
Malam semakin larut. Semuanya juga sudah kekenyangan menikmati jagung bakar. Karena esok hari masih ada aktivitas, maka mereka sepakat untuk menyudahi acara bakar jagung itu. Terlebih si Putri sudah menguap-nguap saja.
Saat mereka sedang membereskan bekas acara mereka, terlihat sebuah mobil sedan melaju perlahan memasuki parkiran galeri. Tak lama kemudian, si Brandon memberitahukan Budi, kalau ada orang yang ingin berbelanja.
“Boleh Adel bantu, mas?”
Budi yang hendak berjalan ke depan, sontak menoleh ke arah Adel. Dia menatap bingung pada awalnya.
“Cuman tenaga, yang Adel punya, mas” kata Adel lirih.
Budi tersenyum. Dia paham maksud Adel berkata begitu. Adel tidak ingin menumpang begitu saja tanpa membantu apa-apa.
“Yuk” jawab Budi.
Mereka berdua berjalan ke depan diiringi tatapan mata Madina. Dia menatap begitu lekat sampai-sampai tidak sadar kalau dirinya sedang diperhatikan yang lainnya.
“Beneran, pengen jadi kakakku?” bisik Putri.
“Ha?”
Madina terkejut mendengar suara Putri, sangat dekat dengan telinganya. Dan lebih terkejut lagi, wajah Putri tidak ada di sebelahnya.
“Hi hi hi”
Putri tertawa geli, mendapati trik corong kertasnya bekerja dengan baik.
“Astaghfirulloh Putri. Kirain dedemit, nggak tahunya pake corong kertas. Bikin kaget aja, ih” gerutu Madina.
“Corong kertas apa corong kertas? Bisikanku kan, yang bikin kaget? Hi hi hi” goda Putri.
“Cerewet, ah” tukas Madina.
“Ha ha ha ha”
Putri tertawa mendapati kursi rodanya langsung didorong Madina, masuk ke dalam bengkel kayu.
Di dalam galeri, Budi menerima tamu itu dengan ramah. Tamu itu berwajah khas rusia. Dia juga rupanya mengenali Adel.
Dia menyangka kalau Adel masih menjadi kekasihnya, dan banyaknya orang di belakang itu, dia asumsikan sebagai keluarga keduanya. Memang benar, tapi bukan orang tua dan mertua.
“Excuse me mr. Budi. I looking for spider bracelet. I can’t find over here. Is that item sold out?”
Budi yang sedang diajak berbincang Adel, menoleh seketika.
“Oh. Over there miss Maria. Covered crab bracelet” jawab Budi.
Dia menunjukkan apa yang dicari tamunya itu.
“Oh. Over here” seru Maria senang.
Dia mencoba gelang berbentuk laba-laba andalan Budi itu. Dan dia terlihat senang dengan bentuknya yang pas di lengannya.
“Uum. My friend katya told me, that you have another bracelet that can display special ID, besides time, date, and temperature”
“Katya milanova?” Budi balik bertanya.
“Yes”
“Oh. That one. Crab bracelet” kata Budi menjawab pertanyaan Maria.
Dia mengambil salah satu gelang kepiting itu, memberinya baterai, lalu menunjukkan tampilan LED yang tersembunyi dalam totol-totol di cangkang kepiting itu.
__ADS_1
“Wow, nice” komentar Maria.
“May i choose another colour?” tanya Maria.
“Sure” jawab Budi pendek.
Mariapun memilih warna yang dia suka. Merah marun menjadi warna pilihannya. Tampak malah seperti kepiting rebus.
“Should i give special ID to this bracelet?” tanya Budi.
“Yes. I just wanted to ask that of you. You already asked” jawab Maria, sambil tersenyum menggoda.
“Oke” komentar Budi sambil tergelak.
“Input this ID, please!” kata Maria, sambil memberikan selembar kertas pada Budi.
“A minute” jawab Budi, sambil menerima kertas itu.
“Boleh Adel bantu, mas?” tanya Adel.
“Masih inget caranya?”
“Masih, mas”
“Silakan!” kata Budi menjawab pertanyaan Adel.
“Ijin ya, mas?”
“Oke”
Adelpun segera melakukan penginputan data seperti yang tertulis di kertas itu. Budi menunjuk ke arah Adel, sebagai isyarat kalau gelangnya sedang dikerjakan.
“Maybe you wanna another item?” tanya Budi.
“Actually, yes” jawab Maria kemudian.
“What item? Or, what are you looking for, miss Maria?”
Maria tersenyum terlebih dahulu. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Budi. Seolah ingin berbisik, karena mereka terhalang etalase.
“I looking for pen holder, with naked couple on there” jawab Maria.
