
Budi agak berat untuk bercerita. Dia merasa belum mengenal Icha.
“Oke. Kalo orang ini, mas?”
Icha paham ekspresi wajah Budi. Diapun mengalihkan suasana dengan bertanya lagi. Dia perlihatkan lagi sebuah gambar sketsa lain.
“Lah, si kadal mesir” seru Budi.
“Kadal mesir?” gumam Icha sedikit tergelak.
“Iya. Si Luki, suaminya Adel. Dia itu yang tertembak”
“Sori, suaminya cewek ini, mas?” tanya Icha kaget.
“Iya. kenapa emang, Cha?” sahut Budi bingung.
“Kok bisa?” tanya Icha, entah kepada siapa.
“Di mimpi Icha tuh, cewek ini, si Adel ini, orangnya baik banget lho, mas. Kok bisa nikah sama cowok ini? Jahat banget lho mas, dia” cerita Icha penuh rasa tidak percaya.
“Ya, nyatanya gitu, Cha” jawab Budi.
“Astaga. Ya Alloh” keluh Icha.
Untuk beberapa saat, Icha seperti tidak tahu harus berkata apa. Dia menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. Seperti ada kesedihan yang cukup berat.
“Mas. apa si Adel ini masih bucin sama si Luki ini?” tanya Icha, beberapa saat kemudian.
“Eeem. Kyaknya sih udah enggak deh, Cha. Barusan tadi nelepon aku. Dari curhatannya sih, dia kaya udah kesel gitu sama si kadal mesir” jawab Budi.
“Syukurlah. Bakal lebih baik begitu. Karena bakal nyakitin banget kalo semuanya udah terbongkar”
“Emang Icha ngeliat apa aja?”
“Banyak, mas. Tapi kebanyakan sih, sesuatu yang mungkin Icha nggak tahu gimana ngebuktiinnya”
“Tentang apa?”
“Tentang kematian bapak ini, mas”
“Pak Fajar?”
Budi terkejut melihat sketsa wajah pak Fajar ditunjukkan Icha.
“Kenapa?”
“Icha nggak tahu, mas. Apa memang takdir beliau harus mengalami itu semua, atau sebenarnya masih bisa dicegah. Tapi yang jelas, di mimpi Icha, kondisi bapak ini yang sudah sakit, bukannya dikuatkan, tapi malah dilemahkan. Bahkan koma beliau itu bukan asli bawaan sakitnya. Tapi emang dibikin”
“Astaghfirulloh. Siapa yang bikin, Cha?” tanya Budi dengan suara menggeram
“Dokter ini, mas”
Icha memperlihatkan sebuah sketsa lain. Seorang dokter perempuan. Budi mengernyitkan keningnya.
Dia tidak punya ingatan, apakah dokter itu pernah merawat pak Fajar atau tidak. Karena dia tidak pernah membicarakan soal dokter saat teleponan dengan Adel.
Tapi dia punya ingatan saat dia kecelakaan dulu, dokter itu adalah dokter yang memfitnahnya.
“Eh, boleh kirimin gambarnya nggak? Terus terang, pas pak Fajar sakit, sampai meninggal, aku lagi di Berlin”
“Nanti Icha fotoin ya, mas”
“Eh tapi, apa hubungan dokter itu sama pak Fajar? Kenapa dia bikin pak Fajar koma?” tanya Budi menyelidik.
“Bukan sama pak Fajarnya, mas. Tapi sama si Luki”
“Apa?”
Icha memperlihatkan sketsa pertemuan antara Luki dengan dokter perempuan itu. Ada sebuah tempat yang menjadi latar belakang sketsa itu. Budi teringat dengan satelit yang biasa dipakai Sephia.
“Di dalam mimpi Icha, dia itu pengedar di lingkungan rumah sakit, mas. Dia kamuflasekan dengan obat-obatan rumah sakit”
“What?”
“Icha juga sempat ngeliat bayangan bayangan mas Budi lagi sakit. Ada dokter cewek itu, ada Putri, ada bu Ratih. Ada juga cewek lain, dua orang. Dan Putri pergi ngejar cewek itu. Cewek itu kaya marah sama mas Budi, setelah denger ucapan dokter itu. Tapi Icha nggak ngerti, apa yang kalian bicarain”
“Maksud Icha, pengeroyokan dulu itu, Luki yang ngerencanain?” tanya Budi tersulut emosi.
“Kalo itu, Icha nggak berani bilang, mas. Icha cuman nyampein apa yang keliatan jelas banget di pandangan Icha”
“Astagfirulloh” keluh Budi.
