Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pertemuan tak terduga


__ADS_3

Budipun melajukan motornya menuju parkiran. Erika? Tentu dia turunkan di depan pintu lobi.


“Mas”


Sebuah sapaan dari balik meja lobi mengejutkan Budi. Sampai mundur selangkah saking kagetnya. Marsya tergelak melihat ekspresi kaget Budi.


“Ngagetin aja, Sya. Kenapa?” tanya Budi.


“Beneran mas, kamu udah jadian sama mbak Rika?” Marsya ganti bertanya.


“Ha?” Budi terkejut mendengar pertanyaan itu.


“Aduh. Siapa yang ngegosip, ini?” ujar Budi seolah mengeluh.


“Aku sih, denger dari Ratna”


“Heemm” Budi menanggapi ucapan Marsya dengan berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala.


“Syukur lah, mas. Seneng aku dengernya. Ya, meskipun galak sih” komentar Marsya sambil menoleh ke pintu tembus.


“Hempf”


Budi tergelak melihat Marsya berkomentar sambil memasang sikap waspada. Dia tahu kalau Marsya takut Erika tiba-tiba masuk ke lobi.


“Tapi mbak Rika kalo sama mas Budi, bisa melting gitu” lanjut Marsya.


*Tuuuut... tuuuuut*


“Udah kan, gosipnya? Buruan angkat! Pak Paul tuh” goda Budi.


“Tahu dari mana?” kilah Marsya.


Tapi dia tergelak melihat Budi seolah ingin kabur darinya.


“Halo, selamat siang” kata Marsya menerima telepon itu.


Budi beranjak masuk ke dalam kantor, diiringi sebuah senyuman penuh arti dari Marsya. Di dalam kantor, dia mampir dulu ke tempat dimana dispenser air minum berada. Dia merasa haus. Dan terlihat ada Ratna dan Resti sedang berdiskusi di depan kubik staff produksi.


*Mereka kenapa? Gitu amat ngeliatinnya*?


Budi merasa aneh, mereka berdua melihatnya dengan tatapan terkejut. Seperti karyawan yang tertangkap basah sedang enak-enakan disaat jam kerja. Padahal posisi mereka berbeda dengan operator produksi. Jadi seharusnya tidak perlu takut sekalipun mereka terlihat berbincang santai. Karena buat Budi, mereka berdua itu kerjanya ya memang harus dengan berbincang dan berdiskusi.


Selesai dengan minumnya, Budi mendadak merasa ingin buang air kecil. Maka dari itu, dia langsung beranjak menuju toilet.


“Ada orangnya, mas. Ke atas aja!” seru Ratna.


Budi menoleh ke arah Ratna. Dia tersenyum geli mendengar seruan itu. Buatnya itu aneh. Kan toiletnya ada dua. Kalaupun mengantri, seberapa lama, sih? Ini toilet kantor, bukan toilet produksi, yang suka dibuat merokok juga.


*Kletek*


Terdengar suara kunci pintu dibuka. Budi membuat gerakan salamnya orang India buat Ratna. Bukannya tertawa, Ratna malah terlihat tegang. Budi langsung balik kanan tanpa peduli ekspresi wajah Ratna.


“Haa”


Ada suara orang terkejut saat Budi balik kanan. Ya, dia hampir saja bertabrakan dengan orang yang baru keluar dari toilet. Dia juga sama terkejutnya dengan orang itu.


Tapi bukan karena hampir bertabrakannya itu yang membuatnya terkejut, melainkan karena orang yang hampir tertabrak olehnya.


Wajah ayu yang sangat dia kenal, yang sudah sebulan ini menghilang dari pandangan matanya, kini berdiri hanya terpaut kurang dari setengah meter darinya.


Wajah yang mati-matian ingin dia hapus dari benaknya, kini malah muncul tanpa dia duga. Mengorek kembali luka yang belum sepenuhnya kering. Mereka hanya saling menatap, tanpa sepatah katapun keluar dari bibir mereka.


“Mbak Adel?”


Sebuah panggilan menyentakkan mereka. Adelpun menoleh ke sumber suara. Tapi tidak dengan Budi. Matanya seperti terkunci untuk fokus pada satu titik.


“Bisa ikut saya?”


Suara Resti kembali menggema di kantor yang hening ini. Dia, yang menggantikan posisi Isma, memang wajar kalau berhubungan dengan vendor. Termasuk juga dengan wanita ayu di depan Budi itu.


“Iya. Bisa, mbak” jawab Adel.


Sejenak dia menatap kembali wajah Budi. Dan Budi seolah paham dengan arti tatapan itu. Dia bergeser selangkah ke kiri, tanpa merubah arah. Dan Adel menganggukkan kepala saat akan melintas, sebagai ganti dari kata, permisi.


