Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pendekatan pertama pengacara vani


__ADS_3

Hendra baru saja menerima telepon dari pak Paul. Dia menarik nafas berat. Baru saja pak Paul memberikan penekanan padanya, untuk segera bisa membantu Stevani bebas dari kurungan sel tahanan itu.


Permohonan penangguhan penahanan yang dia ajukan tadi sore, ditolak. Dengan alasan tersangka punya kelihaian untuk bersembunyi dan mengaburkan jejak. Sebuah alasan yang ditertawakannya, tapi tidak bisa dia nego lagi. Tidak ada jalan lain selain mencari bukti, bahwa Stevani tidak terlibat dengan kasus itu.


Dia mengatakan kepada pak Paul, kalau dia sedang menyelidiki kontrakan Stevani, dan berjanji akan membuat perubahan secepatnya. Tapi sampai hampir larut malam begini, dia belum mengantongi apapun untuk mengurai kasus yang membelit klientnya. Saat merapikan pakaiannya, dia terkesiap saat merasakan ada sesuatu di saku celana yang dia pakai tadi siang.


“Em, mbak Ning” gumamnya.


Yang dia temukan ternyata secarik kertas bon dari mbak Ning. Dimana ada sederet angka berbeda di bawah total tagihan. Tak menunggu besok, Hendra langsung menghubungi nomer telepon tersebut.


“Halo, dengan siapa ya?” sapa mbak Ning dari seberang telepon.


“Halo, mbak. Ini aku, Hendra” jawab Hendra, memperkenalkan diri.


“Oh, ya ampun. Mas Hendra, to? Kirain bank berjalan” komentar mbak Ning, begitu nama Hendra di sebut.


“Bank berjalan? Emang ada bank berjalan nagih pake telepon dulu?”


“He he. Kali. Abisnya kemarin aku janjiin hari ini. Sedangkan aku pergi-pergian mulu hari ini”


“Ha ha ha ha. Kaya nggak ada hari esok aja, mbak. Kalo jam segini datengnya sih, modus itu”


“Kaya nggak tahu bank berjalan aja, mas” keluh mbak Ning.


“Eh, kalo mas Hendra sih, ngapain juga ke bank berjalan? Kan gajinya gede. Ha ha ha ha. sembarangan banget aku ngomongnya. Maaf ya mas? Ha ha ha”lanjut mbak Ning.


“He he, iya mbak” jawab Hendra.


“Ngomong-ngomong, ada perlu apa, mas? Mau makan?” tanya mbak Ning.


Hendra berpikir sejenak, apa jawaban yang bisa membuatnya mendekat ke mbak Ning.


“Ya, begitulah. Tapi mbak Ning udah tutup, kan?” jawab Hendra. Dia mencoba peruntungan dengan mengiyakan tebakan mbak Ning.


“Iya, mas. Alhamdulillah, laris. Tapi masih ada mas, kalo buat mas Hendra sendiri, sih. masih ada lauk bikinan tadi sore”


“Loh, kalo masih ada yang belum laku, kenapa tutup, mbak?”


“He he. Belum siap ketemu bank berjalan. Belum siap duitnya”


“Nggak papa nih, Hendra main ke tempat mbak Ning?”


“Oh, nggak papa. Aku bukain deh, kalo mas mau ke sini”


“Wah, cocok tuh. Ya udah, aku ke depan ya, mbak?”


“Oke. ditunggu”


Sambungan teleponpun diputus oleh Hendra. Dia bergegas mengambil dompetnya. Hanya berpakaian kaos dan kolor pendek, dia berangkat. Keadaan sekitar kontrakan itu sudah terasa sunyi. Agak jauh dari jalan besar, membuat suara lalu-lalang kendaraan tidak terdengar di sini.


“Wah, udah di sambut, ternyata” seru Hendra.


Dia mendapati mbak Ning sudah berada di ambang pintu, menunggu kedatangannya.


“Masuk, mas!” pintanya. Hendrapun masuk ke dalam warung mbak Ning.


“Kok ditutup, mbak? Kalo ada yang salah paham, gimana?” tanya hendra. Dia merasa aneh dengan sikap mbak Ning itu.


“Nggak papa. Nggak ada yang berani usil sama warga kontrakan situ” jawab mbak Ning. Senyumnya sukses membuatku tenang.


“Mau nasi campur, atau rames, apa soto?” tanya mbak Ning.


“Rames aja, mbak” jawab Hendra.


Mbak Ning, wanita berusia hampir tiga puluh tahun itu langsung menyiapkan apa yang dipesan Hendra.

