
Satu hal yang dia syukuri, sepupunya diberikan banyak rezeki, bisa membeli mobil pick up baru. Sehingga bisa menampung dirinya menjadi salah satu karyawan.
Budi menjadi supir ke dua, berduet dengan pak Janto. Setiap pagi, menjelang subuh, Budi bertugas untuk mengantar sepupunya pergi ke tempat pelelangan ikan. Karena di sana nelayannya mau membantu naikin ikannya ke mobil, terkadang Budi di suruh jalan sendirian. Sedangkan sepupunya pergi naik motor bersama istrinya.
Seperti hari ini, selepas melakukan transaksi, sepupunya langsung pulang duluan. Katanya ada urusan dengan pedagang di pasar. Seperti kemarin, Budi mengiyakan saja. Toh, tidak perlu alasan juga buat sepupunya meninggalkan dia sendirian di pelelangan ikan. Dia bosnya.
Hal lain yang juga dia syukuri, tetangganya tidak lagi mengunjingkan keluarganya sekeras sebelumnya. Kejadian tempo hari, seperti menjadi peringatan keras buat siapapun yang berniat mengusik ketenangan, apalagi menghina Budi. Karena, walaupun Adi sampai masuk rumah sakit, tak lantas pak Kusno marah apalagi berniat mempidanakannya. Justru malah membebaskannya dari tuntutan yang dilayangkan istrinya sendiri.
Yang sedari awal baik sama Budi semakin baik, yang sebelumnya suka menggunjing dan menghina keluarga Budi, jadi merasa segan. Membuat Budi bisa berangkat dan pulang bekerja dengan nyaman. Seperti hri ini. Dia berangkat dengan penuh semangat. Saat mengantar sepupunya ke pelelangan ikan juga sambil bersiul – siul ria. Saat mengangkut polyfoam juga, seperti tidak punya rasa lelah.
Apesnya, baru juga keluar tempat pelelangan ikan, ban belakangnya kempes. Tentulah dia harus mengganti ban dulu, sendirian. Pastinya lebih berat, mengganti ban belakang, dengan kondisi penuh muatan. Tapi Budi menanggapinya dengan senyuman. Mau diapakan lagi. Ban kempes ya harus diganti. Dia kerjakan itu dengan telaten dan hati – hati. Pastinya dengan iklas hati.
“Eh, Budi. Kenapa, bud?”
Sebuah suara mengagetkannya. Saat dia balik kanan, terilhatlah dua orang wanita yang masing- masing membawa sepeda.
“Adel, lagi gowes?” sahut Budi, setelah mengetahui siapa yang menyapanya.
“Iya, ini sama sepupuku, Sinta. Mobilnya kenapa?”
“Kempes. Ini abis aku ganti”
“Eh, bentar. Kamu kerja di tempat sepupu kamu itu, ya? Kirain aku cuman sehari yang waktu itu aja”
“Iya, alhamdulillah. Daripada nganggur. Lumayan, lah, ada pemasukan”
“Udah ngelamar – ngelamar lagi?”
“Udah dari pertama pulang. Tapi belum ada yang bersambut”
“Oh, gitu. Yang sabar, ya. Insya Alloh, kalo udah waktunya, pasti ada kok yang bersambut” hibur Adel.
“Iya. Makasih, ya. Udah nyemangatin” jawab Budi.
“Ngomong – ngomong, gowes dari gulang, ini?” lanjut Budi.
“Enggaklah. Dari rumah aku” sahut si sinta.
“Emang rumah sinta di mana? Pringgondani?”
“Itu Gatotkaca” tukas sinta.
“Ha ha ha ha” Adel tertawa.
“Rumahnya tu di Sirnoboyo” lanjut Adel.
“Oh, sirnoboyo. Mbah Juminah” kata Budi sambil tergelak.
“Loh, kenal mbah juminah?” tanya sinta
“ Aku sampingnya Mbah juminah” lanjutnya.
“Kan ibuku pedagang ikan, tahu, lah”
“Bu ratih, kenal nggak?” tanya Adel.
