Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
godaan budi


__ADS_3

Perhatian mereka teralihkan oleh pelayan resort yang datang membawakan jus jeruk yang telah dipesan. Lalu salah satunya memberikan daftar menu makanan.


“Silakan, bu! Pesen yang ibu suka!” pinta pak Paul.


“Iya, pak” jawab bu Ratih.


“Bud. Jangan sungkan-sungkan!”


“Siap, pak. Soal makan sih, otomatis” jawab Budi setengah bercanda.


Saat Budi sedang memilih menu, Erika tampak sibuk dengan ponselnya. Budi cuek saja. dia berpikir, paling juga urusan kantor. Bergantian mereka memesan menu makan siang.


“Saya sop daging. Sama air mineral dong, yang dingin” kata Budi menyebutkan pesanannya.


Dan pelayan itu mengulang pesanannya sambil menuliskannya di selembar kertas.


“Ma?” panggil Budi, sambil menoleh ke arah Erika.


Sontak semua mata tertuju padanya. Tak terkecuali dengan Erika sendiri. Dia terkejut mendapat sapaan tak biasa itu. Seolah-olah Budi berbicara dengan istrinya.


“Mau enggak, “ tanya Budi dengan nada menggantung.


Perhatian Erika tertuju pada daftar makanan.


“Hem? Oh”


Dia mengambil daftar menu makanan yang dipegang Budi.


“Dipanggil mama?”ucap Budi, melanjutkan kalimat yang menggantung tadi.


Sontak Erika kembali menatapnya. Dia ingin protes, tapi dia tidak tahu, kalimat apa yang akan dia pakai untuk protes. Dia tersipu malu dipanggil mama, tapi sekaligus tersanjung. Budi memanggilnya mama di hadapan ibunya sendiri.


“Aku udah pesen sop kambing, “ kata Budi, mengantung lagi.


“Oh. Sama” jawab Erika reflek, setengah tergagap.


“Asik. Greng” komentar Budi sambil tergelak.


“Adoow”


Dia memekik kaget, mendapat cubitan dari Erika. Saat dia menoleh, Erika sedang melotot gemas padanya. Sontak dia tertawa geli.


Erika salah tingkah saat pak Paul dan bu Ratih melontarkan candaan bernada menggoda. Tapi senyumnya menyiratkan kalau dirinya suka digoda seperti itu.


“Jadi gimana, Bud? Apa boleh aku mengenal lebih jauh tentang ibumu?” tanya pak Paul, beberapa saat kemudian.


“Oh. Iya, silakan!” jawab Budi.


“Tapi bapak Sudah tahu kan, tata caranya?” lanjut Budi.

__ADS_1


“Sudah” jawab pak Paul pendek.


Acara makan siang bersamapun akhirnya berlangsung. Beberapa kali pak Paul melempar candaan kepada bu Ratih, dan langsung bersambut. Bagai anak Muda yang baru mengenal Cinta.


Tapi lain halnya dengan Budi. Ada momen dimana dia termenung. Sampai Erika menyikut lengannya. Bukan Adel yang terlintas di benaknya, tapi almarhum bapaknya.


Entah mengapa tiba-tiba dia merasa kasihan dengan bapaknya. Walaupun dia tahu, kalau yang sudah meninggal itu hanya butuh doa.


Sambil berbincang-bincang ringan setelah makan, Budi menyelipkan informasi mengenai pekerjaan. Tentang idenya untuk membangun jalur pembuatan masker.


Tanpa dia duga, ternyata gayungnya langsung bersambut. Ternyata pak Paul punya ide yang sama. Dia langsung meminta rancangan Budi. Budi membuka catatannya, dan menjelaskan rencana kasarnya. Pak Paul meminta Erika untuk membuat jadwal meeting besar di kantor, untuk membahas hal ini.


“Pak Paul, saya dan Erika, pamit duluan ya, pak. Sudah lewat dari jam istirahat” kata Budi, setelah pembahasan itu selesai.


“Emangnya kamu belum delegasiin kerjaan kamu ke Aldo?” tanya pak Paul.


“Sudah, pak. Tapi kan ada yang harus saya kerjakan sendiri” jawab Budi. Pak Paul tertawa mendengar jawaban Budi.


“Tapi kita mau sampe sore lho, di sini”


“Ya, silakan. Asal nggak sampe besok saja” sahut Budi.


