Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
peringatan untuk budi


__ADS_3

Budi mampir dulu ke kantin pabrik, setelah mencatat temuannya. Dia ingin minum kopi terlebih dahulu. Di kantin, dia bertemu nenek-nenek yang dulu pernah dia tabrak. Ibu dari penjaga kantin pabrik. Mereka pun bertegur sapa dan saling bertanya kabar.


“Jangan terlalu terbawa perasaan, ngger!” kata nenek itu.


Budi bingung dengan ucapan nenek itu. Orang dia menceritakan Putri yang habis kecelakaan, mengapa nenek itu malah memintanya untuk tidak terbawa perasaan.


“Kamu harus lebih waspada dan hati-hati!” lanjut nenek itu. Budi semakin bingung dibuatnya.


“Mohon maaf, mbah. Maksud simbah ini tentang apa ya, mbah? Budi belum paham” tanya Budi.


“Yang akan kamu hadapi ke depan, memang akan membingungkan, ngger” jawab nenek itu. dia tersenyum sesaat.


“Kamu akan mengalami wolak-waliking kasunyatan. Terbolak-baliknya kenyataan” lanjut nenek itu.


“Kenyataan tentang apa, mbah?” tanya Budi semakin penasaran.


“Ya tentang orang-orang di sekitarmu. Siapa yang ada di sampingmu, siapa yang ada di hatimu, siapa sebenarnya si anu, siapa sebenarnya si itu” jawab nenek itu.


Bukannya puas, Budi malah semakin keingungan. Terlalu abstrak untuk bisa dia ambil kesimpulan. Juga terlalu buram untuk dia pahami siapa yang nenek itu maksudkan.


“Mintalah ampun pada ibumu, ngger!” pinta nenek itu.


“Hem?” Budi bingung dengan saran nenek itu.


Akhir-akhir ini dia merasa tidak ada masalah dengan ibunya. Bahkan sampai dia pamitan untuk ke pabrik sini juga, ibunya mengijinkan tanpa bertanya.


“Masih ada yang mengganjal di hati ibumu. Dari masa lalu, yang sangat membekas di hatinya. Tanyalah padanya! Dan mohonlah ampun secepatnya! Insya Alloh. Gusti, sangkan paraning dumadi, akan memberikan petunjuk padamu” kata nenek itu, menjawab kebingungan Budi.


“Ya Alloh. Budi masih punya salah sama ibu?” gumam Budi.


“Baik, mbah. Budi akan bicara sama ibu sekarang juga. Mohon ijin mbah, Budi pulang dulu” pamit Budi.


“Hati-hati, ngger! Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu! Pengetahuanmu tidak seberapa. Mintalah petunjuk sama Gusti Alloh, agar kabut-kabut palsu di sekitarmu, disirnakan!”


*Kabut-kabut palsu? Apa yang palsu? Erika? Dino? PRAM*?


“Oh. Baik, mbah. Terimakasih atas wajangannya” jawab Budi.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


***


Sejak dari pabrik sampai di parkiran rumah sakit, Budi terus memikirkan kata-kata nenek itu. apa kiranya yang dimaksudkan nenek itu?


“Memutuskan?” gumam Budi.


Dia berjalan menuju lobi rumah sakit sambil terus berpikir.


*Yang menjadi rencanaku kan, yang entar malem itu, terus mau nanya ke Aldo soal rotan yang dipotong sedari awal, sama mau ketemu bapaknya Erika*.


Budi mencoba menerka-nerka apa saja yang akan dia putuskan.


*Kalo soal entar malem kan, cuman ngawasin doang. Harusnya nggak ada masalah, kan*?


Muncul satu pertanyaan dari satu hal yang harus dia putuskan.


*Kalo soal rotan, aku kan cuman mau nanya. Kalo itu kesalahan dari supplier, kan cuman ditegur. Harusnya juga nggak jadi masalah. Toh dia yang ngebet pengen masukin rotan mereka ke PRAM. Timbang teguran lisan sih, harusnya nggak jadi masalah besar*.


