
Di siang yang panas ini, Adel tampak tergolek di atas ranjangnya, dengan hanya bertutupkan selimut. Terdengar guyuran air dari kamar mandi kamarnya. Adel tersenyum mengingat apa yang baru saja dia lakukan.
Entah apa yang terjadi pada Luki, tapi tiba-tiba dia mengajak Adel ke atas. Dan, belum juga sampai di kamarnya, Luki langsung memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman. Untungnya Madina sedang di rumah sakit, menunggui sahabatnya.
Walau bingung, sebagai seorang istri, Adel tetap menjalankan kewajibannya. Terlebih, Luki seperti sudah hafal dengan titik-titik yang memantik gairah Adel. Sehingga, seiring berlalunya waktu, Adel dengan sendirinya mengimbangi kemauan suaminya. Bukan lagi menjalankan kewajiban melainkan bersenang-senang bersama. Alias suka sama suka.
Tak peduli ada ibu di bawah, dengan santainya mereka bermain di ruang keluarga lantai dua. Gerahnya udara siang ini juga tak menyurutkan semangat mereka berdua.
Lelah bermain di ruang keluarga, mereka berpindah ke kamar. Hanya sebentar saja mereka beristirahat, karena Luki timbul lagi hasratnya, melihat istrinya memakai busana yang tak lengkap.
Sekali lagi, walau bingung dengan sebab meningginya hasrat suaminya, tapi Adel merasakan pusingnya benar-benar menghilang saat ini. Hormon bahagianya tumpah ruah, membuatnya tersenyum terus.
*Kling*
Terdengar bunyi ponsel di meja kecil di sebelahnya. Ya, ponsel suaminya yang berbunyi. Terlihat sebuah pesan singkat masuk ke ponsel itu. Awalnya Adel cuek saja. Dia memang tidak pernah kepo soal lalu-lintas pesan di ponsel suaminya.
*Kling*
Untuk kedua kalinya ponsel itu berbunyi. Adel jadi tergelitik rasa penasarannya. Itu lebih karena sang suami sedang mandi. Dia takut kalau itu adalah pesan penting yang jika tidak dia periksa, akan terlambat tersampaikan pada suaminya. Maka dari itu, dia berinisiatif untuk memeriksa pesan itu.
“Siapa sih? Kirim pesan cuman ping doang. Dikata kapal selam, pake ping” komentar Adel,setelah membaca pesan yang muncul di notification bar.
Diapun meletakkan kembali ponsel suaminya. Kembali dia rebahan sambil memejamkan matanya. Dia tidak peduli selimutnya tak menutupi tubuhnya dengan sempurna.
*Kriiiiing...... kriiiiing*
Tak lama kemudian, ponsel Luki berbunyi lagi. Tapi kali ini bukan pesan singkat, melainkan panggilan telepon. Adelpun duduk dan meraih ponsel Luki. Lagi-lagi tidak ada namanya, hanya nomor saja. diapun menerima panggilan itu.
“Luk. Aku tunggu di tempat biasa, ya”
Suara di telepon itu membuat Adel mengernyitkan keningnya.
*Sofia? Ngapain dia nelpon mas Luki*?
*Tuuut*
Adel memutus sambungan telepon itu. Dia termenung. Berbagai pertanyaan berhamburan keluar dari dalam otaknya. Ingatannya tentang sofia juga berebut untuk keluar.
*Ada bisnis apa kamu sama mas Luki? Bukannya kata mama, keluarga Sofia itu pengen nguasain hartanya papa? Kok kalian bisa komunikasi lagi*?
Adel tertarik untuk mencari tahu, ada hubungan apa Sofia dengan suaminya.
*Ada istriku*
__ADS_1
Dua kata itu Adel kirimkan ke nomor penelepon tadi. Tak menunggu lama, pesan itu langsung dibaca.
*Istri? Ha ha ha. Oke. Buruan! Kering lama-lama di sini*.
Adel terbelalak membaca balasan pesan itu. Apa maksudnya mempertanyakan statusnya? Begitu pikirnya. Seolah-olah pernikahannya dengan Luki hanyalah sandiwara.
*Kamu pikir*?
Adel mencoba peruntungannya mengorek informasi dari wanita itu.
*Iya iya iya. Kayaknya kamu beneran jatuh cinta sama dia*.
Semakin terbelalak mata Adel membaca balsan itu. Tapi saat tiba-tiba bayangan wajah bu Ratih melintas, Adel langsung menghela nafas panjang. Dia pejamkan matanya sesaat, mengatur emosinya. Dia berusaha kalem, karena tidak mau lagi terjebak pada permainan orang yang ingin menghancurkan rumah tangganya.
*Emang kenapa? Cowok boleh pegang empat, kali*
Walau sudah dilanda cemburu, tapi Adel masih penasaran ingin mengorek lebih dalam informasi dari Sofia.
*Dasar kadal. Terus aku nomer berapa, Luki*?
Panas hati Adel membaca balasan itu. Dia sudah kesusahan untuk menganalisa makna tulisan itu. Bara cemburu dan emosinya sudah mulai menggelapkan matanya. Rasa benci yang sudah mulai hilang itu tiba-tiba saja kembali menyergap hatinya.
*Awas ya! Aku kasih kamu ijin buat kembali nemuin dia, bukan buat kebablasan. Aku kasih kamu ijin ke sana, karena satu tujuan. Jangan dilupain*!
