Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
tindak lanjut


__ADS_3

Saat datang, ternyata Adel berbarenagan dengan rombongan pengantin. Hanya saja, rombongan pengantin pria itu masih menunggu waktu dimulainya resepsi. Dan mereka diposisikan di rumah salah satu tetangga tuan rumah.


“Wah, beneran nih” seru Tati, saat Adel menghampirinya.


“Iya, fix. Kumat” sahut Nike.


“Apaan, sih?” tanya Adel kebingungan.


“Mas ganteng sama mas tajir digebet semua. Ampun, ampun” jawab Tati.


“Iya. Tak patut, tak patut” timpal Nike.


“Apaan, sih? Cuman dianterin doang” kilah Adel malu – malu.


“Pantes, nggak mau dijemput” sahut seorang laki – laki.


“Bilangnya, udah janji sama opang” sahut Nike.


“Ih, om Diki ngapain sih, ikut – ikutan segala. Gajebo deh” kata Adel pura – pura merajuk.


“Ha ha ha ha”


Mereka bertiga tertawa, merasa sukses mengerjai Adel. Pemain musik yang mendegar obrolan mereka juga ikut tertawa.


“Udah, udah, udah. Duduk sini gih!” saran Tati. Adel duduk di sebelah kirinya.


“Udah dong, jangan ditekuk gitu, mukanya. Apa kata mas Budi, kalo pulang mukanya ditekuk gitu?” lanjut Tati.


“Tabok nih” ancam Adel, sambil mengacungkan high heelnya.


“Ha ha ha ha” Nike tertawa melihat Tati terkejut diacungi high heel.


“Ngomong – ngomong, aku belum pernah liat kamu sebahagia ini, jalan sama cowok” celetuk Tati.


“Maksud kamu?”


“Hei, kita temenan udah dari SMP. Aku hafal banget setiap ekspresi muka kamu. Dari pacaran sama si A, sampai si Z, belum pernah aku lihat kamu sebahagia ini” jawab Tati.


Adel tidak segera menjawab. Hanya senyumya saja yang merekah indah.


“Terakhir aku liat kamu beneran bahagia tu, udah lama. Sama si itu. Aduh, males aku nyebut nama dia” lanjut Tati.


“Ha ha ha. Segitunya sebel sama dia” komentar Adel sambil tergelak.

__ADS_1


“Dan ini, setelah sekian tahun, sekian cowok yang mampir. Ini senyum paling indah yang pernah kamu pamerin”


“Masa sih?”


“Iya. Kamu kentut aja, senyumnya beda”


“Ha ha ha ha, suek”


“Saran aku, ikutin kata hati kamu. Nggak usah liat kasta. Nggak usah takut, sekalipun ada pedang samurai di depan mata” kata Tati. Adel terkesiap.


“Kok kamu ngomong gitu, Ti?”


“Come on baby. Jam terbang aku udah cukup tinggi, kalo cuman buat mahamin kamu. Ini bukan berarti aku mau gebet mas Luki lho, ya. Enggak”


“Ha ha ha ha”


“Aku emang masih jomblo sih, klise gitu kedengerannya kalo aku ngasih kamu saran”


“Itu tahu. Ha ha ha ha” sahut Adel.


“ Tapi, sebagai sahabat, aku pengen liat kamu bener – bener bahagia, seperti dulu. Bahagia versi kamu kan beda”


“Beda gimana?”


“Loh, kok kamu tahu sih, Ti? Kamu liat, ya? Kamu lagi di pasar juga, waktu itu?”


“Ha ha ha ha. Sumpah, aku ketawa ngakak, liat kamu kegep sama ibunya Budi. Ha ha ha ha ha”


“Ih Tatiii”


Adel menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dia merasa malu ketahuan sama Tati juga. Tapi dia tidak bisa mengelak dari semua pernyataan Tati tadi. Dia mengakui kalau semua yang diucapkan Tati tadi adalah benar. Dia merasakan sesuatu yang lain semenjak berkenalan dengan Budi.


****


Di tengah perjalanan kembali ke pabrik, laju motor Budi harus terhenti oleh sebuah panggilan telepon. Saat diangkat, tenyata itu panggilan dari pak Paul. Dia meminta Budi untuk menemuinya di sebuah kafe. Budi segera meluncur ke tempat yang ditunjuk pak Paul.


Di sana, Budi diajak makan siang, sembari membcarakan tentang apa yang mejadi temuannya. Budi menjelaskan banyak hal, mengenai temuan – temuan di lapangan, juga yang berhubungan dengan sejarah perusahaan ini.


Saat pak Paul menanyakan tentang Dino dan kawan – kawan, Budi tergelak. Orang yang kata Aldo sangat ditakuti, ternyata tidak mampu merobohkannya. Pak Paul tertawa mendengar cerita Budi. Dia semakin yakin dengan kemampuan Budi.


Budi ditanya, apa yang menurutnya harus segera dikerjakan. Budi memaparkan gagasan – gagasannya. Pak Paul setuju dengan urutan – urutan perubahan yang dirancang Budi.


“Aku langsung yang akan memerintahkan kepala divisi produksi dan kepala divisi maintenance untuk pemindahan tim welder masuk ke ruang polishing” kata pak Paul. Budi hanya mengangguk.

