
Sehabis sholat isya’, Budi langsung menggeber motornya menuju rumah Adel. Waktu yang terbatas, dia pakai sebaik mungkin. Dia ingin, sampai di tujuan tepat pada waktunya. Berteman bintang yang bertaburan. Mengisi malam gelap, terlebih di jalan yang tanpa penerangan. Sampai di rumah Adel, ternyata ada ibunya Adel di depan rumah.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi. setelah memarkir motornya.
“Wa’alaikum salam” jawab ibunya Adel.
“Adelnya ada, bu?”
“Kamu jemputannya Adel?”
Budi agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Nada bicara ibu itu terdengar agak merendahkan.
“Oh, iya bu. tadi saya dapat kabar, kalo motornya Adel rusak. Makanya saya diminta untuk jemput”
“Yang nyuruh, siapa? Maksud aku, atasanmu siapa?”
“Atasan? Saya nggak punya atasan, bu”
“Kamu ojol?” tanya bu Lusi semakin terdengar mengejek.
“Ya, begitulah, bu” jawab Budi.
Bingung harus menanggapi bagaimana. Belum ada kesepakatan dengan Adel mengenai hal ini.
“Sayang, ya. Ganteng-ganteng cuman jadi ojol. Coba kalo kamu berpendidikan, bisa jadi orang kantoran, kamu” komentar bu Lusi. Budi terkesiap.
“Ya udah, tunggu dulu, ya! ibu panggilin Adelnya” lanjut bu Lusi.
Dia masuk, memanggil Adel. Lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri. sebelum Adel turun, bu Lusi sudah kembali lagi ke depan.
“Ini, uang ojeknya” kata bu Lusi. Dia menyodorkan beberapa lembar uang kertas.
“Oh, sudah dibayar kok, bu. Pakai aplikasi” tolak Budi.
“Udah, terima aja! malam ini, kamu nggak boleh kepikiran ngambil orderan lain! Kamu harus fokus pada kenyamanan saat bawa anak Ibu! Ibu nggak mau kamu seenaknya sendiri bawa motor. Harus hati-hati dan nggak boleh ngebut!”
“Iya, bu. itu sudah menjadi standar saya dalam melayani pelanggan"
“Halah, ibu udah hafal gimana cara kerja ojol. Udah dapet berapa tarikan, emang?”
“Eem... “
“Belum ada, kan? Ya udah, terima aja, kenapa sih? Belagu banget jadi ojol”
“IBU?”
Terdengar suara nteguran dari arah pintu depan. Ternyata itu adalah Adel. Dia datang dengan raut wajah tersinggung.
“Ibu apa-apaan, sih? Itu menghina, namanya, Bu” tegur Adel.
“Ngehina apanya? Ibu kan ngomong apa adanya. Ibu cuman nggak mau ini ojol kepikiran narik penumpang lain, terus seenaknya bawa kamu. Ibu nggak mau dia ngebut-ngebut nyari cepet” jawab bu Lusi.
“Ya kan nggak harus kaya gitu caranya, bu”
“Kamu bayar berapa, sih? Sampe nggak mau ibu kasih lebih. Kamu bayar berapa di aplikasi?”
“Ya sesuai tarifnya, lah bu” jawab Adel asal.
“Ya wajarnya ojol, pasti mau lah, dikasih lebih. Jangan bilang kamu ada maunya?”
“Maksud ibu apa?” tanya Adel mulai marah.
“Kalo jadi ojol, jadi ojol aja! jangan berpikir buat ngedeketin anak saya! Nggak level” kata bu Lusi menunjuk pada Budi.
“IBU?”
“Kamu juga. Inget! Kamu udah ada mas Luki. Kamu sendiri yag minta mas Luki, buat nunjukin nilai lebihnya. Jangan coba-coba kasih hati sama cowok lain, ya! apalagi cuman ojol”
“Kenapa sih, setiap cowok ibu curigain? Orang cuman mau kerja malah dibikin ribet. Kalo emang ibu mau jodohin Adel, ya harusnya sama pak Imam Pratama, dong”
“Kok malah pak Imam Pratama?”
