Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
sakitnya bu ratih, sakit adel juga


__ADS_3

Sesampainya di pabrik, Stevani langsung berhadapan dengan Erika. dia berdiri tepat di depan kantor divisi ekspedisi. Erika menatap tajam ke arah Stevani.


“Dari mana aja sih, Van? Dicariin si Farah, noh, sama Pak Paul” tanya Erika, begitu Stevani keluar dari mobilnya.


"Dari rumah sakit, nganterin Budi. Emang scurity nggak bilang?” jawab Stevani.


“Ya maksud aku, ngapain pake nganterin, gitu? Emang Budi nggak bawa motor?”


“Ya apa salahnya aku nganterin? Kali aja aku dibutuhin di sana”


“Itu urusannya general affair, bukan marketing”


“Ini urusanku pribadi sama Budi, ngapain bawa – bawa marketing, sih?”


“Ya kan kamu bagian dari marketing, ”


“Udah, ah. Ngomong sama kamu sih, nggak ada benernya” potong Stevani sambil berlalu.


Dia langsung menuju kantor dari arah depan. Dia ambil beberapa berkas yang diperlukan untuk presentasi. Dan langsung bergabung dengan pak Paul dan Farah, yang sudah terlebih dahulu menemani customer yang visit.


“Nah, ini yang kita bicarakan datang” kata pak paul.


“Iya, maaf saya terlambat. Tadi ada sesuatu yang sangat mendesak yang harus saya kerjakan”


“Oh, tak pape, its oke. Kite pula baru je sampai” jawab customer itu.


****>>>>>


Budi kembali setelah menyelesaikan urusan administrasi. Dia tersenyum saat ada pak Kusno datang menjenguk. Mereka langsung berbincang – bincang dari jarak yang agak jauh dari yang lain.


Secara pribadi, pak Kusno menyampaikan keprihatinannya, dan menawarkan bantuan untuk pembiayaan rumah sakit bu Ratih. Budi menolak tawaran itu dengan halus. Karena sudah dilunasi oleh Budi. Paling tidak untuk perawatan sampai besok sore.


Pak Kusno tersenyum. Dia salut dengan sikap Budi. Dia berjanji akan membantu apapun yang Budi perlukan sampai ibunya sembuh. Budi mengucapkan banyak terimakasih atas kunjungan pak Kusno.


Sepeninggal pak Kusno, Budi kembali masuk ke ruang UGD. Dia berharap ibunya sudah siuman. Dan memang sudah siuman. Dia sedang dirawat suster dan ditunggui oleh Putri. Saking leganya, Budi sampai tidak sadar kalau dia berlinang air mata.


Bu Ratih memberikan senyumnya, agar anak sulungnya itu tidak hawatir lagi. Suster tadi keluar dari ruang dalam, dan menemui Budi yang berdiri di balik dinding kaca.


“Mas, sebaiknya mas menunggu di luar saja” kata suster itu.


“Apa tidak boleh, saya menunggui ibu saya di sini, sus?” tanya Budi.


“Ini permintaan ibunya mas. Beliau tidak ingin masnya telalu hawatir, takut jadi sakit. Kan ibunya juga sudah mendingan. Masnya istirahat saja dulu. Sama, ada satu pesan dari ibunya mas?"


“Apa?”


“Jangan lupa sholat!” jawab suster itu.


“Astaghfirullohal’adzim” Budi baru teringat kalau dia belum sholat dzuhur.


“Iya, baik, sus” lanjut Budi.


Suster itu pergi ke luar. Budi melihat lagi ke arah ibunya. Dia ingin sekali masuk dan memeluk ibunya. Tapi dia tidak mau melanggar aturan rumah sakit.


Pasti ada yang super critical equipment di dalam sana, yang sangat rawan tersenggol jika ada orang yang lebih banyak dari aturan maksimumnya. Kalau dilanggar, pasti akan merugikan pasien dan keluarga yang merawatnya juga.


