Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
trik menyampaikan pesan ala putri


__ADS_3

Di kelas, Madina terlihat gelisah. Sampai jam pertama hampir habis, sahabat karibnya belum muncul di sekolah. Untungnya guru mata pelajaran pertama juga bilang akan datang telat. Berkali-kali dia telepon, tidak sekalipun mendapatkan jawaban.


Kalo sakit, pasti bu Ratih kasih kabar ke sekolah. Beliau kan punya nomer hape guru bepe. Ini dari sekolah juga nggak ada yang tahu. Kemana itu bocah?


“Selamat pagi anak-anak”


Tanpa dia sadari, ternyata guru yang terlambat tadi sudah berada di depan kelas. Dan langsung memulai pelajaran. Guru itu mengabsen siswinya satu per satu. Madina masih terus mencoba menghubungi Putri.


“Dina, ibu sudah di depan kamu juga, masih mainan hape aja” tegur guru itu.


“Kemana, Putri?”lanjut guru itu.


“Saya belum tahu, bu. Dari tadi saya hubungi belum diangkat” jawab Madina.


“Tumben, upin-ipin nggak kompakan?” seloroh gurunya.


“Ye, bu. Kita cewek-cewek, masa upin-ipin?” koreksi Madina.


“Mei-Mei sama Susanti” celetuk temannya dari arah belakang.


“Ha ha ha ha” teman-teman yang lain tertawa mendengar kelakar itu.


Dengan berat hati, Madina harus menyimpan kembali ponselnya. Lalu mengeluarkan buku cetaknya, untuk mengikuti pelajaran. Tapi sampai sepuluh menit berlalu, konsentrasinya masih terpusat kepada Putri. Sama sekali dia tidak menangkap apa yang disampaikan gurunya.


*Bocah-bocah, elingo yen wes gede*.


Ponsel Madina tiba-tiba berbunyi dengan nyaringnya. Membuat guru yang sedang menjelaskan pelajaran, mendelik padanya.


“Putri” kata Madina. Dia menunjukkan layar ponselnya kepada gurunya.


“Loud speaker!” perintah gurunya. Madina melakukan perintah itu.


“Halo, Put. Kamu dimana?” seru Madina heboh.


“Wa’alaikum salam” jawab Putri. Sontrak seisi kelas tertawa mendengar jawaban Putri.


“Iya. Assalamu’alaikum” kata Madina membenahi kesalahannya.


“Wa’alaikum salam”


“Kamu dimana, sih? Dari tadi ditelepon susah banget”


“Aku kena razia” jawab Putri singkat.


“Lah, dimana?”


“Belakang pasar tengah”


“Terus? Kenapa susah banget dihubungi?”


“Ya aku panik lah, Din. Secara, aku belum punya SIM, mana STNK lupa nggak aku bawa”


“Motor kamu ditahan dong?”


“Iya. Mau ikut sidang juga percuma. Mau ngesot, ke sekolah?”


“Ha ha ha ha” Madina tertawa mendengar kata ‘ngesot’.


“Oke, oke. Kamu dimana sekarang?”


“Ya masih di sini, lah. Lemes aku, gontok-gontokan sama polisinya. Secantik aku, masih nggak dikasih ampun”


“Ha ha ha. Eh, lu masih ingusan. Polwan juga banyak kali” sahut guru itu.


“Eh, kok bisa ada bu Yani? Lu kencengin, ya?”


“He he, sori. Bu Yani yang minta”


“Aduh, dasar si tengu”

__ADS_1


“Ha ha ha ha” kini sekelas tertawa dengan lepasnya.


“Di situ kan ada tukang ojek, Put. Ngojek aja, dulu!” saran bu Yani.


“Aduh, bu. Maaf nih. Bukannya niat mangkir lagi. Tapi saya masih lemes. Kepikiran, kalau polisi tadi, bilang ke ibu saya”


“Emang dia kenal sama ibu kamu?”


“Sudah terlanjur nyebutin tempat dagangnya, bu”


“Ya terus, sekarang gimana?”


“Din, bisa ke sini, nggak? Temenin aku bilang ke ibu!” pinta Putri.


“Busyet, kutu buku. Kalo ngomong nggak di ayak. Ada bu Yani juga, ngajakin orang bolos”


“Ha ha ha” teman-temannya tertawa lagi.


“Tunggu!” lanjutnya.


“Dina?” tegur bu Yani. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Madina tersenyum sambil beranjak berdiri dari kursinya. Sambil memberi hormat seperti seorang prajurit, dia pergi ke kantor bepe untuk meminta surat ijin meninggalkan sekolah.


“Bu, minta ijin jemput Putri dulu” kata Madina sekembalinya ke kelas.


“Kamu nggak bisa kaya gini, Din. Jangan mentang-mentang pinter, terus seenaknya sendiri! kalo yang lain ngikutin cara kamu, gimana?” respon bu Yuni.


“Kalau ibu tidak mengijinkan Dina buat jemput Putri, berarti ibu mengijinkan Putri buat bolos” kata Madina. Bu Yuni terkesiap.


“Putri tidak pernah bohong, bu. Ujan gledek aja dia terjang, kalo tidak ada hambatan. Kalo sampai dia hilang ide, padahal hanya untuk sampai ke sekolah, berarti memang dia lagi kacau” lanjut Madina. Bu Yuni tidak segera menjawab. Dia menimbang-nimbang dahulu beberapa saat.


