
Banyak sekali ambulance dan truk polisi berdatangan. Mereka mengangkut orang-orang yang dikirimkan Bejo ke bengkel kayu ini. Budi hanya melihat dengan tertegun, saat paramedis berseliweran dengan tugas masing-masing. Satu diantara mereka ialah suster Feni. Budi sempat bingung, mengapa suster Feni juga ikut terjun? Tapi tidak ada pembicaraan antara mereka.
“Mas. Aku punya tempat aman buat ibu sama Putri. Aku pikir, akan lebih nyaman kalau mereka dievakuasi ke sana” tawar Nungki.
“Makasih, Nung. Di sini masih cukup nyaman. Dan pastinya aman. Halau saja mereka dari jauh!” jawab Budi.
“Oke. Kalo butuh supplai logistik, jangan sungkan buat telepon aku, mas!” tawar Nungki lagi, sambil menyalami Budi.
“Iya. Makasih, Nung” jawab Budi, sambil menerima tangan Nungki.
“Simpan ini, mas! Aku yakin, ini bakal berguna”
“Hem?”
Nungki memberikan foto-foto tadi kepada Budi. dan Budi tertegun melihat foto wanita yang sangat mirip dengan Stevani. Emosinya sempat terbakar, saat melihat foto wanita yang terkapar dengan dada berlubang itu.
“Mungkin mas juga butuh ini”
Nungki memberikan selembar lagi foto yang lain. Foto beberapa orang yang sedang dalam penggemblengan.
“Mirip banget ya?” goda Nungki. Budi tersentak.
“Kalo aku jadi pak Rouf, pasti berasa ngaca kalo liat mas Budi” lanjut Nungki. Budi tersenyum mendengar ucapan Nungki.
“Aku pergi dulu ya, mas?” pamit Nungki.
“Oke. Makasih, Nung” jawab Budi.
“Nung” panggil Budi. Nungki urung untuk beranjak.
“Ya?” sahutnya.
“Apa bener, yang dia katakan?” tanya Budi. Dia mengacungkan foto si kembar Gita.
“Apa bener, bapakku pernah menikah sama Gita Shella?” lanjut Budi.
Nungki tidak segera menjawab. Dia menghela nafas dulu.
“Kayaknya, emang udah waktunya buat aku nyerahin amanah ini” kata Nungki, tak langsung menjawab pertanyaan Budi.
Dia mengambil sesuatu dari kantong rompinya. Budi sempat berpikir kalau yang diambil Nungki itu sebuah medali, liontin, atau sejenisnya. Tapi rupanya, sebuah kotak dari metal.
“Aku diamanahi buat ngejaga kotak ini. Dari atasanku, copatriot bapakmu. Satu-satunya yang masih hidup sampe sekarang” kata Nungki, sambil menunjuk foto yang bercerita tentang beberapa orang yang sedang digembleng.
Budi hanya menganggukkan kepalanya. Dia lantas membuka kotak metal itu. Isinya ternyata sebuah kertas putih, namun agak tebal. Seperti kertas sampul.
Saat lipatan itu dia buka, Budi terkejut mendapati foto yang mirip sekali dengan dirinya. Dan foto yang mirip sekali dengan si kembar gita, bersanding di sebelahnya.
*Abdul Rouf, Gita Shella Syarifah? Mereka benar-benar menikah*?
Ada lagi sebuah benda kecil berwarna putih, menempel pada sebuah kertas lain. Saat Budi ambil, ternyata itu adalah sebuah testpack. Walau sudah pudar, tapi dua strip merah itu masih terlihat.
*Gita Shella, hamil? Anaknya bapak? Jadi, Stevani itu, kakakku*?
“Ada satu lagi, mas”
Ucapan Nungki menyentakkan lamunan Budi. Dia lantas menerima satu kotak lain yang diacungkan Nungki. Segera saja Budi membukanya.
*Surat cerai*?
“Itu surat cerai keduanya. Perceraian yang dipaksakan oleh manusia tengik itu” kata Nungki, menanggapi keterdiaman Budi.
