Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
Cobra, Apache, Hind, Alligator


__ADS_3

Sehabis subuh, Budi duduk di halaman belakang bengkelnya. Dia lesehan, memperhatikan hutan kecil tempat kang Sukron mengintai tadi malam.


Secangkir kopi menemaninya pagi ini. Erika, yang ikut duduk setelah menyuguhkan kopi, belum berani menegurnya.


Tiba-tiba terdengar suara beberapa motor memasuki halaman depan galeri. Sempat dia bersiaga, namun rupanya yang datang adalah kang Sukron. Bersamanya ada Fitri, dan empat orang lainnya. Budi tersenyum.


Ternyata yang dibawa kang Sukron adalah anggota lamanya, serigala malam. Anggota khusus yang dibentuknya, tanpa sepengetahuan Sandi. Dan empat orang ini, adalah yang paling spesial.


“Cobra, Apache, Hind, Alligator” sapa Budi.


“Whats up boss?”


Si cobra menyahut sambil menyalami Budi.


“You will not be called for good news, cobra” jawab Budi.


Satu per satu mereka menyalami Budi. Senyum dan penampilan mereka tak ada bedanya dengan kang Sukron maupun dengan Aldo. Tapi di saat berdiri bersaf menghadap Budi, barulah terlihat perbedaannya.


“Put. Mereka siapa?”


Erika tak bisa menahan lagi rasa penasarannya. Dia bertanya kepada Putri.


“Harusnya mbak Rika lebih tahu daripada Putri”


Jawaban sekaligus sindiran buat Erika. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kagum pada Budi.


Saat dia merasa sudah mengenal Budi luar dalam, ternyata masih ada yang terlewat dari perhatiannya.


Tak tanggung-tanggung, keempat-empatnya langsung ditugaskan bersamaan. Kata Budi, minimal sekali ada dua orang yang berjaga di bengkel kayu ini. Dan dau orang lagi, akan menempel pada keluarganya maupun keluarga Adel yang sedang bepergian.


Tour singkatpun mereka lakukan untuk memberitahukan area mana saja yang harus dijaga, dan potensi-potensi ancamannya dari arah mana saja. Keempatnya mengerti. Budi mengajak keempatnya untuk perkenalan pada semua orang.


“Mereka ini yang akan mengamankan bengkel kayu kita. Dan yang akan menempel pada ibu, maupun bu Lusi sekeluarga, jika ada keperluan keluar bengkel. Sebut callsign saja! Cobra, apache, Hind, dan Alligator” kata Budi memperkenalkan timnya.


“Mereka siapa, ngger?” tanya bu Ratih.


“Siap. Saya SANDHA, putra dari Bobby Sukarno” kata si Cobra memperkenalkan dirinya.


“Saya SANDHA, putra Lilik Sutejo” kata Apache.


“Saya SANDHA, putra Sutopo aji” kata Hind.


“Saya SANDHA, putra Suharmoko” kata Alligator.


Semua orang bingung, mendengar nama SANDHA disebut keempatnya. Tapi tidak dengan bu Ratih. Dia malah tampak terkejut dan matanya berkaca-kaca.


“Bobby? Lilik? Topo? Harmoko?” gumam bu Ratih lirih. Tampak dia mengenali nama-nama itu.


“Ibu kenal?” tanya Putri.


Tapi bu Ratih tidak segera menjawab. Dia malah lekat memandangi keempatnya.


“Pantas. Wajah kalian seperti tidak asing buat ibu” kata bu Ratih. Keempatnya tersenyum.


“Mereka bu, yang banyak mempengaruhi pemikiran Budi. Hingga Budi sampai pada kebulatan tekad, buat hengkang dari tarantula” kata Budi.


Bu Ratih tidak menyahut. Hanya air matanya yang meluncur membasahi pipinya.


“Nah tapi, kalo ibu sampe nangis gini, Budi jadi bingung deh, bu” komentar Budi.


“Jangan-jangan bapak kalian pernah macarin ibu gua, ya? Mantan pertama, mantan kedua, mantan ketiga, mantan ke empat” lanjut Budi. Sontak semuanya tergelak mendengar kelakar Budi.


“Makan dulu, ngger! Kita sarapan bareng, yuk!” ajak bu Ratih.


“Terimakasih, bu Rouf. Kami ke sini untuk menjaga keamanan ibu sekeluarga” tolak si Cobra.


“Jangan ditolak, ngger! Ibu cuman punya makanan. Bapaknya Budi sering kepayahan momong dua anak, sampai nggak pernah nengok kalian. Jangan ditolak ya, ngger!” pinta bu Ratih lagi. mereka berempat menatap Budi.


“Sabdo pandhito ratu, ojo dipawali! Bisa jadi jambu mete” kata Budi menjawab tatapan mata mereka.


“Yuk!”


