Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
zulfikar bucin


__ADS_3

Lamat-lamat, Budi mulai bisa mendengar ada isak tangis di dekat telinganya. Dan dia mulai bisa merasakan, ada pelukan di tubuhnya. Ada getaran ketakutan dalam pelukan itu.


Ya, Erika merasa takut akan dibenci oleh Budi. Dia merasa sangat bersalah atas salah satu tindakan yang telah dia ambil, saat harus memisahkan Budi dari Adel. Cara yang terlau kasar. Walau pada akhirnya, cinta Budi dan Adel malah semakin besar. Hanya wasiat pak Fajarlah, yang benar-benar memisahkan mereka.


Perlahan tapi pasti, Budi juga mulai sadar akan situasi di sekitarnya. Sadar akan tatapan Sephia, yang juga dihinggapi rasa takut.


Karena dia sadar, sedang berhadapan dengan seseorang yang pernah dididik oleh prajurit aktif. Yang di atas kertas, dia pasti akan kewalahan menghadapinya. Bahkan mungkin dia akan sangat mudah dikalahkan.


Budi juga mulai menyadari, ada ibunya, adiknya, kakak sebapaknya, juga menatapnya penuh tanda tanya. Termasuk Madina dan mantan calon mertuanya. Semuanya bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi.


Budi menghela nafas panjang. Dia memilih untuk berdamai dengan kenyataan pahit itu. Dia memilih untuk merelakan kenyataan, bahwa yang memfitnahnya dulu adalah orang yang sekarang dia ambil sebagai kekasih.


Dia juga memilih untuk merelakan kenyataan, bahwa Sephialah, dalang dari rentetan pesan singkat, yang membuatnya dua kali masuk rumah sakit.


Budi mengusap-usap punggung Erika. Dia berbisik di telinga Erika, bahwa dia sudah mengiklaskan semuanya. Dan Budi mengajak Erika untuk kembali fokus pada apa yang akan mereka hadapi.


Erika melepas pelukannya. Dia menatap mata Budi dengan lekatnya. Dari sorot matanya, Budi bisa membaca, ada banyak sekali kata yang ingin Erika sampaikan.


Budi menganggukkan kepalanya. Seulas senyum dia berikan pada kekasihnya itu. Membuat Erika malah semakin sedih.


Budi mengulurkan tangannya, menyeka air mata yang terus keluar membasahi pipi kasihnya.


Perlahan, Erika juga mulai menata hatinya. Seperti sebelumnya, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang telah Budi berikan. Terlepas, apakah nanti Budi masih mau bersamanya atau kembali kepada adiknya.


“Ada berapa batang kayu yang harus kita angkut? Satu fuso cukup?” tanya Budi, sambil mendekat ke arah Sephia. Erika, sudah pasti menyertainya.


Dari lorong menuju dapur, bu Ratih terkejut mendengar pertanyaan Budi. Tapi dia paham, bukan makna sebenarnya dari kata kayu tersebut. Bu Ratih menatap pak Paul, meminta pendapat. Pak Paul menggelengkan kepalanya, tanda tidak tahu.


“Terlalu banyak, mas. Terlebih, kita cuman punya pick up” jawab Sephia.


*Yang, hujan turun lagi. Di bawah helem baja kuberlindung*.....


Terdengar dering salah satu ponsel. Tapi tak segera direspon oleh pemiliknya. Budi tidak menghiraukan, karena dia tahu, itu adalah dering ponsel Putri. Dia masih fokus memperhatikan layar laptop Sephia.


*Yang, hujan turun lagi. Di bawah helem baja kuberlindung*.....


Nada dering yang sama berkumandang kembali. Budi masih fokus memainkan mouse dan keyboard laptop Sephia, memikirkan beberapa strategi.


*Yang, hujan turun lagi. Di bawah helem baja kuberlindung*.....


Kali ketiga, nada dering yang sama kembali berkumandang. Untuk kali ini, Budi merasa terganggu. Dia langsung menoleh ke arah Putri. Tatapan matanya langsung bertemu dengan mata Putri. Budi menggerakkan kepalanya ke atas sekali, sebagai isyarat bertanya.


“Zulfikar”


Madina, yang ada di belakang Putri, menjawab pertanyaan Budi. Sontak Budi terkejut. Emosinya kembali menggelegak.


“Aku punya ide, mas” seru Sephia.


