Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
mau twist?


__ADS_3

Tak lama kemudian, Farah dan yang lain keluar untuk berpamitan. Kecuali Aldo. Dia tetap tinggal, karena dia merasa sebagai bagian dari Stevani. Setelah mereka pergi, Zulfikar meminta ijin untuk menemui kekasihnya. Budi dan bu Ratih mengijinkannya.


“Mas” panggil Erika, saat Zulfikar dan Madina telah masuk ke dalam ruang rawat. Termasuk dengan bu Ratih.


“Ya?” sahut Budi.


“Besok ada supplier mau kunjungan. Mas bisa luangin waktu buat nemuin mereka, nggak?” tanya Erika.


*Eh iya. Jadi keinget sama material. Jadi nggak sempet ngitung sisa akhirnya*.


“Supplier apa?” Budi balik bertanya.


“Itu, yang mesin pembuat masker” jawab Erika.


“Pak Paul minta kita buat diskusi dulu, soal permesinanya, juga soal pelatihannya. Kalo memang memungkinkan bisa dilakuan dalam waktu singkat, ya kita jalankan” lanjut Erika.


“Masker yang apa nih?”


“Yang kain sama yang medis. Tapi kayaknya yang kain dulu yang lebih cepet. Yang medis sih, aku agak kurang yakin sama perijinannya”


“Kondisi darurat pasti dipermudah, lah” komentar Budi.


“Semoga” sahut Erika.


“Gimana?” tanyanya, mengulang pertanyaan di awal.


“Lihat besok pagi, ya! Semoga yang di sini bisa aku delegasiin”


“Amin. Cuman bahas itu doang, kok. Abis itu, mas bisa balik lagi ke sini”


“Kamu sendiri, besok ngantor?” tanya Budi.


“Iya, mas. Nggak papa, kan? Pak Paul mau ke dinas kesehatan, buat ngurus legalitasnya. Dan aku harus ikut” jawab Erika.


“Heemm. Ya mau gimana lagi” sahut Budi.


Jawaban yang mengambang bagi Erika. Tapi dia tidak punya pilihan. Kini dia sedang memikirkan, siapa yang kiranya bisa membantu bu Ratih, saat Budi juga harus pergi ke pabrik.


“Udah, tenang. Ada kang Supri CS. Ada Hanin, juga. Banyak kok yang bisa bantu ibu” kata Budi, menangapi keterdiaman Erika.


“Maafin aku ya, mas. Benernya aku juga pengen cuti, buat bantu-bantu di sini”


“Jangan! Masa depan tetep harus diperjuangin. Kehadiranmu di sana, juga merupakan bagian dari perjuangan masa depan kita. Jangan sampe PRAM redup, bisa didemo orang sepabrik, kita”


Erika tersenyum mendengar ucapan Budi. Dia sekarang tenang dan mantap untuk menjalankan kewajibannya, besok.


***


Keesokan paginya, Budi terbangun saat mendengar adzan subuh. Dia tidur sambil duduk, tepat setengah meter di kanan Erika.


Dia tersenyum saat melihat Erika tidur berdampingan dengan akur dengan ibunya.


Zulfikar harus kembali bertugas. Sebagai intel, dia harus siap kapan saja. Teras ruang rawat itu tidak terasa dingin bagi Budi. Malah terkesan hangat.


*Ceklek, krieeeet*


Terlihat Aldo keluar dari ruang rawat. Dia berjalan mendekati Budi.


“Kopi, Do” tawar Budi.


Suara Budi membuat Erika dan bu Ratih terbangun.


“Makasih. Entar aja” tolak Aldo, halus.


Aldo memberikan seulas senyum pada bu Ratih, saat mereka bertemu pandang. Lalu duduk di samping Budi.


“Gimana si Vani? ngigau, nggak?” tanya Budi.

__ADS_1


“Enggak. Alhamdulillah, pules dia. Cuman kebangun sekali, pas mau buang hajat” jawab Aldo.


“Terus, kamu bantuin?”


“Sama suster lah, Bud”


“Lah. Kok nggak dibantuin?” goda Budi.


“Belum muhrim, Budi. Mana mau dia? Emang mbak Rika, mau kamu bantuin?”


“Mau” jawab Budi singkat.


*plak*


“Jangan gosip! Aku buang hajatnya ke toilet, keles” bantah Erika, sambil menepuk paha Budi.


“Ha ha ha” Budi tertawa mendengar bantahan Erika.


“Udah sholat subuh, ngger?” tegur bu Ratih.


“Belum, bu” jawab Budi.


“Sholat, yuk!” ajak bu Ratih.


“Eeem. Mending ibu dulu deh, sama Rika, sama Madina. Budi abis ibu. Sekalian cari sarapan, abis subuhan” jawab Budi.


"Terus, yang ngimamin, siapa?” tanya Erika.


“Eeem” Budi bingung mau menjawab bagaimana.


“Udah yuk, pasti ada yang jadi imam, di mushola” sahut bu ratih.


“Budi biar jadi imam buat Putri. Pas banget, Putri ranjangnya ngadep kiblat” lanjut bu Ratih.


“Oh iya. Bener juga, itu” komentar Budi.


“Di mushola aja” jawab Aldo.


“Kok gitu? Nggak bisa dituker, apa?” protes Erika.


“Kenapa harus dituker?” tanya Budi bingung.


“Oh. Mau twist? Oke. Yuk, Do” sahut Erika. Dia bangkit dari duduknya, beranjak menuju keran air, tak jauh dari tempat mereka beristirahat.


