
Pagi ini, tidak seperti biasanya, Erika datang terlambat. Tapi semua orang maklum. Tugas tambahan Erika sebagai sekretaris pak Paul, terkadang membuatnya harus pergi ke suatu tempat untuk bertemu dan membahas pekerjaan. Entah itu hanya berdua, atau bersama customer.
Dan seperti biasa, Aldo mengambil peran sebagai pimpinan saat briefing pagi. Target dan informasi penting yang dibawa Ratna, dia terjemahkan dalam bahasa PPIC. Lalu disampaikannya di hadapan Riki dan Budi. Walau apa yang Budi pahami jauh melebihi apa yang bisa dipahami Aldo, tapi dia tetap diam, dan membiarkan Aldo melanjutkan penjelasannya sampai selesai.
“Selamat Pagi. Sory, aku telat” kata Erika, saat memasuki kantor HRD/GA & PPIC. Dia tampak tergopoh-gopoh.
“Pagi, mbak” jawab mereka semua.
“Eh, Ratna masih di sini. Udah briefing apa belum?” tanya Erika.
“Udah, mbak. Baru aja kelar” jawab Aldo.
“Oh, oke. Sory, aku tadi diminta pak Paul buat nganterin berkas”
“Iya, mbak. Nggak ngasih keterangan juga udah pada tahu. Nggak ada yang nyalahin juga” kata Riki.
“Orang kalo terlanjur baik itu, ya kaya gitu, Ki. Nggak presisi, rasanya kaya sebuah kesalahan. Padahal masih toleransi” sahut Budi. Erika tersanjung mendengar pujian itu.
“Tapi kalo kamu, jangan sampe nggak presisi! Kalo sampe salah masuk, alamat ditendang” lanjut Budi sembari tergelak.
“Loh?” Riki menoleh ke arah Budi.
“Lu ngomongin apa sih, Bud? Bingung, gua” komentar Riki. Semuanya tertawa mendengar kekonyolan Budi dan Riki.
“Udah, udah. Bercandanya dilanjut entar aja!” kata Erika menegur mereka.
“Ada hal lain yang belum disampein, Na?” tanya Erika ke Ratna.
“Oh, udah nggak ada, mbak. Ini juga benernya mau pamit” jawab Ratna.
“Tungguin dulu!” sahut Budi. Sontak semua mata tertuju padanya.
“Nungguin apa?” tanya Ratna bingung.
“Hempf. Diusir” jawab Budi sambil tergelak.
“Budiiii”
__ADS_1
“Adoooh”
Saking gemasnya, Ratna sampai mencubit lengan kiri Budi. Kontan saja Budi memekik karena merasakan sakit. Dan mereka semuapun tertawa kembali. Dan Ratna pergi dengan geleng-geleng kepala.
“Oke, to the point aja, ya?” kata Erika menghentikan candaan ketiga bawahannya.
“Kita akan kedatangan tamu luar negeri lagi. Saat ini mereka lagi diarahkan ke watu karung, seperti tamu yang sebelumnya. Ada kemungkinan kalo mereka akan melakukan kunjungan ke sini juga.” lanjut Erika. ketiga bawahannya itu mengangguk-anggukkan kepala.
“Tapi pak Paul perlu Budi untuk ikut, sebagai wakil dari divisi produksi. Karena akan ada kemungkinan, tamu itu menanyakan tentang proses produksi, kecepatan produksi, kecepatan pengiriman, kualitas bahan, kualitas pengelasan, anyaman, dan lain-lain. Artinya, ada pos yang ditinggalkan Budi” ketiga bawahannya itu mendengarkan dengan seksama.
“Berkaca pada kasus sebelumnya, pak Paul tidak mau ada kekacauan lagi. Ya, sekalipun Dino dan kroco-kroconya udah didepak dari sini. Tapi sama sekali kita nggak boleh lengah, nggak boleh kendor. Cycle time harus tetap ketat seperti biasanya. Artinya, harus ada yang menggantikan posisi Budi. Dan aku harap, Aldo bisa mengambil alih sementara tanggung jawab itu” lanjut Erika lagi.
“Siap, mbak” jawab Aldo.
“Kalo kamu udah bilang siap, artinya kamu udah tahu segala resikonya, ya?”
“Em...... Ya. Siap” jawab Aldo lagi.
“Kalo pagi ini ada bongkar material, lakukan secepetnya! Jangan kasih driver supplier, lelet! Push mereka seketat mungkin! Abis itu, kamu temuin Budi!” perintah Erika.
