Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
budi ingin nembak adel


__ADS_3

Baru juga sebentar dia terlelap dalam tidur, subuh sudah datang. Suara adzan dari mushola di dekat rumah, sontak menariknya kembali ke alam sadar.


Kali ini, kantuknya benar-benar berat. Selepas sholat subuh, dia kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya. Tak peduli adiknya menegurnya. Bu Ratih meminta Putri untuk membiarkan kakaknya tidur lagi.


Senyum ibunya terlihat menyimpan banyak cerita, di mata Putri. Dia tidak mau membantah. Terpaksa, dia menggantikan tugas kakaknya membantu ibunya membuka lapak. Mereka berangkat tanpa pamit.


Matahari sudah terlalu tinggi untuk seseorang masih tertidur di pagi hari. Jendela yang dibuka oleh Putri tadi, tak ayal membuat sinar mentari menerobos masuk tanpa penghalang. Menyilaukan mata Budi, walau masih terpejam.


“Eeemm, ooooookkkhhhh”


Dia menguap dan berguling ke sisi berlawanan. Sejenak dia mengerjabkan matanya. Terasa aneh baginya, tidak ada suara adik dan ibunya. Juga terlalu terang kamar ini untuk ukuran lampu lima belas watt.


“Astaghfirulloh”


Dia berseru sambil melompat bangun dari tidurnya. Dengan gerakan terburu-buru dia langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Aktivitas paginya kali ini terlihat berantakan. Serba grasak-grusuk. Bagaimana tidak, ini sudah jam delapan lewat lima belas menit. Dan Budi masih berada di rumah.


“Kenapa nggak bangunin mas Budi sih, Put?” omel Budi geram.


DAAAKk


“ADUUH”


Dia menendang kaki meja belajarnya. Dia berjingkat-jingkat karena kaki kanannya terasa sakit sekali. Dia abaikan aktivitas sarapannya. Buatnya, yang terpenting adalah sampai di tempat kerja secepatnya.


Si merah marun dia geber bagaikan motor balap. Tak peduli ada polisi yang meneriakinya. Dia terus ngebut dan fokus pada jalan. Dia ingin mempersingkat waktu tempuhnya. Barangkali bisa hanya lima menit saja yang dia habiskan di jalan.


“Bos, tumben telat?” sapa scurity perusahaan.


“Wah panjang ceritanya, pak” jawab Budi. Dia langsung tancap gas begitu gerbang dibuka untuknya.


Setengah berlari, dia langsung masuk ke dalam kantor. Apesnya, pak paul sedang ada di kubiknya. Sedang berbincang dengan Aldo dan Riki.


“Nah, itu si Budi, pak” kata Aldo menunjuk padanya.


Sudah tertangkap basah, ya sudah, menyerah saja. Begitu pikir Budi. Dengan langkah gentelmen, dia berjalan menuju pak Paul.


“Kenapa telat?” tanya pak Paul langsung pada inti. Sepertinya dia bukan tipe orang yang toleran terhadap karyawan yang telat masuk. Karyawan di kubik sebelah, pada mengintip. Karena suara pak Paul cukup keras dan menggema di seantero kantor.


“Maaf pak. Ada accident” jawab Budi.


“Kenapa?” tanya pak Paul lagi.


“Semalaman ada yang menghantui saya, pak. Baru bisa tidur menjelang subuh. Abis subuh ngantuk berat. Eh, nggak dibangunin sama ibu. Bablas, pak” jawab Budi.


“Hantu? Kamu kan rajin ibadah. Mana ada hantu yang berani sama kamu?” tolak pak Paul.


“Nyatanya demikian, pak”


“Kok kamu takut? Kan kamu manusia berTuhan?”


“Yah, pak. Ini pertama kalinya saya mengalami. Kalo saja ganggu saya itu Aldo, sudah saya timpuk pake sempak”


“Kampret, lu” sahut Aldo.


“Ha ha ha ha” pak Paul akhirnya tertawa. Karyawan lain juga ikut tertawa.


“Kayaknya, itu hantunya perempuan, deh”


“Kuntilanak” sahut Aldo.


“Lagi puber” sahut pak Paul.


“Kunti kan udah punya Anak ya, Do?” koreksi Riki pada Aldo.


“Puber ke dua” jawab Aldo.


“Ha ha ha ha” pak Paul tertawa lagi.


“Ya udah. Kamu harus segera cari solusinya, ya! sowan kiai atau ustad yang bisa ngusir hantu! Aku nggak mau kamu telat lagi” kata pak Paul.


“Siap, pak” jawab Budi.

__ADS_1


“Ya udah. Itu targetnya. Kamu harus buat itu terelaisasi!”


“Baik, pak” jawab Budi lagi.


Pak Paul pergi dari kubik PPIC sambil geleng-geleng kepala. Dia masih merasa lucu dengan cerita Budi yang diganggu hantu.