Selain menjawab pertanyaan Budi, Maria tampak melirik ke bawah beberapa kali, seolah menyuruh Budi untuk menurunkan pandangannya.
Alih-alih melihat ke etalase, mata Budi tertawan oleh sesuatu yang indah yang terbuka di antara kancing baju Maria yang tidak dikancingkan.
Di pojok sana, Adel terbelalak melihat kelakuan Maria. Ingin dia menegur, tapi dia teringat siapa dia saat ini. Dia urungkan niatnya.
*Scan it*?
Budi bukannya memandangi apa yang berbentuk bulat itu, melainkan tulisan hitam yang tergores pada bulatan putih itu.
“Oh. Im sorry, miss Maria. But, that item is not regular item. That just joking item from my carpenter” seru Budi, menjawab pertanyaan Maria. Sekaligus menetralisir suasana.
“What? What you mean that item is limited edition? Not produced animore?” sahut Maria heboh.
“Unfortunately, yes. I’m sorry, miss Maria”
“Oh. Its not my lucky” kata Maria seolah menyesali keadaan. Tapi matanya terus meminta Budi untuk melihat lagi tulisan yang tersembunyi.
*Scan it? Apa maksudnya*?
__ADS_1
“Uuum, maybe you can pre order first, for that special item. I can deliver that order whare ever you want” kata Budi memberikan pilihan.
“How long?”
“Two days to make that masterpiece, and for the delivery, i need to ask to forwarder first” jawab Budi.
“Uuum. I call you later” jawab Maria.
“Finish"
Terdengar suara Adel berseru. Dia memberikan gelang kepiting itu kepada Maria. Dan maria tampak senang dengan apa yang dia dapatkan. Dia langsung membayar dua gelang itu,
“Thank you miss Maria for shopping at Budi’s galery” kata Budi setelah menyerahkan belanjaan Maria.
“You are welcome mr. Budi. Now, i can show off too. Katya is no longer the only one” jawab Maria.
“Ha ha ha. You are right” timpal Budi.
Mariapun pamit pada Budi dan Adel. Dia sempat menggoda Adel dengan mengacungkan jempol dan kelingking kanannya di samping telinga. Sebuah tanda untuk meminta Budi meneleponnya. Sontak Adel memerah wajahnya.
Tak lama kemudian, Maria keluar dari galeri. Terdengar mobilnya menderu meninggalkan halaman galeri.
“Seneng ya, dikasih yang mulus-mulus. Minta ditelepon lagi. Mau dikasih apa, coba?”
Komentar Adel membuat Budi menoleh. Dia tersenyum geli, mendengar komentar itu.
“Kalo aja dia dateng sama Katya, dulu, aku tambahin satu kata di belakang Idnya” komentar Adel lagi.
“Apa tuh?” goda Budi.
“Bitc*” jawab Adel, sambil berlalu pergi ke belakang.
Singkat, padat, tapi bisa menimbulkan perang nuklir. Beruntungnya Budi, hal itu terjadi saat ini. Dan Erika juga sedang tidak bersamanya. Jadi tidak sampai terjadi perang nuklir. Budi tertawa mengingatnya.
*Maksudnya apa, ya? nggak ada QR code nya, tapi disuruh scan*.
Budi masih belum menemukan apa yang dimaksud oleh Maria tadi. Kertas yang dia pegang itu tidak ada kode lain lagi selain tulisan dalam bahasa rusia.
*Google translate*
Budi merasa kalau ID yang ditulis Maria ini bisa jadi sebuah kalimat dalam bahasa rusia. Dan bisa jadi kalimat itu memiliki arti jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Budipun membuka google translator, dan memindai tulisan itu.
*Biji perunggu terserak di hamparan perak*.
*Sekuntum mawar bermahkota emas masih segar berdiri gagah*.
*Belum ada kumbang yang mendekat*.
*Untuk menghisap nektar sang mahkota emas*.
Sekilas terbaca, seperti syair kuno untuk memuja sesuatu atau seseorang. Tapi bagi Budi, itu bukanlah Syair.
*Keren kang Sukron. Aku sampe nggak nyadar*.
Budi segera merobek-robek kertas pemberian Maria itu sampai tidak bisa dibaca lagi. Masih dia simpan pula, untuk nanti dia bakar di perapian.
__ADS_1
*Siapapun kamu, akting kamu keren, Maria*.
Budi memuji Maria sambil berlalu pergi menuju bengkel kayunya. Meninggalkan Galeri yang sudah dia kunci pintu depannya dari dalam. Untuk Brandon, dia sudah siapkan dispenser air untuknya minum dan menyeduh kopi.