
Budi tertawa lepas, mendapati godaannya mengena dengan telak. Erika melotot melihat Budi tertawa lepas. Tapi bibirnya tersenyum.
“Selamat pagi”
Sebuah sapaan mengalihkan perhatian mereka.
“Pagi, dok” jawab mereka kompak.
“Wah. Sudah ceria keliatannya. Kedengeran lho tawanya, dari luar” goda dokter yang datang itu.
Budi langsung beringsut menjauh dua langkah ke belakang, sambil tersenyum dan mengangguk pada suster yang mengawal bu dokter.
“Iya, dok. Alhamdulillah” jawab Erika.
Jawaban yang sempat membuat Budi terkesiap. Selama di kantor, Budi jarang mendengar Erika mengucapkan kalimat-kalimat semacam hamdalah, basmalah, istighfar.
“Kita periksa dulu, ya?”
“Baik, dok”
Tapi entah apa yang mendorongnya untuk mengucapkan kalimat itu. Apapun penyebabnya, yang pasti itu adalah perubahan yang baik.
Erika bingung mendapati tatapan kosong Budi mengarah padanya. Seolah sedang menatapnya, tapi sangat terlihat kalau pikiran Budi sedang melayang entah kemana.
“Sudah bagus”
Suara dokter itu membuyarkan angan Budi.
“Alhamdulillah”
Suara Erika membuat senyumnya semakin mengembang.
“Kalau dilihat dari hasil pemeriksaan terakhir, bisa kami katakan bahwa saudari Erika kami nyatakan sudah sembuh” lanjut dokter itu.
“Alhamdulillah. Berarti saya sudah boleh pulang, dok?” tanya Erika.
“Sudah. Tapi saya sarankan, agar menunggu sampai jam sembilan dulu. Agar obat yang terakhir diminum setelah sarapan tadi, bekerja terlebih dahulu sebelum perjalanan” jawab dokter itu.
“Oh. Baik, dok” jawab Erika.
“Ditambah sehari lagi aja, dok!” celetuk Budi.
Sontak semua mata tertuju padanya. Ada senyum geli yang mau meledak menjadi tawa, tapi dia tahan.
“Lah. Mas gimana, sih? Orang aku udah sembuh, masa disuruh nambah sehari?” protes Erika.
“Iya. Baru denger saya, permintaan kaya gitu. Yang sering sih, malah pada buru-buru, pengen bawa istrinya pulang” sahut bu Dokter.
“Pengen tahu aja dok, gimana rasanya sehari di kantor tanpa dia” jawab Budi sambil tergelak. Erika melotot sambil berkacak pinggang.
“Oh. Kalian sekantor?” tanya bu Dokter.
“Awas aja kalo yang kemarin nekat nemuin mas di kantor. Beneran aku jithes, dia” sahut Erika.
“Ha ha ha ha”
Budi tertawa lepas. Dia senang, godaannya mengena pada Erika. Bu dokter itu hanya bisa beradu pandang dengan si suster. Dan si suster itu tak kuasa menahan tertawanya.
“Ya sudah. Urusan rumah tangga, bukan keahlian saya. Suster Tiwi lebih ahli” kata bu dokter.
“Ngeledek” sahut suster itu.
“Saya juga lagi marahan, sama suami” lanjut suster itu.
Dokter itu menutupi mulutnya. Dia tertawa tanpa suara. Budi hanya tergelak, takut menyinggung perasaan keduanya.
“Ya sudah kalau begitu, kami mau lanjutkan tugas kami” pamit bu Dokter.
“Baik, dok. Terimakasih” jawab Budi.
Dokter dan suster itupun pergi meninggalkan mereka berdua. Budi yang masih mengikuti kepergian keduanya dengan pandangannya, tidak sadar kalau Erika sudah turun dari ranjangnya.
“Aduh, aduh, aduh”
Budi terkejut, tiba-tiba telinganya mendapatkan jeweran kencang.
