Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
sidang perdana


__ADS_3

Sorenya pak Fajar dibawa ke ruang isolasi khusus stroke. Kondisi pak Fajar dibilang dokter cukup memprihatinkan. Dan sekarang masih berada dalam kondisi koma. Bisa sadar, tapi mungkin butuh waktu cukup lama. Adel berusaha menghibur ibunya. Menguatkan hatinya agar tetap tegar menghadapi cobaan ini.


Tati mengajak Nike untuk mengambil perlengkapan di mobil. Karena sudah jelas sekarang, dimana mereka akan menginap malam ini. Luki berinisiatif untuk membantu. Sedangkan Putri, masih sibuk menghibur Madina.


Diantara keletihan hati mereka, seseorang datang mencari Adel. Dia mengatakan kalau kedatangannya bertujuan menyampaikan undangan atas nama Adelia Fitri, untuk mengikuti sidang yang melibatkan Stevani, Dino, dan juga Isma. Sidang akan dilaksanakan pertama kalinya, besok pagi.


Luki langsung menghubungi pengacaranya untuk mendampingi Adel esok hari, sekalipun tanpa diminta. Bahkan saat dia sendiri menyadari, kalau bantuannya mungkin tidak akan membuat Adel berpaling dari Budi.


Adel tidak menolak, tapi juga tidak berkomentar. Pikirannya masih sibuk menganalisa, sebegitu cepatnya kejaksaan melimpahkan berkasnya ke pengadilan. Dan bagaimana bisa, secepat itu pihak pengadilan negeri mempelajari berkas kasusnya Stevani.


*Berarti benar, Isma adalah dalang dari semua ini? Dia yang bikin aku sama Abram lupa ingatan? Dia yang udah nyelakain aku? Dia yang udah mengadu domba aku sama Abram?Dia yang udah ngebakar bengkelnya bapak? Setaaan*.


Kemarahannya mulai meninggi. Tapi belum ada yang menyadari perubahan sorot mata Adel.


*Kamu udah bikin aku menghakimi orang yang salah, Isma. Kamu udah bikin aku mencaci-maki cowokku sendiri. Kamu udah bikin aku jadi manusia terhina. Kamu harus membusuk di tahanan, setaaan*.


“Mbak Adel!”


“Haaa”


Adel terkejut mendengar suara kencang di dekat telinganya. Dia menoleh ke kanan.


“Mbak Adel kenapa? Kok melotot gitu?”


“Put?”


Dia bingung melihat semua orang menatapnya dengan tatapan bingung.

__ADS_1


“Eng, eng, enggak. Nggak papa. Aku nggak papa” jawab Adel tergagap.


Masih terlihat jelas kemarahan di hatinya. Matanya masih membulat lebar, dan agak memerah.


“Sabar, Del! Jangan dibawa emosi! Tanpa kamu emosi juga, dia bakal dapetin ganjarannya” hibur Tati. Adel menoleh ke kiri.


“Iya, Del. Percuma juga dimasukin hati. Nggak nambah durasi hukuman dia” sahut Nike.


“Mending kamu jaga emosi dan kebencian kamu di level yang proporsional!” kata Tati.


“Ish, Tati. Ngomong apa, sih?” tegur Nike setengah berbisik.


“Ngomong bener, lah” sahut Tati.


“Biar Adel bisa ngasih senyumannya sama orang itu. Biar orang itu tahu, kalo dia salah pilih musuh” lanjut Tati.


Sebenarnya mereka terlihat tidak setuju dengan saran itu. tapi melihat Adel tersenyum, buat mereka itu jauh lebih baik dari pada protes.


Sampai malam telah larut, belum ada perkembangan dari pak Fajar. Adelpun sudah menungguinya selama berjam-jam. Menggantikan tugas ibunya yang kelelahan.


Di luar sana, sanak saudara serta tetangga, berdatangan. Ada yang hanya sekedar datang menjenguk, tapi ada juga yang bertahan untuk bermalam. Menemani keluarga bu Lusi yang sedang kesusahan.


Sampai pagi menjelang, pak Fajar belum juga bangun dari komanya. Karena sudah ada agenda penting, terpaksa Adel keluar dari ruang rawat itu, digantikan dengan ibunya. Sedangkan Madina, walaupun sudah kuat berjalan sendiri, tapi belum diijinkan untuk berada di dalam.


Luki memberitahukan kalau pengacaranya sedang dalam perjalanan, dan sebentar lagi akan sampai. Dia meminta Adel untuk menunggu mereka terlebih dahulu. Agar bisa berdiskusi dan mendapatkan masukan tentang bagaimana strategi berbicara dan bersikap di pengadilan nanti.


