiran kaya gitu. Beda warna saja, bagian beningnya. Bagian buteknya sih, sama-sama putih” jawab Stevani. Penyidik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Darimana Isma dapet korek itu? dan buat apa? Ada event, atau memang souvenir buat customer, atau apa?”


“Kalau untuk itu, saya tidak tahu”


“Tidak tahu?”


“Ya. Tidak tahu”


“Tidak ada untungnya juga saya tahu. Yang ada malah rugi”


“Kok bisa?”


“Kalau dia merasa ada yang tidak beres sama laporan saya, dia pasti nyecar saya. Sekalipun laporan saya sudah bener, tetep saja dicari-cari kesalahannya. Dan suka nggak inget waktu, nggak inget tempat. Cuman saya sapa pas mau pulang saja, nyahutnya tentang kerjaan lagi. Dan seringnya berubah jadi meeting dadakan. Makanya saya males ngobrol sama dia, bu. Dia mau punya apa juga, saya milih cuek” jawab Stevani panjang-lebar.


“Jadi kamu sama sekali nggak tahu, dari mana Isma dapet korek itu?” tanya penyidik itu.


“Kalo secara resminya, saya tidak tahu, bu. Hanya saja, kata resepsionis kantor, korek-korek itu adalah bonus dari belanja online”


“Resepsionis? Kamu nanya sama dia?”


“Tidak. Saya hanya mengomentari korek yang serupa yang dia pegang. Kata saya, dapet juga lu?” jawab Stevani.


“Terus, sama resepsionis itu diapain?”


“Digeletakin gitu aja, di tempat bolpen”


“Terus?”


“Ya saya tidak merhatiin. Waktu itu saya disapa dan diajak ngobrol sama mbak Farah, atasan saya”


“Ngobrolin apa?”


“Ekspansi ke makassar”


“Bisa dijelasin?”


“Ya. Mbak Farah bilang rencana ekspansi ke makassar akan segera dijalankan. Nah saya nanya, masih dengan skenario awal? Mbak Farah bilang mau pakai skenario ke dua”


“Skenario awal?” tanya penyidik itu penasaran. Dia seperti menemukan sebuah keterkaitan.


“Ya. Skenario awalnya kan perusahaan mau joint Venture dengan salah satu perusahaan di makassar. Tapi karena owner perusahaan itu kayaknya tidak begitu berminat, mbak Farah mengajukan skenario ke dua, buka agen penjualan saja” jawab Stevani.


Dari situ interogasi masih terus berlanjut, dan semakin mengerucut pada isi percakapan yang ada pada rekaman. Dengan senang hati Stevani menjelaskan satu persatu potongan-potongan kalimat berdasarkan kejadian aslinya.


Banyak yang dia ceritakan seputar suasana ketika kalimat itu keluar dari mulutnya. Tapi ketika ditanya ada siapa saja di sekitarnya saat mengatakan kalimat-kalimat itu, ada sebagian kalimat yang dia tidak bisa menyebutkan siapa-siapa yang ada di sekitarnya. Karena waktu itu ada banyak orang.


Penyidik itu menerima dengan baik semua pernyataan Stevani. Meski begitu, penyidik itu tidak mau mengatakan hubungan korek api itu dengan rekaman yang baru saja mereka bahas.

__ADS_1


Kalau menuruti dugaan, Stevani sebenarnya sudah punya tebakan, kalau korek api itu aslinya hanyalah kamuflase dari sebuah alat perekam. Tapi mengingat dugaan tanpa bukti adalah sebuah kesalahan, Stevani tidak berani menduga-duga.


***


__ADS_2