
Adel pulang dengan dikawal oleh Budi. Budi merasa perlu untuk memastikan, kalau Adel tidak mengalami hal yang tidak diinginkan. Mengingat jalan dari gedung serbaguna itu, masih banyak yang tertutupi lumpur. Tidak sampai rumah memang, hanya sampai perbatasan desa.
Dengan malas, Adel melajukan motornya. Bayang-bayang kehancuran hubungannya dengan Budi masih menggelayut di pelupuk matanya. Senyum dan perhatian tadi, dia rasakan belum menjadi suatu jaminan, kalau esok hari akan baik-baik saja.
Ada beda waktu setengah jam, antara pak Fajar dan bu Lusi, dengan Adel, untuk sampai di rumah. Dan keduanya, bersiap di depan pintu rumah. Bersiap menumpahkan segala kemarahan atas sikap Adel yang menurut mereka adalah pelanggaran berat.
Tapi seseuatu yang lain terjadi saat Adel sampai di rumah. Pak Fajar mendapatkan telepon dari rekan bisnisnya. Dia meninggalkan istrinya untuk membicarakan bisnis yang ditawarkan rekannya itu.
“PUAS?” teriak bu Lusi, setibanya Adel di teras rumah.
Suaranya yang membahana, sampai membuat tukang kayunya terkejut. Adel tidak menjawab.
“Ngapain sih, kamu ke tukang ojek kere itu? Dari subuh sampe mau magrib belum pulang-pulang” lanjut bu Lusi, tak kalah kencang dari sebelumnya.
“Bu, dulu mbah Darmo kena banjir, ibu tolongin, nggak?” tanya Adel dengan suara pelan. Bu Lusi terkesiap. Untuk beberapa saat dia terdiam.
“Kebiasaan jadi orang. Ditanya malah ganti nanya” komentar bu Lusi, mengalihkan pembicaraan.
Dengan santainya dia masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, Madina tampak baru keluar dari dapur. Di tangannya ada tiga gelas minuman hangat. Uapnya masih terlihat menari-nari di permukaan.
Adel meminta satu diantaranya, sebelum diletakkan di meja oleh Madina. Bu Lusi masih menatapnya dengan tajam.
“Adel ini cuman manusia biasa, nggak punya kekuatan super. Adel cuman pengen nanem kebaikan, bu. Biar kalo nanti Adel tua, ada yang mau ngerawat Adel” kata Adel setelah menyeruput wedang jahe buatan Madina.
“Kamu itu ya, disekolahin tinggi-tinggi masih aja gobl*k” komenatar bu Lusi.
“Kalo kamu nikah sama Luki, sampe mati juga kamu banyak yang ngerawat” lanjut bu Lusi.
“Emang, ibu bolak-balik masuk rumah sakit, ada yang ngerawat, selain bapak?” tanya Adel. Bu Lusi terkesiap.
“Pakde Narno, pakde sadewo? Bulek Dinar aja nggak pernah negokin ibu, lho. Padahal adek kandung ibu” lanjut Adel. Bu Lusi masih belum menjawab.
“Tapi kalo mbah Sarmi atau mbah Yono yang sakit, ibu yang diudak-udak. Dalihnya, ibu itu istri anak bungsu. Jadi wajib buat nurut sama kakak-kakaknya. Sampe-sampe, mbah Tin terlantar. Apa ibu yakin, Adel bakal dianggap menantu? Jangan-jangan cuman dijadiin pembantu” kata Adel lagi.
“Kamu pikir, disuruh si tukang ojek kere itu bersihin lumpur sampe belepotan kaya gini, bukan dijadiin permbantu, ha?” sahut bu Lusi.
“Enggak” jawab Adel singkat.membuat mata bu Lusi mendelik.
“Gusti, anakku kok gobl** banget sih?”
“Ya, mungkin Adel goblok. Terus, gimana sama ibu sendiri?”
“Maksud kamu?”
“Apa ngerawat Adel, ibu ngerasa dijadiin pembantu sama bapak?”
“Ya enggak, lah. Kamu sama Madina itu buah cinta bapak sama ibu. Impian ibu. Ya nggak ada ceritanya ibu ngerasa dijadiin pembantu sama bapak”
“Adel juga ngerasa gitu, bu”
__ADS_1
“Apanya yang sama nduk, cah ayu? Bisa dapet apa kamu sama orang kere itu? jangankan jadi sultan. Sekarang aja blangsak begitu. Nggak keliatan cerah-cerahnya sama sekali. Yang ada kamu kere seumur hidup kalo sama dia. Beda cerita kalo kamu sama Luki. Terlahir dari keluarga sultan, bakal mewarisi harta bapaknya, bakal bahagia seumur hidup kamu, nduk”
Adel terdiam mendengar kata-kata ibunya itu. Dia meletakkan gelas yang dia pegang. Lalu dengan lembut, dia raih telapak tangan ibunya.
