Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
tuduhan itu mengarah pada budi


__ADS_3

Putri berdiri terdiam di ambang pintu depan, memperhatikan Budi yang sedang video conference bersama Erika, Farah, dan Ratna. Sesekali dia geleng-geleng kepala dan tersenyum sendiri. Sampai bu Ratih yang baru datang dari belakang terheran-heran.


“Ngapain, Put? Senyam-senyum sendiri?” tegur bu Ratih.


“Eh, ibu. Enggak. Itu mas Budi” jawab Putri.


“Kenapa, kang masmu?” tanya Bu Ratih sambil melangkah keluar.


“Putri nggak habis pikir aja, bu. Perasaan tiap kali mas Budi kena musibah, selalu aja ada cewek yang rela ngerawat dia. Dulu mbak Fitri, terus siapa tuh, yang oneng itu, “


“Oneng?” potong bu Ratih.


“Hempfh. Iya. Yang udah ngobrol lama sama ibu tapi nggak tahu kalo ibu tuh ibunya mas Budi”


“Oh, iya” sahut bu Ratih sambil tergelak.


“Di sana ada Liza, ketemu mbak Adel, terus si itu”


“Jangan sebut!” potong bu Ratih.


“Ya. Putri juga males nyebut nama dia” jawab Putri. Budi menoleh ke arah mereka dengan tatapan bingung.


“Kemarin ada mbak Erika. Mbak Ratna kalo nggak tugas luar, bisa jadi kesini juga, bu”


“Tahu dari mana?”


“Orang kemarin nelpon Putri. Nada bicaranya itu lho bu, kaya orang cemas”


“Semua temennya kang masmu juga kaya gitu, nduk”


“Iya juga, sih. Mbak Isma, mbak Hilda juga gitu”


“Kang masmu itu mewarisi kharismanya bapakmu. Waktu muda dulu bapak juga gitu, dikerubutin cewek-cewek” kata bu Ratih.


“Oh, ya? terus ibu gimana?”


“Ya, ibu sih cuman bisa berdoa. Semoga yang jauh tetep kuat jaga hati”


“Cieee” goda Putri sambil menyenggolkan sikunya ke lengan ibunya.


“Terus, abis nikah, banyak yang godain nggak, bu?”


“Kenapa? Takut mas Zul digoda polwan?” goda bu Ratih.


“Iiih, ibu aaaah. Malah godain”


“Ha ha ha ha ha. Ya godaan sih tetep ada. Emang dasarnya bapakmu kharismatik. Jangankan yang seumuran, abg aja suka ngobrol lama sama dia”


“Serius, bu, abg? Terus, ibu gimana?”


“Ya serius, lah. Ya, ibu tetep kalem aja. Yang penting ibu tetep berdoa, sama ikhtiar”


“Ikhtiarnya apa, bu?” tanya Putri penasaran. Tapi bu Ratih malah tertawa.


“Kok malah tertawa sih, bu? Kan Putri juga bakal nikah. Bagi ilmunya kenapa, Bu?” lanjut Putri setengah merajuk.


“Ya, apa yang jadi kesenangannya bapakmu, ibu berusaha penuhin”


“Eeemm” Putri belum tersambung.


“Di luar, memang harus tetep sopan. Udah bagus Putri mau jilbaban. Tapi kalo cuman berdua sama suami, Putri harus tahu, kalo semua lelaki itu sama. Suka kalo dikasih pemandangan yang indah nan menggoda”


“Ha? Bentar-bentar. Ibu pake baju seksi gitu?” tanya Putri nyaris tanpa suara.


“Iya. Biar bapakmu nggak meleng”


“Nggak risih apa, bu?”


“Ha ha ha ha. Udah ah. Malu ibu” tukas bu Ratih sambil berlalu pergi, kembali ke dalam rumah.


“Anterin ibu, ya!” seru bu Ratih dari dalam.


“Ya” jawab Putri.


Saat ibunya masih sibuk di dalam, Putri iseng ikut duduk di samping kang masnya. Padahal saat ini Budi tidak hanya video conference dengan Erika, Farah, Isma, dan Ratna. Tapi ada juga Riki dan Aldo yang juga ikut diajak bergabung.


“Weh, siapa itu, Bud?” tanya Aldo heboh, begitu melihat wajah Putri.


“Putri, adikku” jawab Budi.


“Hai Putri” seru Ratna dari Berlin.

__ADS_1


“Mbak Ratna? Belum tidur, mbak?” sahut Putri.


“Udah, tadi. Jadi kalong nih. He he”


“Mas Bud, gimana sih? Masa mbak Ratna disuruh begadang?” goda Putri, pura-pura marah.


“Aduh Do, galak. Berani, lo?” suara Riki menggema. Membuat Farah tergelak.


