
Bud. Berhentilah nyalahin dirimu sendiri. Namanya kecelakaan, siapa yang tahu? Dan cowok mana, yang tahan ngadepin godaan sebegitu indahnya? Adepin dia! Biasa aja! kalo dia belum tahu, kamu nggak perlu kasih dia tahu. Kejujuranmu untuk hal itu, sangat tidak diperlukan. Kasih sayang dan perhatian penuhmu padanya itulah, yang sangat dia perlukan. Juga kesungguhanmu untuk tidak pernah lakukan hal itu lagi!
Bel tanda istirahat pun berbunyi. Budi langsung memeriksa hasil sementara yang telah dicapai tim produksi. Sampai sejauh ini, sudah lima puluh persen dari target itu yang terpenuhi. Artinya, masih on schedule.
Budi berjalan keluar pabrik dengan sedikit lesu. Ketika disapa teman-temannya, dia bilang sudah lapar. Dan semuanya bisa maklum.
Sesampainya di kafe yang disepakati, ternyata Adel belum datang. Budi tidak menemukan si merah marun, kembaran dari motornya. Dia juga memindai di santero kafe ini, barangkali dia sudah duduk di dalam. Karena tidak ada larangan buat dia menumpang sama temannya, atau memakai layanan ojol. Tapi ternyata nihil.
“Kayaknya dia ada kelas tambahan, nih. Lama nggak ya?” gumam Budi.
Dia memesan dua es jeruk sebagai pembukanya. Dia menempati satu-satunya meja yang tersedia. Dia menelepon Adel, tapi tidak mendapatkan jawaban. Dia bisa maklum. Dia menduga kalau Adel sedang mengendarai motornya. Jadi dia tidak mendengar ada telepon masuk.
“Hai. Ikut, dong!”
Budi yang sedang bermain ponsel, tersentak dengan sapaan itu.
“Van?”
Ternyata itu adalah Stevani. Untuk kesekian kalinya dia merasa keheranan. Dari sekian banyak orang, entah itu perempuan ataupun laki-laki, mengapa harus dia lagi? Rasa heran itu membuatnya lupa untuk mengatakan kalau sebenarnya dia sedang menantikan seseorang. Dan Stevani,dengan entengnya, langsung duduk di depan Budi, padahal Budi belum memberikan jawaban.
“Bram?”
Terdengar lagi sebuah sapaan. Seorang wanita dengan jaket hijau khas pilot jet tempur, sedang berdiri di sebelahnya. Budi sempat pangling. Tapi dia langsung tahu, saat wanita itu melepas kacamatanya.
“Ta”
Budi sontak memanggil dan berdiri, saat wanita itu berjalan keluar lagi. Budi mengejarnya.
“Tata, tunggu dulu!” pinta Budi. Dia meraih lengan Adel, dan menahannya.
“Kenapa harus nunggu? Lanjut aja! nggak papa, kok” kata Adel pelan.
“Ta, kamu salah paham”
“Salah apanya? Mata aku masih normal. Kaca mata item nggak bakal bikin kursi kosong, jadi ada orangnya”
Budi terkejut. Ini pertama kalinya dia melihat Adel marah. Dan ini untuk pertama kalinya juga, ada wanita yang berani keras padanya.
“Ya tapi kejadiannya nggak seperti yang kamu duga, ta”
“Apanya yang salah dari dugaan aku? Iya. Aku salah menduga. Aku pikir, kata-kata kamu emang mencerminkan hati kamu. Ternyata ada cewek lain yang bikin rontok hati kamu. Berarti yang tempo hari itu, gombal doang, dong?”
“Ta, kok jadi ngawur gitu ngomongnya? Aku baru aja duduk. Tahu-tahu dia datang, terus ikut duduk. Baru itungan detik, tata nongol”
“Mana ada? Udah, deh. Nggak usah ngarang cerita!”
__ADS_1
“Tapi emang nyatanya gitu, mbak” sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Stevani mendatangi mereka.
“Aku yang salah, mbak. Aku nggak tahu kalo Budi, sedang nungguin orang. Kebetulan, cuman kursi itu yang masih kosong. Kalaupun itu bukan Budi, aku pasti akan ke situ juga. Karena itu Budi, aku nggak pake ijin lagi. Langsung nyelonong aja” lanjut Stevani.
Budi tertegun, dia masih bingung harus bereaksi bagaimana. Dua wanita yang membuat hatinya ketar-ketir, kini malah bertemu
“Kamu?”
“Aku Stevani. Aku bukan siapa-siapanya Budi. Aku cuman teman kantornya aja” jawab Stevani. Dia menunjukkan kartu pengenalnya. Adel tampak membaca tulisan dalam kartu pengenal itu.