Budi mengangkat kedua tangannya dan membuat gerakan takbirotul ihrom. Sebagai isyarat kalau dia ingin menunaikan sholat. Bu Ratih tesenyum dan mengacungkan jempolnya. Melihat hal itu, Budi tersenyum. Dia bisa membaca kalau kondisi ibunya sudah lebih baik. lalu dia pergi ke luar.


“Bud” panggil seseorang, begitu dia keluar.


“Ya?” jawabnya.


“Em, ini. Kita mau pamit dulu, Bud. Dagangan kita belum kita beresin” kata lek Puji.


“Allohu Akbar, iya” seru Budi.


“Iya, Bud. Kita mau beresin dagangan dulu” sahut yang lain.


“Dagangan ibumu biar aku aja yang beresin” kata istri sepupunya.


“Iya, bu, pak. Makasih ya. Udah mau nganter ibu saya ke sini. Lemah teles nggeh, bu”


“Ya Alloh, Bud. kaya ama siapa aja. Dulu ibumu juga nggak nunggu diminta kalo aku lagi kesusahan”


“Makasih ya lek”


Budi menyalami mereka satu per satu saat pamitan. Dia juga cium tangan sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.


Air matanya tak sanggup dia bendung. Yang bukan keluarga sedarah saja sampai rela meninggalkan rejekinya demi menolong ibunya.


Selepas kepergian mereka, praktis tidak ada siapa – siapa di depan sini, kalau Budi pergi ke mushola. Budi langsung mengambil ponselnya dan memberitahukan hal ini kepada Putri, agar dia tidak kebingungan.


Saat Budi sedang sholat, dokter datang dan memeriksa lagi. Dokter itu juga memberikan suntikan obat. Bu Ratih disarankan untuk istirahat lagi agar cepat pulih. Putripun diminta menunggu di luar. Mau tidak mau, Putri harus menurut apa kata dokter. Dia keluar dan menunggu di kursi tunggu.


“Assalamu’alaikum, Putri”


Putri mendongakkan kepalanya, ke arah orang yang menyapanya.


“Wa’alaikum salam. Mbak Adel?”


“Ibu gimana kondisinya?” tanya Adel. Dia menyalami Putri.


“Alhamdulillah, udah mendingan”


“Udah siuman?"


“Udah. Tadi udah Putri suapin juga. Ini juga abis diperiksa dokter. Kata dokter, ibu harus istirahat, biar cepet pulih”


“Alhamdulillah, kalo gitu. Kok bisa sampe muntah – muntah, kenapa, Put?”


“Belum jelas, mbak. Dugaannya sih, jajan yang ibu beli tadi pagi, terkontaminasi rotavirus. Penyebab diare”


“Ya Alloh. Kemarin – kemarin bukannya mbekel, Put?”


“Tadi juga udah sarapan, mbak. Terus ibu belanja bumbu dapur. Ada temennya tuh, pedagang jajan, nawarin jajan. Nggak tahu kenapa, tumbenan ibu pengen jajan. Ya, gini deh akhirnya”


“Yang sabar ya Put”


“Iya, mbak. Makasih udah dateng”


“Oh iya, mas Budi kemana?” tanya Adel.


“Oh, lagi sholat” jawab Putri.

__ADS_1


“Oh” Adel manggut – manggut.


Dari ujung lorong, muncul dua orang laki – laki yang berjalan ke arah Putri dan Adel. Sepertinya mereka terburu – buru.


“Put, aku mau minta uang bensin” kata salah satu dari mereka.


“Uang bensin?” tanya Putri bingung.


“Iya, uang bensin. Tadi nganter ibumu, nggak pake bensin, emang?” jawab yang satu lagi.


“Astaghfirulloh, pak. Nolongin orang itu mbok yang iklas!” Adel angkat bicara.