__ADS_1


Di dalam hati Hendra memuji bentuk tubuh wanita itu. Walau hanya berbalut kain daster, tai lekuk-lekuknya sanggup memancarkan aura sensual. Ditunjang wajahnya yang cantik, khas wanita desa. Alami, tanpa polesan bedak berlebihan.


“Tinggal sama siapa, mbak?” tanya Hendra memecah kesunyian.


“Hem?” mbak Ning tersentak.


“Oh, sendiri” jawabnya.


“Suami embak, kemana? Merantau?” tanya Hendra lagi.


“Kabur” jawab mbak Ning singkat.


“Embak, bisa aja bercandanya” komentar Hendra sambil tergelak.


“Emang suami embak kabur” kata mbak Ning. Dia berjalan menghampiri Hendra dengan sepiring nasi di tangannya.


“Oh, maaf. Saya salah bicara” kata Hendra.


“Ha ha ha. Apanya yang salah, mas? Orang nggak tahu itu, udah wajarnya nanya. Tapi emang kenyataannya kaya gitu”


“Em, nasi rames, kayaknya jodohnya sama teh anget deh, mbak” kata Hendra setelah mencicipi nasi rames mbak Ning.


“Oh, teh anget. Oke” jawab mbak Ning.


Dia memberikan seulas senyum manis kepada Hendra. Walau bagi hendra, senyum itu terkesan dipaksakan, demi menutupi kesedihannya. Juga demi menghargai dirinya yang merupakan pelanggannya mbak Ning. Segera, teh hangat itu sudah tersaji di depannya.


“Mbak, maaf ya, kalo pertanyaanku malah bikin mbak Ning sedih” tegur Hendra.


“Oh?” mbak Ning yang sedang melamun terkejut dengan teguran Hendra.


“Nggak papa. Aku bukan lagi mikirin dia, kok. Lagi mikirin utang. Ha ha ha” jawab mbak Ning. Tawanya juga terdengar dipaksakan, bagi telinga Hendra.


“Emang seberapa gede sih, mbak? Sampe ngelamun gitu?” tanya Hendra, sambil terus melahap makanannya.


“Adalah, sepuluh juta. Nyebar sih, ke beberapa tempat” jawab mbak Ning.


“Bukan. Buat bayar hutangnya mantan suami aku”


“Hem?”


Hendra terkejut mendengar jawaban itu. Dalam hati dia bertanya-tanya, siapa lelaki yang sangat tidak bertanggung jawab itu? sudah kabur, meninggalkan hutang, lagi.


“He he. Kok aku malah curhat sama mas Hendra. Maaf ya mas? Jadi nggak nyaman ya, makannya?”


“Nggak papa, mbak. Aku cuman belum pernah denger jawaban kaya gitu. Makanya kaget juga”


Mbak Ning tidak menjawab. Pikirannya kembali mengembara jauh melang-lang buana. Mencari cara bagaimana agar hutang yang sudah pada jatuh tempo itu, bisa segera dia cicil. Padahal untuk mencicil saja, uangnya belum ada.


“Kalo emang butuh, aku ada, mbak” celetuk Hendra. Mbak Ning terkejut mendengar celetukan itu.


“Sama aja, mas. Aku lepas dari hutang sama mereka, aku hutang juga sama mas Hendra” jawab mbak Ning.


“Ya, paling enggak, mbak Ning nggak perlu takut-takut lagi buat jualan. Toh, yang aku tawarin ini, duit berenti. Belum kepake”


Mbak ning terdiam lagi. Pandangannya sempat beradu dengan Hendra. Karena dia sedang menatap wajah Hendra lekat-lekat. Dia sedang mempertimbangkan tawaran itu. baru kali ini ada orang yang baru sehari kenal langsung menawarkan bantuan yang tidak biasa seperti ini.


“Aku kok ragu, mas. Cowok sih, seringnya ada maunya” jawab mbak Ning.


“Hem?” Hendra tersentak.


“Hempff, ha ha ha ha. Jeli juga ternyata” komentar Hendra. Sontak mbak Ning mencubit pinggang Hendra.


“Ya palingan aku minta tolong mbak Ning buat nyariin temen tidur” lanjut Hendra.


“Temen tidur?” tanya mbak Ning.

__ADS_1


“Ya” jawab Hendra pendek.


Mendengar kata temen tidur, mbak Ning serasa mendapat sebuah ide. Ide yang mungkin bisa menjadi cara jitu untuk bisa keluar dari masalah yang melilitnya. Walau harus beradu dengan hati nuraninya.