*Ya Alloh, drama apa lagi yang akan Engkau hadirkan buatku? Menghadapi kenangannya saja aku kelimpungan ya Alloh, ini malah Engkau pertemukan aku dengan orangnya langsung*.


“Mas”


Budi terkejut mendengar sebuah teguran. Ada Ratna yang menepuk pundak kanannya.

__ADS_1


“Ditunggu mbak Farah, di ruang meeting bawah” Lanjut Ratna.


Budi tidak segera merespon. Fokusnya masih buyar akibat pertemuan tak terduga tadi.


“Mas?” tegur Ratna lagi.


“Oh, ya. Oke” jawab Budi tergagap.


“Apa?” tanya Ratna mengetes Budi.


“Dicari mbak Farah, di ruang meeting bawah” jawab Budi menirukan kalimat Ratna.


“Oke. Jangan lama-lama!” ujar Ratna sambil tersenyum menggoda.


“Oke” jawab Budi datar.


Godaan Ratna tidak mengena di hatinya. Karena saat ini, Budi sedang merasakan kembali kehancurannya saat harus berpisah dengan Adel.


Diapun menganggukkan kepalanya, sebagai ganti permintaan ijin untuk masuk ke dalam toilet.


Seusainya buang hajat, Budi langsung menuju ruang meeting bawah. Di koridor, dia melihat Erika sedang berbincang di telepon. Tapi matanya lurus menatap matanya. Dia juga sempat mengusap dadanya beberapa kali.


Budi Tahu, Erika sedang menunjukkan perhatiannya. Budi mengangguk dan memberikan seulas senyum. Walau terlihat dipaksakan. Erikapun mempersilakan Budi melanjutkan perjalanan ke ruang meeting bawah.


*Siapa ya, tamunya? Tumben ngajakin aku? Kalo meeting internal, kenapa nggak di atas? Masa iya mbak Farah mager*?


“Bud?”


Sebuah sapaan mengalihkan perhatiannya. Sebuah tangan melambai di arah yang memang ingin dia tuju.


Dia bingung, mengapa Farah pakai melambaikan tangan segala. Toh ruang meeting ini hanya ada tiga kubik. Tidak seluas pasar minulyo. Tapi diapun melangkahkan kakinya menghampiri Farah.


“Assalamualaikum” sapanya.


“Loh” lanjutnya kemudian.


“Wa’alaikum salam” jawab Farah dan tamu di depannya.


“Liz. Apa kabar?” seru Budi heboh.


Ada secercah kebahagiaan di hati Budi, saat mengetahui kalau yang bertamu itu adalah mantan kekasihnya. Sama-sama tak terduga, tapi yang ini terasa seperti obat buat Budi. lizapun berdiri menyalami Budi.


“Ada angin apa, nih?” tanya Budi sambil tersenyum lebar.


“Duduk dulu lah, Bud!” pita Farah.


Budi menoleh ke Farah.


“Sudah berhasil, mbak”


Sebuah suara sempat menahan Budi untuk duduk. Reflek dia menoleh ke kanan. Dan lagi-lagi tatapan matanya harus beradu dengan tatapan mata Adel.


“Harusnya udah masuk. Silakan di cek!”


Suara Resti menyita perhatian Adel. Dia menoleh kepada Resti.


“Ibu, gimana kabarnya, mas?”


Suara Liza sanggup membuat Budi mengalihkan pandangannya. Dia bingung mendapati Liza juga masih berdiri.


“Ibu?” Budi agak kurang nyambung.


“Sehat. Alhamdulillah, lagi seneng, dia” lanjut Budi menjawab pertanyaan Liza.


“Abis dapet apa, emang?”


“Ha ha ha ha”


Budi malah tertawa. Dia merasa geli membayangkan ibunya sedang jatuh cinta lagi. Tidak mau kalah sama anak-anaknya.


“Main dong! Pasti seneng si Putri” ajak Budi.


“InsyaAlloh. Abis dari sini” jawab Liza.


Di seberang, Budi bisa melihat kalau ada wajah yang ditekuk karena merasakan cemburu. Tapi helaan nafas beratnya menyiratkan kalau si empunya wajah sadar, kalau sekarang dia sudah tidak punya hak lagi untuk mencemburui Budi. Apalagi mengekspresikannya dalam bentuk verbal, terlebih perbuatan.


“Gini, Bud” kata Farah memulai pembicaraannya.


“Mbak Liza ini ingin memesan kursi malas, yang tipe Ini” lanjut Farah.

__ADS_1


Budi disodorkan katalog oleh Farah. Dan Budi langsung paham dengan yang ditunjuk itu. Hanya saja dia merasa aneh dengan pilihan itu. Terlebih ada angka seratus lima puluh unit terasa terlalu banyak untuk perorangan. Budipun menatap Liza dengan senyum yang mengundang tanda tanya.


