Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
stevani bebas


__ADS_3

Menjelang pintu dikunci, bu Lusi kembali meminta Adel untuk bertukar tempat. Dan kali ini barulah Adel mau. Dia tidak sampai hati melihat ibunya memohon-mohon begitu.


Adel meminta maaf pada ibunya. Dia bilang, tidak bermaksud menjauhkan bapaknya dari ibunya. Dia hanya merasa bersalah, dan ingin menebus kesalahan itu.


Bu Lusi mengerti dan mengatakan, tidak ada yang perlu dimaafkan. Karena Adel memang tidak salah.


Di ruang tunggu, Adel sama sekali tidak merebahkan tubuhnya barang sedetik. Dia terus berjaga, duduk di sebuah kursi, menghadap kaca yang menjadi pembatas ruang tunggu dengan ruang rawat bapaknya. Matanya terus menatap dinding kaca itu. Dia tidak mempedulikan sekitarnya.


Tidak dipedulikan sahabat-sahabatnya, adiknya, bahkan calon mertuanya juga tidak dia hiraukan. Terlebih Luki. Dia sama sekali tidak menyapanya. Padahal Luki akan memberikan kabar yang sangat penting.


Tapi yang namanya badan, diakui atau tidak, tetap mempunyai titik nadir. Dalam duduknya yang nyaris tidak berubah selama beberapa jam, mata Adel kini terpejam. Dia tertidur dalam duduknya. Bu Susan yang baru datang, setelah dari kemarin pulang mengurus usahanya, kaget mendengar kabar terkini mengenai bapaknya Adel.


Dia juga merasa prihatin, melihat Adel sampai harus tertidur dalam posisi duduk begitu. Dia menyarankan anaknya untuk memakaikan selimut pada tubuh Adel. Karena suhu akan menurun seiring larutnya malam.


Adel baru terjaga disaat adzan subuh berkumandang. Dia tergagap dan kebingungan mendengar adzan itu. Dia belum sadar sudah berapa lama waktu yang dia habiskan untuk beristirahat. Saat dia menyadari kalau itu adalah kumandang adzan subuh, Adel seperti orang panik.


Dia mendekati dinding kaca itu untuk melihat ke dalam ruang rawat. Dia bahkan mengintip melalui celah bawahnya. Tapi tetap saja tidak terlihat.


“Mbak Adel, mbak Adel. bapak nggak papa, mbak. Ibu masih di sana” tegur Madina.


Adel menoleh ke arah adiknya itu. Ada raut khawatir di wajah cantik Madina.


“Kita sholat subuh yuk! Kita doakan, supaya Gusti Alloh cepet ngangkat penyakit yang diderita bapak” ajak Madina.


“Huuuffft”


Adel menghela nafas berat. Di dalam hati dia merutuki dirinya sendiri, yang malah ketiduran disaat seharusnya dia berjaga.


“Udah, mbak. Jangan nyalahin diri sendiri!” kata Madina. Adel menoleh.


“Kita semua ini cuman wayang, Gusti Alloh yang gerakin. Sekeras apapun mbak Adel berusaha untuk terjaga, tapi kalo Gusti Alloh memaksa tubuh mbak Adel buat beristirahat, siapa yang bisa ngalangin?” lanjut Madina. Adel belum berkomentar. Dia masih menatap lekat wajah adiknya.


“Mbak Adel udah ngelakuin tugas mbak Adel. jauh lebih baik dari Madin, bahkan ibu. Jadi Madin minta, stop nyalahin diri sendiri ya, mbak!” lanjut Madina lagi. Adel tersenyum mendengar penuturan adiknya.


“Iya” jawabnya. Diapun bersiap untuk beranjak dari duduknya.


Hek, krooookkhh


Terdengar suara asing dari dalam ruang rawat. Cukup kencang suara itu, sampai terdengar oleh Adel. Adel yang baru saja hendak melangkah, jadi terhenti dan kembali duduk.


Dia mengintip ke dalam ruang rawat. Terlihat olehnya beberapa pasang kaki berjalan cepat mendekati ranjang bapaknya. Dan mereka berhenti di pinggir ranjang. Tapi Adel tidak bsa melihat, sedang apa mereka.


Tok tok tok


“Mbak?” tegur Madina.


Dia menarik tangan Adel yang ingin mengetuk kaca itu lagi. Dalam posisi mengintip itu, Adel melihat sepasang kaki berjalan menjauh. Dia kenal kaki siapa itu. Langkahnya itu, dia hafal sekali. Adel langsung berdiri dan berjalan menuju pintu depan ruang rawat.