Pertanyaan keduapun muncul. Terlintas juga ingatan soal keanehan proses tender dan pembelian rotan itu. Sudah speknya dibawah standar, potongannya juga tidak sesuai permintaan. Budi geleng-geleng kepala mengingatnya.


*Kalo soal Erika? Nah, ini yang berbeda. Memang satu keputusan tentang dia akan berefek jangka panjang. Aku emang pengen cepet-cepet ngelamar Erika. Biar sama-sama. Adel punya suami, aku punya istri*.

__ADS_1


Pertanyaan ketiga itu sanggup memperlambat laju jalannya Budi.


*Eh tunggu*!


Budi berhenti tak jauh dari kamar rawat Putri.


*Kok niat aku cuman kaya balas dendam, ya? Cuman kaya pelarian aja, gitu. Apa bisa, sebuah pernikahan hanya dijadikan sebuah pelampiasan? Ya Alloh, apa ini yang dimaksud simbah tadi, ya? Tapi bukannya dulu waktu ekspo, simbah itu pernah bilang ke Hilda, kalo jodohku tuh, Erika*?


Budi jadi bingung sendiri dengan ucapan nenek itu tentang Erika.


*Oh. Apa aku disuruh kalem dulu kali, ya? Aku disuruh merenung dulu, mikir dulu, sebelum mutusin buat ngelamar Erika. Hemm. Kayaknya tinggal kenalan aja sama keluarganya Erika. Apa lagi yang mesti dipertimbangin dalem-dalem? Toh harapanku buat memiliki Adel lagi, kayaknya hanya angan-angan kosong*.


Saking dalamnya Budi berpikir, dia sampai tidak sadar kalau ibunya keluar dari ruang rawat Putri, dan menatapnya dengan bingung.


*Masa iya, tiba-tiba Luki nyerain Adel? Nggak mungkin banget. Kadal mesir kaya gitu, mana mau ngelepasin bidadari*?


“Kamu kenapa, ngger?”


Suara bu Ratih mengejutkan Budi. Dia merasa seperti ditarik dari alam lain. Dia bingung, tiba-tiba ibunya sudah ada di depannya, tanpa dia tahu kedatangannya.


“Eeee, emm, enggak, bu” jawab Budi tergagap.


“Lha itu? Kaya orang pusing, tapi kok cengengesan sendiri”


Budi tersenyum geli mendengar kata ‘cengengesan’ keluar dari bibir ibunya.


“Kalo lagi mikirin sesuatu, cari tempat yang nyaman! Jangan di tengah jalan begini! Kasihan yang mau lewat” saran bu Ratih.


“Iya, bu” jawab Budi sambil tergelak.


“Ya udah. Jagain Putri dulu, ya! ibu mau mandi” pinta bu Ratih.


“Loh. Kenapa nggak di dalem aja, bu?” tanya Budi.


“Oh. Oke” kata Budi menjawab permintaan ibunya.


Bu Ratihpun melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi di sisi lain rumah sakit. Dan Budi, melanjutkan perjalanannya ke kamar rawat adiknya.


“Oh. Ada kamu to, Zul. Pantes” komentar Budi, saat masuk ke kamar rawat Putri. Ada Aldo juga di seberangnya.


“Emang kenapa, mas?” tanya Zulfikar, sambil mengulurkan tangannya.


“Ibu nyuruh aku jagain Putri. Kamu abis bejo, ya?” jawab Budi, sambil menyalami Zulfikar.


“Sembarangan” tolak Zulfikar, tegas.


“Lah itu, abis pegangan tangan kan?” todong Budi.


“Awas lu, pura-pura bego, mau bantuin Putri pipis!” lanjut Budi.


“Hempf”


Putri tergelak mendengar lanjutan ucapan kakaknya.


“Mas. Ini rantangnya lek Puji, keras lho” kata Putri.


Tong tong tong


“Hempf”


Zulfikar tergelak melihat Putri mengetuk pantat rantang itu.