__ADS_1
Budi menatapnya beberapa saat. Diapun kemudian mengangguk-angguk.
“Makasih, Nung. Makasih, udah berkenan menjaga amanah ini” kata Budi.
“Sama-sama, mas” jawab Nungki.
Diapun menganggukkan kepalanya sekali, sebagai isyarat undur diri.
“Oh, iya. satu lagi, Nung” seru Budi. Nungkipun balik kanan lagi.
“Siapa informanmu di sini?” tanya Budi, langsung, tanpa tedeng aling-aling. Nungki tergelak.
“Emangnya yang bisa komputer cuman si Sephia doang?” jawab Nungki sambil tersenyum lebar.
“Oh. Oke” kata Budi.
Walau sebenarnya belum percaya, tapi dia tidak mau mendebat. Apa yang diberikan Nungki ini jauh lebih berharga dari keingin tahuannya. Nungkipun benar-benar undur diri.
Tak seberapa lama kemudian, lingkungan bengkel kayu Budi telah bersih dari korban kontak senjata tadi. Bahkan darah-darah yang mengucur dari para korban juga telah ditutupi dengan tanah. Sehingga tidak meninggalkan jejak mengerikan.
Pasukan anti huru-hara itupun pergi meningglkan bengkel kayu Budi. Meninggalkan sebagian kecil dari mereka, yang masih sibuk menghalau masyarakat dan wartawan yang ingin mendekat. Budi mengajak Erika masuk ke dalam bengkel kayu.
“Kamu nggak papa, Ka?” tanya Budi.
Erika malah tertegun. Pikirannya kembali kacau. Dia bingung bagaimana harus bersikap di depan Budi. Sempat terlintas, untuk mengakui saja tentang siapa dirinya.
“Kenapa, sayang?” tanya Budi lagi.
Mendengar kata ‘sayang’ keluar dari mulut Budi, air mata Erika meluncur begitu saja, tanpa bisa dia bendung.
Dia hanya bisa menatap mata Budi. Mata yang memancarkan ribuan kata. Erika tidak bisa membaca, apa yang sedang dipikirkan kekasihnya itu. Mengapa Budi masih sekalem itu? itulah pertanyaan terbesarnya.
“Ya udah, yuk!” kata Budi, mengulangi ajakannya.
“Tapi, mas?”
“Udah, jangan banyak mikir dulu! Aku tahu kamu nyimpen banyak rahasia. Ada waktunya nanti kita saling jujur. Asal kamu di sini bukan dalam rangka membantu papamu, insya Alloh, aku masih bisa nerima kamu”
“Demi apapun, mas. Aku sama sekali nggak tahu tentang papa. Aku sama sekali nggak tahu kalo papa itu seorang bandar. Di hadapanku, papa itu baik, mas. Dia sayang banget sama aku. Dia lembut”
“Ya udah. Yuk!”
Erika tampak ragu. Dia tidak segera mengiyakan ajakan Budi.
“Aku nggak berani, mas. Aku takut sama bu Ratih” jawab Erika.
Jawaban Erika membuat pikiran Budi melayang. Seolah Erika membenarkan apa yang dikatakan Handono. Tentang fitnah, tentang pembakaran bengkelnya pak Fajar.
*Kalau emang bu Lusi adalah ibunya Erika, kenapa Erika malah membakar bengkel ibunya sendiri? Apa dia marah sama bu Lusi? Tapi pas jenguk bu Lusi, dia keliatan sedih banget. Artinya dia sayang banget dong, sama bu Lusi? Terus, buat apa dong, dia ngelakuin itu? Siapa dia ini sebenernya*?
“Kamu berutang kejujuran sama kita, Ka” kata Budi. Erika tersentak mendengarnya. Dia tertegun mendapati Budi menatapnya lekat-lekat.
“Oke” jawabnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Diapun bangkit dibantu Budi. Beberapa kali dia menghela nafas dalam saat berjalan. Sekuat tenaga dia menyiapkan hati, menemui orang yang paling dia segani.
