
Semenjak sebelum subuh, ponsel Budi sudah berdering sekian kali. Hanya dari satu nomor, tapi bukan milik orang paling spesial dalam hidupnya. Sampai-sampai, bu Ratih bertanya-tanya, siapa gerangan yang menelepon putranya sampai berkali-kali. Dan ternyata orang itu adalah Erika.
Dia menagih data yang seharusnya sudah diselesaikan Budi sejak kemarin siang. Budi langsung beranjak dari tempat tidurnya, dan membuka laptopnya. Telepon kembali berdering bahkan saat dzikir subuh belum selesai.
Bu Ratih sampai sedikit sewot, karena merasa orang yang menelepon itu sudah kelewat batas. Tapi Budi menjelaskan kalau itu memang bagian dari pekerjaannya.
Beruntung, tugasnya mensortir data itu selesai dia lakukan menjelang keberangkatan ibunya ke pasar. Buru-buru dia mandi, agar bisa mengantarkan ibunya ke pasar. Saat sedang membantu ibunya membuka lapak, ponsel Budi berdering lagi.
Jengkel juga dia kali ini. Tapi karena dia ingat yang menelepon adalah atasannya, dia berusaha untuk tetap kalem. Bu Ratih menyarankan Budi untuk segera berangkat kerja saja. Karena dagangan pagi ini juga tidak banyak. Dengan menghela nafas berat, Budi mengangguk. Dia pamit untuk berangkat, setelah berganti pakaian.
Jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh tiga puluh menit. Tapi sudah banyak sekali karyawan yang datang. Mereka berkerumun di depan lobi. Budi sampai dicegah scurity saat hendak memasuki halaman pabrik. Scurity itu bilang, mereka semua sedang berdemo. Sedangkan Budi adalah salah satu orang kepercayaannya pak Paul.
Dia hawatir kalau mereka akan melukai Budi. Karena saat ini saja, Erika malah seperti terjebak di dalam kantornya. Untung saja ada scurity yang bekas pasukan katak, sehingga tidak ada yang berani macam-macam dengan Erika. Ratna, walaupun sudah pindah divisi, tapi tetap saja ikut menjadi saasaran pertanyaan dari para karyawan yang berdemo itu.
“Biarkan saya masuk, pak! Saya akan bicara dengan mereka. Barangkali mereka mau diajak diskusi” pinta Budi.
Dengan berat hati, scurity itu membiarkan Budi masuk. Sengaja dia berjalan kaki, agar tidak terjadi kecelakaan, jika mereka serta merta mengerubunginya.
Benar saja, begitu dirinya terlihat oleh mereka, mereka langsung berdiri dan mengerubungi Budi. Berbagai pertanyaan mereka lontarkan. Sehubungan dengan gaji yang mereka terima. Perhitungan lemburnya banyak yang tidak betul, dan juga insentif mereka juga tidak masuk.
Tapi bagusnya, mereka sama sekali tidak melakukan kontak badan dengan Budi. Budi mengangkat tangan kanannya, sebagai tanda permintaannya agar mereka memberikannya kesempatan untuk dirinya bicara.
“Kawan-kawan, terimakasih saya ucapkan, kawan-kawan semua berkenan menyuarakan keluhan kawan-kawan dengan cara yang baik” kata Budi memulai bicaranya. Semua perhatian tertuju padanya.
“Mengenai pertanyaan kawan-kawan semua, sudah kami tindak lanjuti di tingkat HRD. Dari kemarin sampai tadi menjelang subuh. Berlanjut sampai menjelang berangkat tadi, saya, mbak Rika, dan rekan HRD lainnya, berjibaku mereview data lemburan. Termasuk juga insentif rekan-rekan semua” lanjut Budi.
“Terus gimana bisa ngilang begitu, Bud?” teriak salah seorang karyawan dari tengah kerumunan.
Yang lain ikut menyahut, menjadikan suasana kembali riuh. Perlu beberapa lama untuk mereka bisa kembali diam.
“Kalau kawan-kawan bertanya kepada saya dalam kapasitas saya sebagai orang HRD, saya katakan kepada kawan-kawan semua, data yang kami input, sudah sesuai dengan apa yang tertera pada surat perintah lembur. Begitu juga dengan insentif kawan-kawan. Sudah masuk dalam sistem pelaporan. Semua sudah benar”
“Ya terus salahnya di mana, Bud? Kamu kan wakil perusahaan, kepanjangan tangannya pak Paul. Masa bisa nggak tahu?”
“Nah, kalau kawan-kawan bertanya kepada saya dalam kapasitas saya sebagai wakil dari perusahaan, terus terang, proses tracing masih terus kami lakukan. Mbak Erika, sudah melaporkan hal ini kepada pak Paul. Pak Paul sedang mengusut masalah ini dari berbagai sisi. Termasuk apakah ada eror di divisi Finance, baik error di sistemnya atau man powernya. Atau dari perbankannya. Bukan hal mustahil dalam dunia digital, akun bank sebuah perusahaan diretas. Tidak untuk dicuri secara besar-besaran, tapi dicuri sedikit-sedikit, yang nggak terlihat oleh mata”
“Tapi kan bedanya banyak banget, Bud. Bukan sekali ini. Aku udah tiga kali ini kena potongan nggak jelas kaya gini”
“Itu yang masih kita selidiki”
“Sampe kapan?”