__ADS_1
“Ya iya, lah. Yang udah ketahuan kaya, siapa? Pak Imam, kan? Luki punya apa, perusahaan? Belum, kan? Masih nebeng bapaknya aja, dibangga-banggain setinggi langit. Kalo ternyata yang ibu rendahin ini duluan jadi pengusaha, ibu mau nanggung malu? Mau minta maaf?”
“Cih, nggak sudi” jawab bu Lusi.
“Udah, udah, udah. Buruan berangkat! Waktumu makin sedikit”
Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Pak Fajar muncul dari dalam rumah. Budi sempat ingin menyalaminya, tapi pak Fajar menyembunyikan tangannya sebagai isyarat kalau dia tidak mau bersalaman dengan Budi.
“Hati-hati bawa motornya, jangan ngebut! Jangan bikin anakku celaka!” lanjut pak Fajar.
Adel langsung menarik tangan Budi untuk menjauh. Tanpa pamitan, Adel langsung memakai helmnya, dan bersiap untuk naik ke atas motor.
“Assalamu’alaikum”
Budi masih memberikan salam pada pak Fajar dan Bu Lusi. Tapi keduanya tidak ada yang menjawab.
Budi tidak mengiraukan sikap mereka, dan langsung memutar arah motornya. Untuk kedua kalinya Budi memberikan salam, tapi untuk kedua kalinya juga salamnya tidak terbalas. Dengan tersenyum, Budi lajukan motornya meninggalkan halaman rumah Adel.
Adel memeluk Budi sejak lepas dari halaman rumahnya. Tak mampu dia membendung air matanya. Hatinya seperti teriris sembilu, mendapati orang yang dicintainya mendapatkan ejekan sedemikian rupa dari orang tuanya.
Bukannya Budi tidak menyadari hal itu. Tapi dia biarkan dulu Adel menikmati tangisnya. Dia berharap, beberapa saat lagi, Adel bisa merasakan lega pada hatinya.
Tapi ternyata, harapan Budi tidak kunjung terwujud. Sudah cukup jauh jarak yang mereka tempuh, tapi Adel masih juga belum berhenti menangis. Budi mengusap-usap punggung telapak tangan kiri Adel.
“Udah dong, nangisnya. Jangan sampe suaranya ilang, lho!” tegur Budi.
Adel tidak menjawab. Tangisnya malah semakin menjadi. Seolah pecah saat mendengar suara Budi. Ya, dia merasa semakin sedih saat mendengar suara orang yang dia cintai. Suara yang terdengar tegar, seolah tidak terjadi hal-hal yang membuat emosi.
“Kamu kok bisa tegar gitu, sih?” tanya Adel dalam tangisnya.
“Biasa aja, kali” jawab Budi.
“Bram. Dibilang ojol, kamu masih terima?”
“Lah, pernah dulu abram dibilang orang gila”
“Kok bisa?”
“Ha ha ha. itu sih, pengakuan, abram. Kareana nggak ada kata lain yang cocok buat ngegambarin kehebatan abram”
“Ha ha ha”
Budi senang, pancingannya untuk membuat Adel tertawa, berhasil.
“Ada yang lebih konyol lagi, Ta. Kalo yang ini sukses bikin abram kesel” lanjut Budi.
“Apa?”
“Masa Abram dikata tengu?”
“Tengu?” tanya Adel sambil tergelak.
“Iya” jawab Budi.
“Dasar tengu” lanjut Budi menirukan gaya bicara orang yang dia maksud.
“Ha ha ha ha” Adel tertawa.
“Kesel lah, abram. Seganteng gini dikatain, tengu. Tengu kan merah, kecil. Tata tahu kan, tengu suka nempel di mana?”
“Selangkangan” jawab Adel. Dilanjut dengan tertawa.
“Nah, itu” sahut Budi.
“Kok ketawanya geli gitu? Pernah kena, emang?” tanya Budi.
“Pernah” jawab Adel masih sambil tertawa.
“What? Seorang Adel, pernah ketempelan tengu?” seru Budi.
