Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
ibunya budi masuk rumah sakit


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana untuk pertama kalinya Budi menerima gaji. Dia senang sekali sewaktu ada notifikasi masuk di ponselnya. Rasanya seperti ingin cepat pulang saja. Tapi ini masih setengah hari lagi.


“Bud, makan di cafe sebelah, yuk! Aku traktir deh. Gaji udah turun”


Si cantik Stevani menyapa sambil berjalan mendekati Budi, yang sedang mengambil minum di dispenser. Dari arah yang sama, Aldo memperhatikan mereka dengan raut wajah cemburu.


“Em, aku udah bawa bekel, Van” jawab Budi.


“Ha ha ha, kamu nggak bisa boong sama aku. Kamu pikir, aku nggak tahu, bedanya kamu bawa bekel sama enggak?” kata Stevani sambil tergelak.


Budi jadi bingung. Memang dia tidak membawa bekal, tapi dia tidak enak menerima tawaran dari wanita yang disukai Aldo.


“Udah, yuk!” ajak Stevani lagi.


“Do, nggak makan?” seorang wanita menyapa Aldo. Wanita itu muncul dari kantor HRD.


Pandangan Budi membuat Stevani memutar tubuh, melihat ke arah Aldo juga.tapi kalau boleh tahu,


“Belum” jawab Aldo.


“Makan, yuk. Ada warung sop kambing baru” ajak wanita itu.


“Boleh”


“Yuk!”


Mereka langsung pergi melewati Budi dan Stevani. Aldo sempat melihat Budi, tapi dia tidak tersenyum. Dia masih merasa cemburu. Bersama wanita itu, hanyalah pelarian saja.


“Yuk!” ajaknya lagi.


Budipun menuruti ajakan itu. Mereka langsung pergi meninggalkan kantor. Mereka hanya berjalan kaki saja, karena cafe yang yang mereka tuju hanya berjarak lima puluh meter saja.


Terlihat indah pakaian yang melekat di tubuh Stevani siang itu. Hari ini Stevani menggunakan setelan kaos lengan panjang berwarna hitam polos, dipadukan dengan rok span abu – abu selutut. Dua jenis pakain yang sama – sama ketat, membuat lekuk – lekuk tubuh Stevani tercetak jelas di pakaian itu. Banyak pasang mata yang memperhatikan keindahan tubuh itu selama perjalanan.


Sesampainya di warung soto, stevani memilihkan tempat yang paling pojok, yang berbatasan langsung dengan sawah yang menguning. Mereka memilih menu soto, soto daging untuk Stevani, dan ayam untuk Budi.


“Oh iya, ini gaji pertama kamu, ya? Bukannya kepo nih. Tapi kalau boleh tahu, mau buat apa nih, gaji pertama?” tanya Stevani.


*Pengen tahu sama kepo, sama aja kali*.


“Em, buat bayar sekolah adek, buat makan sehari – hari, nyicil berlian” jawab Budi sambil tersenyum lebar.


“Buset, nggak kira – kira cicilannya. Orang sih nyicil rumah, mobil. Ha ha, berlian” komentar Stevani sambil geleng – geleng kepala. Membuat Budi tergelak.


“Eh, tapi kan, ibu kamu pedagang. Kok kamu masih mikir buat makan?”


“Udah waktunya buat ibu beristirahat. Gantian aku yang mikirin soal makan”


“Terus, kalo kamu nikah entar, gimana?”


“Ya, aku akan cari cewek yang mau ngerawat ibu. Yang sehati sama ibu”


“Susah itu, Bud. udah bukan rahasia lagi, kalau menantu suka nggak akur sama mertua”


“Susah bukan berarti mustahil, kan? Nyatanya ibuku bisa”


“Tinggal sama mertua?”


“Iya. Aku masih inget, dulu aku tinggal di rumah simbah dari bapak”


“Terus, terus?” Stevani tampak penasaran.


“Ya, biasa aja. Dari simbah kakung, sampai simbah putri, dirawat semua sama ibu”


“Emang bapak kamu, anak tunggal?”


“Enggak, tiga bersaudara. Tapi ya gitu, deketan rumahnya. Ngerawatnya sih, ya barengan. Cuman yang stay di rumah simbah, ya kita. Simbah berdua nyamannya sama ibu sih. Ha ha ha ha”


“Tuh, kan, aku bilang juga gitu. Dari tiga, cuman satu kan yang nyambung”


“Tapi bukan mustahil kan?”


“Iya sih”


Stevani tersenyum. Dia merasa tersindir dengan senyum Budi. Pertanyaan Budi seperti menyiratkan sebuah tantangan, sekaligus syarat utama. Kalau ingin mendapatkan hatinya, Stevani harus bisa hidup berdampingan dengan ibunya.


