Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
ujian di saat berjauhan


__ADS_3

Berita penangkapan Isma ternyata sangat cepat menyebar, bahkan sudah sampai ke berlin. Adel mengkonfirmasi disaat Budi menanyainya. Dia sempat marah-marah dan mengumpat segala. Tentu saja kemarahannya itu dia alamatkan kepada Isma.


Budi tersulut emosinya. Dia sependapat dengan Adel, setelah sekian banyak orang yang menjadi kambing hitam, pasti polisi sudah bisa memetakan seperti apa otak intelektual ini. Terlebih dalam siaran persnya, polisi mengatakan kalau penangkapan Isma, tidak hanya berdasarkan jejak digital dari software son of pegassus. Tapi juga berdasar jejak pembelian alat perekam berbentuk korek, yang disamarkan menjadi bonus dari pembelian tas.


Budi mengatakan kalau dirinya baru tersadar, mengapa semenjak dirinya masuk PRAM, Isma jadi temperamen dan suka kontra dengan Stevani. Dan dia menyayangkan sikap yang Isma ambil. Sikap yang akhirnya hanya menghasilkan kebencian darinya.


Suasana apartemen tempat Budi dan rekan-rekan menginap berubah menegangkan, karena didatangi oleh orang dari kedutaan besar Republik Indonesia. Mereka datang pada kapasitas mereka menjadi penyambung lidah petugas kepolisian.


Mereka mengambil keterangan Budi dan yang lainnya sehubungan dengan penggerebekan di PT.PRAM.


Di tempat lain, Stevani terkejut bukan main, melihat siapa yang datang menjadi penghuni sel di sebelahnya. Orang yang selama ini selalu mencecarnya, orang yang selama ini suka sekali kontra dengan dirinya, adalah orang yang membuatnya masuk penjara.


Matanya langsung melotot tajam, menatap Isma tanpa lepas sedetikpun. Membuat Isma menangis ketakutan. Dia terus mengatakan pada Stevani kalau bukan dirinya yang memfitnah Stevani. Dia terus mengatakan kalau dirinya juga dikambing hitamkan.


Tapi Stevani tidak percaya. Sesuai keterangan Hendra, yang akan masuk ini, adalah si otak intelektual. Dan ternyata Isma yang masuk.


Setelah hari berganti, kasus Stevani sepertinya semakin mendekati puncaknya. Paling tidak itulah yang dikatakan Adel. Sebab, dia sudah beberapa kali dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan, sehubungan dengan temuan baru yang mereka dapatkan.


Saat bapaknya bersemangat untuk kembali ikut serta dalam pengawalan kasus itu, Adel justru meminta sebaliknya. Adel justru meminta bapaknya untuk mengiklaskan yang sudah terjadi, dan fokus pada apa yang sedang mereka kerjakan. Adel juga mengatakan, kalau keterangannya saja sudah sangat memberatkan tersangka otak intelektual itu.


Dia tetap tidak merubah pendapatnya, walaupun Luki memberikan sekian banyak pandangannya mengenai kasus itu. Dan walaupun Luki menyatakan kesiapannya membantu keluarganya memenangkan kasus itu.


Walau sebenarnya kurang puas, tapi pak Fajar kalah suara. Adel dibantu ibu dan adiknya, satu suara, mengalahkan pak Fajar yang hanya didukung oleh Luki.


Saking sibuknya mondar-mandir, Adel sampai lupa menghitung hari. Hari-hari terlewat begitu saja tanpa bisa banyak meluangkan waktu untuk kekasihnya. Setali tiga uang, di berlinpun sama. Budi terlalu banyak tersita waktunya untuk kegiatan ekspo.


Banyaknya pengunjung yang menaruh minatnya pada produk yang mereka bawa, membuat Budi harus ekstra ketat membagi waktu. Tenaganya sering terkuras, dan kelelahan dimalam harinya.


Belum lagi wabah virus dari wuhan yang oleh PBB telah dinyatakan menjadi pandemi. Sekalipun di wilayah tempat diselenggarakannya ekspo ini belum terlihat dampaknya, tapi pemerintah setempat mulai mengetatkan aturan.


Aturan penggunaan masker, cuci tangan, dan dimulainya pembatasan-pembatasan aktivitas di beberapa wilayah, memuat Budi harus berpikir dua kali untuk tetap bisa mencetak skor penjualan.


Sekian banyak langkah tambahan, sekian banyak usaha tambahan yang mereka lakukan, otomatis memerlukan sekian banyak waktu dan perhatian tambahan. Sehingga merekapun seolah terlupa sudah berapa hari mereka berada di Berlin.


Skor demi skor penjualan yang mereka raih, hampir membuat mereka tidak sadar, kalau waktu ekspo mereka hanya tinggal sehari lagi.

__ADS_1


Di bengkel EFA mebel, Aldo datang secara berkala menggantikan tugas Budi. Membuat Adel harus selalu waspada dan selalu sigap dengan setiap perkembangan di bengkel kayu bapaknya.


Sebelum berangkat kuliah, sebelum berangkat pentas campur sari, Adel selalu menyempatkan diri memeriksa semua pencapaian di bengkel kayu bapaknya. Tidak sekalipun dia kasih toleransi atas keteledoran ataupun sikap malas-malasan yang ditunjukkan anak buah bapaknya.