“Iklas sih iklas. Tapi bensin kan harus diganti. Ini aku mau nganter ikan, bensinnya kurang jadinya. Kalo juragan Gondo nanya, aku jawab apa?"


“Ya bilang aja abis buat nolongin Bu Ratih! Susah amat”


“Kamu siapa sih, pake dekte kita?”


“Nggak perlu tahu saya siapa. Sikap kaya gitu itu bukan sikapnya manusia. Kalo juraganmu nggak terima, suruh telepon Budi!” jawab Adel. Suaranya mulai meninggi.


“Dih, kenapa kita yang jadi ribet, sih? Udah sini, mana duit bensinnya?”


“Tapi saya nggak ada duit, pak. Nunggu mas Budi dulu, ya. Lagi sholat, dianya”


“Kelamaan, Put”


“Oke, oke, oke. Berapa?” tanya Adel mengalah.


melihat suster muncul di ujung lorong. Sepertinya suara di sini sudah sampai di ujung lorong sana, alias berisik.


“Cepek juga boleh” jawab salah satu dari mereka.


“Dih, nyewa angkot dari pasar juga, nggak nyampe gocap, pak” tolak Adel.


“Kalo nawar tu di awal. Udah dianterin baru nawar” jawab yang satunya.


“Astaghfirulloh”


“Nih” kata Adel menyerahkan selembar uang seratus ribuan.


“Nah, dari tadi kek”


Tanpa berterimakasih, kedua orang itu langsung pergi begitu saja. Putri menangis karena takut. Adel memeluknya dan menghibur, agar reda tangisnya. Tanpa mereka sadari, Budi sudah selesai sholatnya, dan berjalan menghampiri mereka. Tapi tidak bertemu dengan kedua orang tadi.


“Udah dong Put. Jangan nangis terus!”


Mereka berdua terkejut mendengar suara Budi ada di belakang mereka. Sontak saja Putri langsung menyeka air matanya. Adel menyalami Budi.


“Putri takut, mas” kata Putri masih terisak.


“Takut? Ibu kenapa?” tanya Budi agak panik.


“Enggak, bukan ibu”


“Lalu?”


“Barusan, anak buahnya Gondo dateng, nagih uang bensin”


“Uang bensin?”


“Minta berapa?"


“Seratus”


“Seratus? Gila tu orang” komentar Budi. Emosinya tersulut. Dia balik kanan hendak mengejar kedua orang itu.


“Bud, udah. Nggak usah dikejar! Ibu lagi butuh kamu, jangan pergi!” cegah Adel.


Budi menghentikan langkahnya. Dia menghela nafas panjang dan berat. Beberapa saat dia memejamkan mata, menata hatinya yang sedang diamuk amarah.


“Terus, kamu kasih?” tanya Budi pada Putri.


“Enggak. Kan Putri nggak pegang duit, mas”


“Terus?"


“Ditalangin mbak Adel”


“Oh, bener, Del?” tanya Budi pada Adel.


“Iya” jawab Adel singkat.


“Makasih ya, Del. Entar aku ganti”


“Apaan sih, Bud. Pake ganti segala. Nggak usah” tolak Adel.


Mereka duduk di kursi tunggu. Adel mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ternyata dua porsi kebab, dan sekresek buah – buahan.


“Aku nggak tahu kalian udah makan apa belum. Kalo belum, ini ada pengganjal lapar” kata Adel. Sejenak mereka saling pandang. Tapi Putri tidak berani menjawab. Sekalipun dia belum makan.


“Alhamdulillah. Emang aku tadi belum kelar makan” jawab Budi. Dia menerima kebab itu.


“Put, udah makan belum?” tanya Adel.


Putri tidak menjawab, dia melihat Budi. Seolah meminta persetujuan. Budi mengangguk sambil tersenyum.


Putripun langsung menerima kebab pemberian Adel. Budi tidak jadi memakan kebabnya saat melihat adiknya makan dengan lahapnya. Terlihat sekali kalau dia sedang lapar.