“Makasih”


Stevani mengucapkan terimakasih saat pelayan mengantarkan soto pesanannya. Budi juga melakukan hal yang sama. Langsung saja, mereka mengaduk aduk soto, dan menambahkan bahan pelengkap sesuai selera mereka.


“Eh”


Stevani terkejut, saat akan mengambil mangkuk sambel, ternyata Budi juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi karena Stevani sudah lebih dulu memegang mangkuk itu, maka yang dipegang Budi adalah punggung telapak tangan Stevani.


Budi terkesiap. Dia juga keget. Dia tidak menyangka kalau yang dia pegang adalah telapak tangan dengan kulit yang halus. Untuk beberapa saat, mereka masih terdiam dengan tangan masih menyatu. Mereka juga saling memandang. Kedua pasang mata itu beradu pandang tanpa ada yang berkeinginan untuk lepas.


“Ini mau kayak gini terus?” tegur Stevani.


“Eh, ee, anu, anu, sory. Sory aku nggak sengaja” kata Budi.


Dia langsung menarik tangannya dan pura – pura mengaduk sotonya lagi.


*Sengaja juga nggak papa, Bud. Aku seneng malah, liat kamu terpesona sama aku*.


Di dalam hati, dia mengakui kecantikan Stevani. Kecantikan yang mampu membuatnya terpesona. Tapi bayangan wajah Adel tiba – tiba melintas di pelupuk matanya. Bayangan wajah cantik yang tersenyum indah di saat pandangan pertama.


Astaghfirulloh


Seketika dia mereasa bersalah dengan Adel. Walaupun belum ada ikatan di antara mereka. tapi Budi merasakan kalau hatinya hanya pantas dimiliki oleh Adel. Kecuali kalau Adel tidak mau memilikinya.


“Kamu nggak suka daging, ya?” tanya Stevani.


“Hem?”


Budi yang masih asyik mengunyah sambil melamun, tak mendengar dengan utuh, apa yang ditanyakan Stevani. Stevani tersenyum.


“Kamu, nggak suka daging?” ulang Stevani.


“Oh, suka” jawab Budi pendek.


“Kok nggak pesen soto daging, tadi?”


“Lagi pengen aja, soto ayam”

__ADS_1


“Oh, biasa beli di mana?”


“Langganan aku sih, yang di depan pasar arjowinangun”


“Oh, itu?”


“Kamu tahu?”


“Tahu, lah. Aku juga suka tu, di situ” jawab Stevani.


“Tapi ini beda lho. Ada asemnya dikit, tapi masih gurih. Seger jadinya” lanjut Stevani.


“Mana? Nggak kerasa” tanya Budi.


“Yang soto daging. Cobain deh” jawab Stevani.


Dia menyorongkan sendok berisi potongan kecil daging dan kuahnya. Budi sempat berpikir sesaat. Seperti ragu hendak menerima suapan itu.


Takut dikira memberi harapan. Tapi dia juga merasa tidak enak kalau menolak. Akhirnya dia membuka mulutnya. Dan Stevani menyuapkan daging dan kuahnya itu ke dalam mulut Budi. Walau sesaat, tapi terlihat jelas Stevani tersenyum senang, tawarannya tadi bersambut. Momen yang romantis buatnya. Bisa menyuapi lelaki idamannya.


“Iya, bener. Nggak merubah total sih, cuman nambah variasi rasa aja. Bisa menjadi pilihan, sesuai mood” komentar Budi.


“Yes, i agree” jawab Stevani.


Mereka beradu pandang lagi. Stevani tersenyum lebih lebar lagi. Hatinya sedang berbunga – bunga siang ini.


*Semoga momen – momen seperti ini akan terus berlanjut. Dan aku bisa memilikimu, Bud*.


Budi asyik menikmati makan siangnya. Sedangkan Stevani, sesekali masih mencuri pandang. Senyumnya tak berhenti merekah.


Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...


Suara ponsel Budi berdering. Dengan gerak santai, Budi mengambil ponsel di saku seragamnya. Ternyata panggilan dari adiknya.


“Halo, Assalamu’alaikum” sapa Budi.


“Wa’alaikum salam. Mas Budi, ibu mas” jawab Putri.


“Ibu kenapa Put?” tanya Budi dengan suara agak kencang. Membuat Stevani tersentak


“Ibu masuk rumah sakit, mas” jawab Putri.


“Innalillahi. Kok bisa?”


“Enggak tahu. Kata lek Puji, ibu muntah – muntah dari pagi. Mas Budi ke sini ya!”


“Kamu sekarang dimana?”