__ADS_1
“Mas. Ada yang lebih penting buat mas pikir saat ini. Mungkin Icha bisa bantu. Tapi Icha belum kenal sama Adel. Icha butuh saran juga perantara”
“Apa itu, Cha?” tanya Budi.
“Kalo di mimpi Icha, saat ini, sampai beberapa waktu ke depan, Adel itu hatinya lagi bimbang, mas. Antara benci sama cinta yang mulai tumbuh buat si Luki itu”
“Haih. Mulai bucin, dia. Oke. Terus?”
“Kalo mas Budi bisa, mas Budi samperin ya! Dia bakal butuh penopang buat bersandar”
“Dia bukan tipe cewek cengeng, Cha. Malah runyam kalo aku ke sana. Yang ada bisa dijadikan alasan si Luki buat nyeret aku ke dalam kasusnya”
“Nggak akan, mas”
“Tahu dari mana?”
“Karena dalam mimpi Icha, si Luki itu akan meninggal menjelang subuh besok”
Budi tidak segera merespon. Dia mencoba menganalisa ekspresi wajah Icha. Tidak ada raut wajah benci. Berarti memang Icha hanya menceritakan apa yang dia lihat dalam mimpinya.
“Umur itu urusan Gusti Alloh, Cha. Mana ada manusia yang dikasih tahu?” pancing Budi.
“Syukurlah, kalo memang apa yang Icha lihat ini salah” sahut Icha. Wajahnya menyiratkan kesedihan.
“Ngeri tahu, mas. Kan icha juga bakal ngalamin. Mana masih banyak dosa lagi sama ibu” lanjut Icha.
Mendengar kata dosa dan ibu, Budi jadi teringat pada kata-kata nenek-nenek di kantin waktu itu. Dia jadi kelupaan untuk bertanya pada ibunya.
“Mas?” tegur Icha.
“Ya?”
Budi terkejut, dan kembali tersadar dari lamunannya.
“Adel dirawat di rumah sakit mana, mas? Kalo masih di sekitaran Jatake, biar Icha jenguk. Icha juga masih seputaran itu, kok”
“Oh. Oke. Aku tanyain dulu, ya? Makasih banget nih, kalo mau nengokin Adel”
“Usahain datang juga ya, mas! Yang Icha liat, kondisi Adel bakal sangat rawan”
“Eem. Ya. Aku koordinasi dulu, ya?” jawab budi diplomatis.
“Ya udah mas, gitu aja dulu. Maaf nih, udah nyampurin urusan mas Budi”
“Icha tunggu alamatnya ya, mas. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
*Tuut*
Sambungan video call itupun terputus. Budi langsung mengirimkan pesan singkat pada Adel, meminta alamat rumah sakit tempat dia dirawat.
Di tempat lain Adel sempat tersenyum, membaca pesan singkat dari Budi. Dia merasa semangatnya terpompa. Kesedihannya ternyata mendapat perhatian dari Budi. Dia berikan alamat itu, dengan harapan, Budi tidak hanya mengirimkan orang lain, tapi dia sendiri juga datang menjenguknya.
“Ngger. Zulfikar mana?"
Sebuah sapaan mengejutkannya. Ternyata itu adalah suara ibunya. Bu Ratih datang bersama pak Paul.
“Piket, bu” jawab Budi sambil salim dan cium tangan.
“Pak” sapa Budi sambil menyalami pak Paul. Kali ini dia juga mencium tangan pak Paul.
Sempat pak Paul menatap ke arah bu Ratih. Dan seulas senyum mengembang di bibir bu Ratih. Sebuah isyarat positif buat mereka. Begitu pikir bu Ratih.
“Gimana kondisi bu Lusi, bu?” tanya Budi.
“Masih nangis aja, Bud. Bingung ibu jadinya”
“Eem. Maksudnya, bu?”
“Mbak Adel. Nggak ada yang nemenin, kan? Kalo aja bu Lusi nggak drop, kita bisa bantu transportnya, kan? Ini bu Lusi juga sakit. Madin nggak mungkin kan, terbang ke sana sendirian”
“Tati?”
“Ya ngurusin bu Lusi. Madin masih belum ngerti soal berkas legal. Masih takut juga buat ngambil keputusan. Jadinya dibantu sama Tati”
“Tadi ada Nike nggak bu?”
“Nike tuh yang mana? Yang dulu nengokin kamu sama mbak Tati?”
“Iya”
__ADS_1
“Nggak ada. Belum liat, ibu”
“Terus, gimana dong, bu? Ibu punya rencana apa?”
“Kamu terbang gih, ke sana, ngger!”