“Pelan - pelan!” tegur Budi.


Putri terkesiap. Dia tidak menyangka kalau kakaknya akan memperhatikannya. Dia berpikir kalau kakanya sedang makan juga.


“Ini minumnya, Put” kata Adel. Tangannya menyorongkan sebotol air mineral ukuran sedang.


“Makasih, mbak” jawab Putri. Dia menerima botol itu sambil menitikkan air mata.


Untuk sejenak mereka terdiam. Hanya Putri yang masih mengunyah makanannya. Adel duduk di antara mereka, menyeka air mata Putri yang masih keluar. Budi memberikan kebab miliknya pada Putri. Putri menggelengkan kepalanya.


“Nggak usah malu, Put. Aku juga kalo laper suka abis dua. Pernah abis tiga” kata Adel.


“Wuih, serius?” tanya Budi.


“Iya” jawab Adel sambil tergelak.

__ADS_1


Dan tawa kecilnya itu menular ke Putri. Akhirnya Putri menerima kebab pemberian kakaknya.


Putri mengakui kalau dirinya lapar. Tadi pagi dia hanya makan sedikit. Karena pikirnya, hari ini akan pulang lebih awal, jadi bisa makan di pasar bersama ibunya. Tapi kenyataannya lain. Dan sampai jam segini, Putri belum makan lagi.


“Putri cuci tangan dulu ya, mbak” pamit Putri setelah selesai acara makannya.


“Oh, iya. silakan” jawab Adel.


Putripun pergi ke toilet untuk umum, di balik tembok sana. Tinggallah Adel bersama Budi di kursi tunggu itu.


“Bud” panggil Adel.


“Ya” jawab Budi.


“Sory nih, aku kepo. Uang kamu, masih ada?” tanya putri dengan hati – hati.


Budi terkesiap. Dia tidak langsung menjawab. Dia masih menebak – nebak arah pembicaraan Adel.


“Alhamdulillah, abis” jawab Budi.


“Loh. Abis kok alhamdulillah?” tanya Adel heran.


“Ya alhamdulillah, dong” jawab Budi lagi. Tapi tak lantas membuat keheranan Adel hilang. Malah jadi bingung.


“Normalnya orang kan ngeluh dong, uangnya abis. Kok malah bersyukur?”


“Ya, uangku emang abis. Tapi waktu, merupakan makluk yang nggak bisa dibeli dengan apapun. Dan takdir Alloh, ada yang nggak bisa di nego”


“Waktu? Takdir?” tanya Adel bingung.


“Yap”


“Oke, kalo takdir, aku masih bisa ngebayanginnya. Tapi urusannya apa sama waktu? Sama rasa syukur juga apa, hubungannya?”


“Antara aku dan Putri, nggak ada yang tahu kalau ibu akan ditakdirkan sakit begini. Bapak meninggalpun, kita nggak ada yang tahu”


“Kalau maut, emang rahasia Alloh”


“Sama dengan kejadian ini. Kalau Alloh sudah berkehendak menguji kita dengan sakit, seberapapun kita berusaha untuk sehat, kita tetep akan sakit”


“Hubungannya sama waktu?”


“Andaikan waktu itu aku dikasih kesempatan untuk ikut tes pengangkatan karyawan tetap, dan aku lolos. Kira – kira hari ini aku dimana?”


“Di sana, lah”


“Berapa menit paling cepet buat sampai ke sini?”


“Bisa seharian, lah”


“Itu. Itu. Aku pernah berkejaran dengan waktu. Berusaha secepat mungkin buat sampe ke rumah. Motor itu, kalo bensin belum habis, aku belum berenti. Itu masih nggak kekejar. Aku nggak sempet ketemu sama bapak. Aku sampe, bapak udah nggak ada” kata Budi.


Matanya tampak berkaca – kaca. adel terdiam. Dia tidak tahu harus berkomentar apa. Dia hanya bisa menyeka air mata Budi, saat air mata itu meleleh membasahi pipinya.