“Nggak” sergah Budi. Sephia terkesiap.


“Semua tentang Zulfikar, aku nggak mau. Aku nggak mau berurusan sama dia di masa depan” lanjut Budi, menjelaskan.


“Loh. Tapi sebelumnya mas Budi setuju dengan ide Erika. Walaupun nggak jadi dieksekusi” protes Sephia.


“Phia!” tegur Erika, lirih.


Sephia langsung terdiam. Dia menatap Budi dengan perasaan bercampur aduk. Antara tersinggung, dan sedikit rasa takut. Untuk beberapa saat, terjadi keheningan.


“Apa rencanamu?” tanya Budi, kemudian.


Gantian Erika yang terkejut. Dia sempat menoleh pada Budi dengan tatapan penuh tanda tanya.


Sephia juga tak kalah kagetnya. Dia masih menimbang-nimbang,apakah pertanyaan Budi itu serius, apa hanya sindiran saja. Tapi tatapan mata Budi membuatnya yakin, kalau Budi benar-benar bertanya.


“Aku pikir, Zulfikar benar-benar kemakan perasaannya sendiri. Dia beneran bucin sama Putri. Kita bisa arahin dia buat ngelakuin apa yang Erika pengen” kata Sephia lirih, menjawab pertanyaan Budi.


“Come on! Dia bisa nipu Erika. Lu pikir dia sepolos itu?” sanggah Budi, lirih juga.


Sephia tidak menjawab. Dia mengambil sebuah buku catatan di lemari tivi. Kebetulan ada penanya juga. Dia menuliskan serangkaian kata, lalu menunjukkannya pada Budi.


*Dia buron mas, sekarang. Dia nggak punya akses secara langsung ke jaringan internet. Dan nggak mungkin dia lakuin itu*.


Budi agak bingung membaca tulisan Sephia. Kata ‘langsung’ seolah menguatkan tindakannya, menjawab dengan tulisan, bahwa masih ada kemungkinan Zulfikar punya mata dan telinga di tubuh kepolisian sendiri.


Berarti, kemungkinan untuk Zulfikar bisa mendengar dan melihat ke dalam rumah ini masih sangat besar. Lalu bagaimana Sephia bisa yakin, kalau Zulfikar bisa diperalat?


*Terus*?


Budi menangapi tulisan Sephia dengan tulisan juga. Sephia memanggil Putri dan Madina, setelah membaca tulisan Budi. keduanya mendekat.


*Saat Zulfikar menelepon, Madin yang angkat. Madin harus bilang kalau Putri sudah tidak mau lagi untuk bicara lagi dengan dia. Tebakanku, kalau bukan ngeyel pengen bicara dengan Putri, bisa jadi Zulfikar akan meminta koordinat rumah yang akan dituju Erika. Di situ kita kasihkan koordinatnya. Kita lihat, seberapa kemampuan Zulfikar. Dan seberapapun banyaknya orang yang dia bawa nanti, sudah cukup membantu untuk mengurangi jumlah penjaga yang melindungi si Bejo*.


Budi mengernyitkan keningnya saat membaca tulisan Sephia. Dia merasa ada yang janggal di jawaban itu. Apakah akan semudah itu, seorang Zulfikar akan memerangi induk komplotannya sendiri, hanya demi seorang Putri?


*Konyol. Si Bejo itu induk semangnya. Nggak mungkin si Panjul bakal merangin dia. Bakal lebih aman kalo dia ngumpet di sana. Awas lu, jangan kejebak*!

__ADS_1


Untuk kedua kalinya Sephia melotot karena komentar Budi. Tapi dia berusaha sabar.


*Zulfikar itu, nggak bener-bener tunduk sama si Bejo. Dia itu tunduknya justru sama si juragan buah, Frida. Zulfikar itu, adalah anak yang pernah dipungut Frida, dan dijadiin simpanan, sejak Zulfikar masih SMP. Tepatnya sejak ditinggal pak Daud bertugas di kota ini. Zulfikar sendiri masuk polisi bukan karena kemauannya sendiri, melainkan perintah dari Frida. Sebagai back up dari dalam. Dan si Frida, pengen mengkudeta kekuasaan si Moreno. Dia pengen ngambil alih kekuasaan papanya dulu*.