“Ya kan tata dulu suka maen di kebun. Lompat tali, becak-becakan, apalah segala macem”
__ADS_1
“Ha ha ha”
Budi tertawa tanpa berkomentar.
Untuk beberapa saat lamanya, perbincangan terhenti. Hanya Budi yang masih sesekali tertawa.
*PLAK*
“Jangan dibayangin!” Tegur Adel sambil menepuk helm Budi.
“Ha ha ha ha”
Budi semakin keras tertawanya. Membuat Adel semakin gemas. Dia memeluk tubuh Budi. Sesekali dia cubit paha Budi, karena masih tertawa.
Semakin Budi tertawa, semakin banyak cubitannya. Membuat Budi blingsatan. Duduknya sudah tidak tenang. Bergeser ke kanan, bergeser ke kiri, menghindari cubitan Adel. Sampai suatu kali, cubitannya meleset.
“Adow” Budi memekik kaget.
“Ih, segitu penasarannya, bram. Sampe tegang gitu?” komentar Adel. Dia terkejut karena tak sengaja memegang benda yang belum pernah dia pegang.
“Astaghfirulloh, ampun ya Alloh. Hamba hilaf” sahut Budi.
Adel tertawa mendengar kalimat Budi dengan aksen baim cilik sedang berdoa. Karena gemas, dia peluk lagi tubuh orang yang berhasil mencuri hatinya itu.
“Cubit lagi, dong!” goda Budi.
*NYUUT*
“ADOOOW”
Untuk yang kedua kalinya Budi memekik kaget. Karena Adel benar-benar menuruti permintaan itu. Namun dengan tenaga yang jauh lebih kuat.
“Aduh, uuhhh”
Budi menunduk sambil memegangi perutnya. Laju motornya juga melambat dengan signifikan.
“Bram, kamu nggak papa?” tanya Adel panik.
Dia tidak menyangka kalau candaannya menimbulkan efek buruk. Budi menepikan motornya.
“Aduh, mules, ta. Sembarangan banget kamu nyubitnya” jawab Budi, mengomel.
“Lah, tadi minta” kilah Adel.
Budi tidak menjawab. Dia masih menunduk memegangi perutnya. Juga yang ada di bawahnya.
“Kok tadi yang pertama nggak papa?” lanjut Adel.
“Yang ini terlalu ke bawah, tata. Di situ sih, nggak bisa negang. Segitu-gitu aja. Aduuh”
“Oh, waduh. Maaf bram. Tata nggak sengaja. Pantesan empuk. Hehe” sahut Adel sambil cengengesan.
“Astaghfirulloh”
Adel malah makin lepas, tertawanya, mendengar keluhan Budi. Di antara rasa bersalahnya, dia juga merasa ini adalah pengalaman terlucu di sepanjang sejarah hidupnya.
Budi sempat turun dari motor, dan mengolah pernafasannya. Walau hawatir, tapi Adel masih beberapa kali kelepasan tertawa.
Membuat Budi akhirnya ikut tertawa. Sempat budi melayangkan tangannya ke helm Adel. Tapi dengan sigap Adel menangkis tangan Budi.
Terjadilah aksi serang dan tangkis. Adel tertawa melihat kekasihnya kesal, belum berhasil menampar helmnya. Adel mengusap-usap perut Budi.
“Bukan di situ, ta. Kurang ke bawah” tegur Budi.
“Eh, eh”
Budi memekik kaget. Karena, apa yang dilakukan Adel, ternyata berbeda dengan dugaannya. Awalnya dia mengira kalau Adel mengulurkan tangannya untuk mengusap bagian yang bekas dicubitnya.
Ternyata Adel malah melayangkan tangannya, seperti hendak menampar. Adel tertawa lepas, saat mengetahui Budi reflek menangkis ayunan tangannya.
Budi kembali mengolah pernafasannya. Menyempurnakan olah pernafasannya yang sebelumnya. Agar rasa mules di perutnya bisa hilang sama sekali. Setelah beberapa menit mengolah pernafasan, budi kembali naik ke atas motornya. Dan mereka melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
***