Untunglah, tak seberapa lama kemudian mereka datang. Sambil sarapan, tiga pengacara yang dipanggil Luki memberikan pemaparannya tentang kasus ini. Salah satu dari mereka memberikan taktik dan strategi menghadapi terdakwa dan pengacara-pengacaranya. Mereka baru berangkat setelah pengacara itu merasa mantap.

__ADS_1


Walau hanya tidur sebentar, tapi Tati bersikeras untuk ikut mendampingi sahabatnya. Nike dan Sinta juga ikut. Luki, sudah barang tentu juga ikut. Beruntung bu Ratih sudah datang. Sehingga bisa menjadi teman Madina dan bu Susan. Karena yang lain sedang pulang, mengurusi kebutuhan masing-masing.


Dari percakapan pesan singkat, akhirnya Adel tahu, kalau kekasihnya juga akan dihadirkan dalam sidang itu, walau daring.


Masih awam cara seperti itu digunakan di persidangan. Tapi mengingat jarak yang sangat jauh dan kondisi yang tidak memungkinkan, pihak pengadilan negeri akhirnya memutuskan menggunakan cara baru itu.


Walau baru kali pertama, tapi sidang itu sudah berjalan dengan seru. Saling berargumen dan membantah argumen lawannya. Adelpun sempat tak menduga kalau akan sedemikian alotnya perjalanan sidang ini. Bahkan sampai harus di skors. Karena memasuki waktu dzuhur, masih banyak agenda persidangan yang harus dilaksanakan.


Adel sempat menangis saat menelepon Budi. Dia mengaku, lebih suka cara-cara kasar untuk mencari keadilan. Persidangan ini membuatnya cukup tertekan. Karena sekalipun dia adalah korban, dan yang melaporkan kasus penganiayaan itu, tapi pihak tersangka sangat keras mencecarnya dengan berbagai peranyaan yang menyudutkan.


Tapi Budi terus menyemangati Adel. Dia mengatakan, perjuangan memang tidak ada yang mudah. Tidak selamanya yang benar akan mudah mendapatkan kemenangannya. Dia meminta Adel untuk terus fokus dengan peradilan ini. Terus berjuang dengannya demi mendapatkan keadilan.


Sidang hari ini baru ditutup saat adzan ‘asar dikumandangkan. Walau merasa sangat tertekan, tapi Adel sempat memberikan seringainya kepada Isma. Yang membuat air mata Isma meleleh seketika. Cukup menakutkan juga bagi Isma, seringai Adel yang berpadu dengan tatapan kalem tapi penuh dengan dendam.


Luki sempat mengajak Adel untuk makan dulu, sebelum kembali ke rumah sakit. Tapi Adel menolak. Dia ingin segera kembali ke rumah sakit. Dia sudah tidak sabar melihat perkembangan bapaknya. Tapi Tati mengingatkan tentang jasa Luki di persidangan ini.


Berdasar hal itu, Adel menerima tawaran makan Luki. Tapi dengan syarat, semua yang ikut, juga diajak makan. Syarat itu diterima Luki. Bahkan dia juga menjanjikan, semua yang menunggu di rumah sakit juga dia belikan makanan serupa.


Di dalam mobil Tati, Adel menangis sejadi-jadinya. hatinya sudah sangat penat dengan semua peristiwa yang terjadi berentetan. Tati membiarkan sahabatnya menumpahkan semua kepedihan hatinya.


Dari belakang, Nike memberikan elusan penguat hati kepunggung Adel. shinta hanya diam saja. tak tahu harus berbuat apa.


Cukup lama Adel menangis, bahkan setelah mobil Tati tiba di parkiran rumah makan yang dituju. Tati memberitahu Luki untuk masuk dan memesan makanan terlebih dahulu. Luki mengerti. Dia meminta Tati untuk menjaga Adel dengan baik.


Tangisnya baru mereda setelah ada telepon dari kekasihnya. Mereka sempat berbincang membahas sidang tadi. Budi hanya diam menjadi pendengar yang baik. Membiarkan kekasihnya menumpahkan segala kekesalan di hatinya.


Tati menegur dengan menggunakan bahasa isyarat. Sudah terlalu lama Luki menunggu di rumah makan. Dengan berat hati, Adel berpamitan kepada Budi. Dia bilang mau makan dulu. Tapi dia tidak mengatakan akan makan dengan siapa.

__ADS_1


***


__ADS_2