Dia genggam dengan lembut kedua telapak tangan itu. Lalu, dengan lembut pula dia pandang wajah ibunya. Bu Lusi menjadi bingung dibuatnya. Dalam hati dia bertanya-tanya, ada apa gerangan putri sulungnya tiba-tiba menjadi kalem begini.
“Bu” panggil Adel lirih. Sesekali dia menunduk, lalu memandang wajah ibunya lagi.
“Apa ibu bahagia, berumah tangga sama bapak, dari awal menikah?” tanya Adel.
Bu lusi mengernyitkan keningnya. Dia tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan pertanyaan yang tidak terpikirkan olehnya. Bukan pertanyaan yang biasa ditanyakan seorang anak kepada ibunya.
“Bahagia lah, Del” jawab bu Lusi. Nada bicaranya merendah, tidak melengking seperti sebelumnya.
“Kalau ibu bahagia, kenapa ibu selalu marah-marah?” tanya Adel lagi. Nada bicaranya semakin lembut.
Lagi-lagi bu Lusi terkesiap. Pertanyaan itu sudah setingkat dengan pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan oleh ibunya.
“Harusnya, dengan semua yang ibu terima dari bapak, cukup buat bikin ibu tenang, murah senyum. Karena udah nggak mikir lagi besok makan apa, kalo ujan neduh dimana. Marah itu, harusnya sama Adel aja” lanjut Adel.
Sebuah kalimat yang terasa sangat dalam di hati bu Lusi. Ingatannya mengembara kembali ke masa-masa awal pernikahannya dengan bapaknya Adel.
Dulu dia sering disindir, dibicarakan tetangga, karena masih tinggal di rumah orang tua, dan terkadang numpang makan juga sama orang tua.
Memang, dia tahu, kalau banyak yang cerita kepada Adel mengenai dirinya. Tapi itu dulu, saat Adel masih kecil. Tapi dia tidak menyangka, kalau Adel masih mengingat cerita-cerita itu. Dan mulai bisa menalar cerita itu.
“Anak mana sih bu, yang nggak pengen bahagiain orang tuanya?” kata Adel. Membuat ibunya tersentak dari lamunan.
“Ibu cuman pengen anak-anak ibu hidup bahagia, nduk. Terutama kamu. Ibu nggak mau kamu hidup miskin, sengsara. Cukup ibu aja yang tahu, gimana rasanya dihina tiap hari tiap malam. Ibu cuman mau mastiin, nggak ada satu orangpun yang menghina anak-anak ibu. Dan ibu nggak akan biarkan anak-anak mereka, cowok-cowok nggak jelas yang ada di sekitar kita ini, deket-deket sama anak-anak ibu. Ibu cuman pengen nyariin jodoh yang tepat buat anak-anak ibu. Ibu cuman mau bungkam mulut-mulut biadap mereka, nduk” jawab bu Lusi dengan suara menggeram menahan amarah. Air matanya meluncur membasahi pipinya.
*Ya Alloh. Ternyata ibu nyimpen dendam sama tetangga-tetangga di sekitar sini. Ternyata ibu masih nyimpen rasa sakit semasa dulu. Separah apa kata-kata mereka, sampe rasa sakit di hati ibu masih terasa sampe sekarang? Ya Alloh, tolonglah hamba*!
“Kalo memang itu masalahnya, boleh nggak Adel minta satu hal sama ibu?” tanya Adel.
Untuk kedua kalinya, suara Adel menyentakkkan bu Lusi dari lamunannya.
“Ibu bisa nurutin permintaan Adel, Adel akan turutin permintaan ibu” lanjut Adel.
“Kamu pengen ibu ramah?” sahut bu Lusi.
“Ibu nggak yakin” lanjutnya.
Adel menatap mata ibunya dengan tatapan bertanya.
“Udah karakter ibu kaya gini” kata bu Lusi menjawab tatapan mata putri sulungnya.
“Mulailah dengan tidak mengumpat, bu!” sahut Adel.
Nada lembutnya membuat bu Lusi kembali memandangnya. Setelah sesaat yang lalu, dia memalingkan pandangannya.
__ADS_1
“Ibu mau marahin Adel tiap hari, silakan! Tapi please, jangan ngumpat, bu! apalagi menghina orang” lanjut Adel. Bu lusi tidak segera menjawab. Dia masih menatap lekat mata Adel.
“Kata orang, jadi anak itu harus bisa mikul duwur, mendem jero terhadap orang tuanya. Tapi Adel ini cewek, bu. Adel bakal punya suami, siapapun suami Adel nanti” kata Adel.
Bu Lusi mengernyitkan keningnya. Semakin tidak mengerti apa yang ingin disampaikan Adel.
