Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bersih bersih setelah banjir


__ADS_3

Malam telah berlalu, kokok ayam sahut-menyahut menyambut pagi. Budi mengawali paginya dengan mengucapkan rasa syukur, masih diberikan kesempatan untuk hidup. Begitupula dengan Bu Ratih.


Sekalipun di dalam hatinya dia mengakui kalau istirahatnya malam ini tidak nyaman, tapi dia tetap bersyukur, masih dibangunkan. Tak berbeda dengan Putri. Walau dia masih termenung saat melihat ke sekeliling kamarnya, tapi di dalam hatinya dia terus mengucapkan, alhamdulillah.


Sholat subuh berjamaahpun tetap mereka lakukan, walaupun dengan keadaan yang tidak senyaman biasanya. Justru di saat seperti ini, ketiganya merasakan kenikmatan yang lebih tinggi ketika bersujud.


Matahari masih juga malu-malu untuk menampakkan wujudnya, tapi Budi sudah berpeluh keringat memindahkan barang-barang di dalam rumah.


Dia letakkan secara teratur barang-barang rumah itu di teras dan di halaman depan. Satu per satu ranjang, lemari, meja, dan perabotan yang menutupi lantai, dia keluarkan. Putri bertugas menyiramkan air ke lantai, dan menggosoknya hingga bersih.


Tak ada tetangga yang menyambangi mereka untuk membantu mereka bersih-bersih rumah. Wajar, masing-masing juga punya kepentingan yang sama di rumah masing-masing.


Di dalam hatinya, Budi sebenarnya membutuhkan bantuan. Sampai dia berandai-andai, ada orang pabrik yang datang disuruh pak Paul untuk membantunya.


Belum juga selesai dia berandai-andai, dia melihat ada sebuah mobil yang melintas di depan rumahnya dengan kecepatan sangat rendah. Lebih dari itu, mobil itu juga malah berhenti di depan rumahnya. Budi merasa masih asing dengan mobil itu. Dari dalam mobil itu, keluar seorang wanita. Kalau wanita ini, dia sudah tidak asing lagi.


“Assalamu’alaikum” sapanya.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi dan Putri bersamaan.


“Ya Alloh Bud, di dalem seberapa, emang?” seseorang lagi keluar dari dalam mobil dan langsung bertanya.


“Sedada, mbak” jawab Putri, mendahului kakaknya.


“Tumben semobil sama mbak Erika, abis dari mana?” tanya Budi sambil menyalami tamunya.


“Emang mau ke sini”


“Hem?”


“Pak paul, tadi nyuruh aku buat nengokin kamu. Dia nggak bisa ke sini, lagi ke LN” sahut Erika.


“Oh. Hubungannya?”


“Pak Paul nitip sesuatu sama kamu. Tapi aku udah kebayang apa jadinya kalo sendirian. Makanya aku ajak Marsya” jawab Erika, sambil menyalami Budi.


“Mebel sih, masih utuh semua, mbak. Ngapain di bawain? Aturan, kolor” seloroh Budi.


“Bukan mebel, Budi” seru Marsya, saat bersalaman dengan Putri.


“Ha ha ha ha. Ya kali, bawa mebel pake mobil beginian” sahut Erika sambil menyalami Putri. Dia tertawa sambil geleng-geleng kepala.


“Eh, ada tamu” seru bu Ratih. Dia baru muncul dari dalam rumah.


“Assalamu’alaikum, Bu Ratih” sapa Erika. dia maju untuk menyalami bu Ratih.


“Wa’alaikum salam” jawab bu Ratih sambil berjabat tangan.


“Ini?” tanya bu Ratih.


“Marsya, bu. Resepsionis kantor” jawab Marsya.


“Oh, salam kenal, mbak Marsya”


“Salam kenal juga bu Ratih”


Mereka sempat berbincang-bincang mengenai bencana kemarin. Tentang mengungsinya keluarga ini, tentang Adel yang memberian bantuan makanan, tapi malah ikut jadi pengungsi karena terjebak banjir. Saat Erika menanyakan perihal orang tuanya Adel, bu Ratih hanya tersenyum.


“Oh iya, bu. Kami ada titipan dari kantor. Utamanya sekali, dari atasan kami, pak Paul” kata Marsya.


Melihat tuan rumah tidak berkenan menjawab pertanyaan Erika, Marsya berinisiatif merubah topik pembicaraan.