“Loh, anaknya bu Ratih to? Berarti, sepupu yang mbak Adel maksud itu, mas Eko, ya?”
“Iya”
“Oh, gitu. Kita masih sodaraan benernya, mbak” kata Sinta.
“Masa?” tanya Adel terkejut.
“Cuman jauh. Ruwet kalo diurutin” jawab Sinta.
“Udah, nggak usah diurutin. Penting bukan muhrim, aman”
“Maksudnya?” tanya sinta.
Adel melotot sambil berkacak pinggang. Tapi bibirnya tersenyum
“Ha ha ha” Budi tertawa.
“Bud, udah sarapan?” tanya Adel.
“Abis ini” jawab Budi.
“Sarapan dulu, yuk” ajak Adel.
“Waduh, tawaran menarik, sebenernya”
“Ya udah hayu” timpal sinta.
“Tapi udah ditungguin”
“Yaa” keluh Adel.
“Maaf ya, bukan bermaksud menolak, tapi aku harus segera anter ikan ini. Kalo sampe telat, bisa dapat tiga sks entar” kata Budi.
“Dari mas Eko?” tanya sinta.
“Mbah Juminah” jawab Budi.
“Hmpf, ha ha ha ha. Pernah diomelin mbah Juminah ya? Ha ha ha ha” sinta tertawa ngakak.
“Pernah, untung ada ibu. Cukup deh setengah sks”
“Ha ha ha ha ha” sinta masih tertawa lagi. Adelpun ikut tertawa.
“Ya udah, kamu hati – hati bawa mobilnya, ya. Soal mbah Juminah, biar aku yang urus” kata Adel.
“Emang embak berani?”
“Enggak”
“Ha ha ha ha. Gaya doang selangit. Ternyata sama aja, jiper” komentar sinta.
“Ya udah, aku jalan dulu ya, nona – nona” pamit Budi
“Hati – hati” pesan Adel lagi.
__ADS_1
“Iya. assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Budipun melaju dengan perlahan. Pengalaman kempes ban ini membuatnya berpikir ulang untuk langsung tancap gas. Di sisi lain, Adel masih terus memperhatikan mobil yang Budi kendarai. Sampai mobil itu hilang dari pandangan.
“Mbak, gitu amat liatinnya” tegur sinta. Adel tersentak.
“Oh, iya” jawab Adel pendek. Tapi sinta seperti menuntut jawaban lebih.
“Belum pernah aku melihat, ada cowok seumuran kita, yang begitu iklas menerima kenyataan. Nggak jaim, lagi” lanjut Adel.
“Nggak jaim? Maksudnya?”
“Pertama ketemu aku, dia nggak menutupi kenyataan tentang dirinya. Biasanya kan, yang berani deketin aku, pasti akan bilang dia kerja di tempat yang bonafid, punya ini, punya itu. Tapi, dia nggak malu untuk mengakui kalo dia lagi jobless, abis kontrak”
“Oh”
“Dia juga nggak caper, ta. Ngobrol ma aku juga, santai gitu”
“Hmm, ada yang jatuh cinta nih” goda Sinta.
“Apaan sih” kilah Adel.
Dia bersiap mengayuh lagi sepedanya. Sinta mengikuti sambil tertawa. Tapi dalam hati dia juga bertanya – tanya. Apakah benar dia jatuh cinta pad Budi? Kalaulah iya, memang apa salahnya? Budi hanya belum beruntung saja.
Dan lagipula, cinta tidak bisa hanya di dasarkan pada kekayaan saja, kan? Kalau memang kekayaan adalah standar agar hidup bahagia, mengapa banyak artis yang bergelimang harta, tapi cerai? Berarti, ada hal lain juga yang perlu diperhatikan selain kekayaan.
“Hei, senyam – senyum sendiri” tegur Sinta, saat masuk sebuah warung makan.
“Hem? Mana? Enggak juga” kilah Adel.