“Berikan kami waktu, ya! Kita juga lagi nunggu mbak Isma”
“Itu dia” teriak salah satu karyawan. Teriakannya itu sontak mengagetkan dan menakuti Isma.
“Tolong, berikan kami waktu! Tolong berikan kami ruang untuk kami bisa mengusut sumber dari masalah ini. Kalau saya, mbak Isma, tidak diberikan ruang untuk bisa mengakses sistem perusahaan, kapan kami bisa menyelesaikan masalah ini?”
“Kasih jalan, kasih jalan!” teriak salah satu karyawan.
Perlahan mereka membukakan jalan untuk Budi. Isma, dengan ditemani scurity berjalan mendekati Budi. Dan bersama-sama masuk ke dalam kantor. Baru juga mereka melewati pintu tembus dari lobi, mereka dikejutkan dengan Erika yang berdiri dengan berkacak pinggang.
“Puas?” tanya Erika setengah berteriak. Sontak keduanya saling memandang.
“Kan gua udah minta lu buat review data itu dari kemarin pagi. Kenapa baru tadi subuh lo kerjain, ha?” lanjut Erika.
__ADS_1
“Lo liat kan hasilnya? Jangan dikata nggak ada premannya terus bakal adem ayem aja!” kata Erika lagi.
“Kan aku udah bilang, mbak” kilah Budi.
“Apa susahnya sih, ninggalin dia buat kerjaan? Gua nggak ngelarang orang pacaran. Tapi yang sigap dong, kalo dibutuhin! Lo udah komit di sini. Dan kalo gua udah ngepush, artinya itu udah nggak bisa ditunda lagi”
“Aku bukannya lagi pacaran. Aku lagi nungguin orang sakit”
“Ya apa nggak bisa diselingi ngereview, ha? bukan ibu lo kan, yang sakit?”
“Udah aku selingi mbak. Nggak dilihat apa, historinya?”
“Ya kenapa baru sedikit?”
“Ya namanya juga nungguin orang sakit”
“Halah, alesan. Anaknya kan ada dua. Emang segede itu nggak bisa ngapa-ngapain, apa? Kalo nggak sanggup, ngomong aja! nggak bakalan gua maksa-maksa lo”
“Ka! Keterlaluan banget sih lo kalo ngomong. Bisa nggak sih, marahnya entaran aja? Ada yang lebih penting buat dibahas”
Erika tidak menjawab. Masih dengan sorot mata tajam, dia pergi menuju ruang meeting. Isma mengelus pundak Budi sambil geleng-geleng kepala.
Mereka mengikuti kemana Erika pergi. Dua orang scurity yang menjaga Erika tampak berbeda dengan yang berjaga di pos depan. Keduanya memegang senjata api semacam pistol, tapi lebih besar. Dan di belakangnya ada popor yang bisa ditarik ke belakang. Sehingga bisa berperan sebagai senjata laras panjang. Keduanya memberi hormat kepada Budi.
Di ruang meeting itu, mereka melakukan meeting secara daring. Karena pak Paul tidak berkenan hadir dalam situasi yang tidak kondusif itu.
Tanpa membuang waktu, pak Paul langsung membuka meeting darurat itu. Satu per satu jalur pelaporan dia periksa. Berbekal laptop yang disediakan Erika, Budi menjelaskan dengan beberapa visual gambar dari tangkapan layar laptopnya.
Tidak ada satu angkapun dari laporannya yang menyalahi aturan. Semua sudah sesuai dengan berkas fisik. Baik lemburan, apalagi insentif tiap karyawan. Berlanjut ke Erika. Dia juga menunjukkan sedetil-detilnya data yang dia peroleh dari Budi. Dan tidak ada yang dia rubah ataupun salah menarik data. Pak Paul mengangguk-angguk. Dia juga merasa tidak ada yang salah dengan angka-angka di laporan Erika.
Isma tidak begitu saja menerima kenyataan itu. Dia berkilah, dia bilang kalau data yang dia terima terakhir kalinya, bukan seperti itu. Apa yang dia input di sistem perbankan, adalah apa yang dia lihat di laporannya Erika. Tapi jejak digitalnya dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada pembaharuan apapun semenjak tanggal disetujuinya laporan itu oleh pak Paul. Dan baru diperbaharui lagi pagi ini.
Tak pelak lagi, Isma mendapat kecaman keras dari pak Paul atas keteledorannya mengawasi kinerja bawahannya. Itu juga dia masih beruntung, hanya salah memasukkan angka di sistem penggajian, tapi tidak sepeserpun dari uang perusahaan yang menghilang atau berkurang tanpa jejak.
Terakhir, pak Paul memerintahkan Isma untuk menggerakkan timnya, untuk segera membenahi kesalahan itu secepat mungin. Kalau sampai ada pengiriman yang delay, maka kesalahan itu akan ditimpakan kepada Isma juga.