__ADS_1


“Penggeseran mesin – mesin itu juga bisa sekaligus kok. Sama – sama berhenti, sekalian aja dipindah” lanjut pak Paul.


“Itu yang tadi saya maksud, sesuai pertimbangan bapak” jawab Budi.


Acara makan siangpun selesai. Pak Paul meminta Budi untuk kembali ke pabrik terlebih dahulu. Dia masih ada urusan dengan seseorang. Dia juga meminta agar Budi tidakmembicarakan mengenai hal ini kepada siapapun dulu. Budi mengiyakan.


Dia langsung pamit dan melajukan motornya kembali. Tiba di pos scurity, jam dinding di dalam pos, menunjukkan pukul satu siang tepat. Aldo bingung, Budi malah ikut meeting siang. Padahal tadi Budi bilang akan ada meeting dengan pak Paul. Dengan tersenyum Budi bilang, kalau meetingnya sudah dilaksanakan tadi, via telepon.


***


Hari demi hari Budi lalui dengan semangat. Selain ibu dan adiknya, Adel adalah orang yang selalu memberikannya semangat.


Selalu ada pesan singkat yang masuk, sesaat sebelum dia berangkat ke pabrik. Dia paling suka kalau diberikan semangat berupa foto Adel sedang tersenyum.


Sesekali Adel memberikannya video pendek. Video yang selalu membuat Budi berpikir keras, sedang apa Adel di sana?


Hanya gemericik air, dengan pemandangan pintu kamar mandi. Ada juga video dengan latar suara derit pintu lemari dan hanger baju, tapi pemandangannya handuk yang tergeletak di kasur. Apapun itu, Budi sangat menyukainya.


Perubahan kecil di area produksi sudah dimulai. Terlepas dari pemindahan lokasi area welding, yang dikoordinasikan langsung oleh pak Paul, Budi meminta bantuan pak Teguh untuk bisa melakukan briefing pagi dengan semua anggota departemen frame.


"Terimakasih buat teman-teman yang selalu memacu diri untuk bisa lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi"


Setiap pagi, Budi selalu mengucapkan terimakasih atas kinerja yang selalu meningkat.


"Secara statistik, kinerja semua bagian meningkat, semenjak adanya penataan ulang. Dua detik per pce, jangan dianggap remeh! Dalam sehari kita bisa save sampai satu set, lho" lanjut Budi. Tepuk tangan menggema dengan meriahnya.


"Anggaplah saving dua detik per pce nya, kita bisa ngumpulin seratus rupiah, sehari kita sudah nabung sepuluh ribu. Itu kalau dihargai seratus rupiah. Kalau lebih? Tinggal mengalikan. Bayangkan, berapa besar bonus yang akan kita dapat di akhir tahun?"


Berbagai tanggapan beterbangan dari para karyawan.


"Itu belum belum dihitung dari penilaian individu, skill, komunikasi, kerjasama tim. setiap ada peningkatan, pasti ada rupiah yang akan di hadiahkan pada kita semua. Jadi, terus kembangkan diri kalian, jangan batasi kreatifitas kalian hanya karena nominal yang kalian terima sekarang"


Perubahan besar mulai dilakukan di akhir pekan. Ruang produksi frame ditata ulang seperti yang Budi gambarkan. Sekaligus disimulasikan untuk bekerja sesuai target produksi. Ternyata efektifitas kerjanya meningkat. Bahkan satu orang bisa mengoperasikan dua mesin sekaligus, gergaji dan roll.


Tak hanya di departemen frame, departemen anyam juga merasakan dampaknya. Area kerja mereka juga ditata ulang. Material mentah dipindahkan berjajar dengan material hollow. Termasuk mesin pengupasnya, dipindah, berjajar dengan mesin gergaji besi. Membuat area kerja mereka lebih lega, dan bisa ditata menurut urutan produksinya.


Wajah tampannya menjadi senjata ampuh untuk Budi mendekat ke karyawan anyaman. Sambil bercanda ringan, dia selipkan doktrin – doktrin yang sudah dia siapkan.


Tata bahasanya yang sopan, dan penjabarannya yang masuk akal, membuat penjelasan Budi mudah mendapat penerimaan.


Hasilnya, sikap kerja mereka berubah. Dari yang semula berbasis target harian, menjadi time attack. Kalau kebetulan suplai dari tim finishing telat, mereka akan punya waktu untuk beristirahat lebih awal. Dan itu berarti petaka untuk Dino dan kawan – kawan. Karena dari kantor pak Paul, berhentinya proses produksi di departemen anyaman, bisa terlihat dengan jelas.


Belum juga genap satu bulan, sudah tiga kali tim finishing mendapat teguran dari marketing dan HRD, karena keterlambatan mereka. lagi – lagi, Dino menggunakan ancaman kekuatannya kalau pak Paul tidak di tempat. Berkali – kali juga dia mencegat Budi di tengah jalan. Tapi lagi – lagi, Budi tidak pernah kabur. Diancam pakai senjata tajam juga, dia tidak ada takut – takutnya. Dan memang, belum ada senjata tajam yang mampu melukainya. Bukan karena kebal, tapi Dino masih kalah tingkat dalam ilmu berkelahi. Hanya dengan satu atau dua gerakan, senjata apapun bisa direbut oleh Budi.

__ADS_1


__ADS_2