“Putri di UGD mas. Ibu masih di dalam. Putri takut, mas” jawab putri setengah menangis.


“Oke,oke. Mas ke sana sekarang” kata Budi.


*TUUUUT*


Saluran telepon langsung dia putus tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


“Kenapa, Bud?” tanya Stevani.


“Ibuku masuk rumah sakit. Aku harus ke sana sekarang”


“Kelamaan” jawab Budi.


“Mobilku di depan”


“Oke”


Mereka lantas beranjak pergi. Stevani menyerahkan uang seratus ribuan kepada penjual soto itu tanpa meminta kembaliannya.


Dia langsung mengejar Budi yang berjalan cepat setengah berlari. Sampai ke parkiran, Budi bilang ke scurity tentang keadaannya, dan minta disampaikan ke pak Paul. Stevani langsung tancap gas setelah Budi memasuki moblnya.


Hanya butuh beberapa menit untuk mencapai rumah sakit. Budi langsung bertanya pada petugas di meja depan. Dia diarahkan ke ruang UGD. Di sana sudah ada Putri dan beberapa orang yang tadi mengantar.


“Mas Budi”


Putri menyongsong kedatangan kakaknya dan langsung memeluk.


“Putri takut, mas”


Putri menangis di pelukan Budi. Sedangkan Budi sendiri menyebar pandangan ke sekitarnya. Beberapa teman ibunya, yang dia juga kenal, masih berdiri dengan cemas. Ada istri sepupunya juga.


“Kalian yang sabar, ya. Ibu kalian sedang dalam perawatan dokter. Doain aja, semoga cepet sembuh” kata salah seorang dari mereka.


“Iya, lek Puji. Makasih banget, udah mau anterin ibu ke sini” jawab Budi.


“Sama – sama, Bud. namanya juga sodara. Ya harus saling menolong” jawab lek Puji.


“Kalo boleh tahu, tadi ibu kenapa, lek?” tanya Budi.


“Nggak tahu, Bud. Perasaan ibumu belum makan siang, tadi. Pagi juga aku nggak liat ibumu sarapan” jawab lek Puji.


“Tapi tadi aku lihat ibumu pergi belanja bumbu. Sempet nitip juga dagannya ke aku” kata istri sepupunya.


“Bumbu?”


“Iya, bumbu masak sehari – hari. Bilangnya, Putri minta dibeliin. Stoknya udah pada abis”


“Bisa jadi, pas belanja bumbu itu, ibumu jajan, Bud” sahut lek Puji.


“Tapi cuman ibu, yang muntah – muntah?”


“Sementara sih, iya"


“Ya Alloh”


Budi terlihat cemas sekali. Walau berusaha tampak tegar di depan Putri. Stevani hanya diam, tak berani menyela. Hanya dielusnya pundak Budi.


Saat ditanya dia siapa, Stevani memperkenalkan dirinya sebagai teman kerja Budi. Istri sepupu Budi mengucapkan terimakasih, dirinya telah mau mengantarkan Budi ke rumah sakit.


Sudah seatu jam lebih, dokter melakukan tindakan darudat di UGD. Tapi belum ada kabar dari dalam. Budi berusaha tenang, tapi dia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Entah sudah berapa kali dia beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke sana ke mari.


*TIIING*


Terdengar suara dentingan cukup keras, tapi bukan benturan dua buah logam secara sebenarnya. Melainkan bunyi nada dering ponsel Stevani. Dia menghela nafas berat, setelah membaca pesan singkat yang masuk.

__ADS_1


“Kenapa, Van?” tanya Budi.


“Ada customer dari malaysia mau visit” jawab Stevani.


“Oh, kamu dibutuhin, dong?”


“Itu dia. Tadi bilangnya diundur, sekarang balik lagi on schedule”


“Ya udah. Kamu balik aja ke pabrik!” saran Budi.


“Tapi, Bud?"


“Entar kalo udah kelar, kan bisa ke sini lagi”


“Nggak papa nih, aku tinggal?”


“Nggak papa, ada mereka juga” jawab Budi.


Mereka saling memandang untuk beberapa saat. Stevani merasa berat untuk pergi.


“Ya udah, kalo perlu apa – apa, bilang ya!” pinta Stevani.


“Iya. Makasih ya”


Stevanipun pamitan untuk pulang. Meninggalkan Budi yang masih belum bisa tenang. Dalam hati dia menyesali kedatangan customer itu. Mengapa harus datang, disaat dia sedang menunjukkan kepada Budi, kalau dia bisa sehati dengan ibunya.


*Krieeeet*


Pintu ruang UGD dibuka dari dalam. Dan terlihatlah seorang dokter keluar dengan wajah yang serius. Semua yang menunggui bu Ratih berdiri mendekati dokter itu.