“Mbak Rika, kalo Putri ngelamar kerja di sini, jangan diterima, ya?” goda Aldo.


“Lah, kenapa? Orang tegas kaya gini yang kita butuhin” seru Isma.


“Jangan! Biar aku aja yang ngelamar dia” jawab Aldo.


“Ciaaaaa” seru semuanya.


“Berani lo?” sahut Budi sambil mengacungkan tinjunya. Sontak semua orang tertawa melihat tingkah mereka.


Bu Ratih muncul dari dalam rumah. Lengkap dengan perbekalan yang biasa buat buat ke pasar.


“Loh, jualan, bu?” tanya Budi.


“Mau ngurus dagangan dulu. Nggak papa kan, Putri ibu ajak dulu?” sahut bu ratih.


“Nggak papa” jawab Budi.


“Yuk, Put!” ajak bu ratih.


“Ya” jawab Putri singkat.


“Pamit dulu ya mbak, mas” pamit Putri.


“Nah, loh. Di tolak lu Do” seru Riki.


“Kasih cium jauh aja ya, mas” kata Putri sambil memberikan cium jauh.


“Ciaaaaa”


semuanya heboh melihat Aldo pura-pura pingsan seolah terkena panah. Putripun pergi dengan tertawa tanpa suara. Bu Ratih hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak bungsunya.


Setelah sekian lama para peserta video conference saling menggoda, pembahasan kali inipun dilanjutkan lagi. Cukup lama mereka berdiskusi. Mungkin sudah satu jam berlalu sejak kepergian Putri mengantarkan ibunya. Dan video conference itupun diakhiri.


Baru juga sebentar dia memejamkan mata, bersandar pada sandaran kursi, Budi mendengar ada suara motor mendekat. Tapi bukan motor Putri. Suara motor dengan kapasitas mesin besar.


Budi membuka matanya. Dia tersenyum saat mengetahui siapa yang datang. Tapi agak aneh juga baginya, melihat tamunya datang sendirian.


“Sepi amat, pada kemana, Bud?” tanya tamu itu. Bertambah aneh Budi merasanya.


“Putri lagi nganter ibu ke pasar. Ngurus dagangan, bilangnya” jawab Budi. Merekapun bersalaman.


“Lo kapan sembuhnya, kalo di rumah aja masih ngurusin kerjaan?”


“Namanya taggung jawab, tetep harus dikerjakan. Kan lo yang ngajarin gua, Ndi” jawab Budi.


“Iya juga, sih. Beruntung mereka dapetin lo”


Komentar itu malah berarti lain buat Budi.


Ingatannya malah terpicu pada sebuah nama milik seorang wanita nan cantik jelita. Dia menghembuskan nafas berat, menyadari kenyataan bahwa hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.


“Bud?” tegur tamunya.


“Eh, iya. Mau minum apa? teh, apa kopi?”


“Nggak usah, makasih. Kaya sama tamu agung aja”


“Lah, yang namanya Sandi itu kan emang tamu agung” jawab Budi.


“Udah, entar aja kalo ada Putri”


“Gua tahu apa yang lo suka”


Budi beranjak dan masuk ke dalam rumah. Dia ingin mengambil minuman kaleng yang ada di kulkasnya. Minuman yang sering diminum Sandi jika lagi bersamanya. Bukan minuman keras, karena Budi tidak suka minuman keras.


“Bud?”


Sebuah teguran menghentikan langkahnya. Dia berbalik arah, dan Sandi sudah ada di belakangnya. Raut wajah Sandi terlihat tegang bercampur menahan marah. Membuat Budi mengernyitkan dahinya, pertanda bingung.


“Ya? Gua baru mau ambil zero alcohol” sahut Budi.


“Gua mau nanya sesuatu” kata Sandi. Suasana berubah kaku. Tapi Budi berusaha tersenyum. Dia sudah hafal tabiat sahabatnya itu.

__ADS_1


“Kenapa, Ndi? Sephia nemuin sesuatu?” tanya Budi.


“Lo ngerti ini, nggak?” tanya Sandi.


Dia menyerahkan map hijau yang dia bawa. Budi sempat menatap sandi beberapa saat. Dia merasa dituduh, sekarang. Drama baru akan segera menghampirinya. Dia berpikir, Vani sudah melibatkan Sandi dalam masalah ini. Berarti wanita itu memang berniat menghancurkannya. Budi menerima map hijau itu. dia terperangah melihat isi dari map itu.


“Itu produk lo, Bud? Baru liat, gua” tanya Sandi.


“Bukan. Ini sih jam murahan. Beli, dulu di sana. Ada meeting aja tadi, takut ketinggalan, makanya gua pake. ” jawab Budi.


“Oh. Bagus tuh. Simple” komentar Sandi.


