Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
gebrakan pertama budi


__ADS_3

“Loh, itu kenapa, rame – rame?” celetuk Budi.


Adel merasa bagai ditarik dari alam lain. Dia sempat kebingungan dengan keadaan di sekitarnya. Tapi beberapa saat kemudian, dia mulai bisa memahami sekitarnya.


“Pak Janto, ada pak pak?” tanya Budi.


Terlihat pak Janto terngah – engah, seperti habis berlari jarak jauh. Sekian pasang mata langsung mengarah ke arah datangnya Budi. Ibunya juga ada di antara orang – orang yang berkerumun itu.


“Ini, Bud” jawab pak Janto, menunjuk ban belakang motornya.


“Astaghfirullohal’adzim” seru Budi. Adel juga menggumam kata yang sama.


“Kok bisa sobek, pak?” tanpa sadar Adel bertanya.


“Iya itu, mbak. Tadi ada yang deketin motor Budi. Dua orang, pake motor bebek. Aku pikir ,mau parkir, emang lagi penuh kan. Ya udah, aku biarin. Eh nggak tahunya, ngeluarin pisau. Dan langsung ditancepin ke ban motornya Budi” jawab pak Janto.


“Terus orangnya kabur, pak? Nggak dikejar?” tanya Adel lagi.


“Udah dikejar. Tapi lincah banget. Jalanan sempit aja berani banget ngebut. Kaya udah hafal jalan aja. Tahu – tahu ngilang” jawab pak Janto


“Iya, kalo kena sih, udah kita gebukin rame – rame” kata orang yang di sebelahnya.


“Udah, nduk. Ini emang cobaan buat Budi” kata bu Ratih menenangkan.


“Ya Alloh, ada – ada aja sih. Kurang kerjaan apa gimana?” keluh Adel.


“Emang kerjaannya kali, mbak” celetuk tukang parkir.


“Ya udah, bapak – bapak. Makasih ya, atas bantuannya. Lemah teles pak, nggeh. Gusti Alloh yang bales” kata Budi.


“Sama – sama, Bud. Ayo naikin mobil, aku anter ke sirnoboyo. Ada bengkel situ, kanan jalan” jawab pak Janto, mewakili semua yang membantu.


“Nggak usah, pak. Waktunya bapak dinas kembali. Entar Budi dorong aja. Deket ini”


“Udah ayo. Nggak usah hawatir, mbak Adelnya aman sama bu Ratih” bujuk pak Janto.


Budi sedang dilema. Di satu sisi, meang akan lebih cepat kalau menumpang mobil pick up pak janto. Tapi di satu sisi, dia merasa tidak sopan harus meninggalkan Adel.


“Niat baik orang jangan ditolak” saran Adel.


Budi menoleh ke kiri.


Senyum Adel membuatnya merasa tenang. Paling tidak, Adel tidak menunjukkan rasa tersinggung, dengan tawaran pak Janto.


“Entar aku ke situ, kalo udah mau pulang” lanjut Adel.


“Oke deh” jawab Budi, akhirnya.


Budi menggeser motornya naik ke area blok ikan laut. Lantai blok ikan laut memang lebih tinggi dari tanah di sekitarnya. Rata dengan bak mobil pak Janto. Budi menaikkan motornya melalui jalan yang sedianya diperuntukkan bagi kaum difabel. Sedangkan pak Janto, memundurkan mobilnya di area khusus bongkar muat polyfoam ikan laut. Lalu, dimuatlah motor Budi ke atas bak mobil itu.


Setelah diikat dengan benar, Budi dan pak Janto langsung pamit. Adel memberi Budi senyuman yang setengah dipaksa. Wajahnya terlihat sedih. Helaan nafas beratnya seolah mengkonfirmasi kesedihannya.


****


Pagi ini Budi tetap membantu ibunya membuka lapak. Walau hari ini dia harus mulai bekerja di PT. PRAM. Budi tidak mengijinkan putri menggantikannya. Walau dia tahu, putri sudah biasa membantu ibunya membuka lapak. Tapi dia ingin berbagi tugas.


"Kamu pastiin rumah kita rapi! kan nggak lucu, cewek cantik kamarnya kaya kapal pecah. oleng kapten?" perintah Budi.


Sebagai remaja, Putri harus sudah mulai belajar mengurus rumah. Kalau pengen jadi wanita karir, Putri harus bisa membereskan rumah dengan waktu yang terbatas ini.