“Ha? Kok Budi? Hanin aja, bu” tolak Budi.
“Ngger. Madin udah bantu kita nggak kira-kira. Masa kita perhitungan? Putri udah banyak yang jagain”
“Ya tapi gimana sama Erika, bu? Pasti ngamuk dia, kalo liat Budi jagain Adel. Apa nggak jadi fitnah juga nant, di sana?”
“Ngger. Soal mbak Erika, biar ibu yang bilang. Kamu berangkat aja ya, ngger!”
“Ibu yakin, Erika bakal ngerti?”
“Harusnya ngerti, ngger. Kamu ke sana kan atas perintah ibu, bukan mau kamu sendiri. Kalo mbak Rika nggak mau ngerti, ya udah, nggak usah dilanjut”
“Ah, ibu. Mana bisa gitu, bu? Sembarangan aja” komentar Budi.
Tapi tanpa dia sangka, wajah bu Ratih justru berubah merah. Ekspresi wajahnya menyiratkan kalau dia sangat tersinggung dengan komentar putranya itu.
“Astaghfirulloh” gumam Budi terkejut.
“Maafin Budi, bu”
Budi merendahkan tubuhnya, berlutut di depan kaki sang ibu. Dia raih tangan ibunya, lalu dia cium sembari kembali meminta maaf. Untuk beberapa saat, bu Ratih tidak bersuara. Rasa tersinggung di hatinya masih cukup membara. Membuat Budi takut dan bertanya-tanya.
“Ngger”
Bu Ratih memanggil sambil mengelus-elus kepala Budi.
“Maafin Budi, bu! Budi salah” kata Budi, untuk kesekian kalinya”
“Iya, iya. Ibu juga minta maaf ya? Ibu tersinggung, karena sempet panik tadi” jawab bu Ratih.
Bu Ratihpun meminta Budi untuk menyudahi berlututnya. Bu Ratih mengajaknya duduk lesehan beralaskan tikar, sebagaimana biasanya.
“Bu. Apa rencana ibu? Budi harus ngapain aja di sana?” tanya Budi, setelah semuanya duduk.
“Ibu belum kepikiran sampe situ. Intinya, kamu berangkat, ya? Temenin mbak Adel! Ibu yakin, kamu lebih tahu apa yang harus kamu lakukan buat mbak Adel”
“Eem. Apa saya boleh ambil cuti, pak?” tanya Budi pada pak Paul.
“Tinggal bilang sama Erika” jawab pak Paul.
“Nggak mungkin dibolehin, bapak. Batas antara atasan sama pacar itu tipis banget” seru Budi.
“Hempf” pak Paul tergelak.
“Kirain masih jadi atasan, ternyata dia lagi ngomong sebagai pacar”
“Siapa suruh macarin atasan?” komentar bu Ratih sambil tergelak.
“Ha ha ha”
Pak Paul tidak bisa menahan tawanya. Dia kelepasan tertawa walau hanya sejenak.
“Ya udah. Ambil cuti dua atau tiga hari, sesuai kebutuhan. Tapi tolong, sisihkan waktu buat mantau kerjaan, ya! Proyek masker masih terus berjalan. Dan aku harus ngejar perijinan buat masker medis. Jadi nggak mungkin seharian di pabrik terus” pinta pak Paul.
“Oh, ya. Baik, pak” jawab Budi.
“Ya udah. Sekarang juga kamu siap-siap! Ibu cariin tiket pesawat” perintah bu Ratih.
“Mana ada? Udah kemaleman, ibu”
“Emang iya, pak?” tanya bu Ratih pada pak Paul. Dan Pak paul hanya mengangguk sambil tergelak.
“Terus, gimana dong?”
“Charter mobil aja, bu” kata pak Paul memberikan usul..
“Boleh juga itu, bu” sahut Budi.
“Ya sudah. Siap-siap, gih!” perintah bu Ratih lagi.
“Bu. Ibu yakin, bisa ngatasin Erika? Karakternya beda banget lho bu, dibanding Adel” tanya Budi memastikan.
Bu Ratih terdiam beberapa saat. Tampak dia menghela nafas. Tapi kemudian ada senyum merekah di bibirnya.
“Ibu juga pernah berada dalam posisi Erika, ngger” jawab bu Ratih. Budi mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
“Ibu pikir, ini akan menjadi momen yang tepat, buat ibu berkenalan lebih jauh dengan mbak Rika. Apakah dia benar-benar orang yang tepat untuk menggantikan posisi mbak Adel, atau malah sebaliknya” lanjut bu Ratih.
“Oke” komentar Budi pendek, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.