“Terus?” tanya Budi.

__ADS_1


“Kan yang bego, mas Budi. Kenapa ngatain mas Zul?” jawab Putri, gemas.


“Emang mas Budi mau bantuin Putri pipis?” tanya Zulfikar.


“Iya” jawab Putri sambil tertawa.


“Wah. Pelanggaran lu, Bud” seru Aldo.


“Putri kan udah gede” sahut Stevani.


“Orang baru bangun tidur. Belum konek, otaknya” jawab Budi.


“Modus”


Terdengar suara lain, bukan suara mereka.


“Hempf. Ha ha ha ha ha”


Mereka semua tergelak, lalu tertawa lepas. Celetukan Madina, yang baru selesai mandi, walau hanya satu kata, tapi terdengar sangat pas momennya. Jadi terasa menggelitik bagi yang mendengarnya.


Di tempat lain, Luki minta ijin pada Adel untuk pergi mengisi BBM mobilnya yang sudah tiris. Dia beralasan kalau besok dia harus menemui calon pelanggan mebel di solo. Adelpun memberikan ijinnya.


“Aku otw” kata Luki, setelah meluncur dari halaman rumah mertuanya.


Tapi bukan menuju SPBU terdekat yang ada di kecamatan itu, melainkan pergi ke arah kota. Di jalan tembus, yang hanya bisa dilalui kendaraan kecil, Luki berhenti di depan pintu gerbang sebuah rumah. Seorang wanita keluar dari dalam rumah, lalu masuk ke dalam mobil Luki. Dan Luki kembali melajukan mobilnya.


“Makin susah aja sih, timbang mau ketemu aja? Udah nyaman sama dia?”


Wanita itu langsung berkomentar dengan nada tinggi. Luki hanya tersenyum, menanggapinya.


“Aku belum sepenuhnya megang hatinya Adel, Sof. Masih ada setan panci, yang bikin Adel susah di atur” jawab Luki.


“Halah. Bilang aja dia mau nurutin semua maunya kamu! Yang bisa kamu puter-puter, kaki di atas, kepala di bawah, kaya yang suka kamu bilang. Secara kan dia badannya kecil. Ngaku deh!”


“Haih. Harus berapa kali sih, aku ngejelasin?” keluh Luki.


“Hah. Cowok mah, banyak banget alesannya” komentar wanita itu.


“Sayang, waktu kita cuman dikit. Abis ini aku harus ke tambak Sari, sama ke dokter Darsono. Besok pak Bejo dateng.


“Selalu aja, gitu” komentar wanita itu.


“Lho. Kalo sampe usaha kita gagal, siapa yang mati duluan?” tanya Luki.


“Aku” lanjutnya, menjawab pertanyaannya sendiri.


“Kamu mau aku hidup apa mati?” tanya Luki lagi.


Wanita itu tidak menjawab. Masih tampak kekesalan di wajahnya.


“Sofia sayang. Semua ini murni karena keadaan. Aku perlu ngambil kepercayaannya Adel sepenuhnya”


“Tapi udah kelamaan, sayang”


“Baru juga sebulanan. Dapet apa, sebulan?” kilah Luki.


“Ya, yang pasti kamu harus cepet! Cepet penuhin target kita, dan singkirkan dia! Inget, aku nggak mau sampe tua umpet-umpetan kaya gini”


“Iya” jawab Luki singkat.


Luki mempercepat laju kendaraannya, saat sudah sampai di kota. Dia menuju sebuah hotel di tengah kota. Tanpa banyak kata, dia memesan sebuah kamar di paling atas. Tempat dimana dulu Adel pernah bertemu dengan Sephia.


Belum juga sampai, Sofia langsung menggelayut manja pada tubuh Luki. Bibir dan tangan-tangan mereka sudah bergerilya bahkan sejak baru masuk ke dalam lift. Sesampainya di rooftop, tempat yang sudah dipesan Luki, Sofia semakin liar mengumbar hasratnya.

__ADS_1


***


__ADS_2