
“Ta. Siaga penuh, ya!”
Budi memberikan peringatan kepada Adel.
“Ada apa, Bram?” tanya Adel bingung.
“Kayaknya ada yang ngikutin kita, Ta” jawab Budi.
“Astaghfirulloh. Terus?”
“Kalo mereka nggak nyerang, biarin aja. Siapa tahu cuman searah aja. Tapi kalo mereka nyegat kita, dan Abram harus keluar, Tata gantiin pegang stirnya!”
“Terus, Tata harus gimana?”
“Kalo Abram masih bisa ngatasin, Abram akan pukul mereka ke depan sana. Tata majuin mobilnya perlahan! Kalo Abram kewalahan, Tata pergi! Cari bantuan!”
“Bram. Mending nggak usah diladenin, deh!”
DAAAKKK
“Astaghfirulloh”
Mereka dikejutkan kaca mobil bagian belakang yang seperti dipukul dengan sesuatu.
Ngeeeeeng
Dua motor menyalip mereka lalu menghalangi jalan mereka. Salah satunya menoleh ke belakang sambil memberikan isyarat kepada Budi untuk menepi. Tapi Budi tidak mau menepi. Dia terus berjalan dengan tanpa mengurangi ataupun menambah kecepatan.
Dug dug dug
Terdengar kaca samping digedor seseorang. Dan terlihat, ada dua motor yang berjalan di samping mereka. Budi masih tidak bergeming. Dengan santainya dia malah memberikan hormat kepada pemotor yang berada di sampingnya.
Baakkkk
“AAAA”
Adel terkejut, karena kaca pintunya juga digedor dari luar. Dan terlihat ada pemotor lain yang memepet dari sebelah kiri. Santai saja, Budi terus berjalan dengan lebih mememet ke arah kiri.
Grodak grodak grodak
Pemotor di sebelah kiri tadi kehabisan jalan dan terpaksa harus mundur. Beruntung mereka tidak jatuh karena harus menggasak bebatuan.
DUG DUG DUG DUG DUG
Kali ini dengan sebilah besi bulat, kaca pintu kanan digedor. Pemotor yang di sebelah kanan Budi sepertinya sudah kesal, karena Budi tidak kunjung berhenti.
“Bram. Gimana, nih?” tanya Adel mulai ketakutan.
“Tenang Ta, jangan panik!” jawab Budi menenangkan.
Pemotor di sebelah kanan itu memberikan isyarat keras buat Budi agar menepi.
BAKK BAKK BAKK BAKK BAKK
Pemotor kedua, yang agak di belakang tampak lebih tidak sabar lagi. Dia memukuli kaca pintu kanan belakang.
“Braam”
Adel mengingatkan Budi. Tapi Budi masih tampak tenang. Dia kemudikan mobil Adel agak ke tengah. Membuat para pemotor itu mundur. Itu karena dari arah depan, ada sebuah bis yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.
Budi tersenyum membaca tulisan ‘Kadal Mesir’ di topi kaca depan bus itu. lambang huruf A dan J menghiasi bagian depan bis itu, tepat di bawah wiper.
__ADS_1
“Bram awaas!”
Adel memekik melihat kedua pemotor yang ada di depan mereka mengurangi kecepatan secara tiba-tiba. Tapi Budi tidak mengurangi kecepatannya sama sekali. Hampir saja pantat motor mereka tersundul bumper depan mobil Adel.
DUAAAKKK
Dari arah belakang terdengar lagi suara kaca dipukul.
Ciiitt
Budi melakukan pengereman mendadak.
DUAAAK.... BRAAAK SRAAAAAAK
Salah satu di antara mereka terjatuh karena menabrak bumper belakang mobil Adel.
DUAK DUAK DUAK DUAK DUAK
Kali ini mereka lebih brutal dalam memukuli kaca mobil Adel. Tak hanya satu, sekarang di samping kanan Budi sudah ada empat bahkan lima motor. Dan ada juga yang menyalip, membantu yang dua di depan untuk mengintimidasi Budi. Tapi Budi masih tidak bergeming.
“Bram. Tabrak aja! Mereka bawa senjata tajam” pinta Adel
“Biarin mereka keluar semua dulu, Ta! Abram nggak tahu, ada berapa banyak mereka sebenarnya” jawab Adel.
“Lagian Abram belum punya lisensi rally. Kalo moto cross, Abram punya” lanjut Budi.
“Jangan bercanda, Bram!” sergah Adel semakin takut.