“Gimana kalo aku aja, yang jadi temen tidurnya mas Hendra?” tanya mbak Ning.


“UHUUUK... UHUK UHUK” Hendra tersedak.


“Mas, mas Hendra nggak papa?”


Mbak ning panik melihat Hendra tersedak. Buru-buru dia mengambilkan segelas air putih untuk diminum Hendra. Karena tidak mungkin meminum teh yang masih berkepul asapnya. Beberapa tegukan air putih itu ternyata sanggup untuk meredakan tersedaknya.


“Maksud mbak ning?” tanya Hendra, setelah reda dari keterkejutannya.


“Kan tadi mas Hendra nawarin uang mas Hendra yang belum kepake. Dan mas Hendra bilang pengen dicariin temen tidur. Eeem,” mbak Ning tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


“Hendra tahu, mbak. Nggak usah maksa kaya gitu. Kalo emang butuh mendesak, pake aja dulu. Balikinnya sih, nggak usah dipikirin!”


“Ya masa nggak dipikirin, mas? Maksud aku, biar nggak jadi hutang, gitu”


Giliran Hendra yang tertegun. Dia memandangi wajah ayu alami mbak Ning. Dia mencari keseriusan dari tatapan mata itu. dia berpikir, ini akan bisa menjadi jalan masuk dia, mencari informasi soal Stevani.


“Saya nggak berani kurang ajar, mbak. Mbak Ning lebih tua dari saya. Saya takut kualat” kata Hendra mencoba memancing keseriusan mbak Ning.


“Ayo dong, mas. Kalo nggak kepepet, saya nggak akan pernah ngomong begini. Aku aja mas, yang jadi temen tidur mas Hendra. Tinggal bilang aja, berapa lama aku harus nemenin mas Hendra dengan besaran uang segitu!” jawab mbak Yanti.


Kayaknya dia serius sama apa yang dia katakan. Kalo udah gini, tunggu apa lagi? posisi rumah dia kan strategis, harusnya dia punya banyak informasi buat aku.


“Ya, kalo emang mbak Ning yakin, boleh aja” kata Hendra.


Tampak senyum mengembang di bibir mbak Ning. Walau tidak bisa disandingkan dengan wanita-wanita yang pernah dekat dengannya, tapi Hendra merasa kalau wajah itu bertambah ayu kalau sedang tersenyum begitu.


“Minta nomer rekeningnya, dong?” lanjut Hendra.


“Ha? Mas Hendra mau transfer sekarang?” tanya mbak Ning.


“Iya. takutnya kalo besok, keburu bank jagonya kemari” jawab Hendra setengah bercanda.


“Bank jago? Bank jalan kali, mas. Ha ha ha, bisa aja. Tunggu, ya!”


Mbak Ning beranjak masuk ke ruangan di belakang warung. Ya, itu adalah rumahnya. Sangat sederhana untu ukuran Hendra. Tak lama kemudian, mbak Ning keluar dengan secarik kertas bertuliskan nomor rekening, nama bank, dan juga namanya.


“Listya Ningrum?” celetuk Hendra membaca tulisan itu.


“Iya. Itu namaku” jawab mbak Ning.


“Nama yang cantik. serasi sama yang punya” puji Hendra.


Ada senyum mengembang di bibir mbak Ning, mendapat pujian dari lelaki tampan di hadapannya itu.


“Udah ya, mbak” kata Hendra. Dia menyodorkan ponselnya.


“Udah?” tanya mbak Ning belum percaya. Dia membaca dengan seksama apa yang terpampang di layar ponsel Hendra.


“Ya ampun, beneran itu, mas?”


“Cek aja!”


*KLING*


Ada sebuah ponsel berbunyi, dan itu bukan punya Hendra. Buru-buru mbak Ning bangkit dari duduknya, dan menghampiri posisi ponselnya.


“Bener mas, udah masuk. Ya ampun. Makasih ya mas” kata mbak Ning senang.


Dia sampai berkaca-kaca, merasakan kelegaan berkat bantuan dari Hendra. Dia berjalan kembali mendekati Hendra sambil menyeka matanya.

__ADS_1


“Terus, apa yang bisa aku lakukan buat mas Hendra?” tanya mbak Ning.


Hendra yang baru saja selesai makan, menoleh pada mbak Ning. Utuk beberapa saat lamanya, mereka hanya saling memandang tanpa satu patah katapun. Kemudian senyum Hendra mengembang di bibirnya.?


__ADS_2