“Wah, udah ini, terkonfirmasi. Positif” komentar Sinta.
Sontak pengunjung yang sedang makan, tersita perhatianya. Semua pandangan menuju kepada mereka berdua. Adel terkesiap
“Positif jatuh cinta” lanjut Sinta, meralat.
“Oh”
Sebagian pengunjung berseru, dan mengangguk – angguk. Sebagian lagin tergelak, karena lucu, merasa salah tafsir.
“Kamu, ih. Ada – ada aja” omel Adel.
“He he. Iya maaf”
Sinta memesan gado – gado untuk dirinya dan Adel. Dari jauh dia geleng –geleng kepala, melihat sepupunya menatap lekat layar ponselnya, sambil tersenyum sendiri.
---------------------------------------------------------
Siang ini, Budi kembali merasakan kelelahan. Entah sudah berapa kali dia menaik dan turunkan polyfoam penuh dengan ikan. Belum lagi ada pesaan dadakan dari Ponorogo, membuatnya harus meluncur ke trenggalek dan tulungagung, untuk mengambil ikan yang sudah dipesan sepupunya. Pas sekali, adzan dzuhur berkumandang, dia sampai kembali di gudang. Dia sempatkan waktu untuk sholat.
“Mas, aku ijin dulu ya” pamit Budi.
“Mau kemana?” tanya sepupunya.
“Mau ke pasar. Mastiin aja, ibu udah makan apa belum”
“Oh, ya udah. Boleh” kata sepupunya memberikan ijin.
Sempat dia menghela nafas, membuang kekesalan, karena harus berbagi jalan dengan banyak orang dengan berbagai aktivitasnya. Yang paling memakan tempat adalah aktivitas bongkar muat barang untuk toko tempel di sepanjang jalan samping pasar ini.
Setelah berhasil melewati mobil box yang sedang bongkar muat itu, Budi langsung memarkirkan motornya di dekat tempat pembuangan sampah sementara. Tepat di belakang pintu paling belakang, pasar ini. Dari tempat dia parkir, sosok ibunya sudah langsung terlihat. Karena blok ikan laut memang berada di bagian paling belakang.
“Eh, Bud. Udah nyampe?”
Sebuah suara mengejutkannya. Ternyata rekan duetnya sesama sopir.
“Eh, pak Janto. Udah, pak. Baru aja” jawab Budi.
“Terus, disuruh ngapain, sama mas Eko?”
“Enggak, aku mau ketemu ibu. Minta makan”
“Yaaa, nggak berubah dari jaman sekolah” komentar pak Janto.
“Ha ha ha ha”
Pak Janto pergi setelah berkomentar. Budi langsung melangkahkan kakinya menuju lapak ibunya.
“Kenapa, ngger?” tanya Bu Ratih.
“Ibu udah makan, belum?” Budi malah balik bertanya.
“Belum. Mbak fatimah belum nongol, nih” jawab ibunya.
“Kalo gitu, Budi beliin ya, bu” tawar Budi.
“Kamu juga belum makan?”
“Belum bu, keburu nyampe. Ha ha ha”
“Ya udah. Tapi ibu jangan dikasih ayam, ya. Tempe aja”
“Loh, kenapa, bu?”
“Ibu udah nggak muda lagi, ngger. Udah harus mulai hati – hati, soal makan” jawab Bu Ratih.
Sejenak Budi berpikir, menganalisa jawaban ibunya. Memang, jawaban itu masuk akal. Tapi Budi merasa, jawaban itu hanyalah alibi semata. Agar Budi tidak keluar uang banyak. Karena pastinya ibunya sudah hafal sifat Budi, yang tidak mau lagi ditraktir ibunya.
“Iya. Sebentar ya bu” kata Budi.
Diapun langsung berjalan ke arah samping kiri pasar. Dimana, di bagian tengahnya da warung makan. Budi memesan dua bungkus dengan menu yang sama. Nasi, sayur oseng, dan lauk tempe tanpa tepung dua potong. Lantas dibawanya kembali ke ibunya.