Seperti apa yang Budi tunggu, tak kurang dari sepuluh motor ikut mengepung mereka dari segala sisi. Bahkan ada juga motor cross yang mengapit mereka dari sebelah kiri.
“Mobil ini punya asuransi, Ta?” tanya Budi.
“Ngapain mikir asuransi sih, Bram? Ancur juga bodo amat. Yang penting selamat” jawab Adel.
“Apa?” pekik Adel terkejut.
Budi bersiap-siap mengambil ancang-ancang di jalan lurus. Dia mencoba melepaskan kemudi mobil Adel. dan ternyata bisa bergerak lurus. Dia mengincar besi pejal yang dipegang pemotor di sebelahnya.
Seeeeng
Budi menurunkan kaca pintunya.
“Woooe”
Wuusss
Braaakk
Ayunan besi pemotor itu sukses membuat kaca pintu kanan retak dan gompal atasnya. Tapi ujungnya berhasil ditangkap Budi.
Sreeettt
“AAAAA”
Braaakkkk
Krosak krosak krosak
“WOOOOOIII”
Kedua orang dalam satu motor itu terjatuh menghantam aspal. Sayangnya, yang di belakang mereka tidak ikut jatuh. Ramai mereka mengintimidasi Budi.
__ADS_1
“Pegang kemudi, Ta!” perintah Budi.
“Ha?”
Budi tidak menghiraukan keterkejutan Adel. Dia melambatkan laju mobil Adel sambil menaikkan kembali kaca pintu kanan.
“KELUAR BANG***!” suara dari luar semakin riuh saja.
“Bram” pekik Adel.
“Kunci pintunya!” perintah Budi.
Budi membuka pintu mobil dan keluar dengan sebatang besi pejal di tangan kanannya.
Blem
Klek
“HYAAAAAT”
Adel langsung mengunci pintu mobilnya begitu Budi menutup pintu kanan. Dan dia langsung mengambil alih kemudi.
Trang bug bug bug
Tang tang tang
“AAAA”
Budi langsung menyambut setiap serangan yang datang padanya. Tak peduli seberapa panjang golok yang mereka bawa, buat Budi, pemegang goloknya lebih penting untuk diperhatikan.
Beruntungnya mereka bukan orang yang ahli menggunakan golok. Hanya dengan satu-dua pukulan saja, Budi berhasil membabat satu per satu penyerangnya.
Seperti yang dia katakan kepada Adel, Budi mulai bergerak ke arah depan mobil. Dia menangkis dan mengayunkan besi pejalnya ke kepala setiap penyerangnya. Satu per satu mereka tumbang. Dan menciptakan ruang untuk Adel melajukan mobilnya secara perlahan.
BAAKK BAAKK BAAKK
Tak dia pedulikan gempuran orang-orang itu pada bodi mobilnya, Adel fokus melajukan mobilnya perlahan.
Trang bug trang bak bug bag bug
Hanya mengandalkan jurus perenang lompat ke kolam, sudah cukup buat Budi melucuti senjata tajam dari lawannya. Dan satu pukulan di kepala, sudah cukup menyudahi aksi penyerangnya.
Begitu terus. Sudah lima belas orang orang tumbang di tengah jalan. Sebagian berteriak kesakitan karena kaki ataupun tangan mereka terlindas ban mobil Adel, yang melaju tanpa ampun.
Tanpa Budi duga, sebagian yang tersisa ternyata memilih kabur. Tak kurang dari sepuluh orang dalam lima motor, memilih untuk tak melanjutkan aksi teror mereka. Adel menghela nafas lega. Dia melajukan mobilnya beberapa meter di depan gerombolan penyerang yang bergelekatan itu.
Tok tok tok
Budi mengetuk kaca pintu sebelah kanan. Tapi Adel tidak merespon. Dia tampak syok dengan apa yang baru saja dia alami.
Tok tok tok
“Del. Buka pintunya, del!” pinta Budi.
Tok tok tok
Kali ini tampak Adel sudah sadar. Dia terkejut dan langsung menurunkan kaca pintu.
“Kamu nggak papa, Ta?” tanya Budi. Adel tidak menjawab. hanya menatap lekat mata Budi.
“Ayo buruan pergi! Bisa jadi mereka bawa pasukan lebih banyak” ajak Budi.
__ADS_1
Adel masih tidak berbicara. Tapi dia mengangguk lalu membuka pintu. Dia beralih menuju jok sebelah kiri, dan kemudi kembali dipegang oleh Budi. Budipun segera melajukan mobil Adel meninggalkan tempat itu.