Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
dari hati ke hati, antara Adel dan ibunya Budi


__ADS_3

Sambungan telepon diputus begitu saja oleh Dino. Jelas sekali dia murka mendengar kata – kata Budi. Budi hanya tertawa mendengar Dino murka. Dia yakin, murkanya Dino, tidak lain dan tidak bukan karena Dirman, Sapta, Erik, dan Pujo telah beranjak kembali ke tempat kerja masing – masing.


Dan itu benar. Di area finishing, tinggal tersisa satu orang yang belum beranjak dari duduknya. Yang empat lainnya, sudah menggunakan pengaman lengkap, dan ruangannya sudah kembali ramai dengan suara peralatan kerja masing – masing.


Selesai dengan urusan pabrik, Budi segera berpamitan kepada pak Janto. Dia harus segera pulang, agar masih sempat bertemu dengan sepupunya. Pak Janto titip salam untuk ibunya. Disertai doa agar bu Ratih cepat sembuh dan cepat ke pasar lagi. Budi mengaminkan doa itu.


Masih beruntung siang ini. Dia masih sempat bertemu sepupunya. Baru saja mereka keluar rumah dan akan berpamitan. Langsung saja, urusan keuangan dia mulai pembahasannya.


Walau sepupunya sempat menolak, dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan dulu, tapi Budi bersikeras. Baginya, punya utang itu tidak mengenakkan. Lebih baik makan hanya pakai garam, daripada makan enak, tapi punya utang.


Dengan perasaan sungkan, akhirnya uang itu diterima. Tak lama kemudian, mereka benar – benar berpamitan untuk pulang.


Baru saja Budi akan masuk ke dalam rumah, sebuah motor matic yang setipe dengan motornya, masuk ke pekarangan rumahnya. Senyum pengendaranya, walau masih tertutup kaca helm, tapi sukses menular kepada Budi.


“Assalamu’alaikum” sapa orang itu.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.


Dia kembali turun untuk menyambut tamu yang datang itu.


“Baru dari kampus, Del?” tanya Budi.


“Iya. ibu ada?”


“Ada. Monggo!”


Budi mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam rumah. Rambut tamu itu berkibar diterpa angin sepoi – sepoi.


“Assalamu’alaikum, ibu” serunya sambil menyorongkan tangannya.


“Wa’alaikum salam, Adel” jawab Bu Ratih. Dia menerima tangan Adel. Dan langsung dicium sama Adel.


“Maafi Adel ya, Bu. Adel baru bisa jenguk. Kemarin bener – bener nggak bisa Adel cancel”


“Iya, nggak papa. Yang wajib, memang harus ditepati. Ibu malah nggak suka, kalau nduk Adel ada kewajiban, tapi ditinggal hanya demi ibu. Belum saatnya?” kata Bu Ratih.


“Belum saatnya?” gumam putri.


“Wah, mantap. Setuju” lanjut Putri.


“Apaan sih? Nggak jelas banget” komentar Budi. Membuat Adel tertawa. Dia juga bingung, sebenarnya.


“Bu, ini Adel bawain sup ayam. Kayaknya cocok buat makan siang” kata Adel sambil menunjukkan sebuah kotak yang dia bawa dari motornya tadi.


“Ini Adel masak, khusus buat ibu” lanjut Adel


“Ya Alloh, kok repot – repot amat, nduk” respon bu Ratih


“Enggak repot kok, bu” jawab Adel.


“Dikit amat, mbak? Buat putri, nggak ada?” tanya Putri.


“Put” tegur ibunya


“Ada. Buat kalian, pastinya beda dong bentar ya” jawab Adel. Dia kembali ke motornya, lalu mengambil sebuah kotak lain dari dalam bagasinya.


“Ni, sup ayam ala chef Adel. Ha ha ha ha” kata Adel menyerahkan kotak itu.


“Ye, makasih, mbak. Putri ambil piring dulu ya”


“Iya”


Bu Ratih hanya geleng – geleng saja. Sedangkan Budi, hanya tertawa melihat tingkah adiknya.


“Bay the way, aku ijin ke belakang dulu, ya” pamit Budi.


“Ish, dibawain makanan, malah pergi” komentar ibunya.