Walau dia sendiri masih bertanya-tanya, tentang hubungan ibunya dengan bapak-bapak mereka, tapi Budi tidak mau membuat ibunya sedih. Dia ajak semuanya untuk sarapan.


“Mas” panggil Putri.


“Kenapa, Put?” sahut Budi.


“Kenapa mas Zul nggak dikasih tahu? Apa mas Budi curiga sama mas Zul?” tanya Putri.


Budi tidak segera menjawab. Dia bingung, bagaimana menjelaskan kepada Putri tentang kecurigaannya pada semua orang di kepolisian.

__ADS_1


“Nggak tahulah, Put. Bingung, aku” jawab Budi kemudian.


“Mas. Mas Zul itu putranya pak Daud. Kalo dia jahat, bapaknya pasti tahu” protes Putri lirih.


“Ya. Luki juga putranya bu Susan. Nyatanya bu Susan sendiri nggak sadar, berada dalam lingkungan mafia narkoba. Dan dia nggak tahu, kalo anaknya adalah bandar besar” sahut Budi.


Putri mengernyitkan keningnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut kakaknya.


“Terus, gimana sama mbak Rika?” tanya Putri.


Budi tak segera menjawab. Dia jongkok menyejajari Putri.


“Put your eyes on her! Tell me if you found some thing fishy!” jawab Budi kemudian.


Putri terkesiap mendengar jawaban Budi. Tadinya dia ingin merajuk, jika Budi membela Erika. Tapi yang terjadi, justru Budi memintanya mengawasi Erika. Itu artinya, Budi tidak hanya mencurigai Zulfikar, tapi juga mengawasi kekasihnya sendiri.


“Oke” Kata Putri mengalah.


Merekapun beranjak mengikuti ibunya menuju teras kamarnya Stevani. Di situlah mereka semua disuguhi sarapan yang dimasak bu Ratih dibantu Adel dan Madina.


“Bud” panggil pak Paul.


“Ya pak?” sahut Budi.


“Aku minta maaf, ya? Aku bener-bener nggak nyangka kalo ternyata dia malah terlibat” kata pak Paul, merujuk pada si Brandon.


“Iya, pak. Nggak ada yang nyalahin bapak, kok” jawab Budi.


“Terus, apa yang bisa aku bantu, Bud?”


Budi tersenyum mendengar pertanyaan itu. Terasa sekali di hatinya, kalau pak Paul tidak ingin mengecewakannya.


“Tetap siaga dulu saja, pak! Tetap pastikan PRAM beroperasi tanpa gangguan!”


Jawaban Budi terasa lain di telinga pak Paul. Baginya, perusahaannya itu memang masih berjalan tanpa gangguan. Tapi jawaban Budi itu seperti mengisyaratkan kalau ada yang tidak semestinya yang sedang terjadi di perusahaannya.


“Oke, Bud. Kalo emang ada yang kamu butuhin, nggak usah sungkan-sungkan buat bilang!”


“Siap pak” jawab Budi.


Merekapun sarapan tanpa banyak bicara. Selepas sarapan, Budi kembali membicarakan strategi dengan kang Sukron dan keempat rekanya.


Pembagian ring dan juga strategi patroli. Erika masih belum diikutsertakan. Dia hanya bisa manyun, terlebih saat digoda Stevani. Tiba-tiba pak Paul mendapat telepon. Dan dari gesturnya tampak pak Paul seperti mendapat masalah.


“Ada apa, pak? Bisa Budi bantu, pak?” sahut Budi.


“Ada komplain dari Berlin. Rotan kita yang baru itu, jebol. Yang pernah kamu tanyain itu”


“Oh. Terus, bagaimana, pak?”


“Aku mau bahas ini sama Farah di kantor. Tapi kamu di sini aja dulu! Kelarin dulu atur strateginya! Kalo emang harus sampe siang, lanjut aja!”


“Ada yang cemburu nanti, pak” goda Budi. Pak Paul tersenyum.


“Kalo memang ada yang bisa aku lakuin selain ngasih kamu cuti, aku pasti akan lakuin, Bud” jawab pak Paul.


Budi tersenyum lebih lebar. Dia menoleh ke arah ibunya sambil nyengir menggoda.


“Baik, pak. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga yang diatas merestui” kata Budi lirih.


“Ya sudah. Aku pamit sama yang lain dulu, ya?”


Budi mengangguk mengiyakan. Pak Paul pamit sama yang lain, lalu pergi menuju kantor. Budi langsung menatap Erika. Dia tidak menyangka, kalau Erika sudah bergerak tanpa pemberitahuan.


“Good move baby”


Semua orang bingung, mendengar komentar Budi. Adel memandang senyum Erika dengan tatapan cemburu.


“What next?” tanya Budi. Erika tersenyum lebih lebar.