Kalau Putri belum bisa, kata Budi, Putri tidak akan mendapatkan sudat ijin menikah dari Budi. Karena sekarang, Budilah wali untuknya. Putri sempat merajuk mendengar ucapan Budi itu. Tapi dia juga merasa tertantang untuk membuktikan pada Budi, kalau dia bisa melakukannya.


Budi hanya tersenyum saat ibunya memperingatkannya, agar jangan pegang ikan. Karena dia sudah mandi. Tidak enak kalau aroma ikan itu terbawa sampai ke tempat kerja barunya.


"Iya, bu. Tenang!"


Tapi dasar Budi, dia tidak mengindahkan peringatan ibunya. Target akhirnya adalah, lapak ibunya sudah siap melayani pembeli.


Dia punya cara tersendiri untuk menghilangkan aroma ikan yang menempel di tangannya.


"Budi ke belakang dulu ya, bu?"


Selesai membuka lapak ibunya, Budi segera bebersih, dan berganti pakaian. Seragam putih nan rapi itu sudah mengiasi tubuh atletisnya. Membuat ibu – ibu pedagang ikan bercanda menggodanya. Setelah sarapan dengan bekal yang dibawa dari rumah, budi segera berpamitan.

__ADS_1


“Hati – hati ya ngger. Doa ibu selalu bersamamu”kata Bu Ratih.


“Terimakasih bu. Assalamu’alaikum” pamit Budi


“Wa’alaikum salam”


Bu Ratih mengiringi kepergian putranya dengan doa sepenuh hati. Sampai tidak sadar kalau matanya berkaca – kaca. Dia sangat bersyukur, Alloh memberikan jalan bagi anaknya menemukan pekerjaan lagi.


Di parkiran, Budi sempat bertemu dengan si resepsionis cantik kemarin. Namanya Marsya. Begitulah dia memperkenalkan dirinya. Orangnya periang dan murah senyum.


"Congrat ya, mas"


Marsya memberikan selamat kepada Budi, yang telah diterima menjadi bagian dari perusahaan ini. Budi mengucapkan terimakasih. Dan mereka berpisah di depan pintu lobbi.


Walau ada pintu tembus dari lobbi menuju office, tapi Budi lebih memilih untuk masuk lewat gerbang workshop. Sekalian dia berkenalan dengan karyawan lain yang kebetulan berpapasan dengannya.


“Hei, Bud. Ceria banget kayaknya”


Panggilan seseorang mengalihkan perhatiannya. Ternyata teman satu kantornya.


“Hei, Aldo. Sehat, do?” sapa Budi juga.


“Alhamdulillah, sehat. Kamu ceria banget pagi ini” tanya Aldo lagi.


“Iya, alhamdulillah. Baru masuk langsung diajak kenalan sama bapak kepala departemen Frame. Gimana nggak seneng coba? Di tempat lain, mana ada?” jawab Budi.


“Ah, kamu Bud, bisa aja” kilah si leader.


“Pak Teguh sih, emang orangnya baik. Sama aku juga gitu, dulu” puji Aldo.


Pria paruh baya itu tersenyum dipuji kedua juniornya itu. Mereka lantas masuk ke dalam workshop. Mereka berpisah di depan office. Di dalam, ternyata Riki sudah lebih dulu datang. Dia menyambut Budi dan Aldo dengan senyum lebar. Ketiga personel itu tampaknya sudah siap untuk bekerja.


“TUIIIIT”


Bel tanda mulainya jam kerja telah berbunyi. Langsung saja, masing – masing departemen berkumpul membentuk formasi masing – masing.


Mereka melakukan breifing singkat untuk mengawali pekerjaan pagi hari ini.


Tak terkecuali dengan divisi atau lebih tepatnya disebut tim PPIC. Mereka membentuk formasi yang paling kecil diantara yang lainnya. Tapi tampak sama seriusnya dengan divisi lain.


Aldo yang paling senior memaparkan target dari marketing. Ada beberap PO yang harus dipenuhi di minggu ini. Jadwalnya agak mepet. Jadi tidak diijinkan terjadi keterlambatan berkepanjangan.


Aldo juga menjelaskan bahwa dia sekarang memegang logistik, karena departemen frame sudah diserahkan ke Budi. Jadi sudah saatnya Budi menjawab ekspektasi dari pak Paul.