Kali ini, bukan hanya Budi yang terkejut, Erika juga ikut terkejut. Rupanya dia belum tahu tentang informasi yang dikatakan Sephia.


*Tahu dari mana? Siapa telinga kamu di lapas*?


Budi tak langsung percaya. Dia malah semakin curiga dengan Sephia.


*Isma*


Jawaban singkat, yang membuat Budi tergelak. Bagaimana tidak, Isma adalah orang yang disangkakan menjadi otak intelektual kasus ‘son of pegassus’. Dan operator program itu tak lain adalah Sephia sendiri.


Bagaimana dia bisa memenjarakan teman seperjuangannya sendiri? hal yang tidak masuk akal, menurutnya.


Sephia tahu, Budi tidak percaya padanya. Dia merebut buku itu, dan menuliskan lagi sekian baris kata.


*Aku tahu, mas Budi nggak percaya sama omonganku. Tapi percayalah, dia sendiri yang meminta itu padaku. Dan dia nggak merasa tersiksa di lapas sana. Buat dia, gampang aja kalo mau keluar penjara. Silakan tanya kode ini pada si Cobra! 1266743*


Budi mendelik pada Sephia, setelah membaca tulisan itu. Dia merasa semakin aneh pada Sephia. Tapi tak ada cara lain untuk membuktikan, kecuali bertanya langsung pada si Cobra. Budipun mengambil ponselnya.


*Paijo mumet ndase, ditingal bojone*....


Terdengar dering ponsel saat Budi sedang menghubungi si Cobra. Budipun menoleh ke arah depan rumah, sumber suara dering ponsel itu. Dari kaca depan, tampak seorang petugas polisi mengacungkan ponsel yang berdering itu pada Budi.


“Manggil aja, bos! Ngapain nelpon?” kata petugas itu, setelah menerima panggilan Budi.


“Loh?”


Budi terkejut saat mendengar suara yang keluar dari ponselnya. Jelas sekali itu adalah suara si Cobra. Tapi pakaiannya seragam dinas kepolisian.


Budipun melambaikan tangannya, memanggil sosok polisi yang berjaga di depan rumah itu. Polisi itu berjalan masuk sambi membuka masker yang sedari tadi dia kenakan.


“Cobra?”


Tak hanya Budi yang terkejut. Rupanya Sephia sendiri tak mengetahui kalau yang ada di depan itu ternyata adalah si Cobra.


“Bukannya lu tadi beresin peralatan?” tanya Sephia.


“Emangnya beresin segitu doang perlu sampai lima orang?” sahut si Cobra.


“Yang lain?” tanya Budi.


“Ada, nyebar” jawab si Cobra.


Diapun langsung menyerahkan buku yang menjadi media komunikasi antara dia dan Sephia. Secara langsung Budi menunjuk tulisan yang paling bawah.


“Heemm?”


Si Cobra tampak terkejut membaca deretan angka di akhir tulisan itu. Serta merta dia menoleh ke arah Sephia. Tak ada kata yang keluar, membuat Sephia bingung ditatap sebegitu rupa. Beberapa saat kemudian, si Cobra mengambil pena dan mulai menulis.


*Sersan dua infanteri, Nabila Oriza, alias Isma Damayanti. Grup tiga, kopassus*.


Budi terbelalak membaca tulisan si Cobra. Terkonfirmasi sudah, apa yang dikatakan Sephia.


*Sreeekkk*


Si Cobra langsung merobek kertas tempatnya menulis. Lalu dia merogoh koceknya. Ternyata dia mengambil korek api. Dengan korek api itu, dia membakar kertas berisi informasi sangat sensitif itu.


Erika sempat protes, karena belum sempat membaca tulisan itu. Tapi si Cobra tampak tak peduli.


*Yang, hujan turun lagi. Di bawah helem baja kuberlindung*....


Mereka semua terkejut dengan dering ponsel Putri yang begitu nyaring. Putri menatap wajah kakaknya, meminta petunjuk, apa yang harus dia lakukan. Budi memberikan isyarat agar Putri memberikan ponselnya kepada Madina.


“Halo”


Madina menerima panggilan itu, dan tidak memberikan salam.


“Kok kamu yang ngangkat?”


Suara di seberang sana, sangat jelas itu suara Zulfikar.


“Ya kamu nelpon-nelpon mulu. Berisik, tahu”


“Ya orang nggak diangkat” kilah Zulfikar.