“Kok kamu juga cuman sama tempe, ngger?” tanya bu Ratih.
“Ngantri bu, nggak keliatan ayamnya. Udah laper juga. ini aja nyerobot antrian. Ha ha ha” jawab Budi.
Bu Ratih tergelak mendengar kelakar anaknya. Tapi dia tahu, Budi sedang berbohong. Dia paham betul sifat anaknya. Kalau lagi bersama, dia akan makan apa yang bapaknya makan. Bapaknya, pasti hanya makan apa yang dia makan. Dia sendiri, tidak akan nikmat makannya kalau melihat anaknya makan hanya dengan lauk seadanya. Kalau ada ayam dan tempe, pasti ayamnya dia kasih ke Putri, dan Budi. Sedangkan dia hanya mengambil tempenya. Bapaknya Budi, akan menyamai apa yang dia makan, tempe juga. Budi, tidak pernah mau melangkahi bapaknya, kalau soal makanan. Bapaknya makan tempe, dia akan makan sama tempe juga.
“Enak ngger, osengnya?” tanya bu Ratih.
__ADS_1
“Enak, bu. Berani, bumbunya” jawab Budi.
Tanpa sadar, air matanya meluncur begitu saja. Hatinya sedih, karena merasa belum bisa membahagiakan anaknya. Lagi – lagi dia harus melihat anaknya makan menu sederhana ini. Buru – buru dia seka air mata itu. Dia tidak mau Budi melihatnya menangis.
“Kenapa, ngger?” tanya Bu Ratih, saat melihat Budi celingukan.
“Hem, sambelnya enak bu. Mau nambah, tapi jauh” jawab Budi. Tampak nasinya hanya tinggal sedikit. Lahap sekali makannya.
“Ini, punya ibu saja” jawab bu Ratih.
“Wah, makasih, bu” jawab Budi menerima sambel itu.
Bu Ratih juga mempercepat makannya, supaya Budi tidak menyadari, kalau hatinya sedang sedih, melihat Budi makan dengan lahapnya. Seolah – olah, tempe itu lebih nikmat daripada rendang. Di sisi lain, dia juga bersyukur, mempunyai anak sebaik ini. Mau prihatin, mau kerja apa saja, pantang menyerah, dan sangat perhatian pada dirinya, juga pada Putri. Serasa ada jiwa suaminya, yang bersemayam di raga anaknya.
Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...
terdengar suara ponsel berdering. Ternyata ponselnya Budi. Beruntung, dia sudah menyelesaikan makan siangnya.
“Halo assalamualaikum” sapanya, tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Wa’alaikum salam. Bud, sibuk nggak?” jawab si penelpon.
“Eh, Adel. Baru kelar makan. Gimana, ada apa?” sahut Budi.
“Ini, mau ngasih tahu aja. Aku ada info loker, barangkali kamu mau” kata Adel.
“Mau, mau. Dimana?”
“ Detilnya udah aku WA ya. Kalau minat, langsung konfirmasi aja ke nomer yang aku bagi”
“Oke, siap. Makasih banyak ya. Maaf nih, jadi ngerepotin kamu, deh”
“Apaan sih. Cuman info doang. Bukannya rekomendasiin. Gol apa enggaknya, ya itu tergantung kamu sendiri”
“Segitu juga udah makasih banget”
“Ya udah, buruan di cek gih. Kalo minat, siapin semua berkasnya. Infonya sih, besok mau diwawancara”
“Oke, makasih infonya. Jazakumullohu khirot”
“Apa tuh artinya? Amin aja deh. Pastinya doa baik kan?”
“Ha ha ha ha”
“Good luck, Bud. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
“Tuuut” sambungan telepon terputus.
Selepas menutup sambungan telepon, Budi merasa aneh dengan sikap Adel. Mungkin dia sedang ada mata kuliah. Sehingga harus cepat- cepat menutup telepon. Budi lantas memeriksa layanan pesan singkatnya. Benar, memang Adel mengirim beberapa pesan. Mulai dari teks, nomor telepon, sampai map.