"Mengenai departemen frame, aku rasa mereka terlalu santai, Bud. Mereka nggak peduli sama apa yang jadi kesulitan kita. Ya, itu karena mereka orang-orang sekitar, sih. terutama di bagian finishing. Pada dasarnya mereka itu preman. Susah diajak bicaranya. kerjaan haampir nggak pernah tepat waktu. jadi, marketing juga sering kelabakan mutar otak buat atur ulang jadwal" kata Aldo menjelaskan tentang departemen frame.


"Yang sebelah sini, gimana?" tanya Budi.


"Seksi preparation juga gitu. Udah dibuat jadi dua orang aja, masih keteteran. Mana yang satu sering sekali sakit. Sakit matalah, batuklah, sesaklah. Bikin seksi welding suka nganggur, ketelatan bahan" jawab Aldo.


Budi mengerti. Dia tidak mengatakan kalau dia punya rancangan untuk departemen frame. Peringatan dari Aldo, merupakan tantangan tersendiri bagianya. Dia juga harus menunjukkan pada Aldo, bahwa tidak ada siapapun yang bisa menjadi penguasa, dan bertindak sesuka hatinya.


Budi mencatat target yang diberikan Aldo. Target itu harus terpenuhi hari ini. Budi mempertanyakan logistik untuk frame.


Aldo memaparkan datanya tentang jenis – jenis bahan yang biasa dipakai. Termasuk kode produk, bentuk, dan juga jenis material yang digunakan. Budi menyalin data itu ke dalam buku sakunya.


"Oke. Kita ngumpul lagi setelah coffie break"


Aldo meminta Budi dan Riki untuk berkumpul lagi pukul sepuluh, untuk membahas progres yang dicapai. Selepas itu, mereka berdoa, lalu keluar menuju daerah tanggung jawab masing – masing.


Budi langsung berjalan menuju area frame. Pak Teguh langsung menyambut. Kebetulan beliau sedang mengoperasikan mesin rolling.


"Operatornya kemana, pak?" tanya Budi.


Kata pak Teguh, operator satunya lagi tidak masuk, lantaran sakit demam. Budi bertanya mengenai sejarah workshop ini. Tentang tata letak mesin yang terlihat tidak sejalur.


"Dulunya kan nggak seluas ini, Bud. Kamu pasti inget, dulu tempat ini cuman gudang"


"Iya juga sih, pak. Budi juga ingetnya ini gudang. makanya kaget, waktu tahu ada pabrik sekala menengah begini" sahut Budi.


Pak Teguh menceritakan, bahwasannya dulu, hanya ada satu petak ruangan ini. Harus berbagi antara frame, anyaman, office, dan yang lainnya.


Ruang di sebelah, yang sekarang dipakai anyaman, itu bangunan baru. Baru dua tahun yang lalu dibangun. Temasuk area finishing, dan garasi logistik.

__ADS_1


"Dulu, semua mesin posisinya sejajar sama mesin rolling ini. Dari gerbang, sampai tembok tengah itu. Sisi kanan sana, yang sekarang ditempati mesin pres bending dan rak material, semuanya adalah bangunan office. Departemen anyaman, posisinya ada di tengah" kata pak Teguh.


Budi menanyakan perubahan yang terjadi. Tentang tidak tertatanya mesin – mesin ini dengan rapi. Pak Teguh menjelaskan, kalau dulu waktu pergeseran posisi, orang maintenancenya tidak ada.


"Mereka semua resign, karena merasa tuntutan gajinya tidak dipenuhi. Jadinya seadanya orang saja yang geser mesin – mesin ini. Belum juga beres, udah dituntut dengan target yang sangat tinggi waktu itu" lanjut pak Teguh.


"Sekarang kan, ada, pak?" tanya Budi.


"Sekarang, divisi maintenance memang ada, tapi mereka belum berpengalaman. Jadi, kondisi seperti ini, ya bagi mereka terasa normal. Buat mereka, yang tidak normal itu kalau mesin mati atau ada masalah. Selama masih bisa running, ya buat mereka itu tidak ada masalah" jawab pak Teguh.


Budi menanyakan pendapat pak Teguh mengenai tata letak workshop ini. Dia mengakui kalau dia tidak ambil pusing dengan workshop ini. Baginya, yang penting mereka bisa bekerja mengikuti target, itu sudah bagus.


Budi tersenyum. Dia tidak melanjutkan perbincangan. Dia merasa ada tekanan batin di sana. Dan Budi tidak mau suasana akrab ini menjadi berubah dalam hitungan menit.