“Oh, ya Alloh. Kok repot-repot segala. Ditengokin aja, ibu udah seneng, mbak Marsya” kata bu Ratih.


“Namanya amanah, kan tetep wajib kita jalankan. Betul kan, bu?” sahut Erika.


“Ya Alloh, alhamdulillah” kata bu Ratih lagi.


“Ayo Sya!” ajak Erika.


“Ya, mbak” jawab Marsya.


Mereka turun dari teras, dan menghampiri mobil itu. alih-alih mengeluarkan bungkusan kresek, ala-ala bantuan, tapi mereka malah mengeluarkan seseuatu yang lebih besar.


Mereka mengeluarkan kasur yang dapat dilipat. Awalnya, baik Budi, bu Ratih, maupun Putri sempat tertegun dengan barang yang dibawa Marsya dan Erika. Tapi kemudian, bu Ratih memerintahkan Budi untuk ikut membantu. Tiga buah kasur berukuran single, akhirnya mendarat di tujuan.


“Ya Alloh, kok kalian bawanya kasur sih, nduk?” tanya bu Ratih.


“Waduh, kami hanya menjalankan tugas, bu. Kalo kenapanya, cuman si bos yang tahu” jawab Erika.


Marsya masih kembali ke mobil itu dan mengambil kardus berukuran sedang. Dia letakkan itu di teras, di atas meja belajar Putri.


“Bud, yang itu aku nggak kuat” kata Marsya.


“Emang apa?” tanya Budi.


“Beras” jawab Marsya.


“Oh”

__ADS_1


Budi mengikuti langkah Marsya yang kembali ke mobil itu lagi. Dia angkat sekarung beras ukuran dua puluh lima kilo itu sendirian.


“Mbak Rika, tolong sampaikan rasa terimakasih kami kepada pak Paul! Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran dalam setiap aktivitas beliau”


“Siap, bu. Nanti Rika sampein” jawab Erika.


“Oh iya, Bud. Ada yang bisa kita bantu?” tanya Marsya. Membuat semua mata tertuju padanya.


“Eeem” Budi berpikir sejenak. Sebenarnya yang dia butuhkan adalah tenaga laki-laki.


“Assalamualaikum”


Sebuah salam mengalihkan perhatian mereka. Tiga orang laki-laki memasuki pekarangan rumah bu Ratih dengan berjalan kaki.


“Wa’alaikum salam” jawab mereka.


“Apa betul ini rumahnya mas Budi Utomo?” tanya salah satu dari ketiga orang itu.


“Iya betul. Dengan saya sendiri” jawab Budi, sambil berjalan turun menghampiri ketiga orang itu.


“Oh, alhamdulillah. Ketemu juga, akhirnya” komentar orang itu.


“Maaf, dengan siapa kalau boleh tahu?” tanya Budi.


“Saya Santo, ini temen saya, Bayu dan Dani” jawab orang itu memperkenalkan dirinya dan teman-temannya.


Budi mengernyitkan keningnya. Dia merasa belum kenal dengan orang-orang ini. Dia mencoba mengingat-ingat lebih dalam lagi, apakah pernah ada perjumpaan dengan mereka di masa lalu.


“Kami ini, orang suruhannya mbak Adelia Fitri” lanjut Santo.


“Adel?”


“Betul, mas. Mbak Adel, tidak bisa ke sini untuk membantu mas Budi. Maka dari itu, mbak Adel meminta kami untuk kemari membantu mas Budi membersihkan sisa-sisa banjir kemarin”


“Tapi kok...”


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Ponsel Budi tiba-tiba berdering. Dia memainkan Alisnya, seperti hendak mengatakan, ‘pucuk dicinta ulampun tiba’.


“Halo assalamu’alaikum” sapa Budi.


“Wa’alaikum salam” jawab yang di seberang telepon sana.


“Bram” lanjut yang di seberang sana.


Di tempat lain, di rumahnya, Adel memang sedang menitikkan air mata. Dia merasa sangat sedih. Dia masih teringat sekali, bagaimana orang tuanya menghina keluarga Budi sampai sebegitu jeleknya.


Dia memang sudah memperkirakan, kalau Budi akan menghadapi hinaan-hinaan dari orang tuanya. Tapi dia sama sekali tidak menduga, kalau hinan dari kedua orang tuanya itu justru keluar di saat Budi dan keluarganya sedang ditimpa musibah. Apalagi dilontarkan di depan tetangga-tetangganya.