“Keenakan Panjul” lanjut Budi.


“Mas Budi, ih” seru Putri sambil melemparkan tisu yang telah dia remas-remas ke arah kakaknya. Dia tidak terima pacarnya dipanggil Panjul. Budi tertawa lepas, sampai ditegur ibunya.


“Percuma pak, kalo masih ada tanggungan sih, malah nggak tenang” jawab Budi.


“Ya sudah kalau itu maumu” kata pak Paul mengalah.


Budipun pamitan dengan ibu, adik dan calon iparnya. Tapi tidak dengan Erika. Dia tampak serius membalas pesan di ponselnya, sampai-sampai tidak mendengar kata pamitan dari Budi. Bahkan tidak tahu kalau Budi sudah berdiri di depan saung.


“Mas”


Terdengar suara Budi memanggil seseorang. Erika belum merespon. Bahkan masih tidak sadar sedang menjadi pusat perhatian.


“Kamar yang ini kosong nggak?” tanya Budi. Erika belum merespon.


“Istri saya, butuh ruangan buat kerja” lanjut Budi.


Sontak Erika mendongakkan kepalanya. Dia terkejut mendapati dirinya ditunjuk Budi saat mengucapkan kata ‘istri’.


“Kosong, mas. Mau lihat dalemnya?” jawab karyawan resort itu.


“Yuk!” jawab Budi.


“Mas Budii”


Seketika Erika panik. Sambil tertawa gemas dia meminta ijin untuk mengejar Budi. Bu Ratih dan yang lain tertawa melihat kekonyolan Budi.

__ADS_1


“Mas Budi” panggil Erika lagi.


Budi menoleh lalu tertawa, membuat karyawan resort tadi kebingungan.


“Mas. Bener-bener kamu ih. Bikin salting aja”


“Ha ha ha ha” Budi tertawa sambil menahan sakit akibat cubitan Erika.


“Silakan, mas!” kata karyawan resort tadi.


Erika melotot gemas pada Budi. Itu karena dia juga tahu, kalau semuanya masih memperhatikannya.


“Oke. Makasih, ya mas” kata Budi sambil menyalami karyawan itu.


Dia selipkan selembar uang seratus ribuan di antara telapak tangannya dan telapak tangan karyawan itu.


“Loh?” karyawan resort itu bingung.


“Maaf ya, mas. Barusan itu ngeprank aja. Abisnya dia fokus banget sama kerjaannya” kata Budi.


“Oh. Iya. nggak papa mas” jawab karyawan resort itu, setelah melihat uang di genggamannya.


Akhirnya, sambil tertawa, Budi pamit untuk pulang. Dan Erika kembali ke saung, karena belum pamitan pada semuanya. Sontak terjadi kehebohan, karena Putri dan Zulfikar menggodanya.


Di sepanjang perjalanan, Budi masih terus mencandai Erika. Dan beberapa kali berbuah cubitan di pinggangnya. Walaupun berlagak kesal, tapi senyum Erika tak henti-hentinya mengembang di bibirnya. Sampai di pos scuritypun Budi masih terus mencandainya.


“Wah, wah, wah. Ini sih bukan abis ketemu si bos, kayaknya” komentar si scurity.


“Iya. Abis ketemu calon ipar” jawab Budi selengehan.


“Adoow”


Dia memekik karena mendapatkan cubitan lagi. Membuat si scurity tertawa.


“Nyubit mulu, sih?” protes Budi.


“Jangan bikin gosip deh!” sahut Erika, sok merajuk.


“Lah, kan bener. Ada si Panjul tadi, cowoknya adekku. Calon ipar, kan?” jawab Budi.


Sejenak Erika terkesiap. Dia tampak berpikir dengan jawaban yang baru saja dilontarkan Budi.


“Dan adeknya mas Budi, calon iparnya bu Rika?” celetuk si scurity.


“Nah. Itu baru gosip. Pak srikiti lho mbak, bukan aku” sahut Budi.


“Adooww” Budi kena cubit lagi.


Tapi ada senyum mengembang dibalik wajah yang dibuat seolah-olah sedang merajuk. Budipun melajukan motornya menuju parkiran. Erika? Tentu dia turunkan di depan pintu lobi.

__ADS_1


__ADS_2