"Kalo gitu, Budi ke sana dulu ya, pak" amit Budi.


"Silakan" jawab pak Teguh.


Satu per satu budi sapa, yang sedang senggang dia ajak berbincang sebentar. Sambil menghitung jumlah unit yang sudah siap finishing, maupun yang sedang proses. Kalau dihitung waktu, kalau mereka konsisten dalam bekerja, seharusnya targetnya bisa terpenuhi.


"Ya udah, kita udah begini dari dulu. Kerja kan sesuai sama gaji. Gajinya pas-pasan kok minta lebih. Kalo perusahaan kasih bonus gede tuh, baru"


Dari sini, Budi mempunyai gambaran, bahwa dugaan yang dia sampaikan kemarin, ada yang terbukti. Mereka bekerja dengan apa adanya. Membatasi kreatifitas mereka sesuai dengan apa yang mereka terima. Informasi mengenai alur bagaimana bonus akhir tahun itu bisa tercapai, tidak sampai pada mereka.


Budi bergeser ke balik tembok, ke deretan ruang finishing. Dia berkenalan dengan karyawan yang Aldo bilang masih satu geng. Dari kelima orang itu, ada satu orang yang sikapnya lebih mendominasi.


"Gua Dino"


Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Dino. Dia mengaku sebagai leader di seksi finishing. Meski pada kenyataannya, mereka semua ada di bawah komando langsung departement head.


Saat Budi mendatangi mereka, kelima orang itu sedang asyik berbincang sambil menyeruput kopi. Kelima – limanya sedang duduk lesehan meninggalkan pos masing – masing. Padahal, baru beberapa rangka mebel yang sudah mereka selesaikan.


“Mas, kita punya target yang harus kita penuhi. Jadi, ngopinya sambil kerja ya” tegur Budi. Si Dino tampak tidak suka.


“Udah, tenang aja. Pokoknya jam lima, beres semua targetnya” jawab Dino.


“Jam lima beres?”tanya Budi menegaskan.


“Beres. Biasanya juga beres” sahut orang yang mengenalkan diri sebagai Dirman.


“Beres dari sini sudah jam lima. Kelar di anyam, jam berapa, mas?” tanya Budi.


“Bukan urusan kita, lah. Ngapain kita ngurusin urusan orang? Kelar jam berapa, itu urusan mereka” jawab Dino.


“Mas, setiap keterlambatan, itu ada dendanya. Denda dari pemesan, denda dari transportasi, bea cukai, banyak mas"


“Urusan yang punya pabrik, lah. Bawahannya kan banyak, orang pinter – pinter. Suruh mereka aja buat mikirin gimananya. Susah amat sih?”


“Terus, buat apa kalian di sini?” tanya Budi menjurus.


“Kalian dibayar buat kerja, dan mikirin urusan perusahaan. Kalo cuman mau ngopi, di warung, bukan di sini”


“Eh, orang baru. Banyak bacot lo. Lo nggak tahu siapa gua, ha?” teriak dino. Sekonyong – konyong dia berdiri dan mencengkeram kerah baju seragam Budi.


“Ha ha ha ha. Gua nggak pikun, mas. Kan lo udah nyebut nama, tadi, Dino”


“Ya lo tahu nggak, siapa Dino?” tanya Dino lagi.


“Tukang cat, kan? Emang siapa? Germo?” jawab Budi masih dengan cengengesan.


“BANG*** “ umpat Dino


“HYAAA” Dino melayangkan tinjunya ke arah muka Budi.


BUUAAAKKK


Sebuah pukulan keras telak mendarat di pipi kiri Budi. Tapi tidak sedikitpun membuat Budi bergeming. Wajahnya saja tidak berubah arah. Tatapannya masih lurus menatap mata Dino.


ASTAGA


Dino mulai gentar hatinya, melihat pukulan kerasnya tidak mampu memalingkan kepala Budi, apalagi menjatuhkannya.


Budi tersenyum, lalu menatap ke arah Dirman dan yang lain. Mereka tampak mundur selangkah. Budi mengambil buku catatannya, dan memberikan mereka secarik kertas berisi angka.

__ADS_1


“Ini target kalian untuk jam empat sore nanti” kata Budi.


Dirman serasa terpaksa saat menerima secarik kertas yang disorongkan Budi. Budi menepuk pundak Dirman, dan berlalu melewati Dino tanpa meliriknya. Seolah Dino tidak ada di sana.


__ADS_2