“Bentar, biar muat banyak. Ha ha ha ha” jawab Budi sambil berlalu.


Adel hanya geleng – geleng kepala sambil tergelak. Tak lama kemudian, Putri datang membawa peralatan makan. Dibantu Adel, dia menuangkan sup yang dibawa Adel ke dalam mangkuk. Lalu mengambilkan nasi untuk ketiganya. Adel memberikan piring pertama untuk Bu Ratih.


“Hem, ini mbak Adel yang masak?” tanya Bu Ratih.


“Iya, bu. Kurang enak ya, Bu?” jawab Adel.


“Kurang” kata Bu Ratih. Membuat Adel menunduk.


“Kurang banyak” lanjut Bu Ratih.


Adel menegakkan kepalanya lagi. Dia tatap wajah bu ratih, ada senyum di sana.


“Ini jauh lebih enak dari yang di rumah sakit” kata bu ratih lagi.


“Beneran, bu? Apa cuman mau bikin Adel seneng, nih?”


“Ha ha ha ha. Ya beneran. Ibu tahu, kadar bumbunya, dibikin rendah. Tapi perpaduannya itu, pas. Nggak ada yang terasa menonjol, dan nggak hambar juga. Apa sebutannya, Put?”


“Tahu, tanya mas Budi aja” jawab Putri.


“Lah, dia sih tahunya mur sama baut, ditanyain masakan”

__ADS_1


“Hmpf. Ha ha ha ha”


Mereka semua tertawa mendengar kelakar Bu Ratih. Bu Ratihnya sendiri juga ikutan tertawa.


“Tapi kehebatan mas Budi ngurusin mur dan baut, setara dengan ibu ngurusin masakan” celetuk Adel.


“Maksudnya?” sahut Putri.


“Masmu, beru sebulan udah bikin perubahan besar, di tempat kerjanya. Temen aku tiga hari berturut – turut nelpon aku cuman buat nyeritain mas Budi doang”


“Temen mbak Adel?”


“Erika”


“Oh, mbak Erika itu temen mbak Adel”


“Iya. Kembang kempis hidung aku, denger cerita dia”


“Emang, mbak Erika cerita apa aja?” tanya bu Ratih?”


“Banyak Bu. Baru diajak tour keliling pabrik aja, udah banyak banget temuannya. Laporannya kalo dicetak, bisa jadi satu buku”


“Oh, ya?”


“Iya, bu. Kata dia, skripsi dia aja kalah menarik sama temuannya mas Budi” jawab Adel.


“Dari awal sampai akhir, dia ajukan buat dirombak. Kata Erika, mas budi nyamain kondisi pabrik di awal kedatangannya, kaya pabrik mikoyan”


“Apa tuh?”


“Pabrik pesawat tempur. Produknya bikin geger dunia, tapi pabriknya kaya bengkel mobil”


“Lah, kok bisa?”


“Itu dia. Mas budi nyaranin perubahan, agar minimal kaya pabriknya sukhoi. Udah keliatan lah, kaya pabrik pesawat tempur handal. Jadi kalo ada calon pembeli datang, dia pede gitu, buat belinya. Kalo pabriknya aja nggak mencerminkan kalo itu pabrik pesawat, kan pembeli jadi mikir. Beneran nih, ini pabrik pesawat? Kan turun gitu, tingkat kepercayaannya”


“Terus tanggapan bosnya, gimana?”


“Kata Erika, selang satu hari, langsung dijalanin itu, saran dari mas Budi. Seminggu kemudian, dirombak habis itu pabrik, sesuai rancangan mas Budi”


“Serius, mbak?”


“Serius. Aku dikasih liat hasilnya juga nggak percaya. Aku kan pernah kesana, nyariin Erika. emang jauh banget bedanya. Lebih rapi, lebih bersih. Eye catching, lah”


“Alhamdulillah. Syukurlah kalo emang kedatangan Budi berguna buat perusahaan” kata bu Ratih.


Untuk beberapa saat, mereka terdiam. Masing – masing sedang menikmati sup hangat buatan Adel. Angin berhembus sepoi – sepoi, menambah nikmatnya santap siang kali ini.


“Bu, mas Budi pernah mondok, ya?” tanya Adel memecah keheningan.


“Iya” jawab Adel.