“Hempf” Budi malah tergelak.


“Kok ketawa?” tanya bu Ratih bingung.


“Berasa ngeliat ibu waktu masih gadis. Gitu juga kan, kalo cemburu?” jawab Budi.


“Sok tahu” bantah bu Ratih.


Tapi senyumnya seolah menyiratkan kalau apa yang dikatakan Budi, benar adanya.


“Ya udah, Do. Titip Putri, ya! Tuker aja, kita” kata Budi pada Aldo. Aldo tertawa melihat budi ngeper.


“Iya deh. Kasihan Riki, kalo mbak Rika sampe ngambek. Nggak tahu apa-apa, kena semprot juga”


“Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar jawaban Aldo.


Budipun berdiri dan menghampiri Erika. Dia ikut membasuh mukanya. Dai tertawa melihat Erika masih cemberut. Setelah Madina bergabung, mereka berempat beranjak menuju mushola.


Setelah sholat subuh, Budi meminta ijin untuk mencari sarapan. Erika, sudah barang tentu tidak mau berpisah dari Budi. Dia ikut mencari sarapan.


Tak susah, karena di depan ada kantin yang sudah buka di jam segini. Sarapan ala kadarnya, sudah siap di tangan mereka. merekapun kembali dan sarapan bersama.


“Lu ngantor, Do?” tanya Budi, saat sedang minum kopi bersama, setelah sarapan.

__ADS_1


“Pengennya sih, cuti. Tapi ada kiriman material pagi ini” jawab Aldo.


“Oh, iya. Lu punya catatan sisa material, nggak?”


“Ada. Buat apa emang?”


“Mbak Rika sih, yang minta” jawab Budi.


Agak janggal menurut Aldo, Budi memanggil Erika kembali menggunakan sapaan’mbak’. Tapi kemudian dia paham, kalau sapaan itu, merujuk pada Erika dalam kapasitasnya sebagai atasan mereka.


“Kita harus mengawasi penggunaan material. Ya meskipun kita nggak ada catatan kehilangan atau pencurian, tapi pemotongan material yang sembarangan kan bisa bikin boros, Do. Makanya kita harus set bener-bener, dari pesanan yang masuk, ada nggak potensi terbuang? Kalo ada, kita harus mikir ulang, gimana caranya meminimalkan material yang terbuang itu. Jangan sampe juga, karena kondisi ekonomi yang lagi sulit begini, ada tindakan pencurian, yang kita nggak tahu” lanjut Budi menjelaskan.


“Ya masa kita nggak tahu, Bud. lonjoran begitu, lho. Gimana bawanya, kalo mau nyolong?” sahut Aldo.


“Ya aku belum kepikiran, sih. Judulnya kan cuman antisipasi. Judul besarnya, cost saving” jawab Budi.


*Eh. Kalo bahan tambah las, sama cat, bisa sih. Lumayan juga harganya, kalo beli perorangan*.


“Oke” jawab Aldo.


“Catatannya, masih mau liat?” tanya Aldo.


“Boleh. Mana?” jawab Budi.


Aldopun membuka ponselnya. Dia membuka laporan yang biasa dia masukkan secara harian. Budi membaca dengan seksama laporan Aldo.


“Oke. Ini udah sampe yang kemarin sore, ya?” tanya Budi.


“Iya. Mau dicek?”


“Kalo sempet nanti mau cek”


“Emang lu mau ngantor juga?” tanya Aldo penasaran.


“Pengennya cuti juga. Masa adek gua sakit, gua kerja juga? Tapi kata mbak Rika, mau ada supplier yang datang. Yang rencana bikin jalur masker itu”


“Oh. Emang harus lu? Kenapa nggak mbak Farah aja?”


“Eeem. Karena gua yang punya ide, kali. Jadi gua harus tanggung jawab sama ide gua” jawab Budi berspekulasi.


“Mau dari pagi, emang?”


“Enggak, sih. Kalo orangnya udah dateng aja, gua baru nyamper”


“Iya, deh. Entar kita cek bareng, abis ketemu supplier. Barang kali ada yang salah. Kacau gua, kemarin sore, denger Vani kecelakaan. Pengen kabur, lu udah duluan”


“He he. Sori, Do. Reflek” jawab Budi.


“Ya udah, Bud. Gua berangkat duluan, ya?”


“Oh. Oke. Pamit dulu gih, sama yang di dalem!”


“Oke”


Aldopun beranjak bangun untuk pamitan dengan Stevani dan yang lain.


Terdengar gelak tawa dari dalam ruangan. Itu tak lain karena Erika mengajukan ijin pada Stevani untuk membonceng pada Aldo untuk berangkat ke kantor. Keduanya sempat ceng-cengan. Tapi pada akhirnya, Stevani memberikan ijinnya.


“Mbak. Lu udah nggak marah kan, sama gua?” tanya Stevani.


“Kenapa harus marah? Kan semuanya udah jelas. Gua malah yang minta maaf. Sempet ngejelekin lu, saat kemakan hasutan permainan Isma” jawab Erika.


“Makasih ya, mbak”


Mereka berduapun pamit keluar. Di teras, terjadi lagi drama yang lain. Kali ini bersama Budi.


Tapi ternyata, Budi hanya bercanda saja. Karena dia sudah mendengar apa yang mereka perbincangkan di dalam tadi. Dan Budi memberikan ijinnya pada Erika, untuk berangkat bersama Aldo. Budi pergi melihat keadaan Putri.

__ADS_1


__ADS_2