“Oke, ini pengecualian, ya? Dan jangan salahkan ibu, kalo lain kali, ibu bakal nanya lebih detil, sebelum kasih ijin!” jawab bu Yuni, akhirnya.


“Baik, bu. terimakasih”


Madina menerima surat ijin dengan tanda tangan gurunya itu. Lalu mengambil tasnya, dan pamit untuk meninggalkan kelas.


Tapi sesampainya ditempat yang dituju, dia melihat ada seorang polisi ganteng sedang berbincang dengan Putri. Dan Putri juga terlihat manja dengan polisi itu.


“Assalamu’alaikum” sapa Madina.


“Wa’alaikum salam” jawab Putri.


“Ini, siapa, Put?” tanya madina, setelah turun dari motornya.


“Mas Zulfikar” jawab Putri malu-malu.


“Oh, hai. Aku Madina” sapa Madina, sambil mengulurkan tangannya.


“Hoe, hoe, hoe. Milik gua” tegur Putri. Tapi telat, Madina sudah sukses bersalaman dengan polisi ganteng itu.


“Biarin aja. Siapa suruh, ngerjain gua?” sahut Madina.


“Ngerjain apa?”


“Eh, gua bertaruh nama buat ke sini. Udah kena marking gua, sama bu Yani. Kalo udah ada mas Zul, ngapain masih minta gua ke sini, Put? Dasar kutu buku”


“Tuh kan. Percaya kan, ada tengu bisa ngomel?” kata Putri kepada Zulfikar.


“Ha ha ha. Sompret” komentar Madina sambil memukul pelan lengan Putri.


“Gua juga nggak tahu Din, kalo mas Zul bakal ke sini. Aku teleponin nggak bisa-bisa” kilah Putri.


“Ya udah, sekarang gimana? Mau ke ibu sama aku apa sama mas Zul?”


“Kayaknya, harus sama Madina, deh” sahut Zulfikar.


“Kenapa, mas? Belum siap ketemu camer? Hi hi hi” goda Madina

__ADS_1


“Mas Zul masih ada tugas, Dina. Ini tadi dia maksain mampir” sahut Putri.


“Iya. Ini udah dicariin mulu” imbuh Zulfikar.


“Iya, deh. Emang itu yang aku mau. Kalo kamu milih jalan sama dia, “


“Apa?”


“Lo, gue, end” lanjut Madina sambil tergelak. Merekapun tertawa bersama.


“Ya udah, aku balik ke kantor, ya!” pamit Zulfikar.


“E, eh, mas. Bentar. Aku nitip” sahut Putri. Dia seperti mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


“Aduh, tapi gimana entar aku ngambilnya, ya?” keluh dia sendiri.


“Apa, sih? ****** ya?” tanya Madina setengah menggoda.


“Astaghfirulloh, Dina. Amit-amit”seru Putri.


“Ya terus apa? curiga, aku”


“Ini” Putri menunjuukan sebuah buku pada Madina.


“Eh, aku titipin sama kamu aja deh. He he” lanjut Putri. Dia memaksa untuk memasukkan buku itu ke dalam tasnya Madina.


“Emang itu buku apa, dek?” tanya Zulfikar.


“Iya ih. Mencurigakan”


“Hukuman dari BP, Dina. Gara-gara kemarin” jawab Putri.


“Ha?” Madina belum mengerti.


“Saya berjanji, tidak akan mangkir dari praktek memasak lagi. Seribu kali” kata Putri menyebutkan apa yang dia maksudkan di buku itu.


“Hmpf. Ha ha ha ha” Madina tertawa lepas membayangkan apa yang ditulis Putri di buku itu.


“Puas?” tanya Putri, sambil menabok punggung Madina pelan.


“Tapi kan, kalian sekelas?” tanya Zulfikar.


“Iya. Bedanya apa, kutu?” timpal Madina.


“Biar nggak kebaca sama ibu. Kalo entar ibu inspek tas aku”


“Hem, kayaknya teliti juga, camerku. Satu barang ketinggalan, yang lain di periksa semua” komentar Zulfikar.


“Ya, begitulah. Setel kalo sama mas Zul” jawab Putri.


“Eh, Din. Sekalian ya, kamu yang ngasihin ke bu Adel” lanjut Putri.


“Bu Adel?” tanya Madina bingung.


“Iya, guru BP” jawab Putri. Madina masih bingung.


“Hadeh, murid teladan, sih. Nggak pernah masuk BP” komentar Putri.


“Ya kasihin aja sendiri!”


“Tolong dong Din. Kamu kan murid teladan. Kalo kamu yang ngasihin, pasti langsung diterima”


“Hem, kalo aja bukan karena nolongin aku, ogah”


“He he, itu tahu. Makacih ya, cantik”


“Ya udah, hayu buruan!” ajak Madina.


Merekapun pergi, setelah polisi ganteng itu pergi lebih dulu. Sepanjang jalan, madina ingin sekali menanyakan tentang kejadian tadi. Tapi dia tahan kuat-kuat. Mendengar nama Adel disebut Putri, Madina menjadi paham, apa yang ada di dalam buku itu.

__ADS_1


*Tapi semua kejadian tadi, real, apa cuman akal-akalan Putri doang, ya? Senekat ini, kalo cuman akal-akalan dia doang*.


__ADS_2