“Your call comander” jawab Erika.


“Strenghten the gate!”


“Eeemm. May i ask something to you sir, privately?” tanya Erika.


“Follow me!” jawab Budi.


Budi melangkah pergi, dan Erika beranjak mengikuti. Budi berjalan ke arah parkiran depan galeri.


“Ada apa, Ka? Jangan ngomongin soal cemburu dulu, ya!” goda Budi.

__ADS_1


“Enggak kok, mas. Aku mau nanyain kelanjutan rencana kita. Pasti akan ada yang bereaksi, kalo sampe pak Paul nyetop pembelian rotan itu” sahut Erika.


“Apa pendapatmu?” tanya Budi.


“Apa perlu kita ke KUA dulu?” lanjut Budi.


“KUA? Kok ke KUA?” Erika balik bertanya.


“Ya kita nikah dulu. Biar sah, tidur satu kamar. Penasaran aku, sama yang ngintip-ngintip” jawab Budi.


Dia menonjolkan pipi kirinya menggunakan lidah, menunjuk ke arah Erika. merasa tersindir, Erikapun memeriksa tubuhnya.


“Astaga” seru Erika lirih.


“Udah dari tadi mas, aku begini?” tanya Erika.


Dia terkejut, menyadari kancing baju tidurnya tidak terpasang dua biji. Sehingga menyuguhkan pemandangan indah, bagi mata yang kebetulan pas, sudut pandangnya.


“Ha ha ha. Gimana, sih? Hayo, abis ngapain tuh, semalem? Hi hi hi”


“Astaga. Pantes ibu ngeliatin mulu. Kok nggak bilang dari tadi sih, mas” seru Erika sambil menutupi wajahnya.


“Ha ha ha ha”


Budi tertawa lagi, mendengar keluhan Erika. kontan saja, Erika menaboki punggung Budi, sebagai ekspresi gemas.


“Jadi pengen khilaf lagi, kaya dulu” goda Budi.


“Nyindir” sahut Erika.


“Aku nanya beneran, mas. Selanjutnya kita mesti gimana? Ada dua orang nih mas, yang berpotensi jadi sasaran. Ada Farah, dan pastinya, Resti” lanjut Erika lirih.


“Are you ready to fight?” sahut Budi.


“Excuse me?”


“Kalo pagi ini pak Paul langsung nyetop pemakaian rotan itu untuk pesanan mr. Issac, dan langsung nyetop pembelian rotan selanjutnya, kemungkinan agak siangan akan ada yang protes. Kalo Farah sama Resti nggak bisa ngatasin, aku yang maju”


“Kan pak Paul ada, mas?”


“Jangan!”


“Ciee, lampu ijo nih”


“Bukan masalah itu, sayang” seru Budi, membuat Erika tertawa.


“Aku pengen mancing mereka buat nandain aku, dan ngejar aku sewaktu aku keluar pabrik” lanjut Budi lirih. Erika terkejut mendengar ide itu.


“Terus?” tanya Erika penasaran.


“Mas mau duel lawan mereka, terus nyandera mereka buat ngorek keterangan dari mereka, gitu?” lanjut Erika.


“Perferct” jawab Budi.


“Mas yakin, mereka yang ngejar, bukan sekelas Brandon?” tanya Erika khawatir.


“Sekelas Brandon juga nggak papa” jawab Budi enteng. Erika mengernyitkan keningnya.


“Aku, dan semua yang ada di sekelilingku, tampaknya masih cukup berharga buat mereka” lanjut Budi.


Erika malah semakin tidak mengerti. Namun dia masih menunggu penjelasan lebih rinci dari Budi.


“Apalah artinya kang Sukron, serigala malam, sama siapa tuh yang ngebacok si penyusup. Jalamangkara itu satu berbanding seratus dua puluh. Apa susahnya ngabisin kang Sukron sama serigala malam. Apa susahnya ngabisin aku? Tapi dia lebih milih diem. Ada apa?” lanjut Budi lagi.


“Iya juga, sih” komentar Erika.


“Terus, mau dipancing kemana, eksekusinya dimana?” tanya Erika.


“Sido dadi” jawab Budi singkat. Erika terkejut mendengar nama desa itu disebut Budi.


“Angker, mas”


“Kata siapa?”


“Aku pernah diajakin Sandi mas, ke sana. Nyamperin si Hasan, waktu masih megang sayap timur. Muter-muter mas, nggak nyampe-nyampe” jawab Erika.


“Justru itu. Kita manfaatin keangkeran hutan itu, buat bikin mereka ngaku” sahut Budi.


“Mas Budi ih, ada-ada aja. Nggak ada tempat lain, apa?” protes Erika.


“Are you in, are you out?” Budi bertanya tanpa mempedulikan protes Erika.

__ADS_1


“NGGER!”


__ADS_2