“Aku udah kehilangan Bapak. Dan aku ngerasa belum siap kehilangan ibu. Aku nggak kebayang gimana paniknya aku, kalau aku masih ada di sana”


“Untungnya kamu sekarang ada di sini” komentar Adel.


“Itu. itu yang aku syukuri Del. Saat ibu butuh, aku ada di tempat yang deket sama beliau. Cuman dalam hitungan menit aku udah sampe. Uang segitu itu, bukan apa – apa. Kalo temen – temennya ibu tadi juga minta bayar, berapa lagi yang harus aku bayarkan? Tapi apa mereka minta? ”


Adel terkesiap. Dia tidak menyangka, Budi akan berpikir sedalam itu. Dia mampu melihat dasarnya gunung es, di saat dia baru bisa melihat dasar yang terapung di permukaan air.


“Dikelilingi orang – orang yang ringan tangan dan ikhlas menolong, adalah anugerah yang tak ternilai harganya” lanjut Budi.


“Tapi kan sekarang kamu nggak punya uang” jawab Adel.


“Nyari lagi” jawab Budi enteng.


“Caranya?”


“Piker keri” jawab Budi.


Adel hanya bisa geleng – geleng kepala. Entah itu pernyataan berdasar logika atau emosi. Entah dia lagi marah atau bercanda. Tapi jawaban itu seperti orang sedang bercanda.


“Aku lihat ibu dulu, ya” kata Budi, beberapa saat kemudian.


“Iya” jawab Adel.


Budi masuk ke dalam ruang UGD. Sempat Adel ingin memanggilnya, karena ingin lihat juga keadaan Bu Ratih. Tapi kemudian dia urungkan. Bu Ratih kan sedang istirahat. Dia tidak mau mengganggunya. Lagipula ada hal yang lebih penting untuk dia segera kerjakan. Dia mengambil ponselnya, lalu menelepon seseorang.


“Halo, Rika. Sibuk nggak?”


“Enggak, Del. Gimana, kamu udah jenguk ibunya Budi?”


“Udah. Beliau udah baikan, tapi masih di UGD”


“Ya Alloh, kata dokter kenapa?”


“Masih nunggu hasil lab. Tapi dugaan awal sih, bu Ratih makan makanan yang terkontaminasi virus diare”


“Oh”


“Rik, aku boleh minta tolong nggak?”


“Apa?”


“Itu, si Budi kan uangnya habis, buat biaya rumah sakit. Bisa tolong ajuin bantuan gitu, sama perusahaan? Aku abis bayar kuliah sama motor. Takutnya dia malah tersinggung kalo aku cuman ngasih seadanya”


“Oh, iya. kebetulan tadi kepala pabrik aku juga udah nyuruh aku buat siapin dana buat Budi. Ini lagi aku proses”


“Alhamdulillah. Terimakasih ya Alloh” respon Adel seneng.


“Ya udah ya, disambung entar. Aku harus buru – buru kelarin, biar cepet cair”


“Oh, iya. iya. makasih ya”


“Sama – sama. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Adel merasa lega sekali. Saking leganya, dia sampai melakukan sujud syukur. Tangisnya pecah dalam sujud itu.


Dalam hati, dia merasa kalau bu Ratih adalah bagian dari hidupnya. Seolah bu Ratih sudah menjadi mertuanya. Sakitnya bu Ratih, adalah kabar buruk buatnya. Kesembuhan beliau, sangat dia harapkan. Dan kelangsungan hidup mereka, seolah juga menjadi tanggungjawabnya.

__ADS_1


“Mbak, udah mbak”


Adel terkejut mendengar suara Putri menyapanya. Sentuhan lemebut tangan Putri, membuatnya mengahiri sujud syukurnya. Lalu Adel memeluk Putri dengan eratnya. Masih ada sisa tangis yang pecah di pundak Putri.


__ADS_2