Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bengkel budi bersiap menyongsong ekspo


__ADS_3

Malam harinya, selepas maghrib, tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Tetangga-tetangga sesama pemilik usaha di pantai itu datang dengan senyum lebar. Mereka langsung mengucapkan selamat, begitu mereka bersalaman dengan Budi.


Tak terlihat ada yang merasa tersaingi, karena model usaha seperti yang dibangun Budi ini belum ada yang memiliki. Mereka malah penasaran dengan hasil kerajinan yang dibuat Budi, saat melihat tampilan depan bengkel itu penuh dengan seni.


Mereka berharap bisa lebih banyak menarik pengunjung dengan bekerja sama dengan Budi, dengan suguhan atraksi seni di bengkel kayu Budi. Dengan antusias Budi menyambut rasa penasaran para tamunya itu.


Budi mempersilakan para tamunya untuk melakukan room tour di bengkel kayunya. Budi meminta Putri untuk mengambil peran sebagai tour guide. Madina yang sedari pulang sekolah langsung ke sini, juga ikut membantu Putri.


Sandi dan beberapa anak buahnya juga datang. Mereka terkagum-kagum melihat tampilan depan bengkel itu. Masuk ke galerinya mereka sebut seperti masuk ke gedung DPR. Harus naik dulu melewati banyak anak tangga. Dan mereka langsung bertemu lantai dua, baru turun lagi ke lantai satu. Bedanya, yang ini, di setiap anak tangganya ada ukiran dan juga lampu LED yang memanjakan mata. Budi hanya bisa tersenyum mendengar pujian dari teman-temannya.


“Adelnya mana?” tanya Sephia. Budi terkesiap. Senyumnya memudar.


“Dia nggak bisa dateng. Kan tiap malem minggu dia harus perform di fishbed cafe” jawab Budi.


“Emang nggak bisa ambil cuti, gitu?”


“Pekerja seni mana ada kata cuti?” jawab Budi dengan pertanyaan.


“Yang ada juga kontrak” lanjut Budi.


“Yah, sayang banget ya. Dia yang getol promosi, pas ada event besar kaya gini malah dia nggak bisa dateng. Momen langka, padahal. Prestisius banget lho ini” komentar Sephia. Sandi tersenyum lebar.


“Kok gitu banget senyumnya, kenapa sih?” tanya Sephia bingung.


“Enggak” jawab Sandi sambil tergelak. Dia lantas pergi, karena bu Ratih melambaikan tangan padanya.


“Spesial banget dia, emang” komentar Sephia. Ada raut cemburu di wajahnya.


“Kamu juga spesial kok. Nyatanya kamu yang dipilih dia” kata Budi menghibur Sephia.


“Ya” jawab Sephia pendek.


Ada senyum yang mengembang, mendengar pujian itu. Walau rasa cemburunya masih cukup terlihat.


Dari jauh terlihat ada rombongan lagi beberapa mobil. Tapi Budi belum bisa menebak mobil dari manakan itu. Dia belum yakin kalau itu mobil dari PRAM. Karena tadi siang teman-temannya cukup sibuk dengan berbagai hal. Kalau saja dia tidak menyiapkan segala sesuatunya sejak pagi, mungkin dia juga masih akan di pabrik, saat ini.


TEEET


Mobil paling depan membunyikan klakson saat melewati bengkelnya. Kemudian mobil itu mengambil tempat sedikit agak jauh untuk parkir, diikuti tiga mobil di belakangnya. Betapa senangnya Budi saat melihat siapa yang datang.


Ternyata mereka adalah teman-teman pabriknya. Tampak ada Riki, Aldo, pak Teguh, pak Supri, Ratna, Farah, Isma, pak Tanto, pak Beni, Marsya, Hilda, bu Tami, dan beberapa orang produksi. Mereka mendatangi Budi dan mengucapkan selamat.