“Garis komando ibu atas Adel, akan putus saat Adel udah nikah. Tapi ibunya suami Adel, masih punya garis komando atas anaknya. Adel takut bu, kalo pas ibu sakit, Adel nggak bisa ngerawat ibu karena dilarang suami atau mertua Adel” lanjut Adel.
“Bu Susan bukan orang seperti itu” sahut bu Lusi.
“Ya, semoga aja begitu. Tapi masa depan, siapa yang tahu? Nyatanya bapak nggak dikasih apa-apa, sama mbah Yono. Cuman dikasih mobil, kan? Hartanya dihambur-hamburin buat manjain menantunya yang lain. Karena menantunya yang lain anak orang kaya. Dan dari mereka, mbah Yono bisa jaga kelangsungan usahanya. Adik-adiknya mas Luki, itu cewek semua, bu”
“Enggak. Pak Imam Pratama bukan orang kaya gitu. Ibu juga kenal sama pak Imam, waktu masih sekolah. Dia bukan orang yang kaya gitu” tukas bu Lusi.
“Adel harap juga gitu” sahut Adel.
Mereka saling memandang, tapi sama-sama tidak mengeluarkan sepatah katapun, untuk beberapa lama. Bu Lusi memahami kalimat terkahir Adel tadi, sebagai sebuah ungkapan kepasrahan, yang berarti dia mau menikah dengan lelaki pilihannya. Tapi untuk benar-benar mau, dia harus menuruti dulu apa yang diminta Adel.
“Adel nggak pengen ngeliat ibu menderita dua kali” celetuk Adel.
“Hem?” bu Lusi tidak mengerti.
“Ibarat kata Adel harus menderita demi patuh sama ibu, Adel rela, bu. Asal ibu nggak nemuin apa yang sangat Adel takutin sampe saat ini”
“Apa itu?” tanya bu Lusi.
“Karma” jawab Adel singkat.
Bu Lusi terhenyak mendengar jawaban itu. Didapatinya wajah Adel berubah drastis. Seperti memendam kesedihan dan juga kemarahan yang bercampur aduk.
“Bu, kalo Adel masuk penjara, apa ibu rela?” tanya Adel. Bu Lusi terkejut mendengar pertanyan itu.
“Demi apapun, nduk. Ibu nggak akan pernah rela kalo kamu sampe dipenjara. Sekalipun kamu salah, ibu tetep akan bela kamu mati-matian. Semuanya akan ibu lakuin agar kamu nggak sampe masuk penjara, nduk” jawab bu Lusi dengan nada menahan amarah.
“Adel juga akan ngelakuin hal yang sama bu” kata Adel.
“Apa?” bu Lusi bingung.
“Adel pernah mimpi, bu. Ibu lagi sakit, bapak lagi keluar cari obat. Ibu cuman sendiri di rumah. Dan mereka-mereka yang pernah ibu sakiti hatinya, pada dateng ke rumah. Tapi bukan mau nengokin, bu. Mereka semua ngetawain ibu. Mereka semua joget-joget kegirangan liat ibu lemah nggak bisa ngapa-ngapain. Sakit hati Adel, bu. Sakit” kata Adel sambil menahan tangis.
Mata bu Lusi terbelalak. Sejauh ingatannya, tiga kali Adel bercerita tentang mimpi, dan ketiganya menjelma menjadi kenyataan.
“Adel mau ngusir mereka, bu. Tapi adel kaya nggak bisa. Adel kaya dipegangi banyak orang. Dan suara adel nggak nyampe ke kuping mereka” lanjut Adel. Dia masih menahan tangisnya, walau sudah berlinang air mata. Bu Lusi masih belum berkomentar.
“Dan Adel udah janji, bu. Demi Alloh, kalo mimpi Adel bener-bener kejadian, Adel akan bunuh mereka semua” lanjut Adel lagi.
Bu lusi terhenyak melihat mata anaknya melotot dan memerah, penuh dengan amarah. Gigi-geligi Adel gemeretak saking memuncaknya amarah itu. Seumur hidupnya, dari Adel lahir, belum pernah didapatinya Adel menunjukkan kemarahan yang teramat sangat. Serta merta dipeluknya tubuh putri sulungnya itu.
“Jangan lakuin itu nduk! Jangan lakuin itu. Ibu nggak bakal sanggup liat kamu dipenjara. Ibu coba berubah ya? Ibu akan coba buat ramah. Biar kamu nggak perlu nemuin kenyataan dari mimpi kamu itu”
__ADS_1
Gigi-geligi Adel masih gemeretak. Dan matanya semakin memerah. Madina sampai ketakutan, melihatnya. Perlu beberapa lama buat Adel meredakan emosinya. Dan lamanya waktu itu, adalah penanda jelas bagi bu Lusi, kalau mimpi yang diceritakan Adel itu, benar-benar ada.