“Maafin bapak sama ibu Tata ya, Bram!” pinta Adel.


Angin spoi-sepoi di balkon rumah Adel, mengibarkan rambutnya. Sejuknya udara pagi ini, serasa tak sanggup meluruhkan bara kesedihan yang ada di hati Adel.


Terlebih, hinaan yang kemarin sudah dilontarkan begitu kerasnya, ternyata belum cukup untuk bapaknya. Belum lama tadi, bapaknya masih menambahinya dengan marah-marah sambil menjelek-jelekkan keluarga kekasihnya itu.


“Iya, Ta. Udah dimaafin kok. Jangan nangis dong!” jawab Budi.


Adel tak kuasa menahan lebih lama lagi. Tangisnya pecah, saat mendengarkan tutur kata lembut dari kekasihnya. Nada suaranya terdengar seakan-akan dia tidak pernah terjadi apa-apa. untuk beberapa saat lamanya, Budi membiarkan Adel menumpahkan kesedihannya dengan menangis.


“Kamu kok bisa sesabar itu sih, Bram?” tanya Adel beberapa saat kemudian. Suaranya parau.


“Setinggi-tingginya gunung everest, udah banyak yang sampai di puncaknya. Tapi dalamnya palung mariana, baru segelintir orang yang sampai di dasarnya”


“Maksudnya?” tanya Adel. Dia sempat tergelak mendengar analogi yang aneh itu.


“Ya. Tata itu dasarnya palung mariana, buat abram. Abram bersyukur, baru tiga orang yang sampe di sana. Itu juga nggak kuat lama. Dari waktu yang nggak lama itu aja, perjungannya nggak kira-kira. Abram pengen bikin istana di bawah sana” jawab Budi.


“Ha ha ha ha” Adel tergelak lagi mendengar jawaban yang semakin tidak jelas itu.


“Ibu gimana kabarnya, Bram? Ibu marah ya, sama Tata?”


“Alhamdulillah, sehat. Nggak marah kok. malah hawatir sama Tata”


“Kok malah hawatirin Tata?”


“Ya, takut kena gampar aja, sama bapaknya Tata”


“Ya Alloh”


Adel menangis lagi. orang yang seharusnya benci sama dia setelah kejadian kemarin, justru malah menghawatirkannya.


“Tolong sampein permohonan maaf Tata, Bram! Tata siap dimaki-maki, tapi Tata nggak siap dibenci sama ibu”


“Iya Ta. Entar abram sampein. Orang ibu juga nganggepnya sama kok, Tata itu dasarnya palung mariana”


“Ha?”


“Udah sangat wajar kalo nyelem ke sana ketemu hiu, paus, pari, ikan petromak”

__ADS_1


“Mana ada?” sahut Adel sambil tergelak.


“Itu yang ada lampunya”


“Ha ha ha. Ya bukan petromax juga, Abram” sahut Adel gemas.


“He he. Ya itu lah pokoknya. Macem-macem makluk mengerikan ada di dalam sana” jawab Budi.


“Tapi buat ibu, yang kemarin itu, baru ikan layur” lanjutnya.


“Cuman layur?”


“Yap. Cuman layur. Giginya emang tajem sih. Abram sering ketusuk, tau Mana dianya nggak pernah gosok gigi, mrenges mulu. Aduh”


“Ha ha ha ha”


“Ibu udah siap kok. Kalo harus ketemu hiu paling bar-bar sekalipun”


“Ha ha ha. bar-bar” Adel tertawa lagi.


Tanpa sadar, dia terbawa oleh suasana yang sedang Budi coba bangun. Suasana ceria, yang penuh gelak tawa. Hidup memang berat, tapi akan terasa ingan kalau kita bisa tertawa. Begitu pikir Budi.


“Udah dulu, ya? Abram lagi beres-beres nih. Keburu siang”


“Astaghfirulloh. Bram, tadi tata nyuruh orang buat bantuin abram. Udah dateng/belum, ya?” sahut Adel.


“Siapa?”


“Pak Santo, pak Bayu, pak Dani. Dia mantan karyawan bapak. Cuman karena nggak sejalan, mereka mundur” jawab Adel.


“Oh, oke. Punya fotonya?”