Mereka juga kagum atas kegesitan Budi. Belum lama bekerja di PRAM, sudah berani mendirikan usaha sendiri. Budi berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan rekan-rekan kerjanya itu. Sembari tak lupa mengucapkan terimakasih, karena telah mau meluangkan waktu memenuhi undangannya.


“Adel mana, Bud” sebuah suara nyaring sukses mengalihkan perhatian semuanya.


“Masya Alloh, mbak Erika, pak Paul. Monggo, pak” seru Budi dengan sumringah. Dia menyalami Erika dan pak Paul.


“Adel masih ada pekerjaan. Biasa kan, malam minggu dia live di fishbed cafe” jawab Budi.


“Wah, apa nggak takut tuh, kamu diambil sama Erika?” celetuk pak Paul. Membuat Erika tersentak dan menoleh ke arah pak Paul.


“Mbak kunti, ding” ralat pak Paul.


“Hempf. Emang dia ikut, pak?” tanya Marsya sambil tergelak.


“Ya kali” jawab pak Paul sambil tergelak pula.


“Ha ha ha ha”


Yang lain ikut tertawa. Ternyata mereka semua masih ingat dengan cerita Budi dikelonin sama kuntilanak. Budi mempersilakan semuanya untuk masuk dan melihat-lihat galeri. Budi juga ikut mengantar.


“Bud” panggil pak Paul lirih.


“Ya, pak”


“Dua bulan lagi kita akan tutup seleksi mebel kayu. Jadwal ekspo kabupaten sudah fix. Ini kesempatan emas buat kamu. Aku harap kamu bisa bikin produk yang lain dari yang lain. Dan bersaing dengan mebel-mebel lain” kata pak Paul.


“Sebuah kehormatan buat saya, mendapat kesempatan untuk ikut kompetisi ini, pak” jawab Budi.


“Ya. semua orang punya kesempatan. Nggak terkecuali dengan karyawan PRAM sendiri. tapi kita akan fair. Kalo emang layak, kita bilang layak. Kalo emang belum layak, ya kita gugurin. Makanya kamu harus bikin produk yang anti mainstream. Sanggup?”


“Siap, pak. Sanggup. Saya usahakan tepat waktu” jawab Budi.


“Good. Berarti kamu udah punya ide, kan? Bikin idemu jadi nyata!”

__ADS_1


“Siap”


Karena waktu sudah beranjak malam, akhirnya Budi mengajak para tamu untuk berkumpul di ruang tengah. Ruangan yang sebenarnya belum selesai pengerjaannya, tapi sudah dibuat sedemikian rapinya untuk acara syukuran ini.


Budi meminta salah seorang tokoh setempat untuk memimpin doa. Dengan harapan, agar proses produksinya nanti selalu diberikan keselamatan dan kelancaran. Dan juga berhasil serta sukses dalam pemasarannya.


Dipertengahan tahlilan, masih ada lagi tamu yang datang. Dan rupanya itu tamu kehormatan. Ya, pak Fajar dan bu Lusi. Tak tanggung-tanggung, bu Ratih sendiri yang menyambut keduanya. Diiringi Budi selaku tuan rumah.


***


Matahari masih belum sepenggalah tingginya, tapi para karyawan kantor sudah terlihat sangat sibuk. Terutama tim PPIC & HRD. Mereka diberikan tugas khusus oleh pak Paul untuk menyiapkan meeting bersama semua kepala divisi.


Sehingga mulai dari awal jam kerja, Aldo sudah berteriak-teriak memberikan komando kepada para sopir yang membawa material aluminium dan rotan. Cleaning service juga kebagian kena semprot Aldo karena dinilai lelet.


Budi tergelak mendengar suara Aldo yang cukup nyaring pagi ini. Dia yang sedang diskusi dengan pak Teguh mengenai target yang harus tercapai, sempat mencandainya.


Aldo merespon dengan menepuk-nepuk jidatnya. Seolah ingin mengatakan kalau pagi ini dia sedang kepusingan. Praktis Budi dan pak Teguh tertawa melihat tingkahnya. Ratna datang membawa orderan baru dan urgent.