“Bu. Bapak kenapa, bu?” tanya Adel, begitu melihat ibunya keluar dari ruang rawat.


Bu Lusi tidak segera menjawab. Tampak dia sedang mempersiapkan diri. Mengatur nafasnya sambil tersenyum.


“Bapak nggak papa kok, nduk” jawab bu Lusi.


“Nggak papa gimana? Suara tadi suara apa, bu?”


“Itu suara lendir tenggorokannya bapak. Ternyata sudah ngumpul dan perlu di suction” jawab bu Lusi kalem.

__ADS_1


“Tapi kok sampe banyak orang yang nanganin, bu?”


“Ya. Suction itu sebenernya bisa dilakuin sama satu orang. Tapi karena ibu panik, nggak tahu harus nyebut apa yang ibu lihat, jadi mereka juga waspada. Standar kedaruratan kan memang harus dua sampai tiga perawat sekaligus” ajwab bu Lusi.


“Adel pengen liat bapak, bu” pinta Adel.


“Mending Adel sholat dulu gih! Bapak masih ditangani sama perawat” tolak bu Lusi, halus.


Adel tidak membantah lagi. Terlebih disaat dia merasakan usapan tangan Madina di pundaknya. Dia mengangguk, dia pamit ke ibunya untuk sholat subuh terlebih dahulu. Bu Lusi mempersilakan.


Di kamarnya, Budi sedang menikmati sholat malamnya. Ada dua agenda penting yang ingin dia mintakan ke hadirat tuhannya. Dia tidak peduli disaat Erika masuk ke dalam kamarnya. Dia hanya menatapnya di saat selesai salam.


Mendapat kesempatan bicara, ternyata tak lantas membuat Erika langsung membuka suara. Dia bingung harus bagaimana mengutarakan maksudnya. Karena Budi merasa Erika terlalu lama menyita waktunya, Budi melanjutkan sholatnya. Dia biarkan Erika menunggu di pinggir ranjangnya.


Saking teramatnya dia ingin agar doanya dikabulkan, Budi tidak sadar kalau sholatnya kali ini sudah berkali-kali lipat lebih lama dibanding dua rokaat sebelumnya. Sampai-sampai dia sendiri terkejut, saat salam ke dua, dia mendapati Erika sudah tertidur di tepi ranjangnya. Dengan posisi miring ke kiri, menghadapnya.


Ya. Erika tak kuasa menahan kantuknya. Padahal tadi dia datang menemui Budi karena dia ingin mengabarkan kepada Budi tentang kebebasan Stevani. Stevani bebas karena hakim menyatakan bahwa Stevani hanyalah korban dari intrik si otak intelektual. Sedangkan yang lainnya dinyatakan bersalah dan menerima hukuman sesuai dengan kadar kesalahan masing-masing. Dengan porsi terberat diterima Isma, dengan hukuman sampai lima belas tahun penjara.


Setelah selesai sholat subuh, Adel merasa aneh, saat melihat ada seorang dokter masuk ke kamar rawat bapaknya. Walau memang ada satu pasien lagi di sebelah bapaknya, tapi kecurigaannya tetap pada kondisi bapaknya.


“Bu. Bapak saya kenapa lagi, bu?” tanya Adel kepada bu susan.


Bu Susan yang tidak menyadari kehadiran Adel jadi tergagap. Dia bingung harus menjawab apa.


“Sin, pakde kenapa lagi, Sin?” tanya Adel pada Sinta.


“Eeem” sinta juga sama bingungnya.


“Kualat lho, kalo nggak jujur sama mbak Adel” ancam Adel. Membuat Sinta semain kebingungan.


“Oke, kalo nggak mau jawab” kata Adel sambil berlalu.


“Del, bapak kamu nggak papa kok. Cuman lagi dirawat dokter aja”


Ibunya sinta muncul dan menenangkan Adel. Adel tidak percaya begitu saja dengan keterangan buleknya. Tapi dia juga tidak membantah. Dia memilih untuk mengaminkan apa yang dikatakan buleknya. Memang itu jawaban yang ingin dia dengar. Semoga menjadi kenyataan.


Untuk mengalihkan suasana, Madina berinisiatif untuk mengajak kakaknya mandi, di kamar mandi umum di arah yang berlawanan dengan mushola tadi. Adel setuju. Dia sudah merasakan tidak enak dengan tubuhnya, dan juga pakaian yang belum ganti semenjak kemarin.


Bu Susan menghela nafas lega disaat Adel dan Madina sudah menjauh. Lain dengan Sinta, air matanya meleleh tanpa bisa dia tahan.