“Boro – boro mondok, mbak. Nggak bikin ulah aja udah syukur” sahut Putri lirih, sambil melihat ke arah belakang. Lalu tertawa kecil. Tawa itu sukses menular ke semua. Karena mereka tahu, Putri takut ketahuan sedang membicarakan kakaknya.


“Maksudnya?”


“Iya, nduk. Dulu, jaman sekolah, emang Budi itu nakalnya nggak kira – kira. Tiap hari kerjaannya ngelayap mulu. Kalo udah ngelayap, pasti deh, ribut sama orang” jawab bu Ratih.


“Masa sih, bu? Nggak keliatan tuh, bu. Kalo mas Budi suka ngelayap, apalagi suka ribut” kata Adel


“Jangankan kamu, nduk. Ibu juga kaget banget pas awal lihat Budi berubah banget gitu. Ibu kira kenapa – kenapa. Ternyata ya, memang berubah”


“Alhamdulillah dong, Bu”


“Iya. Alhamdulillah”


“Emang kenapa mbak, nanya begitu?” tanya Putri.


“Udah dua kali aku dibikin pusing sama mas Budi” jawab Adel.


“Budi ngapain kamu, nduk?” tanya Bu Ratih agak emosi.


“Oh, enggak, bukan gitu bu. Maksud Adel, pemikiran mas Budi, terlalu berat buat Adel cerna”


“Ciah, mas Budi? Punya pemikiran yang bikin mbak Adel pusing? hmpf. Ha ha ha ha” Putri tertawa pelan.


“Put, masa masnya sendiri diketawain?” tegur Bu Ratih.


“Ya abisnya, mas Budi bikin mbak Adel pusing. Dalam artian filosofi. Baru denger. Biasanya juga bikin pusing karena cuek. Ha ha ha ha”


“Emang Budi bilang apa sama mbak Adel?” tanya Bu Ratih.


“Pertama, pas dia posting foto lagi kirim ikan, sama sepupunya, dulu itu, bu. Adel kan nanya, apa nggak takut dihina? Kan pastinya temen – temen kerjanya dulu, bisa lihat, kan. Eh mas Budinya malah woles. Kata dia, kalau yang menghina dia itu manusia, dia nggak mikir. Kecuali Alloh yang menghinanya”


“Allohu Akbar. Dia bilang begitu?”


“Iya, bu. Mas Budi juga bilang kalau dia malah seneng, kalau Alloh mengirimkan orang untuk menghinanya. Bukan membuka tabir aibnya”


“Ya Alloh” komentar bu Ratih pendek.


“Kehilangan pekerjaan, bagi kebanyakan orang berarti petaka. Bagi mas Budi, itu masih disyukuri. Karena katanya, masih bisa dekat sama ibu, adek, sodara, dan juga kenal sama Adel"

__ADS_1


“Halah, modus itu sih” celetuk Putri.


“Ha ha ha. Tadinya aku bilang juga gitu, Put. Caper”


“Terus?”


“Kata masmu, caper juga modalnya apa. Kata – kata doang? Mending nggak usah deh. Aku nggak berbakat nyakitin cewek. Cukup aku mengagumimu dari jauh. Sambil ngerayu Gusti Alloh. Barangkali mau jodohin aku sama kamu. Gitu. Ha ha ha ha”


“Emang bisa gitu, ngerayu Gusti Alloh?”


“Itu, itu juga aku nanya gitu, Put”


“Terus, mas Budi jawab apa?”


”Kata mas Budi, bisa, lah. Tapi aku nggak ngerti gimana caranya. Intinya kalau Alloh bisa bikin dia jatuh, apa susahnya bagi Alloh, bikin dia sekaya orang yang punya pabrik”


“Eh, “ Putri tersentak.


“Bener, sih” lanjutnya.


Dia melihat ke arah ibunya. Seolah dia merasa bersalah sudah menertawakan kakaknya. Tapi ibunya tidak paham dengan arti tatapan matanya itu.


“Yang kemarin tuh, Put. Yang bikin aku nangis. Gokil” kata Adel.


“Emang pas Putri cuci tangan kemarin, mas Budi bilang apa, mbak?” tanya Putri.