Sontak kata urgent itu membuat Budi terkejut dan geleng-geleng kepala. Sedangkan pak Teguh tertawa cukup kencang, karena merasa lucu. Jadwal yang sudah ditata sampai per detiknya, ambyar seketika kesisipan satu order berstatus urgent.


“Nih Bud, Bod***. Bisa diminum sebelum makan”


Suara dari belakang itu sukses membuat Budi memutar tubuhnya. Ternyata itu Aldo. Dia mengacungkan obat sakit kepala kepada Budi.


“Suek. Ikutan pusing, aku. Hasyeem” komentar Budi.


“Ha ha ha ha”


Mereka bertiga tertawa bersamaan. Ratnapun ikut tertawa, walau dia belum sepenuhnya paham dengan awal pembicaraan ketiga lelaki itu.


Setelah Ratna pergi, Budi kembali menyusun strategi untuk menyelesaikan semua pesanan. Rotasi operatorpun pak Teguh lakukan, karena Budi menginisiasi prosedur penambahan operator dari tim cadangan.


Prosedur itu melibatkan Riki dan bu Tami. Sehingga diskusi itu tidak lagi hanya empat mata, ada empat mata lainnya yang ikut bergabung. Dengan pengaturan strategi yang melibatkan tim anyaman. Sampai berapa cepat tim anyaman bisa menyelesaikan pekerjaannya, Budi hitung. Bahkan sampai per detiknya.


Setelah prosedur dilaksanakan, Budi meminta Riki untuk menyiapkan sarana dan prasarana untuk meeting nanti. Sedangkan pekerjaan Riki di lapangan, untuk sementara dipegang oleh Budi. Budi sangat Fokus untuk memastikan kalau prosedur yang dia jalankan ini bisa menghasilkan output seperti yang dia perhitungkan.


“Bud”


Sebuah panggilan menyita perhatiannya. Budi menoleh ke sumber suara. Ternyata Erika yang datang.


“Ya, mbak” jawab Budi.


“Loh, kepala divisinya kan mbak Rika. Kok aku ikut?” tanya Budi.


“Pak Paul yang nyuruh” jawab Erika pendek, tapi jelas.


“Loh, kirain prepare tempat sama konsumsi doang. Itu tadi Riki yang jalan, aku yang back up tugas dia”


“Udah, nggak usah mbantah! Timbang ikut doang, apa susahnya, sih?” tukas Erika.


“Terus, yang back up aku siapa, Aldo?”


“Iya. Aku udah bilang sama dia” jawab Erika tegas.


“Hempf” Budi malah tergelak.


“Dih, malah ketawa”


“Tolong diawasin ya, pak! Jangan sampai Aldo ngemut bod*** lagi! Itu obat, bukan permen kopi” kata Budi ke pak Teguh.


“Ha ha ha. Tenang! Baru juga satu. Ha ha ha ha” jawab pak Teguh sambil tertawa.


Budipun pamit ke pak Teguh dan bu Tami, untuk kembali ke kantor. Mereka mempersilakan. Bahkan pak Teguh berjanji untuk mengontrol dengan ketat semua anak buahnya. Budi tersenyum dan pergi beriringan dengan Erika.


Tepat setelah waktu coffie break selesai, semua kepala divisi sudah berkumpul di ruang meeting. Proyektor sudah menyala, terhubung ke komputer Erika.


Beberapa mebel rotan hasil produksi mereka juga sudah tertata rapi di bawah batas pancaran proyektor. Kotak snack sudah tersuguhkan di depan masing-masing peserta. Begitu juga dengan white board beserta alat tulisnya, sudah tersedia di sudut ruangan.


“Baiklah bapak-bapak, ibu-ibu, kita mulai saja meeting kita pagi ini” kata pak Paul membuka meeting itu.


Semua mata tertuju padanya. Tak terkecuali dengan Budi yang duduk dua kursi di kiri pak Paul, terjeda dengan Erika.