“Enak, nggak? Siapa suruh nggodain sampe kaya gitu? Itu sih bukan nggodain. Curhat, kan?” kata Erika dengan nada geram.
__ADS_1
“Aduh, iya, ampun. Jangan marah-marah, lah! Beneran nambah sehari, entar” sahut Budi.
“Emang maunya, kan? Sono! Temuin aja si customer genit itu! secara, kemarin kan udah diundang ke rumah, pasti udah nyamper deh, ke sono”
“Hempf. Ha ha ha ha”
Budi malah tertawa lepas mendengar ujaran kecemburuan Erika. Beda orang, beda cara mengekspresikan kecemburuannya. Dan agak keras juga cara Erika mengekspresikannya.
“Malah ketawa”
“Hem”
Erika mengencangkan jewerannya.
“ADOOOWW. Ha ha ha ha”
Budi malah semakin kencang tertawanya, sekalipun diawali pekikan kesakitan.
“Assalamu’alaikum”
Sebuah sapaan membuat Erika melepaskan tangannya dari telinga Budi. Terlebih setelah tahu siapa yang datang.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
Sedangkan Erika tampak syok, ketahuan sedang menjewer Budi.
“Kalian kenapa?” tanya pak Paul.
Erika tidak segera menjawab. Dia bingung harus bilang apa.
“Tuh. Orangnya udah datang. Bilang gih!” celetuk Budi.
“ADOOW” pekik Budi, mendapat cubitan di pinggangnya.
“Apaan sih, mas?”
Dia yang hendak menyalami pak Paul, jadi urung karenanya. Pak Paul tergelak karena kelakuan mereka.
“Tadi sampe jewer kuping, sekarang udah dateng orangnya, malah nggak berani bilang” jawab Budi.
“Astaghfirulloh, mas. Nggak lucu, ah” keluh Erika lirih, setengah menggeram.
“Erika pak, “
“ADOOW”
Lagi-lagi dia memekik terkena cubitan Erika.
“Ha ha ha ha”
Dan Budi hanya bisa tertawa melihat Erika melotot padanya.
“Enggak, pak. Kita cuman ceng-cengan aja, dari tadi” jawab Budi, sambil mengulurkan tangan seraya membungkukkan badannya. Dan pak Paul menyambut uluran tangan Budi dengan tergelak.
“Udah sehat dong berarti, udah ceng-cengan?” tanya pak Paul, saat menyalami Erika.
“Alhamdulillah. Udah boleh pulang, pak” jawab Erika, sambil menyambut tangan pak Paul.
“Alhamdulillah” kata pak Paul mengucap syukur.
“Besok lagi, jangan disimpan sendiri! Bener barusan tuh, jewer aja, kalo Budi nakal!” lanjut pak Paul.
“Tuh. Denger nggak, mas?” seru Erika heboh, merasa didukung bosnya.
“Ah, bapak. Pake didukung segala” protes Budi. Tapi dia tergelak juga, melihat ekspresi Erika.
“Masa malah minta dokter nambahin sehari lagi, pak” kata Erika mengadu.
“Lah. Gimana sih, Bud?” sahut pak Paul.
Budi hanya tertawa tanpa suara, menanggapi pertanyaan tak perlu jawaban bosnya.
“Udah janjian kali di kantor, sama yang beli kursi malas kemarin, pak. Mau nambah, kayaknya” sahut Erika.
“Di kantor apa di rumah?” goda pak Paul.
“Udah hampir jam kerja, ya pasti di kantor lah, pak” jawab Erika.
__ADS_1
“Oh. Tenang aja, Ka! Itu nggak akan terjadi”
“Nah, loh. Denger nggak?” seru Erika.
“Jangan kasih ketemu, pak!” lanjut Erika.
“Orangnya lagi sama Ratna” sahut pak Paul. Sontak Erika menoleh padanya.