“Putri udah nggak mau ngobrol lagi sama kamu. Hubungan kalian udah end”


“Omong kosong” sergah Zulfikar.


“Pede banget lu bilang omong kosong? Nggak ngaca, lu? Udah ketahuan busuknya, juga”


“Busuk apanya, Madin? Ini semua salah paham. Gua mau ngelurusin ini sama Putri”

__ADS_1


“Apanya yang salah paham?"


“Iya. Gua akui, gua lagi kacau. Soal kebakaran itu, gua dapet infonya dari si Nungki. Karena gua grabag-gerubug, gua ingetnya, Putri yang bilang. Bukan berarti gua bagian dari mereka"


“Eh, Panjul. Bos lu sendiri aja ngakuin kalo lo tuh anak buahnya. Masih aja ngeles”


“Bos siapa?”


“Handono. Alias Karto Marmo. Jangan pura-pura nggak kenal, lu!” jawab Madina.


Tak ada suara selepas itu. Zulfikar terdiam mendengar jawaban Madina. Tapi deru nafasnya masih terdengar jelas di pelantang suara ponsel Putri.


“Din. Please! Tolong bilangin sama Putri, gua terpaksa ngelakuin ini semua. Gua sampe kepusingan tadi, itu karena gua bingung mikirin gimana caranya gua mangkir dari perintah si Handono. Gua nggak mau nyakitin Putri”


“Basi. Omong doang, lu”


“Beneran, Din”


“Apa buktinya?”


“Emang dari tadi bukti gua ngga keliatan?”


“Ya nggak tahu. Emang lu ngebuktiin apaan? Orang seharian nggak nongol, juga”


“Ih. Lu, ah” keluh Zulfikar.


“Ya emang gua nggak tahu”


“Udah deh, Din. Tolong kasihin hapenya sama Putri!” pinta Zulfikar.


“Eh, Panjul. Dari tadi juga hape ini dipegang terus sama Putri. Cuman, karena gua kesel, gua rebut ini hape. Kalo emang dia mau, udah dari tadi dia angkat”


“Haaaah” Zulfikar marah-marah sendiri.


“Ya mending ke sini aja, lah. Kalo lo emang nggak salah, apa yang lo takutin?” saran Madina.


“Justru bagus, bisa nambahin kekuatannya mas Budi” lanjut Madina.


“Kekuatan?”


“Iya. Mas Budi sama mbak Rika mau ngelabrak si Bejo. Kalo lu masih sayang sama Putri, buktiin lah, jangan ngomong doang!”


“Maksud lo, gua gabung sama pasukannya mas Budi?”


“Lha iya”


“Mana mau mas Budinya?”


“Ah terserah lu, deh! Awas ya, jangan nelpon-nelpon lagi! Berisik”


“Eh eh Din. Kemana tujuannya mas Budi?” tanya Zulfikar.


“Mana aku tahu”


“Cari tahu, dong!”


“Buat apa? Apa untungnya gua nyariin info buat lu? lLnya aja nggak ngapa-ngapain"


“Ya gua mau ke sono, lah. Bilangin sama mas Budi! Biar gua aja yang beresin si Bejo”


“Lu kan anak buahnya. Gimana mau ngeberesinnya, Panjul?”


“Gua bukan anak buahnya” seru Zulfikar setengah berteriak.


“Siapapun yang nyakitin Putri, dia musuh gua” lanjut Zulfikar.


“Ya bagus. Buktiin! Komentar Madina.


“Kasih gua alamatnya! Gua berangkat saat ini juga. Besok, gua balik dengan kepala si Bejo”


“Oke. Menarik buat ditunggu” komentar Madina.


“Bilangin ke mas Budi! Abis ini, gua mau bicara empat mata. Gua mau jelasin semuanya”


“Oke” jawab Madina pendek.


“Gua tunggu alamatnya”


“Oke. Gua sms ya?”


“Ya”


*Tuuutt*


Madina langsung memutus sambungan telepon itu. Dia menatap Budi, menanyakan langkah selanjutnya. Budi meminta Sephia untuk menuliskan alamatnya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, alamat itu sudah tertulis di buku yang sama. Dan Madinapun mengirimkan pesan singkat kepada Zulfikar tentang alamat itu. Rupanya Zulfikar masih memonitor. Langsung dia balas pesan itu.


__ADS_2