“Pagi ini kita akan membahas rencana ekspo kita di eropa. Kita akan membahas beberapa hal. Tentang aturan main terbaru, kata Farah ada beberapa detil yang berubah. Meski menurut saya, itu tidak berubah signifikan dari yang dua tahun lalu” Farah mengangguk saat pak paul menatap wajahnya.


“ Kedua, kita akan membahas tentang ekspo kabupaten. Dimana di ekspo ini, seperti dua tahun lalu, kita akan menampilkan mebel kayu yang akan kita bawa ke eropa. Sudah sampai mana prosesnya, nanti Farah tolong jabarkan!” pinta pak Paul. Farah mengangguk lagi.

__ADS_1


“Kemudian kita juga akan membahas tim yang akan mengurusi kegiatan ekspo ini, sekaligus menjadi wakil perusahaan. Ini yang masih mengganjal di hati saya” pak Paul menggantungkan kata-katanya. Dia menatap satu per satu bawahannya itu. Tak ada yang menyelanya.


“Sebenarnya saya menginginkan ada yang berani untuk belajar menangani proyek semacam ini. Tapi kok masih pada mengekeret aja. Padahal ilmunya banyak.” lanjut pak Paul. Semuanya menunduk. Entah malu, entah takut.


“Ya sudah, kita bahas mengenai yang pertama dulu, aturan mainnya” kata pak Paul memecah kecanggungan itu.


Erika membuka slide yang diminta pak Paul. Slide itu menampilkan perbedaan kecil pada detil spesifikasi dan dimensi barang yang boleh dipamerkan dalam ekspo itu. Karena tempatnya ada yang indoor dan outdoor.


Potensi tiupan angin yang cukup kencang membuat panitia menyarankan untuk membuat modifikasi produknya demi kelancaran pameran itu. Pak Paul membagikan masalah itu kepada tim produksi untuk dipecahkan solusinya. Dalam hal ini Pak Supri menyanggupi.


Dia sendiri sudah punya gambaran bagaimana harus memodifikasi produk-produk yang akan dibawa ke eropa itu. Dia menjelaskan menggunakan alat peraga yang sudah disiapkan.


Memasuki topik pembahasan ke dua, Farah menjelaskan progres dari seleksi mebel kayu. Sudah ada dua puluhan pengusaha mebel yang mengajukan desain beserta besaran biayanya. Tapi baru beberapa yang sudah mengirimkan contoh produknya. Dan sekarang masih dipajang di galeri mini di depan kantin.


“Oke. So far so good. Thank you Farah and team” kata pak Paul berterimakasih.


“Nah, sekarang kita akan lanjut membahas yang paling kalian hindari, nih” lanjut pak Paul sambil tergelak. Membuat para bawahannya tersenyum malu.


“Bud” panggil pak Paul.


“Ya, pak” jawabnya


“Kamu jadi ketua, ya?” tanya pak Paul.


Budi terkesiap. Pertanyaan yang menurutnya tidak perlu jawaban. Itu adalah perintah tersamar. Budi tersenyum bingung. Membuat para kepala divisi itu tergelak.


“Orang saya ingin ikut seleksi, kok disuruh jadi ketua. Yang ada malah jadi fitnah, pak” jawab Budi diplomatis.


“Ha ha ha ha. Urusan seleksi itu sepenuhnya hak prerogatifku, Bud. Aku yang nentuin mana-mana yang layak buat dibawa. Kamu mau ikut? Ikut aja. Kalo jelek pasti aku tolak, kok” jawab pak Paul. Para kepala divisi itu tergelak lagi.


“Aku selalu obyektif dalam memilih. Nggak peduli itu produk temennya Erika, kalo nggak layak, ya aku tolak” lanjut pak Paul. Budi mengernyitkan dahinya. Dia menatap Erika saat Erika mengalihkan pandangannya ke arahnya.