Ya, mereka menyembunyikan kabar sesungguhnya dari kondisi pak Fajar. Sebenarnya bukan sedang dirawat biasa, tapi sedang dilakukan tindakan darurat. Karena kondisi pak Fajar sebenarnya menurun drastis.


Saat terjaga dari tidurnya, Erika terkejut mendapati Budi sudah tidak ada di depannya. Dia sempat berguling ke kanan, memeriksa apakah Budi ada di belakangnya. Tapi tidak ada juga. Tapi aroma kopi yang semerbak, membuat Erika bisa menebak, di mana Budi berada.


Dan benar, Budi sedang berada di balkon kamarnya. Dia sedang memainkan ponselnya, sambil menyeruput kopi hitam. Budi tersenyum saat melihat kedatangan Erika.


“Udah bangun, mbak?” sapa Budi.


“Udah” jawab Erika, sambil berjalan mendekat.


“Sampe ketiduran aku” komentar Erika saat duduk di samping Budi.


“He he. Namanya juga lagi galau, mbak. Kalo semua orang nggak ada yang bisa bantu, sama siapa lagi aku minta tolong?” jawab Budi.


“Aku lebih sukacara itu, Bud. Sumpah, kamu keliatan berwibawa banget” komentar Erika.


“Ha ha ha” budi tertawa mendengar komentar itu.

__ADS_1


“Kok ketawa?”


“Harusnya juga aku yang ngegombal, kenapa malah mbak Rika?”


“Dih. Siapa yang ngegombal? Kurang kerjaan banget gombalin kamu” kilah Erika.


“Ha ha ha” Budi tertawa lagi.


“Ya udah, diminum dulu kopinya! Mau ekstra jahe, itu ada jahenya” tawar Budi.


“Jahe apa jahe?”


“Hempf. Ha ha ha ha. Yang beli si Deni, mbak. Kalo ternyata beda, tabokin aja si Deni!” jawab Budi.


Adelpun menerima tawaran Budi. Tapi tidak menggunakan jahe. Budipun sempat tertawa lagi, disambut lirikan mata mendelik dari Erika.


“Ngomong-ngomong, mbak Rika ada apa, sampe nungguin aku gitu? Ada yang penting banget?” tanya Budi.


“Uhuk.... uhuk uhuk”


“Mbak? Pelan-pelan! Siapa yang ngeburu-buru, sih?” komentar Budi saat Erika tersedak. Butuh beberapa waktu sampai Erika bisa bernafas dengan normal lagi.


“Aku, cuman mau kasih kabar aja” jawab Erika.


“Kabar apa?”


“Kabar kalo si Stevani sekarang udah bebas” jawab Adel.


“Apa?” Budi terkejut mendengar kabar itu.


“Serius? Tanpa hukuman sama sekali?” lanjut Budi.


“Kena, sih. Tapi abis sama masa tahannya. Jadi langsung bebas” jawab Erika.


Budi menatap wajah Erika lekat-lekat. Seolah mencari kesungguhan dalam tatapan mata itu.


“Oh. Ya udah. Mau gimana lagi. Tapi Isma kena, kan?” komentar Budi.


Erika mengernyitkan keningnya. Bingung dengan komentar Budi yang terkesan ringan begitu.


“Lima belas tahun” jawab Erika.


“Lima belas tahun doang?”


“Kata pak Paul, begitu”


“Terlalu ringan sih kalo kata aku” lanjut Erika.


“Iya, lah. Korbannya banyak begitu. Itu yang cuman diancam. Lha aku? sampe celaka bolak-balik gitu, nggak diitung, apa? percobaan pembunuhan lho itu”


“Nggak ngertilah, Bud. Aku juga kaget, denger Isma cuman dihukum lima belas tahun”


“Huuuffftt” Budi menghela nafas berat.


“Iklasin aja, Bud! jangan sampe masa lalu ngebebani kamu buat meraih masa depanmu!” saran Erika.


Budi sempat tak mengerti dengan maksud Erika. Dengan nada ringan, dia meminta dirinya mengiklaskan semua rasa sakit yang pernah dia terima. Tapi bisa jadi saran itu benar.

__ADS_1


Saat teringat akan Adel, dia jadi sadar, ada hal yang lebih penting untuk dia pikirkan daripada kasus kemarin. Yang penting pelaku utamanya sudah tertangkap dan dihukum. Yang penting tidak akan ada lagi teror-teror serupa di masa depan. Itu sudah cukup.


__ADS_2