“Siapa ngger?” tanya Bu ratih.
“Adel, bu. Kasih info loker” jawab Budi.
“Buat apa loker? Kan lemarimu masih” tanya bu Ratih belum mengerti.
“Hmpf. Ha ha ha ha. Lowongan pekerjaan bu. Disingkat, loker” jawab Budi menjelaskan.
“Oh, ha ha ha ha. Ada – ada aja istilah jaman sekarang. Terus, gimana?”
“Ini lagi Budi cek, bu”
“Oh, ya udah. Dicek dulu aja. Sekalian nitip dagangan dulu, ya. Ibu mau sholat”
“Loh, ibu belum sholat?”
“Belum”
“Oh, iya. Budi jagain” jawab Budi.
Budi tak memperhatikan lagi langkah kaki ibunya. Matanya sudah fokus dengan layar ponselnya. Yang pertama dia perhatikan adalah pesan teksnya.
“Kami dari PT. Planet Rotan dan Aluminium Mebel ( PRAM ), akan membuka lowongan pekerjaan untuk bagian PPIC, laki – laki, usia maksimal tiga puluh tahun, minimal lulusan SMK. Diutamakan yang sudah berpengalaman minimal satu tahun di bidang PPIC ” kata Budi membaca tulisan Adel.
“Syarat –syaratnya aku ada semua” lanjut Budi membaca tulisan di bawahnya.
“Jika berminat, silakan ikut sesi wawancara, ....... “
“Alhamdulillah. PPIC sih, kerjaanku. Walau pastinya berbeda, tapi aku yakin, aku pasti bisa” gumamnya.
Dia baca juga mengenai gaji yang akan dia terima jika dia diterima bekerja di perusahaan itu. Pastinya jauh berbeda dengan yang dia terima di Karawang. Tapi ini masih lebih besar daripada menjadi supirnya mas Eko. Paling tidak, bisa menjadi batu loncatan, sebelum mendapatkan yang sesuai keinginannya. Dengan begitu, ibunya tidak perlu lagi bersusah payah memikirkan sekolah adiknya. Sebagian dari gaji itu, cukup untuk membiayai sekolah adiknya. Sebagian lagi, cukup untuk makan bertiga. Masih tersisa juga untuk ditabung.
“Gimana, ngger?” sebuah suara mengejutkannya.
“Eh, ibu. Cepet amat sholatnya?”
“Kan kamu udah harus balik kerja”
“Walah, iya”
“Terus, gimana itu?” tanya bu Ratih lagi.
“Oh, lowongannya. Ini baru mau budi konfirmasi” jawab Budi.
Dia lalu menyimpan nomor yang dikasih Adel. Selepas itu, dia kirimkan pesan konfirmasi, bahwasannya dia berminat untuk mengikuti sesi wawancara, besok. Tak berapa lama, muncul balasan dari nomer tersebut. Yang menginformasikan mengenai jam wawancara, dresscode, dan petugas yang akan menemuinya.
“Kapan mau kasih lamarannya?” tanya ibunya.
“Besok, bu. Sekalian wawancara. Ini, sudah dibalas. Besok ditunggu jam sembilan”
“Loh, langsung wawancara?”
“Iya, bu. Ada sih yang kaya gitu”
“Oh, kirain karena bawaan mbak Adel” komentar ibunya. Budi bingung. Bu Ratih tersenyum melihat anaknya bingung.
“Bisa aja sih, bu. Kalo dia punya temen orang dalam. Tapi info ini kan sifatnya umum. Siapa aja bisa ikutan” jawab Budi.
“Ya udah, balik gih. Entar dicariin lagi, sama kangmasmu. Sekalian ijin, buat besok”
__ADS_1
“Nggeh. Pamit, nggeh bu. Assalamu’alaikum” kata Budi sambil menyalami ibunya. Tak lupa dia cium punggung telapak tangan ibunya.
“wa’alaikum salam” jawab bu Ratih.