“Buat apa Tata nyimpen foto mereka? kurang kerjaan”


“Hmpf. Ha ha ha ha. Iya juga, ya. Adeh, bego banget gua”


“Hi hi hi hi. Ada kok. Tapi jangan cemburu ya, Bram. Tadi Tata selfi sama mereka, cuman buat konfirmasi aja”


“Satu doang, kan?”


“Ya iya, lah. Mau berapa, emang?”


“Ya udah, kirim ke Abram, ya! itu, mereka lagi ngopi”


“Oh, udah nyampe? oke deh. Tata share ya fotonya”


“Oke”


“Maaf ya, Bram. Tata nggak bisa bantuin”


“Iya. Makasih ya, udah kirim orang buat bantuin Abram”


“Sama-sama, bram. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Setelah sambungan telepon terputus, Adel langsung mengirimi Budi foto yang dia maksud tadi. Tidak lupa dia memberikan keterangan nama dari masing-masing orang itu. Dengan masih memandangi layar ponselnya, Adel bangkit dari kursi balkon itu. Dia bermaksud kembali ke kamarnya.


“Ha”


Dia terkejut bukan kepalang. Tepat di depannya, berdiri sosok yang semalam sempat berdebat dengannya. Dia terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.


*Ibu? Dari kapan ibu berdiri di situ? Kalo udah lama, berarti ibu udah denger semua percakapanku sama abram. Ya Alloh, drama apa lagi yang akan hamba jalani*?


Adel sudah pasrah. Dia mempersiapkan diri untuk menerima amukan berikutnya pagi ini. Tapi saat dia sudah siap hati, ternyata yang terjadi justru berbeda. Bu Lusi hanya diam saja, lalu balik kanan dan berjalan menjauhinya. Dia berjalan ke arah tangga, dan turun ke lantai bawah. Hal yang sangat aneh menurutnya.


*Masya Alloh. Apa ibu bener-bener nyoba buat berubah, ya? Dari sorot matanya, kayaknya ibu udah denger semua yang aku obrolin sama abram. Tapi ibu nggak marah. Ya Alloh, hamba harus gimana ya, Alloh? Hamba mohon petunjukMu ya Alloh*.


Di dalam rumahnya, Budi langsung membuka pesan dari Adel, dan mencocokkan foto dan nama yang ada di foto itu. Dari sini, Budi menjadi yakin, kalau ketiga orang itu adalah orang yang diminta Adel untuk membantunya.


“Maaf pak, ya. Jadi nunggu lama nih” celetuk Budi.


“Sebenarnya sih, nggak papa. Orang kita nunggunya juga dijamu, kok. Ha ha ha ha” jawab si Santo, berkelakar.


“Gimana mas, mbak Adel udah bilang tentang kita?” tanya Bayu.


“Sudah, pak Bayu” jawab Budi.


“Terus, gimana mas? Apa yang bisa kita bantu?” tanya Dani.


Budi tersenyum. Dia mengajak ketiganya untuk masuk ke dalam rumah. Ada dua lemari peninggalan bapaknya, yang terlalu berat untuk dia geser sendirian. Karena terbuat dari kayu jati asli. Dia utarakan rencananya, dari awal, hingga akhir. Ketiga orang itu mengangguk-angguk tanda mengerti.


Berempat, Budi merasa pekerjaannya menjadi jauh lebih ringan. Terlebih Erika dan Marsya juga ikut membantu Putri mengepel lantai. Tak lebih dari dua jam, lantai rumah itu sudah seluruhnya bersih dari lumpur sisa banjir. Mereka berlanjut ke pembersihan perabotan. Adzan dzuhur belum juga berkumandang, tapi mereka sudah selesai membersihkan perabotan. Bahkan sudah selesai memasukkannya lagi ke dalam rumah.


Erika dan Marsya sempat tertawa terbahak-bahak, saat Putri bercerita tentang sepeda Budi, yang diganjal stirnya oleh bapaknya, sehingga tidak bisa berbelok. Diaceritakan kelakar yang pernah Budi ungkapkan waktu mau bersepeda bersama Adel.


Selepas sholat Dzuhur, sebenarnya Budi sudah mengijinkan ketiga orang itu untuk pulang. Tapi karena sudah dibayar untuk sehari, mereka malah takut kalau ketahuan pulang lebih awal.


Mereka malah menawarkan diri untuk membersihkan lumpur yang menutupi halaman depan. Budi tersenyum senang. Di dalam hati dia bersyukur, karena ternyata mereka adalah orang-orang yang bisa menjaga amanah.

__ADS_1


__ADS_2