Isma langsung berlari keluar ruang meeting. Pak Paul menghela nafas berat. Dia tampak stress. Tanpa banyak kata dia memerintahkan Erika untuk segera mengkonsolidasikan tim marketing sehubungan dengan rencana ekspo di eropa. Dan pak paul langsung left, begitu Erika mengiyakan permintaannya.
“Huuftt”
Erika menghela nafas berat. Dia sandarkan kepalanya di atas meja. Seperti sedang stres berat. Budi membereskan laptop yang dia pakai. Juga kabel proyektor yang mereka pakai tadi.
“Kenapa, mbak? Kaya pusing banget?” tanya Budi.
Erika tersentak. Kepalanya seketika tegak. Dan Budi sudah berdiri di sebelahnya. Erika menatap Budi. Budi tersenyum padanya.
“Hem?” Budi bingung dengan tatapan mata itu.
“Kamu nggak marah?” tanya Erika.
“Marah kenapa?”
“Kan tadi aku udah ngomong kasar sama kamu”
“Oh. Nggak papa. Aku maklum, kok” jawab Budi. Erika tersenyum lalu memalingkan wajahnya
__ADS_1
“Embak cemburu, kan?”
“Hem?”
Pertanyaan Budi itu sontak membuatnya menoleh lagi. Wajahnya terlihat tegang, seperti orang yang tertangkap basah.
“Makanya cari pacar! Biar ada yang merhatiin. Jangan pak Paul mulu!” lanjut Budi.
“Ha?”
“Apa jangan-jangan, “
“Apa?” potong Erika.
“Wow” komentar Budi sambil menjauh.
“Mikir apa sih?” tanya Erika sambil beranjak dari duduknya.
“Ha ha ha ha” Budi menghindar saat Erika ingin mencubitnya.
Gagal mencubit pinggang Budi, Erika lantas berdiri dan mengejar Budi. Budi terus tertawa sambil terus menghindar.
“Adooow”
Pada akhirnya, kena juga pinggangnya. Sebuah cubitan kecil Erika berikan sebagai ekspresi gemas. Tapi malah terlihat seperti cubitan manja. Untuk beberapa saat, tatapan mata mereka bertemu.
“Emang. Gantengan aku daripada pak Paul. Semua cewek juga ngakuin itu” celetuk Budi.
“Kepedean lo”
“Ha ha ha”
Budi tertawa sambil menghindar dari tangan Erika yang bersiap menaboknya. Dia mengambil laptop yang tadi dia pakai, dan bersiap kembali ke lantai satu.
“Di sini aja! Di bawah kan masih panas” cegah Erika.
“Jangan, lah. Entar ada yang khilaf lho” jawab Budi.
“Siapa?”
Budi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum menuduh. Kontan saja, Erika yang merasa dituduh bakal khilaf, melemparkan spidol ke arah Budi. Untung Budi bisa menghindar. Dan dia keluar dari ruang meeting itu dengan tertawa lagi.
Menjelang makan siang, suasana sudah kembali kondusif. Apa yang menjadi tuntutan para karyawan, sudah dipenuhi oleh perusahaan. Mereka juga sudah kembali bekerja, meski hanya sekedar bersih-bersih area kerja. Karena jam istirahat tinggal hitungan menit lagi.
Setelah makan siang, Erika mengajak tim marketing untuk meeting. Budi juga diajak, sebagai wakil dari PPIC. Mereka membahas tentang apa yang sedang tren di dunia saat ini, tentang isu-isu global yang berhubungan dengan furnitur, dan produk apa yang akan mereka tampilkan dalam expo itu.
Dari marketing, masih mencoba mematangkan tentang produk yang akan mereka pamerkan nanti. Tapi ada satu inquiry dari salah satu negara di eropa, yang justru memesan furniture dari kayu.
Farah menunjukkan detil dari spesifikasi yang diminta. Foto-foto yang dilampirkan, ternyata mengambil latar pantai watu karung. Menurut pengakuan si pemesan, mereka memang pernah berlibur di pantai watu karung. Dan saat kembali ke negaranya, mereka tertarik untuk memajang furnitur kayu semacam yang mereka foto itu, di lobi kantor mereka.
Farah juga mengatakan kalau dia sudah meminta quotation kepada produsen furnitur kayu di kota ini. Beberapa sudah masuk, dan sedang didalami oleh tim marketing.
Seperti instruksi pak Paul, semua produsen yang mengirimkan quotation akan diikut sertakan dalam seleksi. Dan tiga diantaranya akan diambil perusahaan untuk dipajang di ekspo kabupaten dan dikirimkan ke pemesan itu.
Mendengar nama Watu karung, Budi seperti tersentil. Tiba-tiba dia penasaran dengan pantai itu. memang, dia sudah sering mendengar kalau pantai itu sekarang sudah menjadi tujuan wisata yang bahkan berkelas dunia. Banyak wisatawan asing yang berlibur di sana. Tapi semenjak pulang kampung, dia sendiri bahkan belum pernah ke sana lagi. Di dalam hati, dia berencana untuk mengunjungi pantai itu.
__ADS_1