“Aku sempet nanya, uang dia masih ada atau udah abis. Mas Budi tuh jawabnya, out of the box, tahu nggak?”


“Maksudnya?”


“Alhamdulillah, abis” jawab Adel menirukan jawaban Budi.


“Lah, abis kok Alhamdulillah?”


“Itu dia. Bingung kan? Normalnya orang kan ngeluh, ya. Uangnya abis. Mas Budi malah bersyukur”


Putri beradu pandang lagi dengan ibunya. Dia bertanya dengan isyarat pada ibunya, tapi ibunya juga belum paham.


“Kata mas Budi, waktu, adalah merupakan makluk yang nggak bisa dibeli dengan apapun. Dan takdir Alloh, ada yang nggak bisa di nego”


“Ha?” hanya itu yang keluar dari mulut Putri.


“Bingung, kan?”


“Kata mas Budi, Antara aku dan Putri, nggak ada yang tahu kalau ibu akan ditakdirkan sakit begini. Bapak meninggalpun, kita nggak ada yang tahu”


“Kan maut itu hak prerogatifnya Gusti Alloh”


“Iya. bingung, kan? Tahu nggak mas Budi jawab apa?"


“Apa?”


“Kata mas Budi, Sama dengan kejadian ini. Kalau Alloh sudah berkehendak menguji kita dengan sakit, seberapapun kita berusaha untuk sehat, kita tetep akan sakit”


“Nggak ngerti deh” komentar Putri.


“Iya, kan? Terus mas Budi nanya begini, Andaikan waktu itu aku dikasih kesempatan untuk ikut tes pengangkatan karyawan tetap, dan aku lolos. Kira – kira hari ini aku dimana?”


“Di sana, lah”


“Berapa menit paling cepet buat sampai ke sini?”


“Seharian, kali” sahut Putri.


“Seharian, ya?”


“Kata temen Putri sih, seharian” jawab Putri lagi.


“Nah, itu. Mas Budi bilang, Aku pernah berkejaran dengan waktu. Berusaha secepat mungkin buat sampe ke rumah. Motor itu, kalo bensin belum habis, aku belum berenti. Itu masih nggak kekejar. Aku nggak sempet ketemu sama bapak. Aku sampe, bapak udah nggak ada” lanjut Adel menirukan kalimat Budi.


Mata bu Ratih tampak berkaca – kaca. tapi beliau terdiam. Dia tidak tahu harus berkomentar apa.


“Aku udah kehilangan Bapak. Dan aku ngerasa belum siap kehilangan ibu. Aku nggak kebayang gimana paniknya aku, kalau aku masih ada di sana.” Lanjut Adel menirukan kalimat Budi selanjutnya. Suaranya sudah mulai bergetar.


“Itu kan seandainya. Kenyataannya kan, dia di sni”


“Itu. Kata mas Budi, itu yang dia syukuri Put. Saat ibu butuh, dia ada di tempat yang deket sama beliau. Cuman dalam hitungan menit dia udah sampe. Uang segitu itu, bukan apa – apa. Kalo temen – temennya ibu tadi juga minta bayar, berapa lagi yang harus aku bayarkan, katanya. Tapi apa mereka minta? ”


“Enggak” jawab Putri.


“Aku masih nggak bisa bayangin, motoran dari sana ke sini,”


“Ibu” potong Putri.


Dia memeluk ibunya dengan eratnya. Tangisnya pecah dipundak ibunya. Dia merasakan lagi kesedihan dan keharuan yang bercampur menjadi satu. Bu Ratih juga ikutan menangis, walau hanya tampak seperti keluar air mata saja, tanpa mimik sedih.


“Ma, maaf, maaf. Adel nggak bermaksud membuka luka ibu sama Putri” kata Adel. Putri melepaskan pelukannya.


“Nggak, kok. Ibu hanya bersyukur aja. Ternyata Budi udah bisa mikir dalem” jawab bu Ratih sambil tersenyum.


“Itu yang bikin Adel mikir, apa dulu mas Budi pernah mondok, ya?’ kata Adel.

__ADS_1


Tak ada yang menyahut. Mereka berdua masih merasakan keharuan karena cerita Adel. Terlebih Putri. Dia melihat sendiri bagaimana Adel bersujud di lorong di depan UGD.


***


__ADS_2