Dia menggap cerita Budi itu benar. Padahal, yangmenghantui Budi bukanlah kuntilnak atau sejenisnya, melainkan wajah wanita cantik bernama Adel.


“Siang ini, kita harus sediain dia set jenis ini. Pembelinya akan ambil langsung ke sini. Jadi, kamu harus pastiin, framenya siap maksimal jam sepuluh” kata Aldo memberikan instruksi. Riki manggut-manggut, tapi Budi tidak langsung menjawab.


“Bud!” tegur Aldo.


“Eh, iya. siang harus kirim dua set, kan? Beres” sahut Budi tergagap.


“Yang tipe ini. Lu nangkep nggak?” koreksi Aldo.


“Iya, yang itu” sahut Budi.


“Eh, itu apa?” lanjut Budi.


“Nah, kan. Nggak nangkep”


“Wah, mbak kunti keterlaluan nih. Si Budi jadi bego” komentar Riki.


“Asem. Kamu kalo ngomong, dikit tapi nyelekit” sahut Budi sambil meninju lengan Riki.


Aldo yang sempat kesal akhirnya ikut tertawa. Lalu dia menjelaskan lagi perihal unit yang tidak biasa diproduksi itu.


Desain lama yang hanya sesekali diproduksi berdasarkan pesanan. Dari gambar yang Riki perlihatkan, Budi bisa membuat simulasi di angannya.


“Oke, jam sepuluh. Dua unit” kata Budi menyanggupi target itu.


Diapun langsung pergi ke departemen frame, tempatnya bertugas. Dan menyampaikan rencananya pada pak Teguh. Pak Teguh menyanggupi rencana yang diberikan oleh Budi.


Seketika itu juga, langsung dijalankan rencana itu dari mulai pemilihan material. Karena ini unit yang baru pertama kali Budi mengawal produksinya, dia merasa penasaran. Dia ikut ke ruang persiapan.


Walau tidak ikut mengerjakan, tapi dia ikut melihat, bagaimana material lonjoran dipotong-potong menjadi ukuran-ukuran tertentu seperti pada gambar.


Selama proses pemotongan material, walau mesin gergajinya sudah otomatis, tapi operatornya harus tetap fokus untuk memberikan pendinginan dengan air. Sehingga membuatnya tidak memperhatikan Budi.


Pikirannya sedang melayang, ingatannya kembali memutar kenangan saat dia berpapasan dengan Adel di depan kamar mandinya. Wajah segar yang sama sekali belum tersentuh make up, rambut panjang yang basah karena habis keramas, dan dress tanggung Putri yang dia pakai. Semua berpadu indah di matanya.


Andai diijinkan, dia ingin lebih lama lagi, menikmati setiap keindahan yang ada pada diri Adel. Walau dia dipungungi sekalipun. Karena melihatnya dari belakang, juga tak kalah menggetarkan bagi hatinya. Pinggang ramping itu, berpadu indah dengan pinggul yang sedikit melebar.


“Kalo suka, mending terus-terang aja”


Sebuah sapaan membuyarkan lamunannya. Terlebih dibarengi dengan tepukan di pundaknya.


“Ajak ketemu, barangkali dia cantik” lanjut orang itu.


“Maksud pak Paul, siapa?” tanya Budi.


“Mbak Kunti. Ha ha hah ha” jawab pak Paul sambil tertawa.


“Hemfff”


Budi menghela nafasnya. Dia tersenyum lega. Ternyata yang dimaksud pak Paul adalah hantu kuntilanak, seperti yang dibilang Aldo. Bukan Adel, seperti yang sedang dia lamunkan.


“Jangan ngelamun, di sini juga ada. Takutnya, yang di rumah udah video call-an sama yang di sini. Kamu kan cakep. Bisa jadi yang di sini juga tertarik. Ha ha ha ha” lanjut pak Paul lagi.


Selanjutnya, pak paul mengajak Budi membahas mengenai unit khusus ini. Budi menyampaikan rencananya. Dan pak Paul mendukung rencana itu. Dia hanya berpesan agar Budi berhati-hati dengan tim finishing. Jangan sampai molor. Budi menyanggupi.


Beruntung, dengan adanya pak Paul di pabrik, membuat Dino tidak berkutik. Tampak hanya dia sendiri yang sedang duduk menikmati secangkir kopi. Sedangkan keempat temannya sedang giat-giatnya bekerja.


Tanpa ada bantahan sedikitpun, Budi menyampaikan rencananya. Mulai dari tim welding sampai finishing. Walau tanpa Dino di posnya, tapi frame yang dia minta, selesai bahkan sebelum waktunya.


Budi kembali ke kantor, setelah frame yang dipesan, dibawa ke departemen anyaman. Dia bermaksud mengambil minum, karena merasa haus. Tapi saat hendak menekan knob pada dispenser, mendadak dia tertegun.