Adel


Gerakan bibir tanpa suara itu bisa dibaca Budi. Dia menggut-manggut. Berarti pak Fajar pernah ikut seleksi dan gagal.


“Jadi jangan takut pak Tanto bakal iri. Kalopun punyamu aku terima, itu bukan karena ada sesuatu antara kita. Pasti karena asli bagus dan layak” kata pak Paul lagi.


“Hem?” Budi reflek memandang pak Tanto.


“Adekku, Bud. Dia punya usaha mebel juga” kata pak Tanto, menjawab tatapan Budi. Budi manggut-manggut.


“Jadi gimana?” tanya pak Paul setengah mendesak.


“Yang senior rasanya lebih berhak, pak. Yang junior jadi assisten dulu saja” jawab Budi masih diplomatis.


“Orang pada mengkeret” jawab pak Paul.


Budi masih belum percaya dengan kata mengkeret itu. Dia sudah beberapa kali dijatuhkan atasan selevel manager dengan kata-kata semacam itu. Dia pandangi satu-satu wajah para kepala divisi itu.


Dia ingin melihat ada salah satu yang memberontak dan mengatakan kalau dia bukan mengekeret, tapi masih memantau situasi. Tapi sama sekali tidak ada yang memberontak. Semua diam. Seperti mengamini tuduhan pak Paul pada mereka.


“Mbak Farah?” panggil Budi. Panggilan bernada pertanyaan.


“Farah udah pernah bertugas. Empat tahun lalu dia yang memimpin tim kita. Terakhir si Vani yang mimpin. Aku ingin tiap ekspo ada pergantian pemimpin. Biar semua merasakan serunya memimpin proyek berskala global seperti ini” sahut pak Paul. Budi tersenyum. Dia mereasa tepojok, dan tidak punya alasan lagi untuk menolak.


“Baik, pak. Mohon bimbingannya” jawab Budi.


“Nah, ini. Tepuk tangan dulu dong!” pinta pak Paul. Semuanya bertepuk tangan untuk Budi.


“Harusnya kalian begini. Aku kan nggak ngomongin masalah bisa atau enggak. Aku tahu kalian belum bisa. Dan aku juga nggak bakal lepas tangan. Yang aku pengen, kalian punya keberanian buat nerima challange ini. Kalo nanti kesampaian kita bisa ekspansi, pastinya harus ada yang memimpin perusahaan itu. Dua perusahaan, malah. Jadi kepala pabrik. Aku juga pengen bisa fokus cari market gede tanpa kepikiran pabrik ini jalana apa enggak. Pastinya harus ada yang bisa menjalankan perusahaan ini seperti doktrin yang sudah kita bangun, sukhoi” kata pak Paul, diakhiri dengan likiran kepada Budi.


“Apa kalian mau ada orang baru langsung nangkring di atas kalian? Jangan sampai kalian keduluan Budi!” lanjut pak Paul. Semuanya terdiam, sekalipun pak Paul tersenyum.


“Ya sudah. Sekalipun nggak jadi ketua, kalian tetap punya andil besar. Kedisiplinan kita semua sangat diperlukan. Kalo kamu masih nggak pede Bud, kamu bisa duet sama Farah. Dia jadi wakil kamu” kata pak Paul. Budi dan Farah manggut-manggut.


“Mengenai susunan di bawahnya, silakan dibentuk berdua! Nanti ajukan dulu ke aku!” pinta pak Paul.


“Baik, pak” jawab Budi dan Farah.


“Aku rasa cukup. Kalo ada pertanyaan, bisa tanyakan di grup. Saya ada janji yang harus saya tepati”


“Baik, pak” sahut para kepala divisi itu.


“Sekian, terimakasih” kata pak Paul menutup meeting kali ini.

__ADS_1


Serentak semua berdiri saat pak Paul pergi meninggalkan ruangan. Erika juga bergegas membereskan laptopnya. Lalu pamit untuk pergi lebih dulu.


***


__ADS_2