“Ngobrol serius, sama bu Ratih” lanjut pak Paul, ikut menggoda Erika.
Budi balik badan dan tertawa tanpa suara. Sontak Erika maju selangkah mendekati Budi.
“ADOOOW”
Budi terkejut dan memekik kesakitan, mendapat cubitan di pinggangnya. Pak Paulpun tertawa mendapati kecemburuan Erika seperti bukan main-main.
“Oh ya, rencana pulang nanti jam berapa?” tanya pak Paul.
“Nggak jadi. Nambah sehari” sahut Erika.
“Hempf” Budi tergelak.
“Mending di rumah aja, Ka. Bebas, berdua aja” komentar pak Paul.
“Nah. Bener, tuh” komentar Budi.
“Eeeeh. Tadi di rumah saya ada siapa aja, pak?” lanjut Budi.
Dia terkejut saat teringat kalau pak Paul baru saja dari rumahnya. Lalu terlintas bayangan pak Paul hanya berdua dengan ibunya.
“Hempf. Berdua aja lah” sahut Erika sambil tergelak. Budi menatap Erika sambil berkacak pinggang.
“Tadi Putri telepon, pas Mas mandi. Bilangnya baru ke pasar, belanja tambahan bahan masak” lanjut Erika.
“Alhamdulillah” jawab Budi.
“Kok alhamdulillah?” tanya Erika terkejut.
“Kamu nggak pinter ngibul” jawab Budi.
“Orang barusan pak Paul bilang ada Ratna, wleeek” lanjut Budi, diakhiri dengan meleletkan lidahnya.
Dan terjadilah kembali ceng-cengan mereka. Sesekali pak Paul ikut menimpali.
“Ya udah. Kalo gitu, hari ini kamu temenin Erika dulu aja, Bud! Tapi tetep stand by, ya! Barangkali Aldo-Riki butuh bantuan” kata pak Paul.
“Oh. Baik, pak” jawab Budi.
“Terus, mengenai rencana jalur masker, bagaimana, pak?” lanjut Budi.
“Besok aja, bahasnya. Hari ini mau meeting sama ekspedisi. Kita ada komplain dari Mr. Isaac. Kiriman kita kloter sebelumnya banyak yang rusak anyamannya” jawab pak Paul.
“Lah, kok bisa, pak? Jatuh, apa dibobol?” tanya Budi.
“Di bobol. Terlalu rapi untuk dibilang jatuh. Dan banyak, lagi” jawab pak Paul.
Budi termenung. Dia merasakan adanya keanehan di sini. Apa mungkin ada yang ingin menukar produk PRAM dengan produk palsu?
*Tapi buat apa? kalau karya seni bernilai milyaran, masih masuk akal. Tapi inikan nilainya nggak seberapa. Buat kocek orang Indonesia aja, harga mebel PRAM masih sangat terjangkau. Bikin imitasinya juga harganya nggak jauh beda. Dimana untungnya*.
“Nanti aku kasih kabar kalo udah ada jawaban dari ekspedisinya” kata pak Paul. Budi tersentak dan langsung mengangguk.
“Siap” jawab Budi kemudian.
“Itu, ada sarapan, Bud. Buat kamu sama Erika, kalo Erika belum sarapan” kata pak Paul, sambil menunjuk bungkusan yang dia taruh di atas lemari pasien.
“Wah, mbak Rika sih, jangan dikasih lagi, pak” komentar Budi.
“Loh. Udah sarapan?” tanya pak Paul.
“Wuuh. Satu meja dorong, dia semua, pak” jawab Budi.
“Satu meja dorong juga tinggal satu piring, mas” protes Erika, sambil menepuk pundak Budi.
“Ha ha ha ha” Budi dan pak Paul tertawa.
Pak Paulpun akhirnya pamitan. Meninggalkan Budi dan Erika yang kembali ceng-cengan. Tapi bagi Budi, ceng-cengan kali ini dia rasakan Erika kurang lepas. Seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
***