Pandangannya tertuju pada seseorang yang berjalan ke arahnya. Walau seperti bukan dia tujuannya. Tapi dalam pandangan matanya, terlihat aneh, orang itu bisa berada di kantor ini, berseragam serupa dengan yang dia pakai, walau berbeda warna.


Adel? Kok bisa?

__ADS_1


Budi semakin merasa janggal, saat Adel hanya tersenyum kepadanya, tapi sama sekali tidak menghampirinya. Dia malah berbincang dengan staff finance tanpa menghiraukannya. Saking penasarannya, dia urungkan niatnya mengambil minum.


“Hai. Kamu kenapa ke sini?” tanya Budi setelah menghampiri.


“Hai. Oh, aku nganterin surat buat mbak Hilda”


“Hem?”


Budi merasa sangat janggal. Itu kan pekerjaan resepsionis. Sejak kapan dia menjadi resepsionis perusahaan ini? Hari ini? Tapi kok tidak bilang? Dan, mengapa sikapnya berbeda sekali? Seolah tidak ada kedekatan diatara dia dan dirinya.


“Wah, kacau. Pengalaman pertama emang luar biasa membekasnya. Sampe-sampe Marsya ditanya, kenapa ke sini”


Suara itu muncul kembali. Budi membalikkan tubuhnya, menghadap ke sumber suara. Pak Paul tertawa melihatnya bingung.


Marsya?


Budi memutar tubuhnya lagi, menghadap ke arah Adel.


Loh, kok jadi marsya? Adel mana? Apa jangan-jangan? Astaghfirulloh.


“Aku curiga, nih. Jangan-jangan semalam kamu udah dikelonin tuh, sama dia?” kata pak Paul lagi. Kali ini dia merangkul pundak Budi, seperti dua orang sahabat.


“Dikelonin siapa, pak?” tanya Marsya.


“Mbak Kunti. Ha ha ha ha” jawab pak Paul sambil tertawa lepas.


Marsya sempat bingung dengan maksud pak Paul. Dia menyangka kalau Kunti itu nama seorang wanita. Tapi setelah dijelaskan oleh Hilda, dia ikut tertawa. Bahkan kencang sekali suaranya.


Setelah pak Paul pergi, Budi juga ikut pergi. Kali ini dia berjalan menuju pintu depan kantor. Dia ingin minum kopi di kantin.


Pastinya, sepanjang jalan sampai ke meja resepsionis, Marsya dengan setia menggodanya. Sampai di kantin, dia memesan secangkir kopi.


Tanpa memperhatikan sekitarnya, dia langsung duduk dan memainkan ponselnya. Dia memuka aplikasi pesan singkat.


Assalamu’alaikum. Del, lagi ngapain?


Dia mengirimkan satu kalimat pembuka kepada pujaan hatinya.


Wa’alaikum salam. Lagi kuliah, Bud. ada apa?


Ternyata tidak butuh waktu lama untuk Budi menunggu balasan.


Kamu ada job nggak, hari ini?


Kalimat selanjutnya, terdengar mulai menjurus. Tanpa basa-basi.


Enggak, lagi libur. Ada perlu sama aku?


Jawaban yang sama menjurusnya.


Bisa ketemu di cafe bisasa, nggak? Entar sore, setelah jam kerjaku selesai?


Benar-benar to the point. Laki-laki memang jangan banyak basa-basi!


Bisa. Ya udah, abis kuliah aku ke sana, ya. Tapi sekarang, radio silent dulu ya?


Jawaban yang membuatnya sedikit sumringah. Sebuah langkah sudah dibuat. Tinggal mempersiapkan langkah selanjutnya.


Oke. Makasih ya. sampai ketemu nanti. Assalamu’alaikum


Budi mengirimkan kalimat pamungkas sebagai penutup.


Wa’alaikum salam.


Angan-angan budi melayang lagi. Jauh di lubuk hatinya, dia berharap akan ada keajaiban yang bisa menyatukannya dengan sang pujaan hatinya. Lalu dia berdoa, agar Alloh berkenan menjodohkannya dengan Adelia Fitri.


Begitu bel tanda pulang berbunyi, Budi sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia langsung pamitan kepada Aldo dan Riki. Walau terlihat bingung, tapi mereka tampak memahami. Mereka berpikir, Budi akan pergi ke salah satu kiai, untuk berkonsultasi mengenai gangguan hantu di rumahnya.


“Loh, kaya makmum masbuk aja, bos. Dateng paling belakang, giliran pulang paling depan” komentar scurity pabrik.


“He he”

__ADS_1


Budi hanya tersenyum cengengesan sambil berlalu setelah pengecekan tubuh dan kendaraan. Dia tidak mau membuang waktu hanya untuk menanggapi gurauan itu. dia langsung tancap gas, menuju cafe yang sudah disepakati dengan Adel tadi pagi.


******


__ADS_2