Budi kembali membaca isi dalam map itu. lembar demi lembar dia buka. Dia hanya menemukan beberapa lingkaran dalam setiap lembar, yang seperti mempertegas keberadaan huruf kapital di antara huruf-huruf kecil.


“Lo tahu sesuatu dari huruf-uruf kapital itu?” tanya Sandi.


Ini kode gua. Gua nggak pernah pakai kode itu buat komunikasi. Cuman Sandi yang tahu. Kok bisa ada yang pake kode ini?


“Cuman lo yang tahu kode gua, Ndi?” jawab Budi.


“Ya, emang. Makanya cuman gua yang nyadar. Sephia cuman curiga sama susunan hurufnya, tapi nggak tahu makna dari huruf-huruf itu” sahut Sandi.


“Gua cuman sekali pake kode itu. Dan itu juga sama lo doang”


“Bukan berarti lo lupa, kan?”


“Apa? Sekarang lo ikut-ikutan nuduh gua ngelakuin ini semua? Dari mana lo bisa mastiin semua ini dari gua?”


“Justru itu yang bikin gua bertanya-tanya. Lo emang paling cerdas di antara kita. Lo paling banyak ide-ide briliannya”


“Lo mau bilang kalo gua pake hape orang lain buat kasih komando ini? Terus kasih kode ini buat otentifikasi? Abis itu hapus, terus balikin?”


“Nah, itu”


“Lo mikir dong, Ndi! Kalo emang gua dendam sama pak Fajar, ngapain gua repot- repot menjarain adek lo? Kan malah bisa gua manfaatin” kata Budi. Wajahnya mulai memerah.


“Bud, udah deh! Gua ke sini nggak mau ribut sama lo” potong Sandi. Suaranya dia buat rendah.


“Gua juga nggak abis pikir, Ndi. Cuman dari beginian lo langsung percaya?”


“Gua ke sini pengen denger dari lo kalo semua ini salah”


“Ya emang salah. Kita lahir di jaman canggih, Ndi. Lo nggak ngerti retas-meretas, bukan berarti orang lain nggak bisa” jawab Sandi. Keduanya saling pandang, saling membaca ekspresi muka masing-masing.


“Gua boleh lihat jam tangan lo?” tanya Sandi.


Budi mengernyitkan dahinya. Walau bingung, dia tetap memberikan apa yang Sandi minta. Dia lihat sisi belakang dari jam tangan tersebut.


“Ini angka apa?” tanya Sandi.


Lah, dari mana Sandi bisa tahu di situ ada angka? Itu juga sama, kodeku juga. Tapi kan baru, bikinnya. Kenapa jadi dihubung-hubungin gini?


“Jangan bilang lo bikin grafir ini baru!” kata Sandi.


“Hem?”


Sandi memberikan map itu lagi, dengan tampilan langsung pada lembar terakhir dari isi map itu. Dia sudah melingkari tanggal dimana perintah pembuatan grafir itu dikirimkan. Budi terbelalak dan terpaku.


Gila, gimana bisa tanggalnya berubah?ini siapa yang ngerubah tanggal di sini? Kan sama aja ngerubah semua tanggal? Kok dia tahu kalo Sephia bakal ngecek sampe ke sini?


“Bud. Udah, hentikan apa yang udah lo perbuat!” kata Sandi membuka suara.


“Apa?”


“Lo ingat, kan? Gua pernah ada cerita sama Adel. Sebenernya gua masih pengen ngebenerin hubungan gua sama dia. Gua rela ngejauh, itu karena lo yang macarin dia. Tapi kalo lo macarin dia cuman buat bales dendam sama bapaknya. Sory Bud, gua nggak terima”


“Astaga. Lo nggak percaya gua? Lo masih lebih percaya sama tulisan-tulisan ini?”


“Gua nggak ngerti mana yang bisa gua percaya. Semuanya serba ngebingungin”


“Gua harus ngomong apa lagi sih, biar lo percaya sama gua?”


“Cukup berenti aja! Gua nggak akan manjangin urusan” jawab Sandi. Dia mengangguk sekali, lalu pergi dari rumah Budi.


“Ndi?” panggil Budi.


Tapi sandi berlalu begitu saja. Sandi hanya memberikan hormat padanya sebelum melajukan motornya keluar dari halaman depan rumahnya. Budi hanya bisa terduduk dikursi depan rumah. Kepalanya yang belum sembuh benar terasa berdenyut-denyut.


“Astaghfirulloh”


Dia memejamkan matanya sambil memegangi kepalanya. Dia berusaha masuk ke dalam rumah, tapi keseimbangannya kembali terganggu. Selepas menutup pintu, dia oleng. Beruntung dia masih bisa mencapai sofa tamu. Tepat saat semua pandangannya berubah menjadi hitam. Dan dia tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2