“Kang. Buka gerbang!” perintah Budi lewat handy talky.
“Siap” jawab kang Sukron.
Beberapa detik kemudian, gerbang kanan terbuka. Begitupun dengan pintu palka menuju parit pelarian. Dan tampak bu Ratih tergopoh-gopoh menghampirinya.
__ADS_1
“Kamu nggak papa, ngger?” tanya bu Ratih.
“Nggak papa, bu”
“Mbak Rika nggak papa, kan? Tadi ibu denger suara mbak Rika teriak” tanya bu Ratih pada Erika.
“Nggak papa, bu. Alhamdulillah, tadi sempet pake rompi. Jadi ketahan” jawab Erika.
“Ya Alloh. Itu tadi mereka nembak kamu, Ka?”
Tedengar suara seruan Stevani. Dia juga tampak mendekat, didorong oleh Fitri.
“Iya, Van. Untungnya langsung direspon sama Petir” jawab Erika.
“Ya Alloh. Alhamdulillah” seru bu ratih mengucapkan syukur.
“Terus, sekarang gimana, mas? Kaya ada mbak Nungki juga?”
Kali ini Putri yang berseru. Dia tampak mendekat dengan didorong oleh Madina.
“Ya. Tadi ada Nungki juga. Dia lagi ngamanin Karto Marmo. Dan juga orang-orang yang di belakang tadi” jawab Budi.
“Apa kondisi sekarang udah aman, ngger? tanya bu Ratih.
“Belum, bu. Jangan ada yang keluar dulu!” jawab Budi.
“Logistik aman, kan?” Budi balik bertanya.
“Aman, mas”
Kali ini Adel yang menjawab. Dia mengacungkan jempolnya, dan menggerakkannya menunjuk ke arah dapur.
“Tapi besok harus stok ulang” lanjut Adel.
“Oke. Untuk sementara waktu, mohon bersabar. Mohon maaf, kalo keputusan Budi kemarin, malah bikin repot”
“Jangan ngomong begitu, Bud! Namanya benalu, harus diberantas habis. Tindakanmu udah tepat, ngger” sahut bu Lusi. Budi tersenyum, mendapatkan dukungan dari mantan calon mertuanya.
“Ya Sudah. Silakan istirahat lagi. Kami mau diskusi lagi” saran Budi.
“Mas Bud, eemmm, “ Stevani seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi takut akan sesuatu.
“Jangan panggil aku, mas!” potong Budi.
Sontak semua orang terkejut mendengar ucapan Budi. Terlebih bu Ratih.
“Ibumu, yang mana?” tanya Budi.
Dia menyodorkan foto, yang menggambarkan dua anak kembar. Bu Ratih ikut melihat. Dia terkejut, mendapati foto itu menggambarkan dua anak kembar.
“Yang ini, mas. Janggutnya terbelah” jawab Stevani.
Budi tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan bu Ratih terbelalak. Sikap Budi terasa seperti pengakuan, atas kata-kata Handono. Sontak perasaannya bercampur aduk.
“Maksudmu apa, ngger?” tanya bu Ratih. Perasaan cemburunya tak bisa dia tahan lagi.
“Mugkin ini bu, yang ingin bapak sampein” jawab Budi. Dia memberikan dua kotak pemberian Nungki pada ibunya.
Bu Ratih terbelalak melihat surat nikah, antara suaminya dengan Gita Shella. Juga surat kehamilannya Gita Shella. Sempat dia oleng, karena tidak kuasa menerima kenyataan. Tapi bu Ratih memaksakan diri untuk membuka kotak kedua.
Tangis bu Ratih pecah, saat membaca surat cerai itu. Antara cemburu dan sedih kini berbaur menjadi satu. Butuh beberapa saat untuk bu Ratih meluapkan kegalauan hatinya. Sampai pada akhirnya, dia merendahkan tubuhnya, dan memeluk Stevani.
__ADS_1