“Baik, mbak. Siap” jawab Aldo.
“Siap, mbak” jawab Budi.
“Kasih dia catatan-catatan, critical point, coffe break shifting strategy. Kalau perlu sekalian kasih catatan pengaturan makan siang dan lembur nanti sore!” lanjut Erika.
“Siap, mbak”
“Oke. Riki, lakuin hal yang sama, jika emang diperluin! Jangan malu buat nanya sama Budi! tim anyaman sama pentingnya sama tim frame”
“Siap” jawab Riki.
“Sip. Segera bergerak, terimakasih. Selamat pagi” kata Erika menutup briefingnya.
“Pagi” jawab mereka bertiga, kompak.
Mereka bertigapun segera pergi ke lapangan. Sedangkan Erika, terlihat sibuk menyiapkan berkas-berkas yang ada di lemarinya. Tapi sekilas dia memandang ke arah Budi.
__ADS_1
Dia tampak mengagumi sosok yang rendah hati itu. Tidak egois, tidak bernafsu untuk terlihat hebat. Mau dilead oleh orang yang jelas-jelas tidak sehebat dirinya.
Siang hari, menjelang jam istirahat, Budi tampak sibuk berdiskusi dengan Aldo. Mengulas kembali apa yang telah disampaikannya. Sebagai konfirmasi bahwa apa yang Aldo tangkap sudah sesuai dengan apa yang Budi maksudkan.
Saking fokusnya mereka berdiskusi, sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau ada seseorang yang berjalan mendekati mereka. Niat orang itu untuk menyapa keduanya tertunda saat melihat Aldo menunjuk salah satu karyawan welding helper.
Aldo mengatakan kalau karyawan itu salah memposisikan keranjang materialnya, sehingga memperlambat gerakannya. Budi setuju. Dia menanyakan, apakah Aldo mau menegur karyawan itu. Dan Aldo langsung bergerak untuk menegur karyawan yang dia maksud.
Dengan senyum dan penyampaian yang humanis, karyawan itu mengerti kekeliruannya, dan membenahi posisi keranjang materialnya. Kinerjanya menjadi lebih cepat setelah teguran itu.
“Kerja Bagus, Do”
Suara orang itu mengejutkan Budi. Tapi tidak dengan Aldo. Sejak dia berjalan kembali ke arah Budi, dia sudah tahu kalau ada seseorang di belakang Budi.
“Eh, mbak Rika. Udah lama?” tanya Budi setengah menyapa.
“Belum, sih. Tapi sempat liat Aldo negur helper tadi” jawab Erika.
“Oh”komentar Budi pendek”
“Gimana do, udah paham semua sama kerjaan Budi?” tanya Erika.
“Lumayan, mbak” jawab Aldo sambil tersenyum.
“Oke, kalo gitu, kamu ambil alih tugas Budi, ya! Aku mau ajak Budi berangkat sekarang.” Perintah Erika.
“Tanggung amat, mbak? Udah mau istirahat juga?” tanya Aldo.
“Iya. Makan dulu emang nggak bisa, mbak?” timpal Budi.
“Kita makan di sana” jawab Erika pendek.
Aldo tidak berkomentar lagi. Raut wajah Erika sudah jelas terlihat, menyiratkan rasa tidak sukanya, saat perintahnya dipersoalkan.
Tanpa bicara lagi, Erika balik kanan, lalu pergi menuju kantor. Budi tertawa tanpa suara sambil menepuk pundak Aldo. Yang ditepuk hanya bisa geleng-geleng kepala.
Budipun memasrahkan pekerjaannya kepada Aldo. Sekali lagi dia mengingatkan critical point yang tidak boleh sampai terlewat.
__ADS_1
Setelah menyampaikan semua yang perlu dia sampaikan, Budi langsung mencari keberadaan Erika. Ratna yang kebetulan berpapasan dengannya, memberitahukan kalau Erika sudah keluar kantor. Dia juga memberitahukan kalau Erika meminta Budi untuk langsung ke depan lobi. Dan benar, mobil Erika sudah bersiap di depan lobi.
Tanpa membuang waktu lagi, Erika langsung tancap gas begitu Budi sudah berada di dalam mobilnya. Terlebih setelah keluar dari gerbang pabrik, Erika melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seperti maling dikejar polisi. Budi sampai bingung dibuatnya.