“Sekali lagi, aku minta maaf, udah bikin kalian salah paham. Aku bener-bener nggak tahu, dan nggak punya maksud apa-apa” lanjut Stevani. Ahirnya Adel menganggukkan kepalanya.
“Maafin aku juga ya, mbak! Udah bikin kaget” kata Adel.
“Iya, nggak papa. Aku pindah, ya?” pamitnya.
“Makasih” sahut Adel.
Budi menghela nafasnya. Walau masalahnya sudah disampaikan dengan gamblang, tapi dia belum bisa tenang. Adel masih tampak diam, dan memandangi Stevani.
“Hem. Kamu itu terlalu ganteng, buat dianggurin cewek-cewek, bram” celetuk Adel.
“Maksudnya?”
“Jangan bikin tata jantungan, bram! Tata minder liat dia” bisik Adel di telinga Budi.
“Vani itu, bagian apa, bram? Sekantor?” tanya Adel.
“Oh, bagian marketing. Iya, sekantor”
“Kenapa?” tanya Budi.
“Tata minder, bram. Cantik banget, dia”
“Kenapa minder? Kan tata juga cantik banget” goda Budi.
“Tapi dia montok, bram” jawab Adel pelan.
Dia bicara sambil menyorongkan kepalanya mendekat ke kepala Budi. Dan tangannya mencubit lengan Budi.
“Ha ha ha” Budi tertawa geli campur kesakitan.
“Eh, Bram. Kalo kalian sekantor, berarti tiap hari ketemu, dong?”
“Iya. Tiap pagi kan, orang marketing selalu ngasih target”
__ADS_1
“Emang orang marketingnya cuman dia?”
“Ada empat, sih. Tapi yang dua, sifatnya freelance. Jarang dateng ke pabrik. Yang asli karyawan, cuman dua. Tapi mbak farah kan, manager. Dia punya hak buat kasih perintah. Nah, dia yang kena apeknya. Tiap pagi disuruh ngasih target ke PPIC” jawab Budi.
“Hem”
“Aduuh”
Adel mendehem, dan Budi mengaduh. Ternyata Adel mendehem sambil menginjak kaki Budi.
“Seneng, ya. Tiap pagi disamperin cewek cakep mulu”
“Ha ha ha ha”
“Weh, malah ketawa”
“Aduh, aduh, aduh. Sakit Ta”
Adel mencubit lagi tangan Budi. membuat Budi kesakitan lagi. Tapi dia masih tertawa juga.
“Kalo secara personal sih, ada Aldo yang nerima target itu”
“Aldo?”
“Ya, senior abram” jawab Budi.
“Dia yang selalu nemuin kalo Vani ngasih lembaran target. Dia juga yang diskusi sama vani”
“Kok, ada yang lebih tinggi dari abram? Kata Erika, abram itu laporannya langsung sama kepala pabrik? Harusnya abram dong, yang nerima”
“Ya, itu peraturan tidak tertulis, ta. Abram kan junior, jadi harus nurut sama senior. Apalagi aldo naksir sama Vani. Jangankan diskusi, nerima berkasnya aja nggak dikasih. Kalo udah terlanjur nih, abram yang nerima, apalagi sampe diskusi di depan dia, seharian abram dijudesin”
“Ha ha ha. Masa sih?”
“Beneran. Makanya abram diem aja kalo Vani maen ke kubik abram. Mendingan dijudesin vani daripada Aldo. Daripada kerjaan nggak beres. Ya, kan?”
“Ha ha ha ha. Alhamdulillah”
“Kok alhamdulillah?”
“Iya dong. Artinya abram dijauhkan dari godaan dia, yang lebih semok dari tata”
“Ha ha ha ha”
Budi tertawa geli. Kalimat Adel yang terakhir itu, terdengar lucu di telinganya. Percakapan mereka terhenti, karena soto pesanan mereka telah tiba. Mereka segera menyantap menu segar itu. karena waktu Budi tidak panjang. Begitu juga dengan Adel.
__ADS_1
Terpaut jarak beberapa meja dari mereka, Stevani tampak tidak berselera, makannya. Sekian detik sekali, matanya melirik ke arah Budi dan Adel. Rasa cemburu tergambar jelas di raut wajahnya. Tapi dia juga sesekali tersenyum sendiri, kala mengingat apa yang telah dia lakukan bersama Budi dipagi hari kemarin.
*Aku emang pantas buat kamu cemburuin. Aku lebih cantik, aku lebih seksi. Lebih menarik juga, pastinya. Budi aja ngakuin, kemarin*.