Tak jarang dia harus berdebat dengan salah satu karyawan bapaknya yang merasa paling berpengalaman, tapi susah diatur.


Sebenarnya pak Fajar sudah sejak awal melihat putri sulungnya dibantah oleh karyawannya sendiri merasa marah, dan ingin menghardik orang itu. Tapi selalu dicegah oleh bu Lusi.


Bu Lusi selalu meminta pak Fajar untuk membiarkan Adel menyelesaikan masalah itu sendirian. Karena konflik itu akan menjadi pengalaman berharga bagi Adel. Dan itu bagus untuk membentuk kepribadiannya di kemudian hari.


Penjelasan itu selalu bisa meluluhkan hati pak Fajar. Sehingga, selama target yang telah ditetapkan masih tercapai dengan baik, dia hanya mendiamkan segala ketidaksopanan orang itu, dan mengamati dari jauh.


Dengan bergantinya hari, maka jadwal pengiriman selanjutnya sudah di depan mata. Bahkan ada dua jadwal pengiriman sekaligus. Dari PT. PRAM, dan pesanan dari Luki.


Sebelum berangkat kuliah, Adel sudah menyusun strategi berdasarkan masukan dari kekasihnya. Dimana, setelah kuantitas tertentu, satu dari dua jalur produksi akan dialihkan untuk mengerjakan pesanan Luki. Membantu kinerja subcont yang rupanya tidak sebaik yang diharapkan. Beberapa kali dia menegaskan target itu kepada karyawan bapaknya yang merasa paling berpengalaman itu.


Disaat pulang dari kuliah, betapa terkejutnya Adel, baru datang langsung ditodong pertanyaan oleh Luki. Ya, ternyata apa yang telah ditargetkan oleh Adel tidak berjalan dengan baik. Sudah pusing dengan mata kuliah, lelah kepanasan, ditambah kenyataan yang membuat kepala berdenyut, kontan emosi Adel naik sampai ke ubun-ubun.


“Pak. Gimana, sih? Kok bisa nggak tercapai, targetnya?” tanya Adel pada karyawan yang paling berpengalaman itu, tanpa basa-basi.


“Apanya yang nggak tercapai?” karyawan paling berpengalaman itu balik bertanya.


“Target harianku kan dari dulu emang segitu. Dan udah dapet, kan? Terus apa lagi?”


“Dih, pak? Bapak kerja di sini berdasar perintah saya. Bukan berdasar kebiasaan”


“Lha situ siapa, merintah-merintah saya?”


“Astaghfirulloh. Bapak nanya siapa saya?” tanya Adel pelan dengan suara menggeram.


Tatapannya tajam mengarah ke mata orang tak tahu diri itu. sampai-sampai sampai tidak sadar kalau Luki mendekat.


“Aku kerja sama si Fajar, bukan sama kamu. Nggak peduli siapa kamu. Kalo kamu ngasih perintah diluar kebiasaan aku, ya itu berarti buat yang lain, bukan buat aku. Omelin aja sono, yang lain!”


“Dasar tua bangka nggak tahu terima kasih” umpat Adel kelepasan emosi.

__ADS_1


“Eh bocah, jaga bacot kamu ya! Dasar lont*” sahut orang itu tak kalah galak.


*Wuuuuss*



*Bukkkk*


“Aaaah”


“Mas?”


Tanpa peringatan, Luki langsung maju dan menyarangkan tinjunya ke wajah orang tak tahu diri itu. Praktis orang itu terpental ke belakang. Dia marah mendengar orang tak tahu diri itu mengatai Adel dengan sebutan lont*.


“BANG***”


Orang itu bangkit berdiri dan gantian menyerang Luki. Terjadilah perkelahian diantara keduanya. Dari perkelahian itu, Adel jadi tahu kalau Luki tak terlalu mahir ilmu bela diri.


Berkali-kali dia terkena pukulan dan tendangan dari orang tak tahu diri itu. Saat orang tak tahu diri itu merasa di atas angin, dia jadi tidak awas dengan sekitarnya. Dia sibuk meledek Luki yang jatuh tersungkur.


*Wuuusss*



*BAAKKKK*


“AAAA”


Tanpa dia sadari, pak Fajar datang dari belakang dengan membawa balok kayu. Tanpa ampun, pak Fajar memukulkan balok kayu itu ke kepala karyawannya yang tidak tahu diri itu. Orang itu terhuyung-huyung ke depan, dan jatuh terduduk. Tapi dia tidak pingsan.


“Bang***. Begini balasanmu, Jar?” tanya orang itu sambil memegangi kepalanya. Ada darah mengalir dan membasahi tangannya. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya.


Tampaknya kesadarannya mulai terganggu. Dia tersenyum sinis saat melihat darah di tangannya itu.


“Oke. Kamu memusuhi orang yang salah, Jar. Aku akan balik. Aku akan bikin perhitungan sama kamu”

__ADS_1


Orang itu lantas berlari pontang-panting, saat pak Fajar mendekatinya sambil mengayunkan balok kayu yang dipegangnya.


Sepeninggal orang tak tahu diri itu, Adel dan pak Fajar membawa Luki ke puskesmas untuk mendapakan perawatan.


__ADS_2