“Gimana kondisi ibu saya, dok?” tanya Putri.


“Alhamdulillah, muntah – muntahnya sudah berkurang drastis” jawab dokter itu.


“Alhamdulillah” sahut mereka semua. Putri memeluk kakaknya dan menangis di pelukannya.


“Ibu saya kenapa, dok? Keracunan makanan kah?” tanya Budi.


“Secara resmi kami belum bisa menyimpulkan. Tapi dari pemeriksaan awal, kami menduga pasien terserang virus rotavirus. Mungkin pasien mengonsumsi makanan atau minuman yang dibuat dari bahan yang tidak higienis, atau tempat makanan itu dijual, tidak memperhatikan kebersihannya. Sehingga virus itu menular melalui sentuhan”


“Bukan racun kan, dok?”


“Kami belum bisa memastikan. Kita tunggu hasil laboratoriumnya"


“Bolehkah saya ke dalam, dok?” tanya Budi.


“Dua orang saja. Dan dari luar pembatas saja ya. Biar bu Ratih bisa istirahat” jawab dokter itu.


“Baik dok, kami berdua anaknya Bu Ratih” kata Budi.


“Silakan!” kata dokter itu, mempersilakan Budi dan Putri masuk.


Dari balik sekat akrilik, mereka berdua bisa melihat ibu mereka sedang tergolek lemah. Selang infus tertancap di lengannya. Suster yang membantu dokter itu masih bekerja, menyelesaikan tugasnya.


“Mas” panggil si suster.


“Ya?”


“Bisa ikut saya? Ada urusan administrasi yang harus mas selesaikan” kata suster itu.


“Oh, iya. Bisa” jawab Budi.


Dia pamitan kepada Putri untuk mengurus administrasi ibunya. Putri mempersilakan. dia bilang mau melihat ibu. Barangkali ibu bangun dan butuh sesuatu. Budi mengiyakan. Dia lantas pergi mengikuti kemana suster itu berjalan.


****>>>>


Adel sedang mengikuti mata kuliah siang ini. Dia merasa ada sesuatu yang aneh, sehingga dia tidak berkonsentrasi menerima materi kuliah.


Saat semua mahasiswa sedang fokus menerima materi, ponsel Adel berbunyi. Buru – buru dia menekan salah satu tombol untuk menghentikan deringnya. Tapi berbunyi lagi beberapa saat kemudia. Di matikan lagi, berdering lagi.


“Ponsel kamu kenapa bunyi mulu, Del?” tanya dosen pengajarnya.


“Sepertinya ada yang penting, pak. Nggak biasanya teman saya nelpon bolak – balik”


“Ya sudah, angkat dulu sana diluar! Barangkali memang mendesak” perintah dosen itu.


“Baik pak. Terimakasih” jawab Adel.


Dia pergi keluar ruang kelas, sembari membawa ponsel yang berdering lagi, menuju lapangan yang agak sepi.


“Halo, assalamu’alaikum” sapa Adel.


“Wa’alaikum salam. Del, kamu kuliah ya?” tanya orang di seberang telepon.


“Iya, Rik. Ada mata kuliah nih. Tumban amat, nelpon bolak – balik, ada apa?”


“Itu, Budi”


“Budi? Kenapa, Budi?”


“Budi, ibunya masuk rumah sakit. Kabarnya sih muntah – muntah sampai pingsan”


“Astaghfirullohal”adzim. Terus, sekarang gimana keadaannya?”


“Belum tahu. Makanya aku ngabarin kamu. Kali kamu bisa nyusul ke sana. Aku masih banyak kerjaan urgent ini”


“Oke. Makasih infonya, Rik” jawab Adel.


Adel langsung memutuskan sambungan telepon. Dia kembali ke kelas untuk menajukan izin pada dosen pengajarnya.


“Ada apa, Del?” tanya dosen itu.


“Ini pak, tadi teman saya ngabarin. Ada family saya yang masuk rumah sakit” jawab Adel.


“Oh, siapanya kamu?”


“Em, “ Adel bingung mau menyebut beliau dengan status apa.


“Kok bingung? Family kan ada sebutannya. Pakde, bude, paklek, bulek"


“Calon mertua saya” jawab Adel sambil cengar – cengir.


“Oh, oke. Ya udah, sana jenguk. Bahaya kalo kamu nggak nongol”

__ADS_1


“Baik, pak. Terimakasih” jawab Adel.


Adel segera kembali ke mejanya, lalu mengemasi buku – bukunya. Dan langsung pamit untuk pulang lebih dulu.


__ADS_2