“Kenapa, mas?” tanya Liza.


“Kamu beneran bikin toko sendiri, Liz?” sahut Budi antusias.


“Oh, bukan. Ini bukan buat aku. Ini pesenan papa” jawab Liza.


Budi tersentak. Kata ‘papa’ mengandung dua arti buat Budi.


“Papa? Eemm. Merujuk pada siapa, nih?”


Budi berusaha mencari sesuatu yang menjadi pembeda status Liza kini.


“Ya papanya mbak Liza lah, Bud. Masa papanya Rika. Pak Paul, dong?” sahut Farah heboh.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Budi tertawa lepas mendengar kelakar Farah. Tapi di matanya masih terlihat sorot mata penuh tanda tanya.


“Papaku, mas. Dulu aku nyebutnya bapak. Karena aku nggak biasa manggil papa, gitu. Orang kampung kok manggil bapaknya, papa. Nggak ada pantes-pantesnya” jawab Liza.


Budi malah termenung sambil menatap wajah Liza. Tampak kalau sebagian pikirannya mengembara.


“Liz, sori. Melenceng dari topik, nih. Ibu apa kabar?” tanya Budi beberapa saat kemudian.


“Eeem”


Liza tampak berat untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi keterdiaman Liza tampak sudah cukup menjadi jawaban buat Budi, bahwa ibunya Liza telah meninggal karena penyakit yang telah lama beliau derita. Dan tebakan Budi, bapak tirinya itu telah menikah lagi. Makanya panggilannya juga berubah.


“Maafin aku ya, Liz. Aku malah nggak ada saat kamu down. Aku cuman, eem”


“Nggak papa, mas. Kamu nggak ada salah kok sama aku. Ya, namanya umur, pasti ada batasnya, kan?” jawab Liza.


Budi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia jadi teringat pada bapaknya. Dulu Liza juga memaksa untuk ikut saat dia pulang kampung untuk menengok bapaknya. Begitu besar perhatian Liza padanya dan keluarganya. Tapi yang dia berikan justru kebalikannya. Dia juga jadi teringat dengan pak Fajar. Lalu teringat juga kisah cintanya yang telah kandas.


“Bud?” tegur Farah.


“Eh, anu. Eee. Aduh, maaf. Malah out of focus” kata Budi tergagap.


Lisa mengerti apa yang sedang dirasakan Budi. Di dalam hatinya, ingin dia kembali mendekat kepada Budi. Ibarat kata Budi mau menikah dengannya, dia akan dengan senang hati meninggalkan karirnya, dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.


“Terimakasih mbak Adel, telah sudi meluangkan waktunya. Mohon maaf, jadi membuat mbak Adel harus datang ke sini”


Suara Resti kembali menggema setelah sekian saat tidak terdengar.


“Saya yang berterimakasih, mbak. Mbak Resti mau mendahulukan saya. Pastinya mbak Resti siibuk, kan?”


Suara Adel kini ikut menggema. Budi masih hafal intonasi suara itu. Jawaban yang tidak lepas dari dalam hati. Basa-basi khas orang jawa.


“Jadi gimana, Bud? Bisa nggak pesanan ini kelar nanti sore?”


Pertanyaan Farah membuat Budi seperti ditarik dari alam mimpi. Dia sempat tidak tersambung untuk sesaat.


“Sore? Emang ditungguin?” tanya Budi memastikan.


“Iya, mas” jawab Liza pendek.


“Tunggu-tunggu! Ini kan pandemi mulai menyebar, Liz. Serius mau pesen segini banyak?” tanya Budi dengan suara lirih.


“Buat di Manado sama labuan bajo, mas”


“Manado?”


Mendengar manado di sebut, ingatan Budi melayang pada orang tua Erika, yang saat ini juga berada di Manado. Liza hanya menganggukkan kepalanya.


“Saat ini kedua tempat itu masih aman. Dan pesanan ini, diminta cepet karena papa sudah ada kesepakatan dengan rumah sakit daerah. Kalo pandemi sampai di sana, dan rumah sakit daerah kehabisan tempat tidur, maka pihak rumah sakit akan meminjam kursi malas itu sebagai tempat tidur darurat”


“Oh” budi manggut-manggut.


“Jadi, gimana?” tanya Farah.


“Kalo ngeliat loading tadi pagi, harusnya bisa” jawab Budi.


“Ya udah. Ini harga udah sepakat, DP juga udah masuk, geser yang lain, dahulukan yang ini!” perintah Farah.


“Siap” jawab Budi.


Saat itu juga Budi pamit untuk berkoordinasi. Saat dia menoleh ke kubik tengah, Adel sudah tidak ada di sana. Dia jadi bertanya-tanya dalam hati. Karena dia tidak mendengar langkah kaki keluar dari ruangan ini sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2