“Astaghfirullohal’adzim”
Tapi di kepalanya masih melintas bayangan polisi yang mengatakan, son of pegassus. Dia tidak tahu bagaimana mengidentifikasi, apakah orang yang mengirimkan pesan itu benar-benar Sofia, atau orang lain.
Di kamar mandi, Luki terdengar sudah akan selesai, mandinya. Adel langsung berpikir keras, bagaimana menyudahi percakapan ini. Tapi dengan kondisi, apabila orang ini benar-benar Sofia, dan akan bertemu Luki, dia tidak akan membahas percakapan ini. Karena dia ingin menyelidiki lebih jauh kebenaran pesan itu sebelum bertindak.
*Oke oke. Keras amat nanggepinnya? Kaya nggak biasanya bercanda*.
Adel mengirimkan pesan lagi, dengan mereka-reka bagaimana suaminya menenangkannya kalau dia lagi merajuk.
GUA LAGI SA\*\*\* LUKI!!! BURUAN! BANYAK BACOT LU
“Astaghfirullohal’adzim”
Kepala Adel terasa semakin berdenyut. Tapi dia masih berusaha fokus pada tujuannya.
*Oke oke. Maaf sayang. Aku OTW. Tapi entar nggak usah dibahas ya, percakapan ini. Kan aku cuman bercanda. Sayang waktu kita kalo cuman buat debat*.
Adel mengirimkan pesan itu, agar yang di seberang sana, kalau benar itu Sofia, dia tidak curiga kalau yang menjawab pesan-pesannya ternyata bukan Luki.
*Iya*
__ADS_1
Jawaban yang terlalu singkat. Adel masih belum yakin.
*Janji, ya*!
Adel mengirimkan pesan penegasan. Sampai semenit lebih, belum ada jawaban. Sedangkan Luki benar-benar sudah mau selesai, mandinya. Adel jadi gelisah.
*Iya, sayang. Lagian waktu kita cuman sejam. Maaf juga, ya? Aku marah karena udah kangen berat sama keromantisanmu. Janji deh, kamu sampe sini, langsung joss. Nggak pake debat*.
Di satu sisi dia lega, mengetahui yang di seberang sana mau diajak kompromi. Tapi di sisi lain, emosinya juga semakin meledak-ledak. Ingin dia banting hape Luki. Tapi untungnya dia ingat, kalau ada yang harus dia lakukan. Ya, dia harus menghapus percakapan pesan singkat itu. selesai menghapus, dia letakkan lagi ponsel Luki di tempat semula. Kali ini dia tidak tahan lagi dengan sakit di kepalanya.
“Kamu kenapa, yang?”
Luki yang baru saja keluar dari kamar mandi, bingung melihat istrinya memejamkan mata sambil memijat-mikat kepalanya sendiri.
“Obatku dimana ya, mas? Tolong ambilin dong!” sahut Adel.
“Kok tiba-tiba pusing gitu sih, yang? Ada apa?” tanya Luki, sambil menyerahkan obat sakit kepala Adel.
“Kan dari awal aku juga pusing, mas. Tadi sempat reda, pas keenakan. Eh ini malah kerasa lagi” jawab Adel, diplomatis.
“Ke dokter aja, yuk!” ajak Luki.
“Emang mas nggak ada jadwal?” sahut Adel.
“Ada sih. Tapi kamu lebih utama, yang. Aku nggak mau bikin kesalahan lagi. Customer pergi, bisa cari lagi. Tapi kalo kamu yang pergi? Aduh. Aku nggak bisa bayangin, kaya apa nyeselnya aku” jawab Luki.
Adel tertegun mendengar jawaban Luki. Dia jadi bingung. Yang mengirimkan pesan singkat tadi, benar-benar Sofia, atau orang lain?
“Apalagi rival terberatku juga belum kawin. Heem. Aku lebih milih kehilangan satu customer dan keluar duit banyak demi ngerawat kamu” lanjut Budi.
Adel tersenyum mendengar kelanjutan ucapan suaminya. Kali ini ada kelegaan di hatinya. Dari ekspresi Luki, dia menjadi yakin, kalau yang mengirim pesan tadi bukanlah Sofia. Hanya orang lain yang ingin mengacaukan rumah tangganya.
“Yuk!” ajak Luki.
Adel terdiam sejenak. Dia sedang menimbang-nimbang, jawaban apa yang akan dia berikan.
“Kayaknya nggak perlu deh, mas. Aku cuman kecapekan aja. Aku ijin rehat dulu, ya?” jawab Adel kemudian.
“No! Nggak ada gunanya numpuk duit, kalo kamunya sakit. Kamu harus cepet sembuh, sayangku! Aku nggak tega liat kamu pucet begini” tolak Luki.
Dia mengambilkan pakaian untuk Adel. Mendapatkan veto tegas begitu, Adel justru tersenyum.
Dia semakin yakin kalau yang mengirimi pesan tadi hanyalah orang yang ingin mengacaukan rumah tangganya.
Lukipun mengantar Adel berobat ke dokter. Di depan Adel, dia menelepon customernya untuk membatalkan pertemuan yang sudah mereka rencanakan.
__ADS_1
Sempat Adel dihinggapi rasa curiga. Karena Luki menelepon menggunakan telepon biasa, bukan video call. Dan berbicaranya juga di tempat yang agak jauh. Tapi segera dia tepis perasaan curiga itu. Karena samar-samar dia bisa mendengar apa yang Luki bicarakan.
***